Dari Pemulung jadi Petani: Kisah Swara Farm Mengubah Wajah Kampung Sumur

Saya sempat tidak percaya ketika pertama kali melihat deretan tanaman melon yang tumbuh subur di dalam sebuah greenhouse. Buah-buah melonnya memang tak terlihat karena baru dipanen, namun bunga-bunganya sudah mulai muncul di antara daun-daun hijau yang tertata rapi. 

Pemandangan seperti ini mungkin biasa ditemukan di Lembang Bandung atau di kawasan pertanian dan pedesaan lainnya, tetapi bukan di sini, di salah satu sudut Jakarta Timur yang terkenal sebagai kawasan padat yang dipenuhi pemulung.

Greenhouse yang berada di antara permukiman padat penduduk..

Ya, greenhouse ini berada di Kampung Sumur, Kelurahan Klender, Jakarta Timur, tidak jauh dari Pasar Klender. Kawasan ini memang dikenal sebagai tempat tinggal para pendatang dari luar Jakarta, yang bekerja sebagai pemulung, pedagang kaki lima, dan buruh bangunan.

Keberadaan greenhouse ini seakan kontras dengan lingkungan sekitar yang didominasi rumah-rumah petak berdinding triplek beratap seng, yang dibangun berdempetan satu sama lainnya. Kontras dengan gerobak dan mobil pengepul yang sedang mengangkut tumpukan kardus dan botol bekas, serta sepeda gerobak pedagang kaki lima yang terparkir di depan rumah.

Mobil pengepul yang lokasinya dekat greenhouse.

Di tengah kawasan padat inilah, Kelompok Tani (Poktan) Swara Hijau Farm hadir. Bersama masyarakat, mereka mengelola lahan garapan seluas 650 meter persegi yang sebelumnya terbengkalai. Kini, lahan tersebut disulap menjadi ruang produktif yang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai dari pertanian dan perikanan hingga pengelolaan sampah.

Dari Memulung ke Greenhouse

Salah satu warga yang terlibat dalam kegiatan Swara Hijau Farm adalah Wasriyah. Sebelum bergabung, kesehariannya diisi dengan memulung. Ia berkeliling mencari barang bekas, memilahnya, lalu menjual barang-barang yang masih memiliki nilai ekonomi. Pekerjaan itu memang menghasilkan uang, tetapi jam kerjanya tidak menentu.

Kini, kebiasaan tersebut berubah. Wasriyah dipercaya menjadi penanggung jawab greenhouse, tempat ia merawat tanaman melon dari mulai tumbuh hingga siap dipanen.

Secara materi, diakui Warisyah, bergabung dengan Swara Hijau Farm tidak serta-merta membuat penghasilannya meningkat. Ia menerima gaji dan bagi hasil sekitar Rp1 juta per bulan, jumlah yang kurang lebih sama dengan penghasilannya dari memulung. Namun, ada hal lain yang lebih berarti baginya, yakni ia kini punya lebih banyak waktu bersama keluarga.

Wasriyah cukup bekerja pada pagi hari, sejak pukul 7-10 pagi. Ia tak lagi harus berpanas-panasan berjam-jam untuk berkeliling mencari barang bekas, kemudian memilah dan menyortirnya. Setelah pekerjaan di greenhouse selesai, ia bisa pulang untuk beristirahat dan mengurus keluarga.

“Efeknya sekarang nggak sakit-sakitan lagi,” ujarnya dengan logat Jawa yang masih kental.

Meski begitu, ia sesekali masih memulung. Bedanya, barang-barang yang dikumpulkannya kini tidak selalu langsung dijual. Seluruhnya ia setorkan ke bank sampah dan dianggap sebagai simpanan yang bisa digunakan ketika ada kebutuhan mendesak.

Ibu Wasriyah

Wasriyah bergabung dengan Swara Hijau Farm sekitar lima tahun lalu, ketika pandemi Covid-19 berlangsung. Awalnya, ia hanya membantu berbagai kegiatan pertanian. Seiring waktu, kepercayaan kepadanya bertambah hingga akhirnya ia dipercaya menangani tanaman melon di dalam greenhouse.

Ia pun tak membutuhkan waktu lama untuk mempelajari teknik dasarnya. Dalam waktu sekitar satu minggu, Wasriyah sudah memahami cara melakukan penyerbukan, pemangkasan, hingga mengatur kebutuhan nutrisi tanaman.

Latar belakangnya membantu penyerapan ilmu ini. Dari sekitar 25 pemulung yang dilatih menanam melon hidroponik, Wasriyah paling cepat menyerap ilmunya karena pernah bertani di kampung halamannya di Brebes, mulai dari bawang merah, semangka, melon, hingga cabai. Bedanya, kini sistem tanamnya hidroponik.

Perjalanan hidupnya juga panjang. Ia sudah lebih dari dua dekade merantau ke Jakarta. Bersama suami, ia awalnya berjualan nasi goreng. Setelah suaminya pergi, ia membesarkan anak-anaknya sendirian dengan memulung selama lebih dari 18 tahun.

