(Review) Berry Glee Hotel Bali, Bagaikan Menginap di “Buku” Dongeng

Pernah membaca buku “100 Cerita Dongeng Disney Pengantar Tidur”? Di buku favorit keponakan saya itu ada bermacam-macam cerita dengan berbagai karakter. Di hotel ini, saya merasa seperti berada di buku dongeng itu.

Saat memilih penginapan di Bali setelah tugas liputan saya kelar, saya bingung. Penginapan baru bertebaran, harganya pun bermacam-macam. Akhirnya saya memilih Berry Glee Hotel. Alasannya sederhana banget, saya tertarik dengan iklan mereka di Facebook. Di iklan itu ada gambar kamar berwarna pink dengan tenda kecil di sana.

Begitu sampai, saya langsung jatuh cinta dengan hotel ini karena interiornya yang sangat playful. Dari luar saja, sudah terlihat percikan warna-warna di sana. Lobi yang terbuka langsung menyambut saya. Ada kursi-kursi berdesain modern , yang membuat saya bertekad harus duduk-duduk berlama-lama di sana. Sambil menunggu proses check in, saya mengintip ke dalam. Wow, ada kolam renang besar di sana. Di kirinya ada restoran, dengan desain yang tak kalah playfull-nya. Sayangnya, sampai pulang, saya tak mencoba kolam renang ini. Terlalu terbuka bagi saya, karena kelihatan dari lobi dan ruang makan.

jalan-jalan 2

lobi hotel

P_20160130_071142_LL

kolam renangnya yang cihuy.

Saya menempati kamar standar. Woow..I like this room. Benar-benar suka. Kamarnya juga playful, dengan interior modern bernuansa sedikit outerspace.  Entah kenapa, saya kok merasa di dalam film star trek ketika ada di sini. Mungkin karena lengkung-lengkung yang mendominasi plafon dan furnitur di sini.

Begitu masuk, mata saya langsung tertambat pada wallpaper besar di belakang tempat tidur bergambar  orang yang sedang rafting. Lampu panjang menjuntai di sisi kiri tempat tidur, mengingatkan saya pada desain-desain kafe yang sedang in sekarang ini.

jalan-jalan 8

——

Penasaran dengan desainnya yang oke, saya minta bertemu dengan Mbak Alit, manajer hotel ini. Dia mengajak saya ngobrol, lalu saya diajak berkeliling hotel. Asiik…

Menurut Mbak Alit, semua kamar di sini memiliki desain berbeda sehingga konsumen tak akan mendapatkan kamar yang sama persis. Kamar standar saja, yang jumlahnya 99 buah, dibuat dengan tema yang berbeda-beda. Sang desainer menggunakan wallpaper besar dengan gambar, di belakang tempat tidur. Wallpaper inilah yang berperan menciptakan tema di setiap kamar. Untuk kamar bertema musik, wallpaper-nya bergambar alat musik lengkap dengan terompetnya, kamar tema rafting bergambar para rafter berarung jeram di sungai berarus deras.

Setelah berkeling kamar standar, saya diajak Mbak Alit mengintip kamar tematis. Yang pertama saya datangi adalah kamar bertema Wonderland. Ya, kamar inilah yang saya lihat di iklan mereka, kamar pink bertenda. Kamarnya Alice in Wonderland.

Saya berkeliling kamar ini. Furniturnya dibuat ala shabby chic yang manis, dengan dominasi warna putih. Ada tenda kecil dan karpet rumput sintetis di sini. Rasanya saya langsung pingin buka bekal dan piknik di sini. Sayangnya, saya tak bisa menginap di kamar ini, soalnya harganya lumayan mahal…..buat saya😀.

wonderland

ini dia kamar bertema Wonderland

jalan-jalan 5

ini yang temanya movie

Kamar lainnya yang cukup menarik buat saya adalah kamar bertema movie. Di sini, sang desainer meletakkan furnitur bergaya vintage dengan poster besar ala Marlyn Manroe. Yang menarik, langit-langit tak dibiarkan polos begitu saja. Lagi-lagi ada permainan bentuk dan warna di sana.

Sebenarnya, ada beberapa kamar lagi yang interiornya sangat menarik seperti kamar bertema basket ball. Sayangnya, kamar tersebut terisi dan saya tak bisa mengintip ke dalamnya.

