Dari Digaji hingga Menggaji: Perjalanan Tri Membangun Trilili

Suara mesin jahit terdengar bersahutan dari rumah tiga lantai yang menjadi tempat produksi CV Angsa Mandiri. Di antara tumpukan kain, dakron, benang, dan berbagai komponen boneka, terlihat enam orang pekerja wanita sedang sibuk menjahit bagian demi bagian sebelum memasuki tahap finishing.
Di ruangan lainnya, saya melihat tumpukan bantal berwarna ungu dan boneka berbentuk hewan Kukang yang hampir rampung. Walaupun belum sepenuhnya jadi, namun bentuknya sudah terlihat sangat menyerupai hewan kukang aslinya, mulai dari warna, mata, hingga detail pada wajahnya.
Aktivitas produksi seperti ini kini menjadi keseharian Tri Marwati, pemilik CV Tri Angsa Mandiri yang mengembangkan berbagai produk boneka hewan. Ia memberi nama usahanya dengan nama “Trilili“, akronim dari namanya dan nama suaminya, Lili.
Menariknya, beberapa tahun lalu, Tri justru berada di sisi lain dari proses tersebut.
“Sekarang bisa gaji orang, dulu mah digaji orang.” Begitu tuturnya ketika membuka perbincangan dengan saya.
Ya, sebelum memiliki bisnis sendiri, Tri menghabiskan sekitar 20 tahun bekerja di industri boneka. Dari sana, ia mempelajari hampir seluruh proses produksi, mulai dari desain hingga menangani produk untuk pasar ekspor. Ia bahkan pernah dipercaya menangani lima cabang dan mendapat kesempatan mengikuti pelatihan desain boneka di Korea selama dua tahun.
Pengalaman selama dua dekade tersebut menjadi bekal berharga bagi Tri ketika akhirnya memutuskan meninggalkan pekerjaannya dan membangun usaha sendiri. Pengetahuan tentang produksi yang selama ini ia peroleh sebagai pekerja, perlahan ia gunakan untuk membangun bisnisnya sendiri.

Berawal dari Tiga Mesin
Setelah keluar dari pekerjaan pada 2014, Tri mulai merintis usaha sendiri. Pada awalnya, ia hanya memiliki mesin pinjaman oleh PT Aurora, tempat ia bekerja dulu. Saat itu, ia memang masih bekerja sama dengan PT Aurora namun hanya bersifat jasa pengerjaan.
Semuanya dikerjakan di rumahnya yang tak terlalu besar. Keuntungan yang diperoleh dari hasil jasa pengerjaan itu kemudian diputar kembali untuk membeli mesin.
“Saya cicil beli mesin second. Asal ada uang lebih, cicil beli dua, cicil lagi beli dua,” kenangnya.
Sedikit demi sedikit, jumlah mesin bertambah. Ia pun memberanikan diri lepas dari PT Aurora dan mencari pembeli sendiri. Pembeli pertama adalah Taman Matahari yang membeli 200 pcs boneka.
Pada 2017, Tri pun menyewa tempat produksi yang lebih besar karena rumahnya sudah tidak memadai untuk menjadi tempat produksi. Setahun kemudian, ia mulai benar-benar menjalankan bisnisnya secara mandiri.
“Sebenarnya saya ditawari masuk lagi ke PT Auroa, tapi saya tolak. Saya mau kembangin bisnis saya sendiri aja,” tutur ibu dari dua anak ini.

