azerbaijan

Azerbaijan: Negara Mayoritas Muslim yang Tak Islami

“They think you are from Kazan,” kata Syahriar, teman couchsurfing yang menemani saya selama di Azerbaijan, setelah beberapa warga lokal penasaran dan menyapa Syahriar dalam bahasa Azeri.

Ya, kebanyakan warga Baku yang bertemu saya di Baku Boulevard sore itu mengira saya dari daerah muslim di timur Rusia itu.

Sore itu saya memang diajak Syahriar jalan-jalan di Baku Boulevard, sebuah tempat di tepian Laut Kaspia sambil memandangi Flame Tower di kejauhan. Lumayan banyak orang berlalu-lalang sore itu, termasuk beberapa orang pasangan yang duduk di undakan pendek dari beton. 

Why?” saya bertanya balik, sambil ikutan duduk di undakan. Ge-eR karena disamakan dengan gadis Rusia yang cantiknya luar biasa.

Because your face does not look like Arabic but you are wearing that. Azeri not wearing that,” kata dia lagi sambil menunjuk ke jilbab saya. 

Baru kali ini mereka benar. Biasanya, saat traveling saya sering disangka berasal dari Arab karena memakai jilbab. Padahal hidung saya pesek begini.

Solo Backpacking di Azerbaijan
Salah satu sudut Baku Boulevard

Baca Juga: Can You Speak Arabic?


Sejarah Azerbaijan: Dari Arab Hingga Uni Soviet

Pembicaraan singkat itu membuat saya penasaran dengan sejarah Islam di Azerbaijan. Ternyata pada abad ke 7-8, kekaisaran Arab sudah menguasai Azerbaijan, meletakkan dasar Islam di negeri pecahan Rusia ini. Baru kemudian pada abad ke-11, Azerbaijan dikuasai kerajaan Selcuk dari Turki.

Penguasaan Turki boleh dibilang paling berpengaruh terhadap budaya dan bahasa Azerbaijani masa kini. Hingga kini, Azeri (begini penduduk Azerbaijan menyebut diri mereka) masih menggunakan bahasa yang berasal dari rumpun bahasa Turkish. 

Turkic Language, begitu sebutan rumpun bahasa ini.  Beberapa kosa kata sama dengan kosa kata Turki, walau banyak juga yang berbeda. Mirip lah seperti Bahasa Indonesia dan Malaysia yang berasal dari rumpun bahasa Melayu. 

Baca Juga: Tempat Wisata di Baku Azerbaijan yang Cocok Bagi Muslim Traveller

Setelah lepas dari penguasaan Turki, Azerbaijan sempat berada di bawah pengaruh Timur Lenk dari Uzbekistan dan juga kerajaan Iran. Barulah di tahun 1840, Uni Soviet menginvasi negara ini dan menjadikan Azerbaijan negara bagiannya hingga keruntuhan Uni Soviet di tahun 1990-an. Sejak itu, Azerbaijan menjadi negara kaya yang merdeka.

Perjalanan Islam yang panjang di sini membuat fondasi Islam di Azerbaijan sebenarnya cukup kuat. Apalagi menurut data dari Aljazeera.com, 93 persen penduduk Azerbaijan memeluk agama Islam.  Tapi itu cuma di atas kertas. Kehidupan islami tak terasa sama sekali di sini. Paling tidak itu yang saya rasakan selama 3 hari berada ibukota Azerbaijan, Baku.

Seperti yang Syahriar katakan, jarang ada penduduk Azerbaijan yang berhijab. Bahkan ia tak tahu istilah hijab. Ia hanya menunjuk ke kepala saya, sambil berkata “your head cover.”


Masjidnya Tutup!

Menurut artikel dari Al Mesbar, salah satu komunitas Islam di Azerbaijan, pengaruh sekuler Soviet masih sangat terasa di sini walau sudah lebih baik dari dulu. Ketika di bawah kekuasaan Uni Soviet, masjid-masjid dihancurkan, hanya ada 13 masjid yang tersisa. Sekarang di Azerbaijan ada 3.500 masjid, yang dibangun pasca Azerbaijan merdeka dari Uni Soviet sekitar tahun 1990-an.