Gara-gara keliling dan mendapatkan berbagai tema di hotel ini, saya merasa bagai di buku dongeng. Pindah dari satu kamar ke kamar lain, dari satu cerita ke cerita lain.

——

Di balik kelebihannya, bagi saya, kekurangan hotel ini cuma satu. Jaraknya tak terlalu dekat dengan pantai.  Ya, saya masih harus berjalan sekitar 20 menit untuk sampai di pinggir pantai sana. Hotel ini memang tampaknya tak cocok buat orang yang ingin berjalan kaki seperti saya, lebih pas untuk traveler yang membawa kendaraan atau punya motor sewaan. Mereka memang menyediakan shuttle gratis ke Pantai Kuta dan sekitarnya, tapi hanya ada di jam-jam tertentu saja, yang kadang tak pas dengan jam saya. Akhirnya, saya menggunakan gojek untuk transportasi utama saya. Masih murah sih…

Berry Glee Hotel. Jl. Raya Kuta No.139, Kuta, Badung Regency, Bali

(Review) Airasia Food

Saya bukan orang yang sering membeli makanan di dalam pesawat low cost carrier macam Airasia. Selain karena harganya mahal, porsinya kecil. Tak nendang di perut karet saya yang gampang lapar ini. Saya hanya sempat membeli dua kali menu andalan mereka: nasi lemak Pak Nasser. Itupun karena saya teramat lapar dan penerbangan yang saya tempuh cukup jauh.

Namun di penerbangan terakhir saya dari Jakarta-KL-Aceh dan sebaliknya, saya membeli 5 makanan mereka. Ya, lima! Bukan karena saya lapar, tapi saya memanfaatkan sisa credit shell saya yang tak cukup kalau dibelikan tiket. Credit shell ini saya dapatkan dari hasil refund tiket saya sebelumnya yang tak jadi saya gunakan. Daripada tak terpakai, credit shell ini saya gunakan untuk beli makanan. Lumayan, saya tak perlu beli makanan lagi saat transit di KLIA.

Ini beberapa makanan yang saya coba. Semuanya saya beli online, jadi harganya lebih murah dibanding beli langsung di TKP.

Ginger Fried Rice

Ini favorit saya. Saya beli ini awalnya karena ada bau-bau “nasi goreng” di namanya. Sebagai penggemar nasi goreng, sudah pasti ini jadi pilihan saya. Nasi gorengnya enak, cukup berempah. Saya pikir di awal, karena ini ada embel-embel “jahe”, rasa jahe akan kuat terasa. Mirip makan bajigur, dong. Ternyata enggak tuh. Jahenya samar terasanya.

Yang paling saya suka adalah vegetarian drumstick chicken. Ini versi bohongan dari ayam, terbuat dari campuran kacang kedelai dan saus oyster. Enak..

Kurangnya cuma satu, karena nasinya panas, nasinya ada yang berkerak, terutama di pinggir-pinggir. Tapi overall, ini saya rekomendasikan. Banget.

P_20160817_091123

P_20160817_091419

Ini drumstic vegetariannya. Yummy..

Lemang plus Rendang

Saya doyan lemang, masakan khas melayu yang mirip dengan ketupat tapi terbuat dari ketan dan santan. Ketika saya memesan ini, saya tak berharap banyak. Paling rasa lemangnya hambar, pikir saya. Tapi ternyata enggak! Lemangnya enak, lembut dan gurih. Pas rasanya. Rendangnya empuk. Saya tak tahu seharusnya rendang jodohnya lemang harus seperti apa. Tapi kalau buat saya, rendang Airasia ini terlalu pedas, kurang manis sedikit, dan kurang kering. Pasnya kayak rendang padang yang agak hitam itu, lho…

P_20160813_135736

Sheperd’s Pie

Gambar makanan ini di web Airasia sangat menggoda mata saya sehingga akhirnya saya memutuskan untuk membeli makanan ini.

Karena ternyata di atas pesawat saya sudah kenyang makan Ginger Fried Rice (ya…ya…saya beli dua makanan), saya simpan ini dan makan saat transit di KL. Rasanya enak. Pienya terbuat dari kentang halus yang diberi cincangan daging di dalamnya. Dagingnya banyak, dan terasa bumbunya. Kurangnya (lagi-lagi), makanan ini tak dilengkapi saus. Padahal kalau ada sausnya, lengkap lah rasanya.

