Membangun Desa Lewat Ribuan Domba
“Dari yang tak mampu beli apa-apa, sekarang mereka bisa beli motor, bayar sekolah anak, bahkan kuliah. Dan yang bikin saya terharu, masyarakat dengan sukarela jaga kandang saya tanpa saya minta. Mereka berterima kasih lewat tindakan, bukan kata-kata.”
.
Ibarat lingkaran yang tak pernah putus, ketergantungan peternak pada middleman alias tengkulak adalah fenomena yang tak pernah bisa hilang di Indonesia. Kebutuhan akan uang tunai yang mendesak dan tak adanya alternatif jalur penjualan lain membuat posisi peternak serba sulit. Akhirnya, mereka terpaksa menjual ternak dengan harga jauh di bawah pasar.
Begitu pula yang terjadi di Desa Ngrayung, desa kecil di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban. Meskipun peternakan bukan menjadi mata pencarian utama masyarakat desa, nyatanya praktik pembelian dan penjualan ternak di bawah harga pasar masih sering terjadi. Saat kebutuhan mendesak tiba-tiba muncul, misalnya biaya sekolah anak atau berobat, mereka tak punya pilihan selain melepas ternak ke tengkulak.
Di tengah kondisi itulah Tatag Adi Sasono, pemuda asli desa, memilih langkah yang tidak banyak diambil orang lain seumurannya. Alih-alih mengejar kenyamanan bekerja di kantor besar ber-AC dengan jas dan dasi, lulusan business and accounting dari tiga universitas bergengsi di Amerika ini malah pulang ke kampungnya. Ia menukar kemeja rapi dengan kaus oblong dan sepatu boot, dan mulai membangun sesuatu yang ia percaya bisa mengubah nasib keluarga dan desanya. Ia membangun Mitra Ternak Farm.
Usaha peternakan berbasis kemitraan ini bukan hanya memutus ketergantungan pada tengkulak, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat dan membuka jalan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Desa Ngrayung yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Bahkan berdasarkan data Verbal Dinsos P3A PMD Kabupaten Tuban tahun 2025, desa ini memiliki tingkat kemiskinan ekstrem yang tinggi.

Pilih Pulang Kampung Ketimbang Karier Mapan di Kota
Tatag bukan pewaris, ia adalah perintis. Lahir dari keluarga petani yang serba pas-pasan, ia membuka jalan hidupnya sendiri lewat pendidikan. Ia mendapat beasiswa untuk bersekolah di SMA berstandar internasional di Bogor, lalu mendalami business and accounting di tiga universitas, salah satunya Oregon State University.
Dengan latar pendidikan semacam itu, Tatag dengan mudah mendapatkan pekerjaan di sebuah bank. Namun pekerjaan white collar di balik meja justru tak membuatnya puas. Ada sesuatu yang kurang; sesuatu yang membuatnya pikiran dan hatinya menjadi resah
“Saya ngerasanya apa ya… kayak harusnya ada giving back gitu. Hidup saya banyak faktor lucky dari Allah. Jadi saya pikir, saya harus ada timbal balik ke orang sekitar,” tuturnya, ketika saya bertemu dengannya di Jakarta.
Kegelisahan itu membuatnya mengambil keputusan yang jarang dianggap logis bagi anak muda. Ia resign dari perkejaan mapannya. Dengan tabungan hasil membantu dosen, hadiah lomba sejak SMA, serta pekerjaan sampingan sebagai konsultan bisnis, ia membeli sebidang sawah kering tanpa sumber air.
Dengan logat Jawa yang kental, ia berkata, “Saya itu nekat. Beli tanah ini karena murah, walau belakangan nambah lagi uang buat bangun sumur bor, tarik listrik.”
Namun dari awal, ia sudah tahu bahwa lahan itu tak boleh hanya jadi sawah, itu sebabnya akhirnya ia mencoba terjun ke bisnis ternak. “Dari pengalaman ayah saya, jadi petani di sini itu nggak bisa kaya, Mbak. Rugi terus. Harus bisa jadi bisnis lain,” ujarnya sambil tertawa.
Jatuh, Bangkit, Jatuh, Bangkit Lagi
Nama “Tatag”, yang dalam bahasa Jawa berarti berani, rasanya memang cocok melekat pada dirinya. Meski tak punya latar belakang peternakan, ia nekat memulai usaha ternak sapi karena mengira sapi mudah dirawat. Namun wabah PMK tahun 2020 membuat ia terpaksa menjual sapi-sapinya ke penjagal. Harga sapi yang terjun bebas dari 25 juta menjadi tiga juta rupiah, membuatnya menelan kerugian besar.
Kegagalan ini tak lantas membuat Tatag menyerah. Dengan ilmu bisnis yang dimilikinya, ia mengevaluasi ulang usaha ternaknya dan memilih beralih ke domba, komoditas yang dinilainya lebih terjangkau dan memiliki permintaan tinggi.
“Bayangin, domba ini selalu dicari-cari. Tiap hari pasti ada aja yang akikah, bikin sate, hajatan. Kebutuhannya dan demand-nya nggak pernah habis,” ucap pemuda berumur 28 tahun ini dengan sangat yakin.

