Dari Usaha Orang Tua ke Generasi Kedua: Kisah Yess Yoghurt Menjadi IKM Mandiri

.

Usaha keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tidak selalu berjalan mulus. Ada tantangan untuk mempertahankan apa yang sudah dibangun, sekaligus keberanian untuk mengubahnya agar tetap relevan dengan zaman. Kisah Yess Yoghurt menunjukkan bagaimana keuletan, keberanian berinovasi, dan kolaborasi lintas generasi dapat membawa sebuah usaha keluarga tumbuh dari produksi rumahan menjadi IKM Mandiri. 

…

Perjalanan tiga puluh menit dari Stasiun Bogor membawa saya ke sebuah rumah berwarna abu-abu di Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Di tempat inilah Maulita Putri Darmawati, atau yang akrab disapa Lita, menjalankan usaha keluarga yang dirintis oleh orangtuanya, yang diberi nama “Yess Yoghurt”. 

Bagi saya, nama Yess Yoghurt ini tidaklah asing. Sejak setahun terakhir, saya rutin membeli jenama ini di salah satu gerai Apotek Roxy di dekat rumah. Tekstur yoghurtnya yang kental, rasa manisnya yang pas, serta jelly yang ditambahkan di dalamnya adalah beberapa alasan mengapa saya dan keluarga menggemarinya.

Namun, kunjungan saya kali ini membuat saya melihat Yess Yoghurt dari sisi yang berbeda. Di balik sebotol yoghurt yang selama ini saya nikmati, ternyata ada perjalanan usaha keluarga, proses produksi yang terus dibenahi, serta upaya untuk meneruskan tongkat estafet ke putri tercinta. 

Dirintis Orang Tua

Lita yang hari itu mengenakan pakaian kasual berwarna biru mengajak saya meninjau rumah produksi yang berdampingan dengan kediamannya. Satu per satu ruangan kami datangi, mulai dari ruang produksi, pasteurisasi, hingga ruang penyimpanan. Sambil berkeliling, Lita bercerita tentang awal mula usaha yang dirintis kedua orangtuanya

Yess Yoghurt dirintis oleh Juhana dan Tri Lestari, ayah dan ibu Lita, pada 2012. Saat itu, Tri bekerja di sebuah peternakan sapi di Ciawi, yang juga menjadi tempat tinggal keluarganya hingga kini. Melihat produksi susu yang melimpah, muncul keinginan untuk memanfaatkannya menjadi produk olahan. Ia kemudian belajar membuat yoghurt di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Berbekal pengetahuan tersebut, Tri mulai mencoba membuat yoghurt sendiri. Ternyata banyak orang yang menyukai produk yoghurt buatannya. Melihat adanya peluang untuk mengembangkan usaha, Juhana dan Tri memutuskan untuk lebih serius menekuni bisnis yoghurt pada 2016.

“Di Indonesia, baru sekitar 16,7 persen saja penduduknya yang mengonsumsi susu dan olahannya, termasuk yoghurt. Padahal, peternak sapi perah jumlahnya lumayan banyak. Coba bandingkan dengan negara-negara Eropa yang masyarakatnya terbiasa minum susu setiap hari. Jadi, potensi untuk memasarkan produk ini masih besar,” ungkap Juhana, yang pernah bekerja sebagai konsultan di perusahaan penyedia lapangan golf.

Peluang tersebut semakin terbuka berkat lokasi usaha mereka. Ciawi dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil susu sapi, sehingga akses terhadap bahan baku relatif mudah. Yess Yoghurt pun dapat memanfaatkan susu segar dari peternak di sekitar tempat tinggal mereka dan sekaligus memberdayakan masyarakat di sekitar mereka.

Awalnya Hanya Pakai Panci

Rumah produksi Yess Yoghurt. Foto: dok. penulis

Melihat rumah produksi Yess Yoghurt yang kini dipenuhi mesin dan peralatan modern, saya tak membayangkan bahwa usaha ini bermula dari proses produksi manual di sebuah ruangan kecil. Kala itu, susu dipanaskan menggunakan panci biasa, diaduk dengan tangan, lalu difermentasi di rumah. Saat itu, belum ada mesin produksi maupun fasilitas seperti yang mereka miliki sekarang.