Keahliannya kini disebarkan ke orang lain. Ia pernah mengisi pelatihan hidroponik di sebuah yayasan di Bekasi, dan sesekali melatih warga binaan lapas perempuan di Pondok Bambu tentang budi daya melon, persemaian, serta takaran air dan pupuk.

Wasriyah mengaku ia pernah gagal panen akibat serangan hama. Penyebabnya sederhana, yakni terlalu banyak pengunjung yang keluar masuk greenhouse dan akhirnya membawa organisme pengganggu tanaman. Dari pengalaman itu mereka semakin memahami pentingnya standar operasional dan pembatasan akses pengunjung ke area budidaya. Termasuk kami, yang hanya bisa mengintip isi greenhouse dari luar.

Dari Pendidikan Anak Pemulung ke Urban Farming

Cerita Swara Hijau Farm dimulai jauh sebelum ada Wasriyah dan tanaman melon di dalam greenhouse. Sosok di baliknya adalah Endang Mintarja, pemuda asal Jawa Barat yang pertama kali datang ke Kampung Sumur pada 2015.

Saat itu, Endang datang melalui Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta untuk membantu anak-anak dari keluarga pemulung mendapatkan pendampingan belajar. Kegiatan tersebut berjalan selama beberapa tahun, hingga pandemi Covid-19 pada 2020 membuat aktivitas terpaksa dihentikan akibat pembatasan kegiatan.

“Saat pandemi, para pemulung nggak bisa keliling sehingga mereka tidak punya penghasilan. Karena itu kami mulai mencari kegiatan produktif yang bisa dilakukan di rumah,” ujar Endang.

Dari situlah muncul gagasan untuk mengembangkan kegiatan pertanian bersama warga. Endang kemudian membentuk Kelompok Tani (Poktan) Swara Hijau Farm dan mengajak para pemulung menanam melon serta sayuran hidroponik.

Melon dipilih bukan tanpa alasan. Tanaman tersebut memiliki masa panen yang relatif singkat sehingga hasilnya dapat lebih cepat dirasakan oleh warga yang mengelolanya.

Kegiatan yang semula berfokus pada tanaman hidroponik kemudian berkembang. Swara Hijau Farm kini juga memiliki peternakan ayam dan budidaya ikan nila. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka menambah kegiatan budidaya maggot dan pengelolaan bank sampah.

Endang di tengah-tengah kolam ikan nila dan lele milik Swara Farm

“Magot ini kita jadikan pakan ikan dan ayam karena kita lihat dari hari ke hari harga pakan itu terus naik. Dalam bulan-bulan ini saja naik sekitar 20 persen. Jadi mengembangkan magot ini merupakan alternatif kami untuk mengurangi cost. Kasgot, kompos yang berasal dari sisa magot, juga bisa kita gunakan sebagai pupuk alami,” jelas Endang.

Menariknya, Endang tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian. Pengetahuan mengenai cara bertani dan beternak justru ia pelajari secara otodidak dari berbagai sumber, termasuk internet.

Perjalanan itu tentu tidak selalu berjalan mulus. Endang mengaku beberapa kali mengalami kegagalan. Namun, kegagalan tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar sekaligus alasan untuk terus mencoba.

“Awal-awalnya tanam melon rasa timun, rasanya ga ada manis-manisnya. Tapi dari situ kami trial error dan belajar terus karena kami tahu ini bukan hal yang satu dua hari bisa dipelajari,” tukasnya bijak.

Pokcay dan kangkung yang ditanam secara hidroponik.

Saat ini, Poktan Swara Hijau Farm beranggotakan sekitar 30 orang pemulung. Mereka bekerja secara berkelompok dan dibagi ke dalam dua shift untuk mengelola berbagai kegiatan di lahan.

Sebagai anggota, mereka mendapatkan bagian dari hasil usaha yang dikelola bersama. Setiap akhir bulan, masing-masing anggota bisa menerima bagi hasil sekitar Rp150.000 hingga Rp300.000, tergantung keuntungan bersih yang diperoleh pada bulan tersebut.

Bukan Sekadar Menambah Penghasilan

Selain diajari dan diajak untuk bertani, Endang mengajak warga untuk mengelola bank sampah. Warga mengumpulkan sampah terpilah seperti plastik dan kardus, yang kemudian dicatat sebagai tabungan. Tabungan itu bisa dicairkan saat dibutuhkan, misalnya menjelang Idulfitri atau untuk biaya pendidikan dan kesehatan.

“Sebenernya harga kami dengan pengepul itu ga terlalu beda. Namun kelebihan kami adalah mereka bisa menyimpan uang itu buat nanti Idul Fitri. Itu buat beli daging, ayam, dan keperluan lainnya,” ujar Lisna, bendahara Swara Farm, yang menemani kami berkeliling.

Bank Sampah milik Swarga Farm

Kehadiran Swara Hijau Farm perlahan ikut mengubah wajah Kampung Sumur. Lisna dan Endang melihat perubahan itu bukan hanya dari lingkungan yang kini lebih produktif, tetapi juga dari perilaku masyarakat yang terlibat di dalamnya.