P_20160817_125935

Nasi Minyak

Saya tergiur karena dulu katanya yang membuat resep nasi minyak ala Airasia adalah chef terkenal yang seksi, Farah Quin. Selain itu, saya memang belum pernah mencoba nasi dari Palembang ini.

Nasinya lumayan enak, bumbu dan minyak saminnya terasa kuat. Mirip nasi kebuli kata saya. Sayangnya, porsinya amaat sedikit. Bahkan saya harua merogoh-rogoh, mencari tahu apa masih ada sisa nasi di bawah wadah daging.

Untuk dagingnya, yang ternyata namanya beef malbi alias malbi sapi, terlalu manis buat saya. Ini memang semur versi Palembang, yang sejatinya rasanya manis. Namun saya lebih suka kalau si semur ini rasa manisnya dikurangi sediikit saja.

Yang paling saya suka adalah bokcoy-nya. Digulung sehingga bisa langsung dilahap. Tidak terlalu matang, juga tidak terlalu mentah. Pas lah…

P_20160813_071440

Panini Sandwich

Saya beli ini karena setelah membeli 4 makanan, credit shell saya hanya tersisa 11 RM, dan artinya hanya cukup buat membeli satu sandwich. Rasanya ternyata hambar, daging ayam di dalamnya juga tak ada rasanya. Ditambah lagi, ketika disajikan, ia rada dingin. Enaknya, sandwich ini dimakan hangat dan ditambah saus!

P_20160813_110002

Kesimpulannya, saya suka dengan rasa makanan di Airasia, pas dengan lidah saya. Menurut saya, makanannya jauh lebih enak ketimbang Qatar Airways.

—–

Note: semua gambar (kecuali gambar Shepered Pie) diambil dengan menggunakan Asus Zenfone Max. Handphone ini punya kapasitas baterai 5000mA, yang bisa tahan 2 hari tanpa harus dicharge!

Transit di KLIA2, What Should you Do?

 

klia2_10

Foto: malaysiagazette.com

Pengennya sih, transit di bandara itu enggak lama-lama. Tiga jam cukup lah. Pengennnyaa…

Tapi seringkali, penerbangan yang kita naiki memaksa kita untuk transit lama di airport. Seperti yang sering saya alami di KLIA2, yg sekarang berganti nama lagi menjadi LCCT. Bandara low cost di Kuala Lumpur ini sering jadi tempat transit lama saya karena saya kerap naik Airasia yg bermarkas di sini. Dan sering kali, demi tiket termurah, antarpesawat memiliki waktu transit yang panjaang dan lamaa. Kali terakhir, saya bahkan harus transit di sana selama 12 jam. Duh…

Kalau transit cukup lama, saya memilih keluar imigrasi agar cap di paspor jadi banyak. Hahah, bukan deh, agar saya bisa berjalan-jalan di area Gateaway@KLIA2 karena di area transit tak banyak yang bisa dilihat dan dilakukan. Saya baru masuk lagi sekitar 3-4 jam sebelum jam boarding. Nah, apa yang bisa dilakukan saat transit lama di KLIA2?

1. Makan. KLIA2 punya banyak restoran enak yang buka hingga 24 jam. Favorit saya, Marry Brown alias MB. Bukan karena rasanya luar biasa enak, tapi karena ini cuma ada di Malaysia! Ya, saya tak pernah menemukan restoran ini di mana saja, termasuk di Jakarta.

Saya makan di sini sejak KLIA2 masih berupa bandara LCCT kecil semi permanen beratap gelombang. Harganya murah dan ada menu nasi lemak. Terakhir saya ke sini akhir Juli 2016 ini, paket nasi lemak dan nasi ayam MB harganya naik jadi 13RM. Masih murah dibanding MCD sih..

Selain MB ini, banyak restoran lain. Di area Gateaway@KLIA2 ada MCD, Bumbu Desa, Starbuck, Burger King, dan sebagainya. Dulu ada kopitiam favorit saya dekat tangga menuju lantai 2, tapi entah kenapa saya kemarin tak bisa menemukannya lagi.