Memilih Boneka Hewan sebagai Ceruk Pasar
Sejak awal, Tri menyadari bahwa untuk bertahan di tengah persaingan, usahanya harus memiliki pembeda. Karena itu, ia memilih fokus membuat boneka berbentuk hewan. Menurutnya, produk tersebut membutuhkan keterampilan khusus sehingga tidak mudah ditiru. Di sisi lain, belum banyak pelaku usaha yang secara khusus menggarap boneka hewan.
“Ga semua orang bisa bikin boneka hewan ini. Terutama soal desainnya,” katanya.
Salah satu keunggulan Tri terletak pada kemampuannya membuat boneka yang menyerupai hewan aslinya. Kemampuan tersebut tak lepas dari pengalaman mengikuti pendidikan desain boneka di Korea selama dua tahun.
Menariknya, seluruh desain dibuat Tri secara manual. Ia tidak menggunakan komputer untuk menggambar rancangan bonekanya.
“Semuanya saya gambar pake tangan, ga ada mah pake komputer,” jawabnya ketika saya menanyakan alat yang digunakan untuk menggambar.
Pengalaman membuat boneka selama bertahun-tahun membuat Tri semakin terbiasa menerjemahkan bentuk hewan ke dalam sebuah desain.
“Karena udah biasa, alhamdulillah lihat foto hewannya saya udah tahu ini tangannya mesti gimana, wajahnya gimana, badannya gimana,” tambahnya.

Proses desain biasanya dimulai dari permintaan calon pembeli. Pembeli mengirimkan gambar atau foto hewan yang ingin dibuat, kemudian Tri menerjemahkannya ke dalam desain secara manual. Rancangan tersebut selanjutnya diajukan kepada calon pembeli untuk mendapatkan persetujuan.
Namun, desain tidak selalu langsung diterima. Jika ada bagian yang belum sesuai dengan keinginan pembeli, Tri akan melakukan revisi hingga bentuk boneka yang dihasilkan mendekati karakter hewan yang diminta.
Kemampuan mendesain bukan satu-satunya bekal yang Tri miliki. Selama bertahun-tahun bekerja di industri boneka, ia juga memahami berbagai kebutuhan produksi, mulai dari memilih kain, mencari mata boneka, hingga menentukan jenis dakron yang digunakan. Pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika ia membangun usahanya sendiri. Tri tidak perlu memulai semuanya dari nol karena sebagian besar pengetahuan produksi sudah ia kuasai.

Pandai Membaca Peluang
Kemampuan Tri membaca peluang juga menjadi bagian penting dalam menjalankan bisnis. Ketika mengunjungi suatu tempat wisata, misalnya, Tri kerap memperhatikan hewan atau maskot yang menjadi ciri khas tempat tersebut. Jika menemukan hewan yang belum tersedia dalam bentuk boneka, ia melihatnya sebagai peluang. Ia kemudian membuat sampel dan menawarkan produk tersebut kepada pengelola.
Strategi ini turut membuka jalan bagi sejumlah pesanan. Salah satunya dari Taman Safari Bali. Awalnya, pesanan boneka capybara hanya 300 buah. Setelah produk tersebut mendapat respons positif, jumlah pesanannya meningkat menjadi 600 hingga 800 buah.
Begitu pula dengan tren berdasarkan shio. Tri berusaha membaca kebutuhan pasar dan menyesuaikan produksinya. Ketika memasuki tahun shio ular, misalnya, ia meningkatkan produksi boneka ular hingga mencapai sekitar 4.000 buah.
Kemampuan Tri membaca peluang ini berhasil membawa Trilili ke berbagai tempat. Setelah lepas sepenuhnya dari PT Aurora, ia mendapatkan pesanan dari Taman Matahari. Setelah itu satu klien besar pertama adalah Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta pada 2019, disusul Bali Zoo pada 2020.
Produk Trilili juga telah dipesan oleh sejumlah pelaku usaha lainnya, termasuk The Keranjang Bali dan Nuri’s Restaurant. Untuk Nuri’s, misalnya, Trilili membuat boneka berbentuk hewan yang menyerupai produk makanan yang mereka jual, untuk dijadikan souvenir.

