Di Antara Ombak, Jadwal Bupati, dan Jadi “Dokter” Dadakan di Pulau Moyo

Pernahkah kalian merasa bersyukur karena seseorang memundurkan jadwal pertemuan? Saya pernah. Bahkan gara-gara jadwal yang mundur itu, saya sempat menjelma menjadi seorang “dokter” dan tanpa sadar terhindar dari perjalanan laut yang berbahaya.

..

Peristiwa itu terjadi delapan tahun lalu di Pulau Moyo, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Timur. Saat itu saya mendapat penugasan peliputan untuk sebuah proyek buku kementrian. Jadwal liputan hanya tiga hari, tetapi setelah tugas selesai, saya dibolehkan memperpanjang masa tinggal—dengan biaya sendiri tentunya.

Kesempatan itu pastinya tidak saya sia-siakan.

Saya sudah lama ingin mengunjungi Pulau Moyo, pulau cantik yang pernah didatangi Putri Diana dan sejumlah pesohor dunia seperti David Beckham. Kebetulan, istri kawan saya, Siti, berasal dari sana dan bekerja sebagai bidan. Dia mengajak saya menginap di rumahnya dan berjanji akan membawa saya berkeliling pulau naik motor.

Semua rencana sudah tersusun rapi, sampai akhirnya Bupati Sumbawa yang sedianya akan saya wawancarai mendadak mendapat agenda rapat dengan Gubernur sehingga jadwal wawancara harus diundur sehari.

“Tapi besok saya sudah harus ke Moyo, Mas,” kata saya kepada ajudannya yang mengatur semua jadwal Bupati.

“Gampang itu, Mbak. Nanti pakai kapal kita saja. Diantar ke sana, diajak muter-muter, sorenya kita balik.”

Saya langsung menggeleng, menolak halus.

“Enggak usah, Mas, Terima kasih. Saya dicariin tiket kapal biasa aja ga apa-apa. Tapi tolong antar saya ke pelabuhan ya karena teman yang tadinya mau nganter besok udah pulang ke Bima. Kalau di Moyo udah ada yang jemput.”

Saya memang paling malas kalau harus memakai fasilitas pemerintah untuk urusan pribadi. Selain tidak enak hati, rasanya juga tidak bebas kalau harus didampingi staf pemerintah.

Jadi Dokter Dadakan

Keesokan paginya, seorang staf pemerintah mengantar saya ke pelabuhan. Saya lupa namanya, yang jelas dia mengantar saya dengan motornya. Biar lebih cepat, katanya,

Di pelabuhan hanya ada satu kapal yang akan berangkat dan kondisinya sudah penuh. Kapalnya tak terlalu besar, paling hanya cukup untuk 20 orang. Tak ada kursi, semua duduk di lantai kapal yang dicat dengan warna putih mengilap; yang membuat saya takut terpeleset saking mengilapnya.

Saya pun memilih duduk di tengah-tengah, di antara para penumpang wanita dan anak-anak.

Sumber: https://ohelterskelter.com/

Sebelum berangkat, saya sudah melakukan segala persiapan menghadapi mabuk laut karena katanya, ombak menuju Pulau Moyo cukup besar. Koyo sudah saya tempel di pusar, minyak kayu putih sudah saya oleskan ke leher dan seluruh badan, permen Tolak Angin pun sudah saya simpan di kantong yang gampang terjamah. Saya siap!!

Namun melihat ibu-ibu di depan saya sudah rebahan sambil berselimut sarung dan mencium minyak angin cap kapak, ditambah dua gadis muda di belakang yang melakukan hal serupa, saya langsung was-was.

“Waduh… kayaknya ombaknya bakal gede, nih.”

Tanpa sadar saya mulai membaca semua doa perjalanan yang saya tahu.

Mendengar itu, seorang ibu di depan saya menoleh penasaran.

“Sendirian, kakak?”

“Iya, Bu. Nanti ada teman di sana.”

“Siapa temannya?”

“Siti. Bu Bidan.” Siti memang lebih dikenal dengan nama Bu Bidan ketimbang nama aslinya.

“Ooo… ini Bu Dokter.”

Saya hanya mengangguk sambil tersenyum. Entah karena suara mesin kapal atau logatnya yang tak jelas, sehingga saya tidak benar-benar mendengar ucapan terakhirnya. Saya hanya mengira-ngira apa yang dia ucapkan.

Untungnya, semua kekhawatiran saya tidak terbukti. Perjalanan berlangsung mulus. Laut tenang dan kapal melaju tanpa guncangan berarti, sehingga permen Tolak Angin yang sudah saya siapkan tidak jadi disentuh.

Baca Juga: Sunset di Pulau Moyo

Sesampainya di Labuan Aji—pelabuhan utama Pulau Moyo—Siti sudah menunggu. Saya bergegas turun, menyalami Siti dan ayah dan ibunya yang ikutan menunggu juga.

Selepas saya bersalaman, ada seorang warga yang mendekat dan menyalami saya dengan wajah sumringah. Lalu datang satu lagi, dan makin lama makin banyak warga ikut mendekat dan satu per satu menyalami saya.

“Wah, ramah banget orang-orang di sini ya. Semua tamu disambut kayak keluarga, disalami pula,” begitu pikiran saya.

Pulau Moyo
Sunset di Labuan Aji

.

Baru malam harinya saya tahu kenyataan yang sebenarnya.

Rupanya percakapan singkat saya di kapal didengar para penumpang. Karena saya mengatakan akan tinggal di rumah bidan, datang sendirian, diantar staf pemerintah, lalu bisa naik kapal tanpa membeli tiket—yang belakangan saya tahu merupakan kapal gratis dari Awana Resort untuk warga lokal—mereka menyimpulkan bahwa saya adalah dokter yang memang dijadwalkan datang ke Pulau Moyo.

Oalaah….pantas saja semua orang berebut menyalami saya.

Hahaha….selama beberapa jam, tanpa saya sadari, saya telah resmi menjadi “Bu Dokter” di mata penduduk kampung Labuan Aji.

Ternyata Ada Kapal Karam

Saya masih tertawa mengingat kejadian itu ketika malamnya mengobrol dengan Siti sambil menonton sinetron.

“Kemarin Siti juga baru pulang dari darat, Kak,” katanya. “Ombaknya besar sekali. Semua orang muntah-muntah, bahkan ada kapal yang karam.”

Mendengar itu, saya langsung terdiam dan mengucap syukur di dalam hati.

Kalau saja jadwal wawancara Bupati tidak diundur, saya pasti menyeberang sehari lebih awal. Bisa jadi saya ikut berada di tengah ombak besar itu. Siti yang lahir dan besar di Moyo saja mabuk laut, apalagi saya yang sudah panik sejak di pelabuhan.

Terima kasih Ya Allah. Terima kasih Pak Bupati!!

Takat Sagale Pulau Moyo

One Comment

  • Annie Nugraha

    Ya ampun Rahma. Main kok jauh amat yak. Aku sampe browsing tentang Pulau Moyo/Mojo ini. Ya ampun ternyata banyak banget destinasi wisata alam nya ya. Perpaduan ada hutan dan air serta kehidupan satwa liar. MasyaAllah. NTB tuh memang sesuatu ya.

    BTW itu foto sunsetnya cakep betol sih. I envy you banget banget banget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!