“Iya, dulu kita buatnya manual, Kak. Diaduk sendiri pakai panci. Ruangannya kecil, ya, besarnya sekitar inilah. Lebih kecil malah kayaknya,” kenang Lita sambil menunjuk ruang showroom berukuran sekitar 3 × 4 meter.

Keterbatasan peralatan membuat kapasitas produksi mereka kala itu hanya sekitar lima liter yoghurt per hari. Pemasaran pun masih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Produk dijual kepada tetangga, teman-teman, hingga teman sekolah Lita.

Peluang pengembangan usaha kemudian muncul melalui koneksi keluarga dengan jaringan Apotek Roxy. Produk yoghurt mereka dicoba oleh pihak Apotek Roxy dan mendapat respons positif. Pemilik Roxy menyukai cita rasanya yang khas serta teksturnya yang lebih kental dibandingkan produk lain di pasaran.

…

Empat tahun berjalan, pandemi COVID-19 datang. Awalnya mereka menduga usahanya ini akan mengalami mati suri atau setidaknya harus berhibernasi seperti kebanyakan usaha lainnya, namun ternyata tidak. Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan dan imunitas, permintaan yoghurt justru mengalami peningkatan pesat.

Akhirnya, keluarga Lita mengambil langkah besar pada 2021. Dengan memanfaatkan dana pesangon pensiun Juhana, mereka membangun rumah produksi baru yang berlokasi tidak jauh dari rumah sebelumnya.

Mengikuti Standar BPOM

Rumah produksi ini dibangun dengan mengikuti standar BPOM. Di dalamnya terdapat ruang kantor, showroom yang sekaligus digunakan untuk menyimpan produk jadi, gudang, laboratorium, ruang mixing, hingga ruang pasteurisasi. Setiap ruang memiliki fungsi yang berbeda dan dibuat terpisah untuk menjaga kebersihan serta mencegah terjadinya kontaminasi.

Sebelum memasuki area produksi, setiap orang juga wajib mengenakan alat pelindung diri (APD), mulai dari pakaian khusus, penutup kepala, sarung tangan, hingga alas kaki. Yess Yoghurt menyediakan ruang khusus untuk berganti APD sekaligus melakukan sterilisasi sebelum masuk ke ruang produksi.

“Produk susu itu apa ya, sensitif, rawan rusak. Sedikit saja terkontaminasi bakteri, bisa rusak semuanya. Jadi memang kami menerapkan prosedur yang ketat,” ucap Lita.

Kami yang diajak berkeliling pun harus menggunakan APD yang sama dari kaki hingga kepala, dan wajib mengganti alas kaki yang kami gunakan dengan sandal karet yang mereka sediakan.

Untuk masuk ke ruangan, semua karyawan mesti menggunakan APD. Foto: dok. penulis
Kiri adalah ruang mixing, sementara di kanan adalah lab dan ruang pasteurisasi

Di tahun yang sama mereka juga berinvestasi dengan membeli alat-alat produksi. Mereka ingin bisa meningkatkan kapasitas produksinya, mempercepat pekerjaan, dan tentunya memperluas usaha dengan memproduksi produk turunan susu lainnya. 

Belajar dari Kegagalan 

Dari yang awalnya hanya menjual yoghurt kepada tetangga dan sekolah-sekolah di sekitar, Yess Yoghurt perlahan memperluas jangkauannya. Kini, produknya telah ada di 45 cabang Apotek Roxy di wilayah Jabodetabek, serta sejumlah gerai oleh-oleh di Kota Bogor. Seiring perkembangan usaha, pada 2022 Yess Yoghurt juga resmi berbadan hukum sebagai PT Bogor Sari Nutrisi (BSN).

