Menjaga Hiu di Lautan dengan Kecerdasan Buatan

Matahari pagi baru saja muncul, namun Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong di Lamongan sudah ramai dengan para nelayan, pedagang, dan pembeli. Lantai dermaga penuh dengan tumpukan ikan segar dan, yang tak disangka, di antara ikan-ikan itu terlihat banyak tubuh hiu martil.
Di antara tumpukan tubuh hiu itu, tampak seorang pemuda mungil berkacamata, berkaos hitam, dan bercelana olahraga. Raut wajahnya tampak bersemangat sekaligus prihatin. Ia menenteng kamera kecil, timbangan, dan catatan di tangan, lalu memotret sirip, kulit, dan kepala hiu yang ada di depannya.
Dialah Oka Bayu Pratama, pemuda 24 tahun asal Banyuwangi yang mencoba mengurangi penangkapan hiu secara berlebihan. Dialah yang mengembangkan SeeShark, sebuah sistem berbasis Artificial Intelligence yang bisa membantu menyelamatkan populasi hiu di Indonesia
Ancaman yang Makin Nyata
Di bawah laut Indonesia, ada ribuan spesies laut yang membentuk ekosistem yang saling terkoneksi. Di antara mereka, hiu memegang peran penting sebagai predator puncak yang menjaga keseimbangan rantai makanan di laut. Namun ironisnya, di negara yang memiliki sekitar 23 persen spesies hiu dunia ini, populasi hiu justru terus menurun akibat penangkapan berlebihan dan praktik perdagangan ilegal.
Ya, di balik keindahan laut yang sering menempatkannya di jajaran teratas dunia, Indonesia tercatat sebagai negara penangkap hiu terbesar di dunia. Beragam penelitian menunjukkan bahwa setiap tahun, ratusan ton hiu dikirim dari berbagai pelabuhan menuju pasar domestik maupun internasional. Laporan dari organisasi nirlaba The Wildlife Trade Monitoring Network (TRAFFIC) bahkan mencatat, sepanjang 2007 hingga 2017, Indonesia menjadi produsen hiu terbesar di dunia dengan rata-rata tangkapan mencapai sekitar 110.737 ton per tahun.
Tingginya harga jual dan permintaan pasar terhadap sirip, minyak hati, dan daging hiu yang kian meningkat membuat penangkapan hiu terus berlangsung. Sirip hiu kering, misalnya, per kilogramnya bisa mencapai dua juta rupiah di tingkat pengepul. Belum lagi harga ekstrak minyak hati hiu yang makin laris sebagai squalane, bahan baku kosmetik.
Jika Hiu Punah, Ekosistem Laut dalam Bahaya
Penangkapan hiu secara berlebihan tidak hanya memengaruhi jumlah populasi hiu saja namun berdampak pada keseimbangan ekosistem laut secara keseluruhan. Hiu sebagai predator tertinggi di lautan berfungsi sebagai pengendali alami populasi ikan lain. Ketika jumlah mereka berkurang drastis, rantai makanan menjadi tidak seimbang. Akibatnya, spesies mangsa di bawahnya bisa berkembang terlalu banyak, memicu berkurangnya jenis hewan laut lainnya. Dengan kata lain, hilangnya hiu berarti hilangnya keseimbangan laut.
Hiu juga termasuk hewan yang lambat tumbuh dan lambat bereproduksi. Hiu betina memerlukan waktu hingga 15 tahun untuk dewasa dan hanya melahirkan sedikit anak. Saat hiu dewasa terus diburu, regenerasi alami mereka terputus dan dalam jangka panjang bisa menyebabkan kepunahan lokal atau bahkan global.
Prihatin dengan hal ini, Bayu—begitu Oka Bayu Pratama dipanggil—tergerak mencari jalan keluar. Sebagai anak pesisir yang sepanjang hidupnya akrab dengan lautan, ia tak ingin tinggal diam. Ia ingin berkontribusi. Ia merasa punya tanggung jawab moral.
Pemuda berkacamata ini pun menciptakan aplikasi untuk melindungi hiu. Ia membuat SeeShark, sebuah sistem berbasis Artificial Intelligence/kecerdasan buatan yang mampu mengidentifikasi spesies hiu dari gambar potongan tubuh, termasuk kulit, sirip, atau bagian kepala.