Penampakan nasi MB

2. Belanja teh tarik dan coklat. Ini yang selalu saya lakukan kalau transit di KLIA. Toko favorit saya adalah Jaya Grocer di L2-139 KLIA2. Toko retail ini besar, lumayan lengkap dan murah. Biasanya saya beli teh tarik merk Iboh, Oldtown, atau Nescafe di sini dengan harga sekitar 12-14RM per kantung besar. Cokelat di sini tak selengkap di toko cokelat lain, tapi sering ada promosi buy 1 get 1. Merek yang tersedia pun lebih beragam dibanding toko yang lain.

3. Bikin Mie. Ini sebenarnya aktivitas baru saya. Jadi, ada fasilitas baru di KLIA2 yakni air panas. Letaknya ada di dalam area transit, area di dalam imigrasi. Di dekat gate Q (mungkin juga di dekat gate yang lain) ada fasilitas minum gratis, plus air panas. Di KLIA2 memang banyak air minum gratis, tapi kalau yang ada air panasnya, cuma ada di sini. Biasanya, air minum ini ada dekat musala dan kamar mandi. Karena ada air panasnya, saya bisa bikin pop mie yang kebetulan memang saya bawa dari rumah. Lumayan buat ganjal perut yang keroncongan menunggu penerbangan selanjutnya.

4. Tidur. Nah kalau ini, wajib hukumnya bagi saya, walaupun tidurnya tak akan nyenyak. Di mana saya biasa tidur? Pindah-pindah! Saya pernah mencoba tidur di lantai karpet dekat kafe Olala. Jadi begitu keluar dari imigrasi, lewati Erawan, ke arah kanan. Akan ada semacam area kosong di sebelah kafe Oalala yang dipenuhi orang tidur. Dulu, ini tempat favorit saya sebelum semua orang tidur di sini. Akhir-akhir ini saya menghindari tempat ini karena tempatnya rada bau dan berdebu. Dan juga, kemarin saya lihat, tempat itu sudah berubah jadi toko.

Saya juga pernah tidur di musola di lantai 3, di area departure. Bersih, lantainya terbuat dari kayu. Dibanding musala lain, tempat ini lebih ramai. Tapi ramai itu jadi minus buat saya, pasalnya tidur saya jadi tak nyenyak karena banyak orang yang masuk dan keluar.

Saya juga pernah mencoba tidur di lantai mezanin di atas pintu masuk Internasional Departure. Di sini ada karpet dan beberapa bangku yang bisa ditiduri. Lumayan sepi dan bisa bikin tidur nyenyak.

Kalau di area transit, saya suka tidur di movie lounge atau sport lounge. Sepi, bisa liat pesawat (karena di sana ada jendela besar yang terhubung dengan tempat parkir pesawat), dan dekat dengan musala, WC, serta air minum. Tapi…areanya kecil dan mesti rebutan dengan bule-bule!

Tempat lain yang pernah inapi di area transit KLIA2 adalah di Urban Food Court di Level 3 (di seberang Sama-Sama Hotel, depan Burger King). Di sini ada bangku panjang yang empuuk.

IMG-20160826-WA0010 (1)

5. Mandi. Kalau mesti mandi karena perjalanan selanjutnya jauh, saya mandi di sini. Tak perlu ke lounge, Capsule atau Sama-Sama hotel untuk mandi, di lantai 2 sebelah KK minimart ada shower gratis. Ada pula di kamar mandi level 3 di dekat pintu masuk ke departure gate.

Ada yang mau nambahin?

 Lebih lengkap soal layout KLIA2 bisa dilihat di web resmi mereka: http://www.klia2.info/about-klia2/klia2-layout-plan

7 Hal yang Mesti Dilakukan di Amsterdam

Bagi saya, Amsterdam adalah kota yang menyenangkan. Cantik, tenang, dan banyak tempat yang bisa dikunjungi. Apa saja yang mesti dilakukan di sana?

1. Mengunjungi Museum

Amsterdam juga terkenal dengan museum-museumnya. Yang terkenal antara lain The Rijksmuseum, Anne Frank House , Van Gogh Museum, dan Stedelijk Museum. Sayangnya, saya pergi bersama Mama dan tante saya, yang tak teralu gemar seni dan museum. Alhasil, saya cuma masuk sebentar di Rijksmuseum serta cuma mengintip Van Gogh Museum. Apalagi saat itu di Van Gogh Museum sedang ada tamu kehormatan, yakni anggota kerajaan Belanda dan Swedia. Saya cuma bisa melihatnya dari luar!