Pertumbuhan usaha ini turut terlihat dari kapasitas produksinya dan jumlah tenaga kerja. Jika dulu hanya sekitar 15 liter per hari, produksi kemudian meningkat menjadi 30 liter, 50 liter, hingga kini mencapai sekitar 80–100 liter per hari. Saat permintaan sedang tinggi, produksinya bahkan pernah mencapai 300 liter per hari. Karyawanya pun bertambah, dari yang awalnya dikerjakan sendiri oleh keluarga kini telah melibatkan 15 orang karyawan.

Ruang mixing yang kini dilengkapi dengan mesin canggih yang bisa memproduksi lebih banyak produk.

Di balik keberhasilan ini, tentu saja ada beberapa rintangan dan masalah yang pernah dihadapi. Mereka pernah gagal, pernah salah, pernah dikomplain, bahkan pernah rugi besar. Namun alih-alih putus asa, semua itu mereka jadikan pelajaran untuk lebih maju lagi.

Contohnya soal rasa. Awalnya mereka hanya memproduksi rasa original (plain), lalu mencoba menambah rasa baru. Namun dari lima rasa baru yang mereka buat, ada salah satu rasa yang diprotes oleh agen dan konsumen karena warna yang ada di rasa tersebut gampang pudar.

“Sudah dicari penyebabnya mengapa warna itu mudah teroksidasi, sampai kami tanya ke pabrik essence yang kami pakai itu. Karena tidak ketemu solusinya, akhirnya kami stop saja produksi rasa itu,” cerita Juhana sambil menyuguhkan permen yoghurt, produk terbaru Yess Yoghurt yang masih dalam tahap uji coba.

Pernah juga mereka mendapatkan komplain soal rasa yang terlalu manis. Menanggapi komplain ini mereka langsung berbenah dan mencoba mencari formula baru sehingga akhirnya mendapat fomulasi rasa manis yang pas seperti sekarang ini.

Empat rasa yang kini menjadi andalan Yess Yoghurt. Foto: dok. penulis

Mereka juga pernah mengalami kegagalan besar saat mencoba memproduksi susu pasteurisasi. Kesalahan suhu dalam prosedur filling menyebabkan ribuan botol susu rusak, sehingga seluruh produk dalam satu kali produksi harus dibuang. Kerugian mencapai sekitar 2.000 botol.

Kegagalan tersebut menjadi pelajaran penting bagi Lita dan timnya. Mereka menyadari bahwa industri susu membutuhkan ketelitian tinggi, terutama dalam menjaga suhu dan kebersihan. Kesalahan dalam proses produksi dapat memicu kontaminasi bakteri dan menyebabkan produk lebih cepat basi.

Untuk memahami penyebab kegagalan tersebut, mereka kemudian meminta bantuan peneliti dari BRIN. Hasil analisis menunjukkan bahwa proses filling perlu dilakukan pada suhu tinggi untuk mencegah bakteri kembali berkembang.

“Saya sempat down, Kak. Bukan masalah jumlah kerugiannya, tapi bagaimana mengembalikan mental dan kepercayaan diri setelah mengalami kegagalan ini. Untung Bapak menenangkan saya. Katanya, nggak apa-apa gagal, coba lagi. Tapi selanjutnya dipikir dulu, jangan buru-buru mengambil keputusan,” cerita Lita.

“Ya. Namanya bisnis. Semua ambil hikmahnya aja. Kalau jatuh, tinggal bangun dan berjalan lagi. Anggap aja ini keberhasilan yang tertunda” ucap Juhana menimpali cerita anaknya dengan bijak.

Dipersiapkan Jadi Penerus Usaha

Juhana dan istrinya menyadari bahwa agar usaha yang mereka rintis dapat terus bertahan, mereka mesti mempersiapkan penerusnya sejak dini. Karena itu, Lita, salah satu dari tiga anak mereka, perlahan dilibatkan dalam perjalanan Yess Yoghurt.

