Begini Cara Masyarakat Desa Arborek Jaga Ekosistem

“Kakak, jangan lompat dari dermaga!”

Begitu teriakan tiga anak laki-laki berkulit gelap berambut ikal, sambil berlari mendekat ke arah kami yang berdiri di pinggir dermaga kayu. Dermaga yang menjadi pintu masuk Desa Arborek, Raja Ampat, Papua Barat.

“Asyik lho lompat, itu ikannya banyak banget di bawah,” seru saya sambil melongok ke bawah dermaga.

Di sana tampak terumbu karang beraneka ragam dan ikan-ikan berwarna warni yang hilir mudik, seakan memanggil saya untuk terjun ke sana.

Ya, saking jernihnya laut di tepian Desa Arborek, dari atas dermaga saja saya bisa langsung melihat hingga jauh ke dalam lautan. Hal yang biasanya hanya bisa saya lihat jika menyelam atau snorkeling.

“Dimarahi Pace nanti”, kata anak berbaju merah sambil menunjuk seorang bapak yang berdiri tak jauh dari kami. Setengah berbisik, takut terdengar oleh orang yang dimaksud. Padahal suaranya tak akan terdengar, kalah oleh suara an­gin laut yang sepoi-sepoi berembus di dermaga.

Sasi, Konservasi Laut Ala Papua

Pace (bapak dalam bahasa Papua) yang ditunjuk anak-anak itu menghampiri kami. Ternyata ia Nominsen Mambraku, wakil kepala Desa Arborek yang memang sudah berjanji untuk bertemu dengan kami. Rupanya ia mendengar percakapan kami dengan Ocil, anak berbaju merah tadi.

“Sudah ada aturan adat begitu. Itu tertulis di papan,” ucapnya ramah sambil menunjuk ke arah plang yang ada di dekat gapura. Di sana tertulis beberapa aturan. Selain larangan melompat tadi, ada juga larangan menginjak terumbu karang. 

Aturan  ini dibuat oleh para tetua adat Desa Arborek untuk menjaga kelestarian terumbu karang yang ada di pantai dekat dermaga. Aturan yang harus dipatuhi siapa saja yang ingin berkunjung ke Desa Arborek, termasuk juga para penduduknya. Jika ada yang melanggar, penjaga adat tak ragu-ragu untuk menegur. 

Bukan hanya itu. Masyarakat desa seluas 7.2 km2 ini juga punya Sasi Laut, yakni aturan yang melarang pengambilan biota laut di kawasan tertentu dalam kurun waktu yang disepakati adat. Bisa setahun, sebulan, atau beberapa bulan. Tujuannya adalah agar ekosistem—terutama biota laut—di kawasan itu tidak dieksploitasi secara terus menerus dan berlebihan.

Salah satu lokasi Sasi Laut di Desa Arborek adalah di kawasan dekat dermaga tempat kami berdiri tadi dan juga beberapa meter dari sekitar bibir pantai. Bukan hanya menangkap dengan jaring, memancing di areal ini pun tidak diperbolehkan.

Aturan Ketat untuk Kelestarian

Desa Arborek adalah salah satu contoh desa di Papua Barat yang berusaha menerapkan aturan adat untuk menjaga lautnya karena mereka sadar, laut inilah yang memberi penghidupan kepada mereka.

Nominsen, yang merupakan penduduk lokal bercerita, “Kami juga tanam banyak pohon bakau di sekeliling pulau. Dulu pulau ini polos, tidak ada bakau di sini. Lalu kami sadari pulau ini tidak luas, jika rusak alamnya, kami juga yang rugi.”

Saya memandang ke kampung yang terpilih menjadi 50 Desa Wisata Indonesia tahun 2022 ini. Kampung yang begitu damai, bersih, dan tenang. Pantainya dilingkupi pasir putih yang lembut, lautnya biru dan sebening kristal.

Sambil berjalan kembali ke dermaga, batin saya berkata, kearifan lokal seperti yang ada di Desa Arborek inilah yang menjadikan alam Papua Barat tetap terjaga hingga masyarakatnya bisa berkata “Alam Papua So Indah. Sa Papua, Sa Bangga.”

***
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Begini Cara Masyarakat Desa Arborek Jaga Ekosistem, https://www.tribunnews.com/regional/2022/07/08/begini-cara-masyarakat-desa-arborek-jaga-ekosistem.

One Comment

  • Fanny_dcatqueen

    Seneng sih bacanya, krn warga lokal di sana sudah sadar pentingnya menjaga kelestarian alam mereka.

    Memang hrs begitu kan. Dimulai dari warga lokalnya, dan saling mengingatkan pengunjung. Ga kebayang kalo dunia bawah air papua sampai rusak krn ada orang2 yg ga mau mengikuti peraturannya. Jangan sampe. Alam papua terlalu indah soalnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!