DSCF6157

Rijksmuseum

DSCF6172

Bagian dalam Rijksmuseum

2. Foto di Tulisan Iamsterdam

Mainstreem siih. Tapi bagi saya, ini hal wajib. Tulisan ini ada di beberapa tempat, yang paling terkenal ada di Museumplein, di depan Rijksmuseum. Yang lainnya ada di depan airport Schipol.

DSCF6161

3. Belanja Oleh-Oleh di Floating Flower Market (Bloemenmarkt)

Ini adalah pasar bunga di tepian kanal Singel. Awalnya saya pikir, karena namanya floating, dia semacam pasar apung Samarinda atau sejenisnya, ternyata bukan. Floating market ini berupa deretan toko-toko bunga yang dibangun di pinggir kanal Singel. Sebagian dari bangunannya memang mengapung di atas kanal.  Di sini, selain dijual berbagai bunga cantik beraneka warna, ada pula souvenir-souvenir khas Belanda. Harganya lumayan murah ketimbang di tempat-tempat lain.

DSCF6119

DSCF6202

4. Sunset di Tepian Kanal

Amsterdam terkenal dengan kanal-kanalnya. Di depan Central Station, ada beberapa perusahaan yang menawarkan canal tour. Tapi jika tak mau naik perahu, jalan kaki atau naik sepeda mengelilingi kanal sudah oke kok. Apalagi di sore hari, sunset di tepian kanal luar biasa. Kanal mana yang mesti didatangi? Saya sih berjalan asal saja. Dari Dam Square menuju Bloemenmarkt, lalu jalan saja asal menuju tepian-tepian kanal. Semua kanal sama bagusnya, kok!

DSCF6186

5. Naik Sepeda 

Ini sebenarnya bucket list saya. Amsterdam adalah kota di Eropa yang terkenal sebagai kota sepeda. Tapi karena saya pergi bersama Mama, saya mengurungkan niat ini. Kalau bisa naik sepeda, mesti deh melakukan ini. Kebanyakan hotel menyewakan sepeda, tapi ada juga penyewaan sepeda umum. Lisnya bisa dibaca di sini: http://www.iamsterdam.com/en/visiting/plan-your-trip/getting-around/rental/bike-hire

6.Intip Red District

Buat menghilangkan penasaran, saya ke sini. Pagi-pagi, sekalian menuju bazaar di Chinatown. Karena masih pagi, suasana sepi. Tapi ada beberapa “toko” yang sudah menjajakan “dagangannya”. Benar kata orang-orang. Di “toko” itu ada etalase kaca, yang isinya wanita-wanita berbaju seksi. Tapi saya bilang, ga ada yang cantik ah…

Oya, susah memfoto di sini karena begitu mengarahkan kamera, mereka mendelik marah. Hehehe…mesti ngumpet.

7. Mencicipi Stroop Waffle 

Salah satu makanan yang mesti dicoba di amsterdam adalah Stroop Waffle, yakni wafle tipis yang dibaluri sirup. Jadi, ada dua lapis wafel yang bagian tengahnya ada sirup manis. Saya tak tahu pasti di mana stroop waffle terbaik di Amsterdam, tapi saya beli beberapa kali asal, di street vendor di bazaar dan di salah satu toko kue di dekat Dam Square. Rasanya enak semuaa…

Stroop waffle juga bisa dijadikan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Biasanya bentuknya lebih tipis dan sirupnya tidak terlalu banyak. Ada yang dikemas di dalam kaleng, ada pula yang hanya dikemas dalam plastik cantik.

stroopwafel CC BY 20 Steven Vance via Flickr

 

 

 

 

 

 

Backpacker Bareng Mama ke Eropa: Sujud Syukur si Mama

Amsterdam jadi tujuan pertama saya karena visa dari Belanda tergolong mudah didapatkan dibanding visa dari negara Eropa lainnya. Proses imigrasinya pun tak susah. Mama sampai sujud syukur karenanya. 