Saat duduk di bangku SMA, Lita sudah mulai membantu menjual yoghurt kepada teman-temannya.. Dari pengalaman sederhana itulah, ketertarikannya pada dunia usaha mulai tumbuh. Ketika tiba waktunya memilih jurusan kuliah, Lita pun mengambil bidang yang memiliki keterkaitan langsung dengan bisnis keluarganya, yakni Teknologi Hasil Ternak di Institut Pertanian Bogor.

“Dulu sehari aku bisa jualan di sekolah sampai 30 botol yoghurt ukuran 250 mililiter. Dari situ mungkin minatnya jadi kebentuk ya,” ujar Lita, mengenang masa ketika ia mulai membantu menjual yoghurt di sekolah.

Selepas lulus, Lita kemudian dipercaya menjadi Direktur Yess Yoghurt (Bogor Sari Nutrisi). Namun, kepercayaan tersebut tidak datang secara tiba-tiba. Jauh sebelumnya, Juhana dan istrinya secara perlahan membekali Lita dengan berbagai pengetahuan tentang bisnis yang mereka bangun. Bukan hanya soal bagaimana mengelola usaha, tetapi juga memahami proses produksi dari hulu ke hilir, mulai dari membuat jelly, melakukan sterilisasi, hingga merebus susu.

Lita dikenalkan dengan proses produksi sejak di bangku kuliah.

Kehadiran Lita sebagai generasi penerus pun membawa warna baru bagi Yess Yoghurt. Jika sebelumnya usaha lebih banyak dijalankan secara konvensional, Lita mulai memperkenalkan pendekatan baru, terutama dalam pemasaran, digitalisasi, penyusunan SOP, hingga pengembangan produk.

Perubahan itu terlihat dari semakin beragamnya produk yang dihasilkan. Yess Yoghurt yang pada awalnya hanya memproduksi yoghurt, kini mulai mengembangkan susu pasteurisasi dan permen susu. Mereka bahkan tengah merencanakan pengembangan yoghurt berbahan dasar susu kambing.

Berjalan Maju Bersama Yayasan Astra-YDBA 

Di sisi lain, Juhana mengakui kalau sering terjadi kesenjangan teknologi lintas generasi. Ia dan istri yang selama ini menjalankan usaha serba manual dan konvensional harus beradaptasi saat Lita pelan-pelan berusaha menerapkan sistem digital, sesuai kondisi masa kini. Namun, Juhana mendukung apapun yang Lita lakukan selama itu berguna bagi kemajuan perusahaan. 

Salah satunya soal pencatatan keuangan. Selama ini semuanya dicatat serba konvensional dan manual dengan sehingga butuh waktu dan rawan terjadi kesalahan pencatatan. Sekarang, agar lebih efisien, Lita berusaha melakukan pencatatan secara digital.

Dalam upaya mewujudkan digitalisasi keuangan ini, Lita didampingi oleh tim dari Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Sejak dua tahun lalu, tahun 2024, Yess Yoghurt memang menjadi salah satu IKM binaan Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). 

“Alhamdulillah kami dilatih YDBA cara menggunakan sistem aplikasi keuangan POS untuk input data, input stock opname, input keuangan. Step by step, lho, diajarinnya. Sabar banget mereka,” tukasnya sambil tertawa.

Ia menambahkan, “Dan bukan hanya sekali, tim YDBA juga datang ke sini buat memastikan semua yang diajarkan itu kami bisa terapkan. Bahkan kami juga sempat didampingi untuk ketemu customer.”

Fasilitator dari YDBA terus mendampingi PT BRN (Yess Yoghurt). Foto: dok. penulis.
Berbagai sertifikat pelatihan yang sudah diikuti Lita dan ibunya.

Selain pelatihan pencatatan keuangan digital, Lita mengaku sangat terbantu dengan pelatihan basic mentality. Ini sangat ia perlukan untuk siap mewarisi perusahaan orang tuanya sekaligus menghadapi karyawan yang rata-rata sudah bekerja lama di sini sehingga karyawan tidak menganggap dia “anak bos” yang ingin mengacak-acak sistem yang sudah berjalan lama di sini.

