Ke Rusia Saat Corona: Hampir Tak Bisa Pulang karena Lockdown

Perjalanan ke Rusia di awal Maret kemarin bisa dibilang perjalanan yang sangat beruntung dan selalu nyaris. Nyaris tak bisa masuk Oman karena lockdown dan juga nyaris tak bisa pulang ke Indonesia karena lockdown dan tak ada penerbangan.

14 Maret 2020, Muscat

Sebelum menuju Rusia, saya dan kawan saya harus transit 19 jam di Muscat, Oman. Kami gunakan kesempatan itu untuk keluar, bermalam sehari di Muscat dan berjalan-jalan di sana. Semuanya berjalan normal. Di bandara, kami hanya diminta mengisi lembar kesehatan yang tidak diperiksa sama sekali.

Setelah kami sampai di rumah host CS kami, kami mendapat berita bahwa mulai besok, pemerintah Oman tak lagi memperbolehkan wisatawan masuk ke negaranya. Fiuhh…..kalau aja pesawat kami mendarat besok, kami cuma bisa ngendon di bandara. Nyaris.

19 Maret 2020, Murmansk

20200319_142624-01

Saya memandang jatuhnya salju lebat  lewat kaca dapur penginapan saya di Murmansk,  melihat orang-orang tua berjaket tebal berlalu lalang di sana.

Sambil menyesap teh hangat, saya iseng mengecek tiket saya lewat aplikasi Oman Air. Ternyata, di sana tertulis kalau kepulangan saya ke Jakarta via Muscat diundur menjadi tanggal 29 Maret. Padahal beberapa jam sebelumnya, saya sudah mengeceknya di aplikasi Traveloka tempat saya membeli tiket. “Masih on schedule”, begitu tulisannya. 

Saya langsung menengok ke arah kawan saya yang sedang sibuk menguyah biskuit keras khas Rusia, yang memang disediakan pemilik penginapan. Ternyata sama. Jadwalnya juga berubah.

Kami jelas tak mungkin pulang di tanggal 29 Maret, karena visa Rusia kami hanya berlaku hingga tanggal 28 Maret. Ya, Rusia memang pelit soal visa, tanggal habis visa sama persis dengan tanggal yang tertera pada tiket pulang. Nggak lebih sehari pun.

Mbak Susan, kawan baik kami di Moscow memberi kami nomer telepon salah satu staf KBRI Moscow.

Sambil mengontak KBRI di Moscow untuk  mencari kemungkinan cara memperpanjang visa, saya coba mencari info ke website Oman Air. Ternyata ada pengurangan dan pembatasan jumlah penerbangan dari dan ke Oman.  Sehari setelah saya datang ke Muscat memang ada perintah untuk menutup kedatangan wisatawan asing ke Muscat. Imbasnya, tak ada penerbangan dari Oman ke manapun, termasuk ke Rusia dan ke Indonesia. Termasuk di tanggal 28 itu. 

Gawat.

Baca Juga: Berburu Lady Aurora di Rusia


Saya bukan orang yang gampang panik, tapi tetap aja khawatir dengan keadaan ini. Alhasil, segala cara saya coba untuk menghubungi Oman Air, mulai dari mengirim email, mencecar lewat twitter, Facebook, dan IG, hingga mengirim WA ke salah satu kontak Oman Air Jakarta yang diberikan teman saya.

Hasilnya nihil, nggak ada yang menjawab satupun.

Saya segera gerilya mencari bantuan. Saya post di IG Story, meminta kontak Oman Air. Banyak ternyata yang menawarkan bantuan. Salah satunya sepupu jauh  yang menawarkan diri untuk menelpon kantor Oman Air di Jakarta. Dialah yang kemudian meneror kantor Oman Air tiap hari, walaupun susah karena cukup banyak yang melakukan hal yang sama.

Bantuan lain datang dari Mas Erik, travel consultant dari HIS Travel. Dia, yang punya akses ke Oman Air Jakarta, mencoba melacak tiket saya dan meminta perubahan maskapai. Padahal, saya tak terlalu kenal dengannya. Saya bertemu dia di Bukhara sekali, saat dia membawa rombongan yang diguide oleh kawan  saya di Uzbekistan.

Baik banget….

20 Maret 2020, masih di Murmansk

Berkat bantuan sepupu saya dan Mas Erik, tiket berhasil diubah. Oman Air mengganti penerbangan saya dengan maskapai Qatar Air, untuk penerbangan tanggal 28 Maret. Gratis, saya nggak kena biaya tambahan apapun. Alhamdullillah, saya akhirnya bisa pulang juga ke Indonesia yaaa…

Tapi entah kenapa, tiket travelmate saya masih bermasalah. Penerbangannya nggak bisa diganti tanggalnya.