“Mama mesti sujud syukur nih”, tukas Mama saya begitu lewat proses imigrasi Bandara Schipol Amsterdam. Lebay sih, bagi saya. Tapi baginya, itu perwujudan kelegaan karena rendang, ikan teri, dan berbagai macam makanan bawaannya lolos begitu saja. Padahal sebelumnya, kakak saya yang bolak balik ke Belanda sudah mewanti-wanti untuk membungkus makanan dengan aluminium foil agar tak terdeteksi cukai. Ya, imigrasi dan cukai Belanda tidak seseram yang saya kira, mereka tak menayakan berbagai macam hal. Bahkan, selepas imigrasi tak ada pemeriksaan x-ray lagi. Lebih ketat imigrasi Singapura, Australia, bahkan imigrasi India😀 (baca: Di Bandara India, Saya Mesti Buka Payung!).

DSCF5921

salah satu sudut Bandara Schipol. Ke tengah kota bisa langsung naik kereta dari sini.

Senyum kelegaan Mama hilang begitu keluar dari stasiun kereta yang akan menuju hotel. Hujan lebat plus angin kencang langsung menyambut kami. Dingin luar biasa. Saat itu suhu Amsterdam memang mencapai 10 derajat, turun 5 derajat dibanding yang saya baca di internet sebelumnya.

Hotel West Inn Amsterdam yang kami inapi terletak agak jauh dari stasiun kereta, kami mesti naik tram lanjutan. Karena hujan tak berhenti, akhirnya saya memutuskan untuk naik taksi menuju hotel. Mama masih kedinginan, tapi saya malah tersenyum senang sebab penjaga dan staf hotel di sana bukan main gantengnya. Sepertinya rata-rata pegawai di sini campuran antara Eropa dan Timur Tengah. Mata terasa segaaar….

DSCF5927

Area tengah hotel West Inn Amsterdam

Sore hari, saya langsung mengajak Mama dan Tante saya berkeliling. Tak ada tujuan, karena sudah hampir malam dan mereka tampak lelah; saya hanya membawa mereka naik tram melihat kota. Keliling kota Amsterdam memang enaknya naik tram. Tiket satu hari (berlaku 24 jam dari pertama beli) harganya 7 Euro, dan saya bisa naik turun sepuasnya. Tiket dapat dibeli di atas tram, akan ada petugas di dalam kotak  kaca yang akan memberikan tiket. Mereka rata-rata ramah, mau ditanyai macam-macam.

Ada banyak line tram ini, namun rute paling sering saya naiki, dan paling populer adalah line 1,2 dan 5 karena bermuara di Central Station dan melewati banyak atraksi wisata dan museum.

Kompeni…saya datang!

DSCF6113

West Side Inn Amsterdam.                                                                                                                   Voorburgstraat 250, 1059 VD Amsterdam, +31 85 27 33 568                 http://www.westsideinn.nl/en/

Peta dan tiket tram juga dapat dilihat di situs ini: i amsterdam

Backpackeran ke Eropa: Persiapan

Selain membuat itenerary hampir jadi (beberapa hotel baru saya booking di sana), ini persiapan saya dan Mama ketika bertandang ke Eropa tahun lalu.

1. Heat tech Uniqlo
Suhu udara di Eropa di bulan September akhir berkisar 10-17 derajat, bahkan di Swiss suhunya 8 derajat Celcius. Selain membekali diri dengan coat, saya membawa kaos dan legging heat tech uniqlo. Tak sehangat memakai long jhon, tapi paling tidak dia lebih tipis dan nyaman dipakai.

2. Rendang, abon, ikan teri, dan beras!
Walaupun di Eropa tak sulit mencari makanan halal, untuk jaga-jaga saya kami membawa lauk. Tapi karena mama termasuk orang yang susah makan makanan non nasi, alhasil, selain lauk kami mesti membawa bekal beras dan rice cooker. Yang saya bawa ini pinjaman dari tante saya. Selain bisa untuk menanak nasi, panci ini bisa dipakai buat merebus telor, indomi, sekaligus memasak air hangat. Multifungsi deh…

3. Ransel dan koper
Sebelum berangkat, saya sempat menanyakan kondisi stasiun di tempat yang akan saya datangi, apakah akan mudah membawa koper. Ternyata, rata-rata stasiun di Paris tidak memiliki lift sehingga akhirnya saya memutuskan membawa keril andalan saya: deuter lite SL 35+10. Mama dan Tante, yang akhirnya ikutan, tetap membawa koper. Keputusan yang tepat, karena dengan membawa keril, saya bisa sekaligus membawa koper Mama saya. Bisa sambil lari pula..

