Pengalaman Naik Buta Airways ke Tbilisi

IMG_20190607_125815-01.jpeg

Dari Baku Azerbaijan, saya menuju Tbilisi, Goergia. Awalnya mau naik kereta malam alias sleeper train. Mau nyoba kereta ala Rusia.

Tapi banyak cerita soal traveler yang ditolak masuk Georgia lewat darat. Daripada buang waktu percuma dan ditolak juga, saya memutuskan naik pesawat aja.

Saya naik Buta Airways, LCC-nya Azerbaijan Airways. Harganya murah, tak sampai 40 dolar plus beli bagasi 10kg dengan harga 15 dolar. Tak ada jatah kabin, saya hanya boleh bawa satu tas kecil, atau tas kamera, atau tas laptop. Kalau mau bawa lebih dari itu, mesti bayar bagasi kabin yang anehnya lebih mahal daripada beli bagasi.

Peraturannya memang agak beda deh dengan yang lain.

Baca Juga: Di Bandara India, Saya Mesti Buka Payung!


Sewaktu dari Istanbul ke Baku, saya juga menggunakan maskapai ini. Selain bagasi, saya bawa tas daypack saya. Kecil, isinya cuma kamera dan kosmetik.

Tas itu lolos, saya tak diminta bayar. Orang di depan dan belakang saya pun lolos.

Berkaca pada pengalaman itu, saya jadi pede. Saat akan check in di Baku, saya membawa hal yang sama, plus tambahan kabel charger untuk hape dan kamera dan kaos kaki. Di tangan saya yang lainnya ada plastik berisi roti yang akan saya makan selama menunggu. Saya belum sempat sarapan, karena harus berangkat ke bandara pagi-pagi.

Baca Juga: Tempat Wisata di Baku Azerbaijan yang Cocok Bagi Muslim Traveller

Ternyata, tas itu tak lolos. Saya mesti bayar tambahan. Saat saya protes, kenapa orang sebelum saya lolos padahal tasnya besar dan dia tak bayar tas kabin, mereka bilang karena itu tas laptop. Tas laptop dan tas kamera, walaupun besar, diperbolehkan.

“So, if I change this bag with camera bag, i dont have to pay anything?”

Si petugas yang bahasa inggrisnya pas-pas-pasan mengangguk. Akhirnya saya menepi ke pojokan, saya buka tas kamera saya dan saya jejalkan semuanya ke dalam tas kamera. Kabel saya taruh di kantong jaket saya.

Ketika saya kembali ke konter check in, petugasnya berganti. Rupanya sudah jadwalnya ganti petugas.

Ulang lagi dah ngomong dari awal, pikir saya. Untungnya tas kamera saya dinyatakan lolos, saya ga perlu bayar tambahan.

Tapi masalah belum kelar.

“You still cant bring two bags” kata si petugas baru sambil nunjuk plastik makanan saya.

“But its only breads. I will finish all before flying. Youre gonna see me eating this at that chair.” Saya menunjuk deretan kursi setelah konter x ray dan imigrasi.

Terminal 2 Heydar Airport Baku memang sangat kecil. Lebih kecil dari bandara Halim. Isinya hanya beberapa konter check in, satu mesin xray, dua konter imigrasi, dan beberapa toko. Saking kecilnya, dari konter check in bisa keliatan gate untuk masuk ke pesawat. 

Mereka berikeras. Si plastik kresek dianggap tas tambahan.

Akhirnya, saya melipir lagi ke pojok, duduk ngelongsor di lantai sambil roti saya. Ga mau rugi!!!

PS: Di luar peraturan itu, Buta Airways sebenarnya cukup oke. Pesawatnya lumayan dan saya dapat salami sandwich plus air minum selama penerbangan.

images (33)

Author: rahma ahmad

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s