Pengalaman Umrah dengan Hanania Travel (bagian 1)
Akhir-akhir ini, nama Hanania ini sedang ramai dibicarakan oleh khalayak ramai. Bukan karena prestasinya, namun karena banyak jamaah yang gagal berangkat ke Tanah Suci
Nggak. Di tulisan ini saya nggak akan membicarakan kasus ini karena itu bukan ranah saya. Saya lebih memilih untuk menceritakan pengalaman saya menggunakan travel dengan tagline “Travelnya Millenial” ini saat umrah Sya’ban dan awal Ramadhan tahun 2026.
Saya mencoba menceritakannya seobyektif mungkin, berdasarkan pengalaman saya beberapa kali umrah bersama travel lain, ditambah pengalaman saat umrah mandiri dua tahun lalu.
Berangkat Umrah Gratis
Oke, sebelum lanjut, saya mau disclaimer dulu kalau saya berangkat umrah kali ini tanpa membayar sedikit pun. Bukan karena di-endorse Hanania seperti artis-artis dan selebgram dengan jutaan follower itu, tapi karena saya menang lomba IG Rels yang diadakan oleh suatu pameran muslim yang bekerja sama dengan Hanania.
Jujur, saya baru dengar travel ini saat pameran itu. FYI, saya tipe yang agak oldschool, maunya pakai travel lama yang udah saya kenal. Malas searching nyari travel baru, soalnya. Saya pernah pakai NRA, private tour, dan pernah pake First Travel. Yang terakhir itu tentu jauh sebelum mereka bikin kasus, yaa.
Saya menang lomba ini di awal bulan Oktober dan seminggu setelah pengumuman, Mas Fadli dari Hanania menghubungi saya dan meminta data. Dia mengatakan jika jadwal umrah Hanania penuh hingga pertengahan Januari, sehingga kemungkinan saya akan diberangkatkan di bulan Januari akhir atau Februari.
Saya sih ngikut aja yaa, namanya juga gratis.
Di awal November Mas Fadli menghubungi saya kembali dan mengabarkan jadwal keberangkatan yang fix. Saya akan berangkat tanggal 12 Februari dan pulang ke Jakarta tgl 22 Februari 2026. Dan program yang saya dapatkan adalah Ummat alias Umrah Hemat.
Saya langsung nyengir lebar. Dua belas Februari berangkat, pulang tanggal 22……itu kaan berarti, saya bisa umrah Ramadhan sekitar 4-5 hari!!.
Alhamdulillaaah, terkabul juga doa saya saat umrah Ramadhan taun lalu. FYI, saat itu saya doa agar dikasih kesempatan umrah sebelum dan di awal Ramadhan. Biar bisa ici-icip kuliner yang saya nggak sempat saya nikmati saat Ramadhan taun lalu.
Maafkan aku ya Allah, kan boleh ya doa begitu.
Sebulan sebelum hari H, saya diinvite masuk ke grup WA. Mas-mas di kantor Hanania di Kokas juga memberi saya nomer telp PIC Gudang yang mengurus perlengkapan. “In case si bapak lelet mengirim, langsung aja telp, Mbak,” begitu katanya.
Nyatanya, sebelum saya kirim WA ke si bapak gudang (yang saya lupa namanya), dia sudah menghubungi saya terlebih dahulu. Dan lima setelah itu, koper dan segala perlengkapanya sampai di rumah saya.
PS: Kata yang lain, mereka mesti melunasi biaya H-3 bulan.
Manasik yang Terlalu Singkat
Info-info diumumkan di grup itu, termasuk tips packing, bawaan, dsb. Ada juga info kalau manasik akan diadakan di tanggal 12, di hari yang sama dengan keberangkatan. Dari situ nantinya akan berangkat bersama ke bandara.
Manasik di hari yang sama ini adalah hal yang baru buat saya. Di travel-travel yang saya ikuti sebelumnya, manasik diadakan beberapa hari sebelum berangkat, jadi jamaah ada kesempatan untuk mempersiapkan hal-hal yang kurang, yang baru diketahui saat manasik.