Namun ternyata, cobaan Tatag tak berenti sampai di situ. Setelah membuka peternakan domba, ia malah ditipu rekan investasinya hingga rugi puluhan juta. Jatuh dua kali tak membuatnya patah arang. Ia lantas mengganti sistem usahanya menjadi titip ternak.
Dengan sistem titip ternak ini siapa saja bisa membeli ternak, lalu menitipkannya ke peternakan Tatag dengan rentang waktu sesuai kesepakatan. Selama dititipi itu, mitra—begitu Tatag menyebut orang yang menitipkan ternak padanya—wajib membayar uang pakan sebesari 100 ribu rupiah per ekor per bulan.
“Dengan begini kami juga menciptakan peternak-peternak baru. Semua bisa jadi peternak tanpa harus punya kandang atau ngerawat. Jadi nggak perlu jatuh bangun kayak saya dulu,” ujarnya.
Walau digarap di desa, Tatag menjalankan Mitra Ternak Farm dengan digitalisasi dan manajemen modern yang profesional. Ia memberikan laporan berkala lewat email, memasang CCTV 24 jam, membuat “KTP” untuk setiap domba, memberi garansi kematian, hingga merekrut dokter hewan profesional.

Perlahan kepercayaan tumbuh. Dari satu mitra, kini 250 orang telah bergabung, dengan total lebih dari 1.200 domba. Mitranya pun bukan hanya dari Jawa atau Indonesia, bahkan hingga ke Singapura dan Malaysia.
“Malah ada orang dari Kalimantan yang datang langsung ke sini untuk melihat kandang,” ceritanya dengan penuh semangat.
Mengubah Cara Pandang, Meningkatkan Pendapatan
Berdirinya Mitra Ternak berdampak terhadap ekonomi masyarakat Desa Ngrayung. Masyarakat tak lagi mau menjual ternaknya ke tengkulak karena mereka mendapat harga yang lebih baik di peternakan Mitra Ternak Farm. Tatag memang membuka peluang bagi masyarakat di sekitarnya untuk menjual ternak domba mereka asalkan memenuhi kualitas yang ditentukan olehnya.
“Jadi saya sekalian ngasih ilmu ke mereka. Saya datangkan ahli, bikin pelatihan agar mereka tahu cara mendapatkan kambing yang sesuai ketentuan di sini,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat Desa Ngrayung yang selama ini hanya mengandalkan hasil sawah tadah hujan, kini mendapatkan income tambahan dengan menjual rumput pakan ke Tatag. Rumput yang selama ini tak bernilai kini menjadi barang penghasilan untuk warga. Bahkan Tatag mengaku harus mendatangkan rumput dari luar desa karena kebutuhannya sangat besar.
Usaha Tatag juga membuka lapangan kerja baru. Ia kini bisa mempekerjakan sekitar 20 orang, mulai dari tim kesehatan, manajemen, hingga pekerja kandang. Yang uniknya, dua di antaranya adalah mantan pecandu narkoba yang akhirnya bisa benar-benar lepas dari zat itu, karena fokus dengan pekerjaan.

Namun perjalanan membangun kepercayaan tidak mudah. Tatag mengaku awalnya sulit sekali mengajak masyarakat sekitar untuk bergabung dengannya, terutama generasi tua. Mereka yang sudah terbiasa menjual ke tengkulak tak percaya kalau Tatag bisa menyediakan uang tunai dengan cepat ketika membeli hewan dari mereka.
Sistem pembelian dan penjualan dengan timbangan digital yang diterapkan oleh Tatag pun sempat diragukan. Mereka tak yakin sistem ini lebih menguntungkan ketimbang sistem taksiran yang sering dilakukan tengkulak.
Namun Tatag tahu, masyarakat di desanya tidak bisa dipaksa untuk bekerja sama dengannya. Mereka harus diberi bukti dan contoh terlebih dahulu. Karena itulah, ia mulai dari orang-orang terdekat yakni sahabat dan keluarga.
“Orang desa itu sistemnya istilahnya nyumbut tiru, lihat dulu baru percaya. Makanya saya buat pilot project dari satu orang. Ketika ini berhasil pasti yang lain ikut,”
Setelah dua tahun berdiri, Tatag bisa mengangkat keluarganya yang tadinya hidup pas-pasan menjadi peternak mandiri. Bahkan adiknya pun bisa membiayai kuliahnya dari hasil beternak. Begitu pun dengan masyarakat. Kini, mereka bisa membeli motor dan menyekolahkan anak,. Warga pun tak lagi ingin menjual ternak ke tengkulak.
Dengan senyum lebar, Tatag berkata, “Tapi dari semua itu, yang paling bikin saya terharu adalah masyarakat merasa juga ikut memiliki Mitra Ternak Farm. Mereka dengan sukarela jaga kandang saya tanpa saya minta. Mereka itu berterima kasih lewat tindakan, bukan kata-kata.”
Usaha dan keuletannya mengantarkan Tatag menerima apresiasi SATU Indonesia Awards tahun 2025 untuk bidang kewirausahaan. Ke depannya, ia sudah menyiapkan langkah-langkah baru. Ia berencana mengolah limbah ternak jadi pupuk organik, membuat silase dari limbah pertanian, hingga mempersiapkan layanan akikah digital.
Sumber:
- Wawancara langsung dengan Tatag Adi Suseno di perhelatan SATU INDONESIA AWARD
- https://siseva.tubankab.go.id/penelitian/abstraksi-penyusunan-dokumen-rencana-aksi-tahunan-%28rat%29-percepatan-penurunan-angka-kemiskinan-daerah-kabupaten-tuban-tahun-2025-1741595151.pdf