Pesanan pribadi pun datang dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu pesanan terbesar yang pernah diterima mencapai 3.000 buah untuk satu jenis produk.
Untuk menarik minat pembeli, Tri memberlakukan jumlah minimum pembelian yang tidak terlampau besar. Pada masa awal, Tri bersedia menerima pesanan sekitar 100 buah. Kini jumlah minimum biasanya berada di kisaran 200–250 buah, tergantung jenis produknya.
Menurutnya, jumlah minimum yang terlalu tinggi dapat membuat calon pembeli ragu karena mereka belum mengetahui apakah produk tersebut akan laku. Karena itu, ia memilih memberi ruang bagi pembeliuntuk mencoba terlebih dahulu. Jika produk mendapat respons positif, jumlah pesanan biasanya akan meningkat.
“Banyak pembeliyang lari ke sini karena kalau pabrik kan order minimumnya 1.200. Di sini 250, 300 masih bisa,” ungkapnya.
Ketika Pandemi Mengubah Arah
Pandemi Covid-19 menjadi salah satu ujian bagi bisnis boneka. Ketika permintaan boneka menurun, Tri tidak tinggal diam. Ia mengalihkan produksi ke perlengkapan bayi, masker, hingga alat pelindung diri (APD).
Kemampuan beradaptasi tersebut membuat kegiatan produksi tetap berjalan di tengah perubahan kondisi pasar. Ia bahkan sempat mendapatkan pesanan dari Sanindo untuk ekspor ke empat negara.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa mempertahankan bisnis tidak selalu berarti bertahan pada satu jenis produk. Pelaku usaha perlu mampu melihat kebutuhan pasar dan menyesuaikan kemampuan produksinya.
Memberdayakan Perempuan
Di balik proses produksi Trilili, terdapat pula cerita mengenai pemberdayaan perempuan. Saat ini, sekitar sembilan orang bekerja di lokasi produksi, sementara sekitar 18 orang lainnya terlibat melalui sistem subkontrak. Pekerja di luar membantu proses pembuatan kulit boneka, sedangkan proses desain, pengisian dakron, hingga finishing dilakukan di tempat produksi utama.
Salah satu kelompok yang diberdayakan Tri adalah ibu-ibu yang sebelumnya pernah bekerja di pabrik boneka. Sebagian dari mereka sudah berusia di atas 40 tahun. Ketika kesempatan bekerja di pabrik semakin terbatas karena faktor usia, mereka masih dapat memperoleh kesempatan untuk bekerja melalui usaha yang dibangun Tri.
Dua di antaranya adalah Aas (50) dan Zaenab (58), yang sudah bekerja di CV Angsa Mandiri selama 8 tahun, setelah sebelumnya bekerja di PT Aurora selama 10 tahun.
Mereka mengaku merasa sangat terbantu dengan ajakan dari Tri ini. Selain bisa mendapatkan gaji untuk menopang ekonomi keluarga, mereka terbantu dengan waktu kerja yang ditetapkan.
“Enaknya di sini bisa masuk agak siang dan pulang tepat waktu. Kalau di pabrik kan ga bisa, mesti pagi dan pulang kadang malem. Jadi bisa ngurusin rumah tangga dan main ama cucu,” tutur Zaenab, yang kini sudah memiliki 3 cucu.
“Kalau di pabrik pulangnya lebih sejam ga dibayar, di sini dihitung lembur. Pokoknya nyaman dan membantu banget,” ujar Aas menimpali.

Menjaga Kualitas dan Kepercayaan Pembeli
Bertahun-tahun menjalankan usaha membuat Tri memiliki prinsip sederhana untuk mempertahankan bisnis. Pertama, ia selalu menjaga kualitas produksinya. Kedua, ia selalu berusaha memenuhi tenggat waktu. Ketiga, menjaga hubungan baik dengan pembeli.
Untuk urusan tenggat waktu, ia bahkan sengaja memberikan estimasi yang lebih longgar kepada pembeli. Jika menurut perhitungannya produksi membutuhkan waktu tiga minggu, ia dapat memberikan waktu sekitar satu bulan kepada pembeli.
Cara tersebut dilakukan untuk mengantisipasi apabila terjadi kendala atau ternyata pengerjaan sebuah produk membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan. Menurutnya, kepercayaan pembeli merupakan modal penting dalam bisnis.
Hal yang sama berlaku ketika menghadapi kenaikan harga bahan baku, terutama kain yang harganya mengikuti dolar. Ketika nilai tukar berubah, harga produk tidak selalu dapat langsung dinaikkan karena sudah ada kesepakatan dengan pembeli. Penyesuaian harga biasanya baru dapat dilakukan pada pesanan berikutnya.

