Satu Jam di Papua Nugini

Tiga tahun lalu, saya mendapat tugas meliput kegiatan sebuah kementerian di Kabupaten Jayapura, setelah sebelumnya melakukan liputan serupa di Boven Digoel, Papua Selatan. Setelah terbang dari Boven Digoel dan tiba di Jayapura, saya masih punya waktu luang sekitar dua hari sebelum kegiatan liputan resmi dimulai.

Daripada menghabiskan waktu dengan berdiam diri di hotel, saya memilih memanfaatkan kesempatan itu untuk menjelajahi beberapa tempat di sekitar Jayapura. Salah satunya adalah Pos Lintas Batas Negara (PLBN) SKOW di Distrik Muara Tami. Tempat ini merupakan perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini yang sudah lama ingin saya kunjungi. Sewaktu di Boven Digoel sebenarnya saya juga ingin mengunjungi PLBN juga, namun dilarang oleh semua orang karena akses jalan menuju ke sana cukup terjal dan berkelok-kelok. 

“Di Jayapura aja nanti, jalannya mulus dan aksesnya mudah,” tukas mereka. 

Karena itu, begitu sampai di Jayapura saya langsung meminta satu hal: selain ke Danau Sentani, saya HARUS diantar ke SKOW. Kalau tak ada yang mengantar, saya akan cari ojek motor aja untuk ke sana sendirian. 

Akhirnya saya diantar oleh Mas Erwin, salah seorang staf yang memang ditugaskan mendampingi kami selama berada di Kabupaten Jayapura. Sayangnya, kali ini, saya mesti pergi sendirian karena dua rekan satu tim lainnya memilih tidak ikut; mereka sudah pernah berkunjung ke SKOW dalam perjalanan sebelumnya. Malas katanya kalau mesti datang ke tempat yang sama berkali-kali. Sementara bagi saya, ini adalah kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

Ya…kaan..kapan lagi ke Jayapura, tiketnya mahal banget soalnya.

Pukul 10 siang, Mas Erwin menjemput saya di Kantor Bupati Jayapura. Rencana awalnya, kami akan berangkat pagi-pagi setelah sarapan, karena jarak antara Kabupaten Jayapura dengan SKOW lumayan jauh, yakni sekitar 70 km atau 1,5 jam perjalanan, sementara border PLBN akan ditutup pukul 14.00 siang. Namun ternyata, staf kementrian meminta saya bertemu sebentar untuk membahas jadwal wawancara Bupati, sehingga akhirnya saya mesti mengundurkan waktu keberangkatan.

Untunglah ini Jayapura, bukan Jakarta. Tak ada macet apalagi galian di jalan, sehingga pukul 11 lebih sedikit saya sudah tiba di pintu gerbang SKOW.  

Tempat Bertemunya Warga Dua Negara

Tak seperti yang saya bayangkan, PLBN ini ternyata rapi dan teratur. Gerbang perbatasan dari tembok dan besi yang berpadu dengan lambang Burung Garuda berdiri dengan kokohnya, seakan menegaskan “ini Indonesia yang gagah”.

Rupanya, berdasarkan Inpres no 1 tahun 2019, ada 11 PLBN—termasuk di Boven Digoel dan Jayapura—yang mengalami renovasi. FYI, beberapa bulan setelahnya saya juga berkunjung ke perbatasan Indonesia dan Malaysia di Badau, Kalimantan Barat, dan ternyata juga sudah mengalami renovasi total. 

 Tak jauh dari gerbang Garuda itu, saya melihat  banyak orang berkumpul. Mereka membawa kardus, karung, dan berbagai macam barang lainnya. Rupanya, gerbang bukan hanya menjadi batas Indonesia dan PNG, melainkan juga menjadi tempat bertemunya para pembeli dan pedagang dari kedua negara itu.

Dan menurut cerita Bapak-Bapak TNI yang menyapa saya di depan gerbang, setiap hari Selasa di sini memang ada pasar yang cukup ramai. Dan khusus di hari itu, warga PNG diizinkan masuk ke wilayah RI hanya menggunakan dokumen berupa kertas manifes berisi nama-nama mereka yang hanya berlaku hingga ke kawasan pasar Skouw.  Pun sebaliknya, warga ber-KTP Papua juga diizinkan masuk ke PNG dengan izin khusus.

