Berburu Lady Aurora di Rusia

We will landing shortly in Murmansk. Please fasten your seat belt, open your window sheet, put back your tables, and sit upright. And don’t forget to use your gloves. Its minus 16 degrees outside” 

Begitu pengumuman awak kabin kepada kami, para penumpang Siberian Airways yang mendarat di bandara Murmansk. Pengumuman yang berbeda dengan yang saya pernah dengar sebelumnya karena ada embel-embel diminta mengenakan sarung tangan.

Cuaca di Murmanks dini hari itu memang cukup dingin. Minus enam belas derajat celcius. Padahal saat itu sudah masuk bulan Maret, bulan yang cukup hangat menurut orang-orang setempat. Namun badai salju yang datang lagi semalam membuat suhu menurun lagi.

Saya menggigil kedinginan dan segera merapatkan jaket winter oranye saya. Walaupun persiapan sudah maksimal, dengan lapisan baju dan jaket khusus winter, dinginnya Murmanks masih terasa di wajah. Apalagi saya harus berjalan ke arah luar, ke halte bus, dengan mendorong koper yang tak ringan. Berkali-kali roda koper saya terperosok ke dalam salju yang lumayan tebal. Susah ternyata.

Jangan bayangkan halte bus yang saya tuju  itu sebagus halte bus bandara Soekarno Hatta. “Halte” busnya hanya sebuah plang di depan sebuah bangunan kecil berwarna cokelat. Sama kecilnya dengan si bandara kedatangan, yang ukurannya sepertinya sama dengan ukuran rumah saya. Tak lebih dari 100 meter persegi.

Saya dan kawan saya memang mencoba menggunakan bus. Demi mengirit bujet tentunya. Bukan perkara mudah karena hampir semua yang keluar dari bandara dijemput oleh mobil berpenghangat. Hanya kami berdua yang nekat menunggu bus di tengah terpaan suhu minus di pagi hari. Dan memang, hanya kami berdua yang naik bus itu dari bandara.

Pengiritan itu kami lakukan demi bisa menginap di sebuah tempat impian dan berburu si lady aurora dengan habis-habisan.

Baca Juga: Persiapan Winter di Rusia


Menyaksikan Aurora Borealis memang tujuan utama kami Murmanks. Di dunia ini, ada banyak tempat menyaksikannya. Salah satunya adalah di kota paling utara di Rusia ini. Tempat ini memang sedang naik daun sebagai tempat menyaksikan aurora karena biaya yang dibutuhkan tidak semahal menyaksikannya di Iceland ataupun di Norwegia.

Begitu sampai di Murmansk Station, kami segera menitipkan koper di lantai basement. Lantai yang agak kotor dan bau, yang membuat saya ragu apa benar ada penitipan koper di sana. Namun ketika saya kebingungan, ada petugas yang menunjuk ke arah sebuah pintu usang, yang di dalamnya ternyata ada gudang penyimpanan koper yang cukup besar.

20200320_143956-01-01

Kami menitip koper itu agar bisa berjalan-jalan sebentar menikmati Murmansk yang masih penuh salju, makan di McD paling utara di dunia, sebelum menuju ke Aurora Village, hotel yang membuat saya jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya di linimasa.


Setelah semalaman menginap di Aurora Village namun gagal mendapatkan aurora di sana, kami kembali ke tengah kota. Dan memutuskan untuk kembali berburu aurora di dua malam kami di sana.

Namun, di malam kedua barulah kami berangkat berburu. Sebab di malam sebelumnya, Olga, guide kami yang sangat saya rekomendasikan karena tak begitu mata duitan, mengatakan bahwa langit malam itu berawan. Dan tentu saja, aurora tak akan bisa dilihat jika tertutup awan.

Benar saja, di pagi harinya, kami melihat tumpukan salju tebal di depan penginapan. Ternyata bukan hanya berawan, semalam hujan salju turun dengan derasnya.  Membuat saya hampir terpleset dan memutuskan masuk kembali ke penginapan untuk mengambil snow cover antislip untuk sepatu saya.


Kami keluar di malam kedua untuk berburu aurora. Sebab, menurut Olga, malam ini langit akan cerah tanpa awan. Namun ia juga tak menjamin akan mendapat aurora karena menurutnya, “Forecast is still a forecast. You don’t know what will happen exactly. It could change by hour.” 

Langit Murmansk malam itu memang terlihat sangat cerah. Dari jendela kamar saya bisa melihat bintang di sana. Kata orang, kalau melihat bintang itu, artinya aurora akan muncul. Semoga.

Saya melirik jam di hape. Pukul 21.00. Olga berjanji akan menjemput kami 21.30, dan akan membawa kami berburu aurora malam ini hingga pagi buta, sebelum kami naik taksi ke bandara untuk menuju kota St Petersburg.


Olga membawa kami menjauh dari pusat kota, ke daerah yang lebih minim cahaya. Memang, seperti halnya milky way, aurora hanya bisa disaksikan di area yang gelap gulita. 

Baru dua puluh menit meninggalkan kota, Olga menyuruh kami melihat ke langit di arah kanan. Ada semburat berwarna putih tipis di sana. Aurora muncul. Saya langsung ambil kamera, mengarahkannya ke titik yang ditunjuk Olga. Hijau.  Aurora memang baru akan terlihat berwarna hijau kalau dilihat di kamera.

Saya nyengir lebar. Doa saya terkabul.

Makin lama semburat makin besar. Tapi Jimmy, kawan Olga yang menjadi driver kami malam itu, belum menghentikan mobil kami. Ia baru berhenti lima belas menit kemudian, di tengah lapangan luas bersalju yang gelap gulita. Di langit sudah tampak semburat putih yang tebal, besar, dan makin jelas. Saya, yang baru pertama kali melihat aurora, langsung lompat kegirangan karenanya.

DSC09842-2-01

DSC09856-01-01

Dua jam kami di sana, melihat sang lady menari-nari di langit Murmansk. Untung saat itu udara cukup bersahabat, “hanya” minus 10 derajat. Nyaman, meskipun saya berkali-kali terjeblos ke dalam tumpukan salju yang lumayan dalam dan harus dibantu kawan saya untuk keluar darinya.

Alhamdulillah. Now, i can check one of my bucket list.

DSC09820-2-01-01

Tip:

– Bus dari airport ke Murmansk Station: bus no 106. Harga 125 rubel.

– Penginapan di Murmansk: Aurora Village, harga 5 juta/malam dan Tri Zaytsa, harga 350rb/malam.

 

 

 

Author: rahma ahmad

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

13 thoughts

  1. wah senangnya setelah akhirnya bisa ngeliat aurora.. kok bisa beda ya warna liat langsung dan warna di kamera?? dan itu nginap di aurora village mahal bgt T_T

    -Traveler Paruh Waktu

    Like

    1. Kalo ga salah ada spektrum warnanya yang cuma bisa ditangkep ama kamera, ga bisa ditangkep mata kita.

      Hooh mahal, tapi kalau berame-rame worth it sih. Satu kamar bisa diisi 5-6org

      Like

  2. Ya Allah. Sumpah gw merinding banget lihat foto auroranya ma…
    pengen jugaa!!!
    Semoga secepatnya ya Allah..!!

    Like

  3. Malam, apalah boleh direkomendasikan nomor yang bisa dihunungi untuk jasa city tour Murmansk? Terima kasih banyak.

    Like

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s