Dua minggu perjalanan, saya hanya membawa 3 celana panjang, 2 heat tech legging, 2 heat tech turtle neck, 8 baju atasan, 2 baju tidur, coat, kaos kaki, sarung tangan, dan pakaian dalam. Saya sengaja menyewa apartemen agar bisa mencuci baju sehingga bawaan saya tidak terlalu berat.

Backpacker Bareng Mama: Eropa Trip

image

“Ke Eropa, yuk”

” Kapan ke Eropa?”

“Tahun ini ya ke Eropa?”

Sudah sejak dua tahun lalu, berkali-kali Mama saya mengajak saya jalan-jalan ke negara-negara di Eropa. Namun berkali-kali juga saya menolaknya. Jadwal cuti saya belum memungkinkan, pun dengan keuangan. Ditambah lagi, paspor saya baru saja hilang, dan saya masih belum PD untuk menginjakkan kaki ke Eropa.

Bak pucuk dicinta ulam pun tiba. Di akhir bulan Juli tahun 2015, saya mencari tiket ke Belanda. Iseng. Ternyata, tiket untuk bulan September tergolong murah. Hanya sekitar 7 jutaan PP tiket KL-Amsterdam. Alhamdulillah, masih masuk ke bujet saya.

Saya sebenarnya sudah punya tiket promo super murah ke Dubai bersama kawan saya. Tadinya, dari Dubai kami berniat mengunjungi Tunisia, Iran, Maroko, atau negara apa saja yang tiketnya murah. Namun ternyata, kami tak kunjung memutuskan negara mana yang akan kami datangi. Akhirnya, saya memutuskan untuk merelakan tiket yang harganya tak sampai ratusan ribu itu dan berangkat ke Eropa bersama Mama.

Dalam dua bulan, saya grasak grusuk membuat segala persiapan. Bukan hal yang mudah, karena saya akan berangkat bersama Mama. Secara fisik, mama kuat. Tapi tentu saja, tak sekuat saya. Saya harus membuat itenerary yang matang, sehingga mama tak kelelahan di jalan.

Setelah browsing sana-sini, dan atas permintaan mama, saya akhirnya membuat rute begini: Jkt-KL-Amsterdam dan sekitarnya-Brussel-Paris-Lucerne (Swiss)-Milan-Venice-Amsterdam-KL-Jakarta.

Rute ini berubah di detik-detik terakhir. Awalnya saya membuat rute loop, dari Belanda, Brussel, lalu ke Paris dan menuju Jerman dan kemudian kembali ke Belanda. Italia saya skip meskipun saya ngebet ke sana, mama tak ingin ke sana. Namun tiba-tiba, si mama bersikeras ingin ke Swiss dan mau juga ke Italia, sehingga akhirnya rute berubah drastis. Bujet pun otomatis bertambah. Saya mesti membeli tiket pesawat dari Milan ke Amsterdam, yang untungnya tak terlalu mahal.

Naik Apa Kami?

Transportasi antar negara di Eropa cukup mudah dan banyak pilihan. Kalau mau nyaman dan cepat, kereta dapat jadi pilihan. Kalau mau harga murah, buslah yang harua dipilih. Namun karena mempertimbangkan mama yang susah tidur di bus dan tak tahan duduk lama-lama, saya tak ambil bus malam yang rutenya panjang. Saya ambil bus yang hanya butuh waktu 3-4 jam, dikombinasi dengan kereta cepat dan pesawat. Ini transportasi saya selama di Eropa sana.

Amsterdam-Brussel: Flixbus, seharga 8 Euro/orang

Brussel-Paris:  Megabus seharga 13 Euro

Paris-Zurich-Lucerne: Kereta cepat beli di voyages sncf, harga 49 Euro/org

Lucerne-Milan: Eurobus 30 Euro

Milan-Venice pp: Flixbus 40 Euro

Milan-Amsterdam: Easyjet

Dari beberapa bus yang saya naiki, Flixbus yang paling oke. Kondisi bus nyaman, ada wifi (penting buat saya!), dan pemberitahuan via sms-nya cukup baik. Tiket pun tak perlu di-print, cukup tunjukkan barcode yang ada di hape. Praktis ketika traveling, yang kadang susah dapat tempat menge-print.

