Solo Bacpacking ke Georgia: Wajah-Wajah Kaku yang Baik Hati

2019_0725_08154100.jpg

Akhirnya, saya sampai juga ke negara Georgia, negara ke-39 yang saya kunjungi.

Sama seperti Azerbaijan yang baru saya dengar setahun lampau, nama Georgia juga asing buat saya. Saya taunya Georgia itu adalah nama negara bagian di Amerika Serikat.

Ternyataa, Georgia itu adalah negara yang berbatasan langsung dengan Turki. Makanya rata-rata pelancong datang dari Turki menuju Georgia lalu lanjut ke Armenia dan Azerbaijan, dan berujung ke Iran.

Baca Juga: Pengalaman Naik Buta Airways ke Tbilisi


Dari bandara Tbilisi Georgia ke tengah kota, ada dua pilihan. Naik bus no 37 seharga 0.5 lari koin (sekitar Rp 2.600) atau naik taksi dengan aplikasi Bolt seharga 20 lari. Sebenernya saya sudah memilih naik taksi saja, karena repot dengan koper. Namun pesanan saya terus dicancel oleh driver, begitu tau saya cuma bisa bahasa Inggris. Akhirnya, saya menyerah dan naik bus.

images (34)

Bus menuju kota bentuknya seperti bus umum. Memang, ini bukan bus khusus bandara seperti bus Damri Soekarno Hatta. Ini bus biasa, yang akan berhenti di setiap halte. Saya sempat gugling peta haltenya namun tak berguna karena semuanya tertulis dalam aksara Rusia. Meneketehe cara bacanya.

Bus ternyata lumayan penuh. Awalnya saya bingung, gimana cara menaikkan koper ke bus yang cukup tinggi ini. Saya mengintip ke dalam, dan melihat tampang orang-orang di sana yang kaku semua, tak ada senyum-senyumnya. Mirip Viktor di pelm Harry Potter. Nyeremin, kan!

Baca Juga: Imigrasi Oh Imigrasi

Untung tiba-tiba ada bapak-bapak  yang membantu saya menaikkan koper ke bus. Walau mukanya tetap datar tanpa senyum. Fiuh…


Selesai? Belum. PRnya kemudian adalah, saya tak tahu cara bayar bus ini. Saya lupa gugling!

Saya tanya bapak-bapak tadi, ternyata dia sudah menghilang entah kemana. Akhirnya saya memberanikan diri bertanya ke wanita di sebelah saya, dan dengan bahasa Rusia (dan tampang datarnya) dia menjelaskan soal cara membayarnya.

Ternyata bayarnya mesti menggunakan kartu atau koin. Masukin koin ke kotak yang ada di tengah-tengah bus, dan secara otomatis akan keluar tiketnya. Masalahnya adalah… uang yang saya miliki tak ada yang berbentuk koin, tak bisa dikembalikan pula.

Di tengah kebingungan itu, datanglah pertolongan. Beberapa orang menawarkan membayar tiket saya dengan kartu mereka. Tanpa perlu mengganti uangnya.

Ya Allah baik banget.


Saya berdiri hingga 10 menit kemudian, saya mendapat tempat duduk. Baru dua menit pantat ini menempel di kursi, ada ibu tua bertongkat yang naik bus. Saya menengok kanan kiri, kok ga ada yang ngasih duduk ya. Sepertinya budaya memberikan tempat duduk ke yang lebih tua dan membutuhkan, bukan budaya di sini. Buktinya, selama 10 menit sebelumnya saya dibiarkan berdiri aja dengan membawa koper saya.

Akhirnya, saya berinisiatif memberi ibu itu duduk. Walaupun saya jadi kembali repot, berdiri sambil  memegang koper dan tas.

Ajaibnya, setelah saya merelakan tempat duduk saya untuk si ibu tua, semua orang jadi baik. Si ibu mau (bersikeras) memangku tas saya yang lumayan berat, bapak-bapak yang duduk di sebelah si ibu menarik koper saya dan memegangnya, mencegah koper lari sana-sini karena supir bus suka mengerem mendadak.


Saya turun di Freedom Square dan dari situ saya mesti berjalan ke penginapan.  Dari halte bus ke penginapan, jaraknya cuma 600m. Dekat memang, kalau jalannya lurus. Masalahnya, jalannya menanjak dengan sudut yang lumayan tajam. Alhasil, baru 200 meter berjalan, saya sudah ngos-ngosan mendorong koper.

Baca Juga: Solo Backpacking ke Georgia: Antara Diwan Hotel, Indomie, dan Pasta Italia

images (36).jpeg

Tiba-tiba ada bapak berbadan besar dan berkepala botak datang dari seberang jalan, memberi isyarat mau membantu mendorong koper saya. Awalnya saya pikir, dia akan membantu sampai jarak beberapa meter saja, ternyata saya diantar sampai  hostel. Dan itu sukarela, tanpa mau dibayar!

Alhamdulillah….

TIP

– Bus no 37 ini ada di depan pintu keluar “Arrival area”.  Lama perjalanan sekitar 40 menit dan bus ada setiap 30 menit sekali.

– Ada aplikasi bolt atau Yandex, semacam Uber. Bisa dipakai juga di beberapa negara pecahan Rusia.

– Untuk simcard, bisa dibeli di bandara. Dari hasil mengintip beberapa konter, Beeline lah yang paling murah. Untuk 2 gb, harganya hanya 5 lari alias sekitar 25rb rupiah.

IMG_20190610_112214

 

Author: rahma ahmad

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis dan editor di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

6 thoughts

  1. Kadang suatu negara yg kita kira pada jutek orangnya, ternyata kenyataan baik ya mba. Negara lain yg orgnya pada banyak senyum, nawarin bantuan, eh ujug2 malah minta duit :D. Itulah yg aku suka dr trveling. Kita belajar banyak hal, ketemu banyak orang dan jd tau banyak budaya..

    Like

    1. Betul. Di Georgia ini emang terkenal dengan juteknya. Di imigrasi juga begitu. Budaya yg diturunin Rusia kali ya….

      Like

  2. Kak gimana caranya bisa jadi solo traveler sekaligus jilbab backpacker? Sampe udah bisa menjelajah 39 negara gituu? MashaAllah, aku pengen banget bisa ke turki, sekalian gitu🥺

    Like

    1. Alhamdulillah sekarang udah 41 mbak :D. Ga susah kok, dulu juga mulainya satu negara satu negara dulu, dari negara terdekat. Lama-lama makin jauh mainnya. Yang penting persiapan sebelum berangkatnya dimatengin. InsyaAllah di jalan ga apa-apa.

      Like

Kalau ada pertanyaan atau tanggapan, silakan komen di bawah ini yaa...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s