Belajar dari Yayasan Astra-YDBA
Dalam perjalanan mengembangkan usahanya, Tri kemudian mengenal Yayasan Astra-YDBA melalui sesama pelaku UMKM. Pendampingan yang diterimanya membuka banyak hal baru yang sebelumnya belum diketahui, salah satunya penerapan budaya kerja 5R: Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin.
Sebelum mendapatkan pendampingan, kondisi tempat produksi masih jauh dari standar kerapian yang sekarang diterapkan.
“Dulu berantakan kayak kapal pecah,” ujarnya sambil tertawa.
Salah satu perubahan yang paling terasa terlihat dari penyimpanan komponen produksi. Mata boneka yang sebelumnya dapat ditemukan di berbagai tempat kini memiliki lokasi penyimpanan yang jelas. Setelah digunakan, pekerja dibiasakan untuk mengembalikannya ke tempat semula.
“Dulu mata itu berceceran. Di mana-mana ada mata. Di sana, di sini. Kalau sekarang, anak-anak tahu sendiri tempatnya. Habis dipakai ditaruh lagi di tempatnya.”
Perubahan sederhana tersebut membuat pekerjaan menjadi lebih teratur dan memudahkan pekerja ketika membutuhkan suatu komponen.
“Ga lama lagi nyarinya,” tukasnya.

Selain 5R, Tri juga mengikuti pelatihan mengenai Harga Pokok Penjualan (HPP). Pelatihan tersebut membantunya memahami biaya produksi secara lebih terperinci sehingga dapat menentukan harga jual dengan lebih tepat, walaupun ia mengaku tidak semua jenis boneka dapat ia hitung berdasarkan teori yang diberikan.
Ia juga mendapatkan pemahaman mengenai Quality, Cost, dan Delivery (QCD), yang membantunya melihat kebutuhan dan ekspektasi calon buyer.
Menurut Tri, salah satu hal yang membedakan pendampingan Yayasan Astra-YDBA adalah adanya pembekalan sebelum mengikuti pameran. Pelaku UMKM tidak hanya diberikan tempat untuk memamerkan produk, tetapi juga dibekali cara menghadapi pembelidan bagaimana mengubah pertemuan tersebut menjadi peluang pesanan.
“Kalau yang lainnya kan cuma dikasih tau, ini ada pameran tanggal segini di sini. Tapi YDBA ini beda. Dikasih ilmu dulu sebelum pameran,” ceritanya.
Salah satu kesempatan datang ketika Trilili diajak mengikuti pameran INACRAFT di JCC. Dari pameran tersebut, terdapat tiga pembeli yang kemudian melanjutkan kerja sama. Nilai PO yang diperoleh mencapai sekitar Rp37 juta, sementara transaksi selama pameran mencapai sekitar Rp15 juta.