Selepas gerbang, ada pos penjagaan dan imigrasi Indonesia. Bangunannya terdiri dari dua lantai, yang nampaknya masih baru. Di fasad depan terdapat mural berlukiskan motif khas Papua, sementara di taman depannya ada plang bertuliskan “SKOUW Border Post of The Republic of Indonesia”.   Desain bangunan ini katanya adalah adaptasi dari Tanfa, rumah adat masyarakat pesisir Skouw.

Penduduk Indonesia yang tidak punya visa ataupun izin khusus hanya boleh sampai ke taman ini. Namun untungnya, petugas memperbolehkan saya masuk lebih dalam lagi dengan pengawalan khusus dari penduduk setempat alias akamsi. Kabarnya, orang lain (yang bukan wartawan seperti saya) pun bisa masuk hingga ke terminal dengan pengawalan dari akamsi ini, karena memang ada tempat wisata yang bisa didatangi selepas gerbang nanti.

Akamsi ini membawa saya melewati jalur khusus pejalan kaki, melewati imigrasi Indonesia, lalu lanjut ke Zona Netral, yakni area kosong antara pagar milik Indonesia dengan pagar milik PNG. Dari sini saja sudah terlihat kekontrasannya. Pagar milik PNG amat sederhana, hanya terdiri dari bilah-bilah besi polos yang dicat warna merah dan kuning khas PNG, sementara pagar Indonesia lebih tinggi dan gagah.. 

Setelah melewati pagar itu, resmilah saya berada di Papua Nugini.

Si bapak akamsi ini membawa saya lagi melewati pos imigrasi Papua Nugini. Dia hanya melambaikan tangan ke petugas dan tersenyum. Sudah biasa rupanya dia membawa orang “berwisata” ke sini. 

Pasar dan Terminal

Keluar dari kantor imigrasi, langsung terasa beda antara Indonesia dan Papua Nugini. Di Indonesia, areanya tertata rapi, sementara di sini, saya langsung menemukan terminal berisi jeep-jeep putih yang akan membawa orang-orang ke kota.

Di dekat terminal itu ada pasar yang menjual aneka souvenir dan makanan khas Papua Nugini. Salah satunya sosis domba, yang katanya mesti dicoba. Namun karena ragu dengan kehalalannya, saya tak berani mencobanya.

Saya akhirnya hanya membeli fanta bertuliskan Made in Papua Nugini seharga 20.000 rupiah. Mahal sih, tapi kan ga ada di Indonesia ya. Rencananya, kalengnya akan saya bawa pulang ke rumah, namun entah mengapa saat di Jakarta, saya tak menemukannya. Rasanya kaleng itu tertinggal di hotel di Jayapura. 

Mas Erwin membeli satu kardus crackers (saya lupa namanya) titipan istrinya, yang katanya enak sekali. Dia menawarkan saya untuk mencobanya, tapi lagi-lagi saya tak yakin dengan kehalalannya sehingga saya menolaknya.

Bayarnya Pakai QRIS!

Setelah melewati terminal dan kios tadi, kami sampai di sebuah tempat wisata. Ada sebuah deck kayu dan dari situ, saya bisa melihat pantai di daerah Sendaun dan rumah-rumah di pesisir pantai serta berfoto dengan bendera Papua Nugini yang diletakkan di pojokan deck. Untuk masuk ke sini, saya mesti membayar 25.000 rupiah dan ajaibnya saya bisa membayar dengan menggunakan QRIS. Luar biasa penetrasi QRIS ini.

Setelah puas berfoto di sana, saya diajak kembali ke “bagian Indonesia” karena sebentar lagi gerbang perbatasan akan ditutup. Total, saya hanya menghabiskan waktu sekitar 45 menit- satu jam di Papua Nugini!

Btw, ini boleh ga ya dihitung sebagai negara ke-47 yang sudah saya datangi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!