Ketika Dua Ilmu Bertemu
Ide membuat aplikasi ini muncul selepas Bayu menempuh kuliah di Program Studi Akuakultur di Universitas Airlangga. Saat itu ia banyak berinteraksi dengan aktivis konservasi dan peneliti laut. Dari merekalah ia tahu, Indonesia punya masalah overfishing alias penangkapan berlebihan.
“Hampir semua ikan yang punya nilai jual tinggi diambil dengan berlebihan, termasuk ikan yang dilindungi seperti hiu,” tukasnya. Dari nada suaranya terdengar keprihatinan yang mendalam.
Ia pun mencoba mendatangi pelabuhan di Banyuwangi, tempatnya bermukim. Karena di Banyuwangi jumlah ikan hiu yang diperdagangkan tidak terlalu banyak, Bayu dan beberapa kawan dari Garda Lestari mengunjungi salah satu pelabuhan di Lamongan. Ia cukup kaget dengan kenyataan yang ia lihat di sana.
“Saya nggak nyangka di sana penangkapan hiu itu ada secara besar-besaran dan terang-terangan. Dan yang bikin miris, yang melakukan ini malah kebanyakan bukan nelayan tradisional yang pakai kapal kayu kecil gitu, tapi pengusaha dan pedagang dengan kapal-kapal besar,” cerita Bayu dengan berapi-api. Jelas ia amat gemas dengan fenomena ini.

Sebenarnya, pemerintah Indonesia telah memiliki beberapa payung hukum untuk membatasi penangkapan hiu berlebihan, antara lain peraturan soal pembatasan kuota tangkapan untuk nelayan dan pelaku usaha, serta peraturan untuk melarang penangkapan hiu jenis tertentu.
Namun faktanya, kondisi di lapangan jauh dari ideal. Pengawasan tidak seketat aturan yang tertulis. Di pelabuhan, Bayu menemukan kenyataan bahwa identifikasi spesies hiu masih dilakukan secara manual oleh para enumerator dari KKP.
Tugas enumerator sebenarnya sangat krusial. Merekalah yang merekam jenis, jumlah, ukuran, serta status perlindungan setiap hiu yang masuk ke rantai perdagangan. Data merekalah yang menjadi dasar pemerintah setempat menentukan apakah jenis hiu itu boleh ditangkap, apakah kuota penangkapan hiu sudah melampaui batas, hingga apakah sebuah aktivitas penangkapan ikan melanggar hukum atau tidak.
Masalahnya, proses identifikasi ini bergantung sepenuhnya pada ciri fisik. Begitu hiu dipotong, daging dipisah, sirip dicabut, bentuk tubuhnya sulit dikenali. Dalam kondisi seperti itu, enumerator sering kali tak punya cukup petunjuk untuk menentukan spesies hiu yang sebenarnya.
“Kalau hiu sudah dipotong, enumerator akan sulit mengenali jenisnya. Padahal itu jadi dasar hukum apakah hiu itu boleh ditangkap atau tidak, apakah si pengusaha atau nelayan ini sudah habis kuotanya atau belum,” ujar Bayu.
Ditambah lagi, keterbatasan sumber daya membuat pengawasan tidak bisa dilakukan secara rutin. Petugas hanya mengambil sampling dari hiu yang ditangkap. Itu pun hanya dilakukan sesekali saja.
Kondisi di lapangan ini itu membuka mata Bayu bahwa celah besar dalam sistem konservasi hiu bukan pada regulasi, melainkan pada proses pengawasan dan identifikasi di lapangan. Di sinilah ide besar itu muncul. Ia ingin menggabungkan dua ilmu yang ia miliki: ilmu teknologi pengembangan website yang ia dapatkan di bangku SMK dan ilmu perikanan dari bangku kuliah. Dengan bantuan teknologi, ia membuat SeeShark, aplikasi yang bisa membantu para petugas untuk mengidentifikasi hiu di lapangan.
Merogoh Dana dari Kantong Sendiri
Pada 2023, Bayu mulai merancang prototipe aplikasi SeeShark. Ia membangun sebuah sistem berbasis kecerdasan buatan yang mampu mengidentifikasi spesies hiu hanya dari potongan tubuh, entah itu kulit, sirip, atau bagian kepala.
Untuk mewujudkannya, Bayu harus melakukan riset awal. Ia mesti turun langsung ke pelabuhan, bertemu nelayan, dan mengamati hiu tangkapan dari dekat. Semua itu tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Walau belum ada dukungan dana dari manapun, ia memilih untuk tetap maju dan mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri
“Untuk bisa turun ke pelabuhan, mengembangkan model AI, dan mengumpulkan data valid, kami butuh biaya operasional yang lumayan. Karena belum ada bantuan, ya saya biayai semua ini dari hasil keuntungan usaha budi daya lele yang saya jalankan sebelumnya,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara ini.
Untunglah pada 2024, Bayu mendapatkan hibah penelitian dari Konservasi Indonesia, yang menjadi jalan baginya untuk memperluas penelitian ke wilayah lain.
Selama tujuh bulan, Bayu bersama tim kecilnya melakukan riset lapangan di Lamongan, Banyuwangi, dan Lombok. Dari riset itu, mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 9.600 gambar hiu dalam berbagai bentuk potongan tubuh. Kumpulan data inilah yang kemudian digunakan untuk melatih sistem kecerdasan buatan agar mampu mengenali spesies hiu secara cepat dan akurat.
Ketika ditanya apakah ada aplikasi serupa sebelumnya, Bayu menegaskan dengan bangga, “Setau saya belum ada. FAO pernah membuat sistem identifikasi berbasis sirip, tapi lebih rumit dan lebih ditujukan untuk riset. Sementara kalau SeeShark ini kami buat agar bisa dipakai langsung oleh petugas lapangan, bahkan juga masyarakat umum.”