Dari Pendampingan hingga Membuka Akses Pasar


Manfaat pendampingan juga dirasakan ketika Trilili, lewat Yayasan Astra-YDBA, mendapatkan kesempatan dikunjungi oleh Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Ir. Reni Yanita, M.Si.
Kunjungan tersebut membuka peluang baru bagi pengembangan usahanya. Salah satunya adalah proses pengurusan K3L produk yang kini sedang dijalankan. Sebelumnya, Tri pernah memiliki kerja sama dengan Dekoruma, tetapi kerja sama tersebut terhenti karena Tri belum memiliki K3L produk. Kini, dengan pendampingan yang diperoleh, proses pengajuan tersebut kembali diupayakan.
Di sisi lain, Trilili juga telah mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk mereknya dan telah memiliki sertifikasi SNI untuk lini produk yang dipasarkannya.
Berani Mencoba, Terus Menggali Ilmu
Perjalanan CV Tri Angsa Mandiri menunjukkan bahwa pengalaman menjadi modal penting, tetapi kemauan untuk terus belajar dan sadar dengan kemampuan adalah menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Tri pernah ditawari kerja sama maklon maupun sistem konsinyasi. Salah satunya adalah tawaran untuk mengisi produk boneka di 900 toko di empat negara. Namun, tawaran tersebut tidak diambil karena membutuhkan modal besar dan pembayaran dilakukan setelah satu bulan. Baginya, tidak semua peluang harus diambil jika belum sesuai dengan kemampuan usaha.
Kini, Trilili mulai mengembangkan produk baru berupa boneka yang sekaligus memiliki fungsi sebagai tas. Ia juga masih mencari bentuk-bentuk boneka baru yang bisa dijual.
Ia juga berpesan agar pelaku UMKM berani belajar, tidak berhenti belajar, termasuk dari orang yang lebih muda.
“Jangan pernah menyerah sebelum mencoba. Kalau kita mencoba pasti bisa. Harus pede usaha, mah,” ucapnya dengan penuh semangat
Ia menambahkan, ”Dan galilah ilmu walaupun dari orang yang lebih muda. Jangan pernah malu bertanya, selama itu buat kebaikan.”
Tri juga berpesan agar UMKM jangan saling merasa bersaing, lebih baik berkolaborasi dan saling berbagi ilmu, karena menurutnya jejaring itu sangat penting. Ia bercerita kalau banyak pembelinya yang datang atas dasar rekomendasi dari pabrik tempatnya bekerja atau dari kawan-kawan lainnya.
Menempa UMKM agar Tumbuh dan Mandiri
Perjalanan Trilili ini menjadi salah satu gambaran bagaimana pelaku UMKM dapat tumbuh ketika mendapat pendampingan dan akses yang sesuai dengan kebutuhan usahanya. Hal inilah yang menjadi perhatian Yayasan Astra–Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).
Didirikan pada 2 Mei 1980 oleh pendiri Astra, William Soeryadjaya, YDBA merupakan salah satu pelaksana kegiatan tanggung jawab sosial PT Astra International Tbk yang berfokus pada pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selama lebih dari empat dekade, YDBA menjalankan berbagai program untuk membantu UMKM meningkatkan kapasitas usaha sekaligus membangun kemandirian.
Dalam praktiknya, pembinaan dilakukan melalui berbagai bentuk. YDBA memberikan pelatihan, pendampingan langsung, serta membantu membuka akses terhadap pemasaran dan pembiayaan. Materi yang diberikan pun mencakup kebutuhan usaha secara menyeluruh, mulai dari produksi, pengelolaan keuangan, sumber daya manusia, penguatan kapasitas usaha, hingga pemasaran.
Bukan hanya di bidang kerajinan, UMKM yang dibina YDBA juga cukup beragam. Ada empat bidang utama yang menjadi fokus, yaitu kerajinan dan kuliner, manufaktur, bengkel, serta pertanian yang memberikan nilai tambah.
Perhatian terhadap sektor manufaktur, bengkel, dan pertanian menjadi salah satu kekhasan YDBA karena pembinaan UMKM sering kali lebih banyak dikenal melalui sektor kerajinan dan kuliner.


Selain meningkatkan kemampuan internal usaha, YDBA turut membuka kesempatan bagi UMKM binaannya untuk memperluas pasar melalui beberapa pameran seperti GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS), Indonesia Motorcycle Show (IMOS), Trade Expo Indonesia (TEI), INACRAFT, Jakarta Fair, dan berbagai pameran lainnya. Ini jugalah yang didapatkan oleh Trilili sehingga berhasil mendapatkan 3 pembeli baru.
Pendekatan tersebut telah menjangkau ribuan pelaku usaha. Hingga akhir 2025, YDBA tercatat telah membina 13.663 UMKM di Indonesia dan turut berkontribusi terhadap penyerapan 75.451 tenaga kerja.