21 Maret 2020, St Petersburg

Bandara St Petersburg
Bandara St Petersburg

Mas Erik terus mencoba menghubungi Oman Air, meminta tiket kawan saya diubah juga. Tapi sayangnya, hasilnya masih sama seperti kemaren. Tiket kawan saya belum bisa berubah.

Akhirnya, di sela-sela berkeliling objek wisata di St Petersburg, kami mampir ke bandara, mencari kantor perwakilan Oman Air di sana. Biasanya kan, di setiap bandara ada counter tiketnya, gitu pikir saya. Tapi ternyata, di bandara sekelas St Petersburg, nggak ada konter Oman Air. Hanya ada konter beberapa maskapai lokal, itupun hanya berupa stall kecil yang ditunggui ibu-ibu berambut pirang yang nggak ada senyumnya sama sekali. Russia banget.

Oiya, di Russia ini emang punya moto: “tersenyum tanpa keperluan adalah orang idiot”. Gitu.

Akhirnya, kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan ke Kazan dan memajukan jadwal perjalanan ke Moscow. Tiket Sapsan, kereta cepat yang menghubungkan St Peterseburg dan Moscow yang sudah kami beli  sebelumnya, terpaksa kami refund. Kami menggantinya dengan jadwal yang lebih pagi supaya masih ada waktu untuk menuju kantor Oman Air di Moscow.

Padahal, Kazan jadi bucketlist saya karena di sanalah area di Rusia yang didominasi Muslim. Bahkan kami sudah berjanji bertemu dengan salah satu umat muslim di sana dan mengunjungi rumahnya. Dan perjalanan kami ke Kazan, rencananya akan menggunakan sleeper train khas Rusia, kereta yang merupakan bagian dari Siberian Train yang menjadi impian saya.

Sedih, tapi ya sudahlah.

Lagipula, pihak KBRI meminta saya tidak jauh-jauh dari Moscow karena ada isu Presiden Putin akan melockdown kota Moscow dan menutup akses keluar masuk Moscow. KBRI juga mengabarkan kalau mulai hari itu Rusia sudah membatasi penerbangan ke beberapa negara.

23 Maret, Moscow

Ditemani Nadia, anaknya Mbak Susan, kami mendatangi kantor Oman Air di Moscow. Untung ada Nadia, karena kantor perwakilan Oman Air ini terletak di gedung yang cukup sulit dijangkau. Dia aja yang akamsi nyasar, apalagi saya.

Ditambah lagi, si resepsionis cantik yang menemui kami nggak bisa berbahasa Inggris. Ngomong apa ntar. 

Tapi ternyata, kami tak bisa berbicara langsung dengan pihak Oman Air, cuma bisa bicara lewat telepon yang ada di tempat resepsionis. Hasil pembicaraan akhirnya berujung pada kesimpulan bahwa saya tetap harus mengemail kantor pusat Oman Air dengan men-cc-nya ke kantor Oman Air Rusia. Tak ada jalan lain.

Saya langsung menuju kursi tamu di gedung itu dan mengetik email permohonan, meminta jadwal diubah dan dimajukan.

Email sent.

24 Maret, masih di Moscow

Pagi-pagi, Mas Erik mengabarkan kalau tiket kawan saya juga sudah berhasil diubah. Kami akan naik Qatar Air di tanggal 28 Maret. Alhamdulillah, kawan bisa pulang jugaaa. Oman Air Rusia lebih kooperatif ternyata daripada Oman Air Indonesia.

Kami pun girang.  Bergegas berjalan-jalan ke luar penginapan, menuju area Ismailov dan berakhir di supermarket untuk membeli keperluan selama beberapa hari di Moscow. Plus membeli jastipan tentunya.  Tapi ternyata, Moscow sangat sepi hari itu.

Rupanya Putin sudah menginstruksikan masyarakatnya, khususnya para lansia, untuk mengkarantina diri dan memberi denda berat kepada yang melanggarnya. Hanya yang perlu saja boleh keluar rumah.

Baca Juga: Ke Rusia Saat Corona: Sepinya Red Square

25 Maret, masih di Moscow

Pukul 00.20

Kawan saya meminta saya kembali mencoba mengemail Oman Air, meminta supaya kepulangan dimajukan.