Mungkin agar gampang koordinasi di bandara. Atau mungkin agar lebih murah biayanya. Entahlah
Namun jujur, karena diadakan di hari yang sama sebelum berangkat, manasik ini jadi terlalu singkat buat saya. Dibandingkan Daarut Tauhid yang mengupas fiqih lebih dalam, bahkan diajarkan gimana cara berwudhu untuk perempuan ketika di masjid haram, manasik Hanania ini jadi terasa kurang “greget”.
Tapi ini udah lebih dari cukup, sih, untuk dasar pengetahuan umrah. Toh, nanti bisa nanya ke muthowif di sana. Dan untungnya kebanyakan jamaah usianya muda, sehingga sudah belajar di video terlebih dahulu—Hanania sudah mengiirmkan link video ini di grup WA tiga minggu sebelum berangkat.
Harganya Kok Murah, ya?
Saya agak terkejut ketika lihat harga paket umrah saya. Cuma 29,9 juta all in untuk 12 hari, sudah termasuk perlengkapan dan tip guide.
Saya yang pernah umrah mandiri dengan fasilitas seadanya—hotel Mekkah dengan shuttle dan di Madinah menginap di apartemen murah meriah—nggak berharap lebih dengan harga segini. Tapi ternyata, di atas ekspektasi saya, lho. Terutama soal handling dan hotel.
Untuk hotel dan handling ini, saya ulas di artikel selanjutnya ya…
Ok. Biar apple to apple, saya bandingin dengan paket di NRA dengan tujuan yang sama dan hotel yang setara. Paket NRA Umrah Plus Dubai 9 hari harganya 28.990 juta, belum termasuk perlengkapan sebesar 1,5 juta. Jadi totalnya sekitar 30.5 juta kurang 10 ribu rupiah.
Hotelnya hampir setaraf dan lokasinya juga bersebelahan. Yang beda, paket NRA ini cuma 9 hari, sementara Hanania 12 hari. Secara hitungan kasar, masih lebih murah Hanania ya.
Kalau paket DT, jangan ditanya deh ya. Mayan mahal 😀
City Tour Dubai
Kami menggunakan pesawat Emirates dan transit satu hari satu malam. Di Dubai kami diinapkan di Hotel Onyx yang besaar banget. Ada dapur dengan lemari es dan microwave, serta mesin cuci. Sayangnya, sarapannya seadanya banget dan lokasinya di pinggir kota Dubai—sepertinya dekat dengan kawasan industri.
Saya yang tadinya udah berniat untuk jalan-jalan sendiri malam hari, langsung mengurungkan niat begitu lihat lokasi hotel yang jauh dari mana-mana. Jiper juga saya lihat kanan kiri hotel yang sepi
Esoknya, jam 7 pagi, kami sudah diminta berkumpul di lobi untuk check out. Mata masih mengantuk karena saya baru tidur sekitar jam 2 malam, tapi ya mau bagaimana lagi karena memang jadwal city tour hari ini sangat padat.
Sebelum ke bandara, kami diajak ke beberapa tempat di Dubai yakni Dubai Frame (masuk ke dalam museum), Dubai Eye (Museum of The Future) namun hanya di luar saja, serta photoshoot di Burj Khalifa dan pantai Burj Al Arab.

Waktu yang mepet bikin semuanya jadi serba tergesa-gesa. Bukan gaya saya yang biasa slow travelling sambil mengamati dan menikmati sekitar. Tapi nggak apa-apa, toh ini bukan kali pertama saya ke negara kaya ini.
Di Dubai Frame lumayan santai, tapi di tempat lain kami agak diburu-buru. Baru foto-foto, sudah dipanggil untuk segera naik bus. Alhasil, saya dan Dilla —yang jadi partner in crime saya selama umrah, selalu jadi last man standing alias yang paling belakang naik bus. Hehehhe..mohon maaf
Kami juga nggak sempet ke Dubai Old Creek juga yang jadi favorit saya setiap saya ke Dubai—saking sukanya saya bisa ngabisin waktu setengah hari sendiri di sini. Emang nggak ada sih ini di itenerary, tapi tadinya saya berharap ada waktu lebih sedikit buat ke sini.
Emang mestinya nginep 2 malam kalau mau puas.
Bersambung ….
Next: Plus Minus Pakai Hanania

