Di Antara Ombak, Jadwal Bupati, dan “Dokter” Dadakan di Pulau Moyo
Pernahkah kalian merasa bersyukur karena seseorang memundurkan jadwal pertemuan? Saya pernah.Bahkan gara-gara jadwal yang mundur itu, saya sempat menjelma menjadi seorang “dokter” dan tanpa sadar terhindar dari perjalanan laut yang berbahaya.
..
Peristiwa itu terjadi delapan tahun lalu di Pulau Moyo, Kabupaten Sumbawa. Saat itu saya mendapat penugasan liputan. Jadwal liputan hanya tiga hari, tetapi setelah tugas selesai, saya diizinkan memperpanjang masa tinggal—dengan biaya sendiri tentunya.
Kesempatan itu pastinya tidak saya sia-siakan.
Saya sudah lama ingin mengunjungi Pulau Moyo, pulau cantik yang pernah didatangi Putri Diana dan sejumlah pesohor dunia. Kebetulan, istri seorang teman saya, Siti, berasal dari sana dan bekerja sebagai bidan. Saya sudah berjanji akan menginap di rumahnya dan ia akan mengajak saya berkeliling pulau naik motor.
Semua rencana sudah tersusun rapi. Sampai akhirnya Bupati Sumbawa yang sedianya saya wawancarai mendadak mendapat agenda rapat sehingga jadwal wawancara harus diundur sehari.
“Tapi besok saya sudah harus ke Moyo, Mas,” kata saya kepada ajudannya yang mengatur semua jadwal Bupati.
“Gampang itu, Mbak. Nanti pakai kapal kita saja. Diantar ke sana, sorenya dijemput lagi.”
Saya langsung menolak halus.
“Enggak usah, Mas, Terima kasih, tolong cariin saya tiket kapal biasa aja. Tapi antar saya ke pelabuhan ya karena teman yang tadinya mau nganter besok udah pulang ke Bima. Kalau di Moyo udah ada yang jemput.”
Saya memang tidak nyaman memakai fasilitas pemerintah untuk urusan pribadi. Selain tidak enak hati, rasanya juga tidak bebas kalau harus didampingi staf pemerintah.
Jadi Dokter Dadakan
Keesokan paginya, seorang staf pemerintah mengantar saya ke pelabuhan. Saya lupa namanya, yang jelas dia mengantar saya dengan motornya. Biar lebih cepat, katanya,
Di pelebuhan hanya ada satu kapal yang akan berangkat dan kondisinya sudah penuh. Kapalnya tak terlalu besar, paling hanay cukup untuk 20 orang. Tak ada kursi. Semua duduk di lantai kapal.
…

…
Setelah berbicara sebentar dengan awak kapal, meniitipkan saya ke awak kapal, staf itu mempersilakan saya naik dan duduk lesehan di tengah para penumpang.
Sebelum berangkat, saya sudah melakukan segala persiapan menghadapi mabuk laut karena katanya, ombak menuju Pulau Moyo cukup besar. Koyo sudah menempel di pusar, minyak kayu putih sudah dioleskan ke leher, dan permen Tolak Angin tersimpan rapi di kantong. Saya siap!!
Melihat ibu-ibu di depan saya sudah rebahan sambil berselimut sarung, ditambah dua gadis muda di belakang yang melakukan hal serupa, rasa percaya diri saya langsung runtuh.
“Waduh… kayaknya ombaknya serius gede, nih.”
Tanpa sadar saya mulai membaca doa sepanjang perjalanan.
Mendengar itu, seorang ibu di depan saya menoleh penasaran.
“Sendirian, kakak?”
“Iya, Bu. Nanti ada teman di sana.”
“Siapa temannya?”
“Siti. Bu Bidan.” Siti memang lebih dikenal dengan nama Bu Bidan ketimbang nama aslinya.
“Ooo… masih muda banget ya, Bu Dokter.”
Saya hanya mengangguk sambil tersenyum. Entah karena suara mesin kapal atau logatnya yang tak jelas, sehingga saya tidak benar-benar mendengar ucapan terakhirnya. Saya hanya mengira-ngira apa yang dia ucapkan
Untungnya, semua kekhawatiran saya tidak terbukti. Perjalanan berlangsung mulus. Laut tenang dan kapal melaju tanpa guncangan berarti, sehingga permen Tolak Angin yang sudah saya siapkan tidak jadi disentuh.
Baca Juga: Sunset di Pulau Moyo
Sesampainya di Labuan Aji—pelabuhan utama Pulau Moyo—Siti dan ayahnya sudah menunggu. Namun yang membuat saya heran, banyak warga ikut mendekat dan satu per satu menyalami saya dengan wajah sumringah.
“Wah, ramah sekali orang-orang di sini. Semua tamu disambut seperti keluarga,” begitu pikiran saya.
..

…
Baru malam harinya saya tahu kenyataan yang sebenarnya.
Rupanya percakapan singkat saya di kapal didengar para penumpang. Karena saya mengatakan akan tinggal di rumah bidan, datang sendirian, diantar staf pemerintah, lalu bisa naik kapal tanpa membeli tiket—yang belakangan saya tahu merupakan kapal gratis dari Awana Resort untuk warga lokal—mereka menyimpulkan bahwa saya adalah dokter yang memang dijadwalkan datang ke Pulau Moyo.
Oalaah….pantas saja semua orang berebut menyalami saya.
Hahaha….selama beberapa jam, tanpa saya sadari, saya telah resmi menjadi “Bu Dokter” di mata satu kampung di Pulau Moyo.
Ternyata Ada Kapal Karam
Saya masih tertawa mengingat kejadian itu ketika malamnya mengobrol dengan Siti sambil menonton sinetron.
“Kemarin Siti juga baru pulang dari darat, Kak,” katanya. “Ombaknya besar sekali. Semua orang muntah-muntah. Bahkan ada kapal yang karam.”
Mendengera itu, saya langsung terdiam dan mengucap syukur.
Kalau saja jadwal wawancara Bupati tidak diundur, saya pasti menyeberang sehari lebih awal. Bisa jadi saya ikut berada di tengah ombak besar itu. Siti yang lahir dan besar di Moyo saja mabuk laut, apalagi saya yang sudah panik sejak di pelabuhan.
Terima kasih Ya Allah. Terima kasih Pak Bupati!!