Namun ketika saya minta diantar solat ashar di masjid, Syahriar tampak bingung dan akhirnya mengajak saya ke salah satu masjid bergaya Turki di kawasan yang dekat dengan Flame Tower. Sayangnya masjid berwarna cokelat yang bernama Mosque of The Martyrs yang dibangun oleh pemerintah Turki itu tak dibuka, padahal masih masuk jam salat. Ketika saya tanya, dia malah tak tau jadwal salat kapan saja dan azan itu seperti apa.

I heard that voice sometimes, and I heard it also in Turkey. Its same voice, ” katanya soal azan. Saat saya cerita kalau azan itu sama di seluruh dunia termasuk di Indonesia, dia agak kaget. Wajar saja kalau Syahriar jarang mendengar azan, rumahnya jauh dari masjid dan menurut peraturan tak tertulis di Azerbaijan, azan hanya boleh terdengar dengan radius maksimal 1km. 

Baca Juga: Lokasi Syuting Film Layla Majnun

DSCF8059.JPG
Masjid yang ada dekat Flame Tower. Ditutup saat saya mau solat di sana.

Ada Bir di Mana-Mana

“Do you drink beer?” tanya Syahriar ketika kami makan Borscht, sup tomat khas Ukraina di sebuah warung kecil di dekat 28 May Street. Warung kecil yang mirip dengan warung ayam geprek dekat rumah saya. Di area 28 May ini memang banyak terdapat restoran, mulai dari resto mahal hingga warung sederhana seperti yang kami datangi.

Saya langsung menggeleng, menolak tawarannya. Syahriar juga tak mium bir rupanya, namun di menu ada beberapa jenis bir. Mengingatkan saya dengan warung-warung makan di Bali yang sering menjajakan bir. 

Di kota Baku, bir dijual bebas di mana-mana, termasuk di warung-warung makan pinggir jalan. Mereka tau muslim tak boleh minum bir,  namun mereka tampaknya sudah terbiasa dengan minuman itu. Kabarnya, mereka punya pabrik bir yang lumayan terkenal, Xindalan, dan juga pabrik wine besar di daerah pedesaan di utara Azerbaijan.

Halal food bukan sesuatu yang penting bagi mereka, meskipun menurut Syahriar, mereka tak  mengkonsumsi barang haram seperti babi dan sebagainya. Tiga hari di sini, saya bolak balik ke supermarket dan tak menemukan makanan dengan label halal. Namun dari yang saya baca di salah satu situs berita, semua daging yang ada di sini mesti melewati standardisasi halal. Jadi saya tak perlu khawatir makan di sana.

Cara berpakaian mereka juga sangat kebarat-baratan. Kehidupan Rusia memang masih sangat terasa di negara Kaukasus itu. Balet, opera, dan anak-anak yang berseliweran untuk kursus biola jamak ditemukan di mana-mana.

Di hari kedua di sana, saya diajak Syahriar ke sebuah pantai di tepian Laut Kaspia. Warga lokal memenuhi tempat wisata itu. Saya agak terkejut karena semuanya memakai bikini, dan menurut kawan saya, itu hal yang wajar saja di sana.

DSCF8223.JPG

Busana sehari-hari Azeri

DSCF8229.JPG
Sudut lain Baku

Saya pikir, ini karena negara ini terlalu lama dikuasai Uni Soviet sehingga sulit melepaskan diri dari pengaruh sekularisme. Namun ketika saya berkunjung ke Uzbekistan, yang sama-sama pecahan Uni Soviet, saya merasakan atmosfer yang berbeda. Nuansa Islam lebih kental terasa di sana. 

Namun saya hanya ada di sana selama tiga hari, belum bisa melihat kehidupan sebenarnya di sana. Mungkin saja, hanya Syahriar yang terlalu sekuler, tak mengerti agama. Atau mungkin, kebanyakan dari mereka memang tak mau mencampurkan urusan agama dengan kehidupan sehari-hari.

Seperti yang Ali Hasanov (Deputi Presiden Azerbaijan Bidang Politik, Publik, dan Media) katakan kepada detik.com sewaktu wartawan mereka berkunjung ke Azerbaijan tahun 2018 lalu, “Kami muslim. Tapi kalau kami puasa, salat, pergi ibadah, semua untuk kami. Seikhlasnya untuk kami sendiri. Kami tak mau perlihatkan pada orang lain.”

Baca Juga: Solo Backpacking ke Azerbaijan: Menikmati Laut Caspia di Baku Boulevard

Mantan jurnalis dan editor di Kompas Gramedia Group. Travel writer yang sudah mendatangi 41 negara di dunia.

41 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!