Walau sudah mengantuk berat karena seharian berkeliling Moscow, bolak balik naik metro buat liat metro station yang bagus,  akhirnya saya mengirim email ke Oman Air Rusia, minta penerbangan kami dimajukan tanggal 26 Maret esok. Alasan saya bermacam-macam, mulai dari permintaan Menteri Luar Negeri RI (maap Bu Retno, namanya saya bawa-bawa) sampai isu kalau Rusia akan menutup semua penerbangan. Dan juga karena ada kabar Putin melepaskan singa di jalanan Moscow (ga deh, ini nggak saya tulis).

Pukul 10.30
Sebelum jalan-jalan lagi keliling Moscow, saya mengecek email. Ternyata tak ada balasan dari Oman Air. Ya sudahlah, mungkin memang harus pulang sesuai jadwal semula. Saya langsung menyusun rencana, ngapain aja beberapa hari ini di Moscow.

Moscow Metro Station
Salah satu stasiun di Moscow

Pukul 14.30
Sehabis berkunjung kembali ke Moscow Katedral Mosque, kami lapar. Kantin halal yang biasa kami datangi di sebelah masjid tutup. Akhirnya, kami melipir ke restoran Uzbekistan di seberang masjid, memesan semangkuk Lagma, sepiring Palov, dan satu teko teh.

Sambil menguyah nasi palov yang jadi favorit saya selama di Uzbek, saya iseng mengecek email. Hal yang sangat jarang saya lakukan saat sedang makan. Ternyata, beberapa menit lalu ada email masuk dari Oman Air Rusia yang menanyakan apakah kami bisa berangkat malam ini juga, pukul 23.45.

Saya melongok ke jam yang saya beli di Arab lima tahun lalu. Pukul 14.30. Artinya kami masih punya waktu 9 jam buat kembali ke hotel, packing, solat, mandi, dan ke airport.

Tanpa pikir panjang, saya langsung balas email dengan jawaban, “Yes, definitely we can”. Dan langsung menghabiskan palov dengan buru-buru, juga seteko teh Uzbek yang ternyata harganya lumayan mahal. Bikin nyesel pesennya.

Pukul 20.30
Saat menuju airport, ada WA dari staff KBRI Rusia. Ia mengatakan kalau Presiden Putin baru saja memerintahkan libur untuk semua kantor dari 28 maret-5 April. Di tanggal kepulangan kami sebelumnya. Langsung bersyukur karena buka email di saat makan siang di resto tadi. Kebayang kan kalau saya pulang saat tanggal 28, di saat semua libur. Susah koordinasinya.

Pukul 21.23, Demodedovo Airport
Kami masih was-was apakah check in akan berhasil, tapi ternyata berlangsung mulus. Bahkan mas-mas ganteng nan baik penjaga konternya bilang, kalau satu row boleh saya kuasai sendiri karena pesawatnya akan kosong. Baiklah Mas.

Naik Qatar Airways cuma berempat

Nyatanya, memang pesawatnya kosong melompong. Hanya ada saya, kawan saya, traveler wanita dari Philipina, dan satu lagi traveler laki-laki entah dari mana. Ya, hanya kami berempat penumpang resminya. Penumpang lainnya adalah para awak kabin, plus 20 pilot dan pramugari Qatar yang harus pulang ke Doha karena itu hari terakhir maskapai itu mengudara ke Rusia, sebelum ditutup sementara karena Corona.  Saya penumpang di pesawat terakhir.

Karena jadi penumpang empat-empatnya, pelayanan yang saya terima jadi seperti pelayanan kelas bisnis. Satu pramugari melayani dua orang. Berkali-kali saya ditawari tambahan makanan, minuman, dan snack. Tapi karena itu malam hari, saya lebih memilih buat tidur aja.

Esoknya, saat transit di Doha, saya mendapat kabar kalau tadi pagi, Putin sudah menutup semua jalur penerbangan dari dan menuju Rusia.

Yassalam…..nyaris.

Author: rahma ahmad

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis dan editor di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

6 thoughts

  1. Aku ikut deg-degan bacanya.
    Ya ampun,, travelling di masa-masa sebaran virus corona begini emang serba nggak jelas ya mbak.
    Thank God, emang mbak direstui untuk pulang sama Semesta

    Like

  2. Ibaratnya udah di ujung jurang lalu bisa meraih sesuatu untuk menyelamatkan diri.. Keputusannya tepat untuk mengorbankan itinerary, dan beruntung banyak pihak yang berusaha membantu juga.. Memang serba ngga jelas gini ya kalau bepergian di tengah pandemi.. Aku sampai ada vaksin atau corona hilang gak berani kemana2, bahkan mudik lebaran pun batal T_T ..

    Liked by 1 person

Kalau ada pertanyaan atau tanggapan, silakan komen di bawah ini yaa...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s