Solo Backpacking ke Azerbaijan: Negara Muslim yang Tak Islami

DSCF8059.JPG
Masjid yang ada dekat Flame Tower. Ditutup saat saya mau solat di sana.

“They think you are from Kazan,” kata teman saya. Ya, kebanyakan warga Baku yang menyapa saya mengira saya dari area muslim di Rusia itu.

“Why?” saya tanya balik, GR karena disamakan dengan gadis Rusia yang cantiknya luar biasa.

“Because your face not look like Arabic but you wearing that. Azeri not wearing that” kata dia lagi sambil menunjuk ke jilbab saya.

Baru kali ini mereka bener. Biasanya, saya dikira orang Arab karena pakai jilbab. Padahal hidung pesek begini.


Saya membaca sejarah Azerbaijan yang ternyata cukup panjang. Pada abad 7-8 kekaisaran Arab menguasai negara ini, meletakkan dasar Islam di sini. Dan pada abad ke-11, Azerbaijan dikuasi Turki Seljuk dan meletakkan dasar pada budaya dan bahasa Azerbaijani masa kini. Hingga kini, Azeri (begitu penduduknya diberi nama) masih menggunakan bahasa yang berasal dari rumpun bahasa Turkish.  Kemudian dikuasai Rusia hingga tahun 1990an.

Meskipun menurut data Azerbaijan ini 93 persen lebih penduduknya memeluk agama Islam, tapi itu cuma di atas kertas. Kehidupan islami tak terasa sama sekali di sini. Paling tidak itu yang saya rasakan selama tiga hari berada di Baku.

Seperti yang kawan saya katakan, tak ada penduduk Azerbaijan yang berhijab. Bahkan ia tak tahu istilah hijab. Ia hanya menunjuk ke kepala saya, sambil berkata “your head cover.”

Menurut artikel dari Al Mesbar, salah satu komunitas Islam di Azerbaijan, pengaruh sekuler Soviet masih sangat terasa di sini. Walau sudah lebih baik dari dulu. Ketika di bawah kekuasaan Uni Soviet, masjid-masjid dihancurkan, hanya ada 13 masjid yang tersisa. Sekarang di Azerbaijan ada 3.500 masjid, yang dibangun pasca Azerbaijan merdeka dari Uni Soviet sekitar tahun 1990-an.

Namun ketika saya minta diantar ke masjid, host saya tampak bingung dan kemudian mengajak saya ke salah satu masjid di kawasan yang dekat dengan Flame Tower. Sayangnya masjid itu tak dibuka, padahal itu sudah masuk jam solat. Ketika saya tanya, kawan saya malah tak tau jadwal solat kapan saja dan azan itu seperti apa.

“I heard that voice near my home sometimes, and i heard it also in Turkey. Its same voice, ” katanya soal azan. Saat saya bilang, itu sama di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dia agak kaget.


Di kota Baku, bir dijual bebas di mana-mana, termasuk di warung pinggir jalan. Mereka tau saya muslim dan tak boleh minum bir,  sehingga mereka tak menawarkannya ke saya, tapi mereka tampaknya sudah terbiasa dengan minuman itu. Kabarnya, mereka punya pabrik bir yang lumayan terkenal, Xindalan dan juga pabrik Wine besar di daerah pedesaan di utara Azerbaijan.

Halal food bukan sesuatu yang penting bagi mereka, meskipun menurut kawan saya, mereka tak  mengkonsumsi barang haram seperti babi dan sebagainya. Tiga hari di sini, saya tak menemukan makanan dengan label halal, namun dari yang saya baca, semua daging yang ada di sini mesti melewati standarisasi halal. Jadi saya tak khawatir karenanya.


DSCF8223.JPG
Busana sehari-hari Azeri

 

DSCF8229.JPG
Sudut lain Baku

Cara berpakaian mereka juga sangat kebarat-baratan. Di hari kedua di sana, saya diajak kawan saya ke Laut Caspia. Warga lokal memenuhi tempat wisata itu. Saya agak terkejut karena semuanya memakai bikini, dan menurut kawan saya, itu hal yang wajar di sana. Dan ketika saya berkunjung ke Uzbekistan, yang sama-sama pecahan Rusia, saya merasakan atmosfer yang berbeda. Nuansa Islam kental terasa di sana.

Baca Juga: Solo Backpacking ke Azerbaijan: Menikmati Laut Caspia di Baku Boulevard

Namun saya hanya ada di sana selama tiga hari, belum bisa melihat kehidupan sebenarnya di sana. Mungkin saja, hanya kawan saya yang terlalu sekuler, tak mengerti agama. Seperti yang kawan saya katakan, “kami muslim. Tapi kalau kami puasa, salat, pergi ibadah semua untuk kami, tak mau perlihatkan pada orang lain.”

 

Author: rahma ahmad

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

6 thoughts

  1. Unik juga yaaa… Tapi ttp bikin aku jd penasaran mau melihat lgs kehidupan Azerbaizan ini.. :). Sayang banget kalo mesjidny hanya utk sekedar ‘pajangan’ dan ga dipakai utk ibadah..

    Like

    1. Bisa jadi….tapi bisa juga pemerintahannya lebih fokus ke pembangunan infrastruktur, soalnya di mana-mana lagi ngebangun gedung2 bagus buat menarik wisatawan

      Like

  2. menarik sekali ceritanya kak… memang hampir tidak ada wanita yang berhijab di azerbaijan.. saya kebetulan punya teman orang azerbaijan, tapi dia dan kerabatnya memang dari dulu pakai hijab dan menganut Islam (Syiah). ya bagaimana lagi, banyak orang dari ex uni sovyet di sana. bahasa azeri dan bahasa rusia pun lazim digunakan bersama. walaupun begitu seni dan tradisi mereka cukup terpelihara ya seperti perayaan nowrooz.

    Like

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s