Tantangan demi Tantangan
Jalan Bayu membuat aplikasi tentu tak semuanya mulus. Tantangan pasti ada, terutama akses ke pelabuhan kecil dan jaringan perdagangan hiu. Beberapa pelabuhan sempat menolak kehadiran timnya karena khawatir aktivitas mereka mengganggu mata pencaharian masyarakat.
“Kami pernah ditolak di beberapa pelabuhan. Tapi untungnya di Lamongan, pemerintah setempat dan nelayan malah menyambut baik. Mereka terbuka asal pendekatannya adil,” ujarnya.
Pendekatan yang adil itu, menurut Bayu, artinya melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar objek larangan karena biar bagaimanapun penangkapan hiu itu adalah sumber penghidupan mereka.

Harapan Baru yang Mulai Muncul
Gagasan Oka Bayu Pratama ini membawanya meraih penghargaan Semangat Astra Terpadu (SATU) Indonesia Awards tahun 2025 untuk bidang teknologi. Dana yang ia peroleh dari penghargaan itu akan ia gunakan untuk memperluas pendataan hiu di seluruh Indonesia, sehingga basis data SeeShark semakin valid, mutakhir, dan mencakup lebih banyak spesies.
Bayu juga berharap aplikasi yang ia lahirkan ini bukan hanya bermanfaat untuk para enumerator dan pemangku kebijakan terkait, namun juga untuk publik. Ia juga ingin membuka data agar publik, termasuk peneliti, mahasiswa, dan pegiat konservasi, bisa ikut berkontribusi.
“Kalau ada data terbuka, semua bisa bantu. Bayangkan kalau peneliti dari berbagai daerah bisa mengunggah foto hiu dan aplikasinya langsung mengenali spesiesnya, itu akan mempercepat konservasi secara global,” ujarnya dengan suara yang terdengar sangat optimis.
Tampaknya cita-cita Bayu sedikit demi sedikit mulai terealisasi. Sejak namanya diumumkan sebagai penerima SATU Indonesia Award 2025, beberapa daerah dan lembaga konservasi di Indonesia sudah menunjukkan minat untuk bekerja sama. Salah satunya NGO di Indonesia Timur yang akan mengirimkan data dari hiu-hiu di Merauke, karena menurut Bayu, penangkapan hiu di Timur Indonesia juga amat masif.
Tak hanya bekerja di hulu, Bayu kini merambah upaya di hilir. Ia berencana menyiapkan kampanye untuk mengurangi penggunaan minyak hati hiu sebagai sumber squalene kosmetik dan mendorong pemakaian bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Menurutnya, upaya konservasi tak akan berarti jika permintaan produk-produk hiu dan turunannya tetap tinggi.
***
Mendengar setiap kata yang Bayu sampaikan membuat saya ikutan bangga. Ternyata teknologi, ketika berada di tangan anak muda yang peduli, dapat membawa dampak besar bagi Indonesia. Ada juga kelegaan tersendiri mengetahui bahwa laut Indonesia masih memiliki “penjaga-penjaga” muda.
Sumber:
- Wawancara melalui telepon dengan Oka Bayu Pratama
- https://www.antaranews.com/berita/789724/pemerintah-diminta-sosialisasikan-undang-undang-larangan-penangkapan-hiu
- https://mongabay.co.id/2021/09/10/mencari-formula-efektif-untuk-pengendalian-perburuan-hiu-dan-pari
- https://surabaya.kompas.com/read/2025/11/04/175001978/pemuda-banyuwangi-ciptakan-aplikasi-identifikasi-spesies-hiu-berbasis-ai
- https://darilaut.id/berita/petugas-enumerator-ujung-tombak-di-pelabuhan-perikanan/