Tip: Transportasi di Eropa akan lebih murah ketika dibuking dari jauh-jauh hari. Biasanya, tiket kereta dan bus sudah bisa dipesan 3 bulan sebelum keberangkatan.

Tidur di Mana Kami?

Lagi-lagi, karena bareng Mama, saya mencari penginapan yang nyaman. Tak asal seperti yang suka saya lakukan saat traveling sendiri atau bersama teman. Beberapa saya dapat dari rekomendasi orang, beberapa saya cari di airbnb.

Amsterdam: West Side Inn Amsterdam. Ini sebenarnya separuh kesalahan. Rencananya, saya buking ini di booking.com hanya untuk visa dan akan saya cancel kemudian. Tapi ternyata, karena terburu-buru, yang saya klik adalah harga yang tak bisa di-refund. Harganya memang murah untuk ukuran Amsterdam, namun letaknya agak jauh dari pusat kota walaupun dekat dengan stasiun trem dan dekat dengan supermarket muslim.

DSCF5926

Bagian dalam West Side Inn, saya pilih 3 tempat tidur, tapi dapat 4 tempat tidur!

Brussel:  Meininger Hotel City Center. Saya pilih ini karena desainnya yang bagus dan letaknya dekat dengan pusat kota. Hotel ini punya beberapa cabang di Eropa, termasuk di Amsterdam. Saya suka hotel ini, walau ternyata, jaraknya ke stasiun tak terlalu dekat juga, dan ke kota pun harus memutar karena ada sungai di depannya.

DSCF6501

kamar di Meininger Brussel. Desainnya ala industrial yang keren abis

DSCF6375

Bagian depan Meininger City Center.

Paris: Apartemen milik Seloa dan Karim. Saya pilih apartemen ini karena dekat area muslim, banyak toko makanan halal. Letaknya juga tak jauh dari stasiun kereta, walaupun jauh dari Eiffel. Apartemen kecil yang cantik, bersih, dan wangi. Ada 1 kamar, ruang tamu dengan sofabed, dapur lengkap plus mesin cuci. Saya memesannya lewat airbnb.

DSCF6600

Dapur milik Seloa dan karim

Lucerne: Awalnya, saya akan menginap di rumah salah satu kawan saya di Zurich. Namun tiba-tiba mertua kawan saya ini datang menginap di sana dan akhirnya saya mencari penginapan di Lucerne, yang lebih murah dan indah ketimbang Zurich. Via airbnb, saya menyewa rumah di pedesaan Wolhusen milik Martin Lipp. Sebuah rumah villa indah, harganya sangat murah, letaknya di desa. Berada di sini, saya terbayang cerita pedesaan di buku Poirot. Saya suka sekali. Namun letaknya ternyata cukup jauh dari kota Lucerne. Saya butuh waktu 30 menit untuk ke sana naik kereta!

DSCF7119

Halaman villa kami. Keren ya?

Milan: Il Giramondo. Karena rute ini berubah di detik terakhir, saya baru membuking hotel ketika saya di Paris. Dan semua hotel dan hostel sudah penuh untuk tanggal kedatangan saya. Alhasil, saya membuking hotel yang tersedia, dengan harga yang tak murah, 130 Euro untuk 3 orang per malam. Kamarnya lumayan nyaman dan lega, namun kamar mandi harus share. Kelebihannya, letaknya persis di depan Centre Milano, stasiun kereta yang menjadi pusat semua transportasi di Milan. Dari balkon kamar, saya bisa melihat stasiun dan keramaian di sana. Di bawahnya juga ada restoran Turki, yang selalu memberi saya harga diskon.😀

Venice: Kejadiannya mirip dengan penginapan di Milan. Awalnya saya tak mau menginap di sini, namun mempertimbangkan mama saya, akhirnya saya mencari penginapan. Saya baru membuking hotel ini di Paris, dan semua kamar penuh karena di Italia, saat itu adalah long weekend. Terpaksa, saya menginap di Hotel Al Vivit, sebuah hotel mahal yang katanya terletak di pusat kota. Ternyata, ia cukup jauh dari stasiun kereta walaupun dekat dengan halte bus menuju kota venesia. Saya lupa harganya, tapi saat itu saya dapat diskon 50 persen, walaupun tetap mahal bagi saya.

DSCF8026

kamar di Al Vivit. Berasa putri raja!