“YDBA ini bukan memberi dalam bentuk rupiah, tapi memberi bekal lebih bagaimana kami bisa bermental sebagai pengusaha. Bukan hanya untuk generasi pertama (orang tua saya), tapi juga di generasi penerus seperti saya.”

Lebih Teratur dengan SOP dan 5R

Pendampingan YDBA juga membantu Lita membangun sistem yang sebelumnya belum tertata secara rapi. Salah satunya melalui penerapan SOP dan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rajin, Rawat).

“Sebelum ada SOP ini kami melakukan sesuatu berdasarkan kebiasaan saja. Kadang suka ga terarah mulai dari jam kerja hingga keteraturan karyawan.. Dengan adanya SOP dan 5R ini mempermudah kami melakukan produksi,” tegas Lita. 

SOP dan panduan 5R tersebut kemudian ditempel di setiap ruangan agar mudah dibaca dan diterapkan oleh seluruh karyawan. Setiap hari, masing-masing karyawan juga memiliki checklist untuk memastikan penerapan 5R berjalan sepenuhnya.

“Di setiap ruangan itu ada list mana barang yang mesti ada di situ atau tidak, terutama di area produksi. Jadi kalau jam kerja berakhir, barang ini mesti dikembalikan ke asalnya. Lalu ada labeling di setiap area, mulai dari ruang loker karyawan hingga bahan baku. Bahan baku yang paling kecil pun kami beri label,” tuturnya.

Gudang bahan baku. Sejak menerapkan 5R, setiap barang diberi label agar rapi dan mudah ditemukan. Foto: dok.penulis

Untuk memastikan SOP dan 5R ini berjalan dengan baik, ia memberikan award berupa pulsa kepada karyawan yang berhasil memperoleh nilai tertinggi di penerapan 5R.

Penerapan SOP ternyata tidak hanya membuat proses produksi menjadi lebih efisien, tetapi juga membawa perubahan pada suasana kerja. Dengan pembagian tugas dan aturan yang lebih jelas, setiap karyawan mengetahui apa yang harus dilakukan. Keteraturan tersebut membuat pekerjaan menjadi lebih terarah sekaligus mengurangi potensi kecemburuan antarkaryawan.

Untuk memastikan 5R berjalan, Lita memberikan award kepada karyawan yang berhasil menerapkan 5R dengan nilai tertinggi. Foto: dok. penulis

Dari Pemula Menjadi IKM Mandiri 

Berkat keuletan, kerjasama dua generasi dan dampingan Yayasan Astra-YDBA, Yess Yoghurt pun mengalami kemajuan pesat.  Dalam waktu dua tahun saja, mereka bertumbuh dari IKM Pemula menjadi IKM Mandiri.

Menurut Shafa, supervisor Yayasan Astra-YDBA yang mendampingi Yess Yoghurt, usaha ini memiliki sejumlah keunggulan yang dapat menjadi contoh bagi IKM lainnya.

Salah satunya adalah konsistensi mereka dalam menjaga kualitas, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses produksi. Meski susu diperoleh dari peternak di sekitar wilayah usaha, kualitasnya tetap menjadi perhatian utama. Susu yang digunakan harus memenuhi persyaratan kualitas yang ditetapkan, termasuk memiliki tingkat keasaman (pH) pada kisaran 6–6,8..

Perhatian terhadap kualitas bahkan tidak berhenti setelah produk keluar dari tempat produksi. Menyadari yoghurt merupakan produk yang rentan mengalami kerusakan, Yess Yoghurt juga memastikan kualitasnya tetap terjaga selama berada di tangan mitra penjualan. Salah satunya dengan menyediakan freezer bagi sejumlah toko retail yang menjadi mitra mereka, sehingga yoghurt tetap tersimpan dalam kondisi yang sesuai hingga sampai ke tangan konsumen.