“Di awal diajak mereka yaa bingung. Selama ini kan mereka aslinya cari duit instan. Cari barang, jual, buat makan hari itu. Tapi ini kan butuh proses. Harus semai bibit, kemudian sebulan kemudian panen dan merasakan hasilnya,” ujar Endang

Dari proses tersebut, perlahan muncul pemahaman baru di diri para pemulung. Mereka belajar bahwa sesuatu yang dihasilkan membutuhkan waktu, ketekunan, dan proses.

Perubahan serupa juga terlihat dalam cara masyarakat memandang bantuan. Jika sebelumnya yayasan identik dengan bantuan sosial yang membuat penerima bergantung, kini pendekatannya diarahkan pada kemandirian.

“Ujung-ujungnya perubahan perilaku juga terbentuk. Dulu kan yayasan identik dengan bansos, tapi mereka jadi tergantung kita. Sekarang mereka dilatih untuk tidak mengharapkan itu. Alhamdulillah, sekarang mereka datang ke sini bukan untuk minta bantuan, tapi untuk berlatih,” cerita Endang.

Salah satu sudut jalan di Kampung Sumur yang kini sudah dilapisi beton.

Perubahan juga terasa pada wajah Kampung Sumur. Lisna masih mengingat kondisi kampung ini ketika pertama kali datang. Jalan-jalannya saat itu begitu memprihatinkan dan tidak layak dilewati.

Namun, perlahan masyarakat mulai tergerak untuk memperbaikinya bersama-sama. Setelah kehadiran yayasan, warga bersedia bergotong royong dan menyisihkan uang secara swadaya sebesar Rp20.000 setiap bulan.

“Dulu saya males banget ke sini karena jalannya gitu, kak. Tapi sedikit demi sedikit alhamdulillah berubah. Ada dana, dicor. Ada dana lagi, dicor lagi bagian lain. Hingga akhirnya sekarang semuanya rapi,” kenangnya

Belajar Bertani, Belajar Mengelola

Kantor Swara Farm yang juga dimanfaatkan sebagai ruang pertemuan dan Taman Pendidikan Anak (TPA)

Seiring berkembang, Swara Hijau Farm menyadari bahwa kemampuan menghasilkan produk saja belum cukup. Mereka butuh sistem pengelolaan yang lebih baik agar kegiatan berkelanjutan.

Di sinilah pendampingan Astra melalui PT United Tractors Tbk dan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Yayasan Astra–YDBA Cakung ikut memberi penguatan. Pelatihan dari YDBA berlangsung pada 2023, didahului asesmen bersama PT United Tractors untuk memetakan kebutuhan penguatan kapasitas.

Salah satu yang dipelajari adalah prinsip 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin). Materi lainnya mencakup cara meningkatkan skala UMKM urban farming, manajemen keuangan, digital marketing, dan keuangan digital. Mereka juga mendapat pendampingan penyusunan SOP, administrasi, business model canvas, dan keterampilan kewirausahaan.

“Kami jadi memahami bagaimana membuat SOP. Pelatihan dari United Tractors dan Yayasan Astra sangat membantu, sekarang lebih rapi dan bisa terkontrol,” ujar Endang.

Ke Depan: Edukasi dan Produk Turunan

Pelatihan yang diberikan Yayasan Astra bersama United Tractors juga membuka wawasan baru bagi pengelola Swara Hijau Farm. Mereka mulai menyadari bahwa keberlanjutan usaha tidak cukup hanya mengandalkan penjualan hasil panen.

Dari sana, urban farming dikembangkan tidak hanya sebagai tempat produksi, tetapi juga sebagai sarana edukasi. Swara Hijau Farm kini membuka kunjungan berbayar dengan biaya yang terjangkau bagi anak sekolah maupun instansi. Pengunjung dapat belajar secara langsung mengenai pertanian, perikanan, hingga pengelolaan sampah.

Diversifikasi produk juga mulai disiapkan. Mulai Juni 2026, Swara Hijau Farm berencana memasarkan maggot kering yang memiliki masa simpan lebih panjang dibandingkan maggot segar. Ke depan, produk turunannya juga akan dikembangkan, antara lain menjadi tepung dan minyak maggot.

Hasil panen ikan pun mulai diberi nilai tambah. Jika sebelumnya ikan lebih banyak dijual dalam kondisi segar, kini sebagian hasil panen diolah menjadi nila dan lele marinasi.

Ikan nila yang selain dijual dalam bentuk fresh, juga dijual dalam bentuk produk marinasi.

Untuk memperluas jangkauan pasar, Endang juga merencanakan penambahan freezer agar hasil panen dapat disimpan lebih lama. Selain itu, ia juga berencana menyediakan alat transportasi yang dapat digunakan ibu-ibu untuk berkeliling menjajakan hasil pertanian dan peternakan ini.

Berbagai rencana tersebut menunjukkan bahwa Swara Hijau Farm perlahan tidak hanya membangun kegiatan pertanian di tengah permukiman padat. Mereka juga sedang membangun model usaha yang memungkinkan hasil dari lahan tersebut terus berkembang dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat yang terlibat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!