Selain menjaga kualitas, Yess Yoghurt juga terbuka terhadap masukan pelanggan. Setiap keluhan maupun saran dari konsumen menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki produk.

Ruang penyimpanan. Freezer seperti ini juga dipinjamkan kepada toko yang menjual produk, untuk memastikan produk yoghurt tetap dalam keadaan baik ketika sampai ke tangan konsumen. Foto: dok. penulis.

Impian Masa Depan

Ketika ditanya mengenai rencana ke depan, Lita menyebut salah satu target besar Yess Yoghurt adalah memiliki mesin UHT. Dengan teknologi tersebut, produk diharapkan dapat memiliki masa simpan lebih panjang sehingga jangkauan distribusinya pun bisa diperluas. Untuk mendukung rencana itu, Yess Yoghurt telah menyiapkan ruangan khusus dan saat ini tengah mengupayakan sertifikasi NKV serta mencari dukungan pemerintah untuk pengadaan mesin.

Lita juga menyimpan impian untuk mengembangkan edu wisata yang memperlihatkan proses produksi yoghurt dari hilir hingga ke hulu. Mulai dari peternakan sapi perah, sanitasi dan sterilisasi, proses produksi, hingga bagaimana produk akhirnya sampai ke tangan konsumen.

Yayasan Astra–YDBA Ada untuk UMKM

Perkembangan Yess Yoghurt tidak lepas dari pembinaan yang mereka dapatkan dari Yayasan Astra–YDBA. Melalui pelatihan dan pendampingan, Lita dan timnya tidak hanya mendapat pengetahuan, tetapi juga didorong untuk menerapkannya langsung dalam kegiatan usaha.

Didirikan pada 2 Mei 1980 oleh pendiri Astra, William Soeryadjaya, Yayasan Astra–YDBAmerupakan salah satu pelaksana kegiatan tanggung jawab sosial PT Astra International Tbk yang berfokus pada pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

Filosofinya terangkum dalam prinsip “Berikan Kail Bukan Ikan” yang mendorong pelaku usaha memiliki kemampuan dan kemandirian untuk mengembangkan bisnisnya sendiri.

Seperti halnya yang dilakukan ke Yess Yoghurt, Yayasan Astra- YDBA memberikan IKM pelatihan, pendampingan, serta memfasilitasi akses pemasaran dan pembiayaan. Pelatihan disusun sesuai dengan kebutuhan industri dan diberikan melalui kelas tatap muka maupun daring. Agar pengetahuan tersebut tidak berhenti di ruang pelatihan, Yayasan Astra–YDBA juga melakukan bimbingan one-on-one di lokasi UMKM untuk topik-topik tertentu. 

Pendampingan tidak hanya berupa teori, namun juga praktik lapangan, Foto: dok. penulis

Hingga akhir 2025, Yayasan Astra-YDBA telah memberikan pembinaan kepada 13.663 UMKM di Indonesia, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 75.451 orang. Sebanyak 1.425 UMKM telah naik kelas dan 489 UMKM berhasil mencapai status UMKM Mandiri.

Sementara itu, sepanjang 2025, Yayasan Astra mencatat 2.030 UMKM aktif dibina dan 4.674 tenaga kerja tercipta, dengan nilai fasilitasi pembiayaan mencapai Rp684 miliar dan fasilitasi pemasaran UMKM Mandiri maupun UMKM yang masih dibina mencapai Rp4,9 triliun.

UMKM Binaan Yayasan Astra -YDBA juga kerap diikutkan pada pameran dan talkshow. Foto; dok.penulis
Yayasan Astra-YDBA di pameran Inacraft

Untuk meningkatkan pemasaran, Yayasan Astra-YDBA juga mengikutsertakan UMKM binaannya di berbagai pameran, seperti GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS), Indonesia Motorcycle Show (IMOS), Trade Expo Indonesia (TEI), INACRAFT, Jakarta Fair, dan berbagai pameran lainnya sesuai kebutuhan.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!