Backpacking ke Vietnam: An ImpulsiveTrip

Dah lama gue ga ke negara ASEAN selain Malaysia, yuk ke Hanoi, Din!” ujar saya ke kawan saya, Dini, saat kami duduk-duduk santai sambil menikmati latte di Starbuck.

Begitulah awalnya.

Karena akhir-akhir ini saya lebih banyak mendatangi negara antah berantah yang jauh, saya kangen datang ke negara ASEAN. Alhasil, tanpa banyak ba bi bu, kami berdua langsung mencari tiket murah menuju Hanoi. Saya mengajak Endah, kawan saya satu lagi.

Ini bukan kali pertama saya ke Hanoi. Lebih dari sepuluh tahun lalu, saya pernah ke sini dan menikmati Halong Bay. Makanya, kali ini saya ingin rute yang lain. Alhasil, ini rute yang saya buat: Hanoi-Sapa-NinBinh-Hoi An-Danang.

Hoi An, Vietnam
Hoi An, Vietnam

Keberuntungan Berbalut Drama

Kata kawan-kawan yang pernah pergi dengan saya, kalau pergi dengan saya, bersiaplah menghadapi sesuatu yang diluar prediksi. Ga akan mulus bak jalan tol. Hahaha….

Tapi memang benar, sih, memang ada saja kejadian unik dan seru yang menimpa saya. Tapi kalau saya bilang, itu kemujuran yang sebelumnya berbalut drama dulu.

Contohnya pada tahun lalu, saya sempat tertahan di imigrasi Maroko yang menyebabkan saya akhirnya diajak lewat jalur VIP yang biasanya dilewati pejabat dan orang penting lainnya. Masih di trip yang sama, hotel saya di Madrid ternyata fiktif yang berakhir dengan saya diberi pengganti hotel yang harganya 3 kali lebih mahal, di lokasi yang lebih menyenangkan.

Di Rusia, sesaat sebelum pandemi, saya hampir tak bisa pulang karena penerbangan Oman Air ditutup. Untunglah, Oman berbaik hati mengganti pesawat kami dengan Qatar Air, yang ternyata juga merupakan penerbangan terakhir. Akibatnya, saya di pesawat cuma berlima!

Cerita lengkapnya baca di: Ke Rusia Saat Corona: Hampir Tak Bisa Pulang karena Lockdown

Keberangkatan ke Vietnam ini juga diawali dengan kejadian drama: seminggu sebelum berangkat ada kabar kalau pesawat Scoot kami diundur satu hari sementara pesawat kawan saya (yang sama persis) diundur dua hari!!

Lah piye kalau pesawatnya beda, repot di sananya

Untunglah, setelah negosiasi alot dengan traveloka, pesawat kami semua bisa sama. (Bagaimana cara negonya, simak tip di paling bawah, ya)

Drama Kedua: Pesawat Pulang Diundur Jadwalnya

Drama kedua muncul saat kami sedang ada di Vietnam. Pesawat Vietnam Airlines dari DaNang menuju Ho Chi Minh yang seharusnya pagi hari diundur jadi malam hari, padahal sorenya kami punya penerbangan lanjutan ke Kuala Lumpur. Ya, demi harga murah, saya mencari penerbangan satuan: dari Hanoi Ho Chi Minh dengan Vietnam Air, dari HCM ke KL dengan Airasia.

Alhasil, saya menggempur semua kontak Vietnam Airlines, mulai dari WA (yang tidak dibalas), DM via IG dan twitter (yang juga tidak ditanggapi) dan email. Untunglah, protes saya via email ditanggapi dan mereka menawarkan penerbangan pagi lainnya. Alhamdulillah

Akibat penggantian penerbangan ini, kami mendapat pesawat yang lebih bagus. Seharusnya kami naik pesawat LCC yang dioperasikan rekanan Vietnam Airlines yakni Pasific Airlines. Harganya jauuh lebih murah ketimbang jadwal penerbangan lain yang dioperasikan langsung oleh Vietnam Airlines. Namun karena ada pergantian penerbangan ini, kami mendapat pesawat Vietnam Airlines tanpa harus menambah biaya.

Rezeki anak-anak solehah.

Drama Ketiga: Hanya 10 Menit

Ini sebenarnya bukan drama, tapi keberuntungan. Pesawat kami ke Ho Chi Minh (yang sudah direskedul jadwalnya tadi) sedianya akan berangkat pukul 09.20.

Kami tiba di bandara pukul 6.50 dan segera datang ke konter check in. Tiba-tiba saya didatangi petugas.

What time is your flight?”, ujarnya tergesa-gesa

Nine twenty” jawab saya sambil menunjukkan tiket di handphone.

Do you have any connection flight?” tanyanya lagi.

Setelah saya iyakan, dia menawarkan untuk memajukan penerbangan saya karena dia khawatir penerbangan selanjutnya akan ditiadakan.

Begitu saya mengangguk setuju, dia langsung bergerak cepat. Paspor kami diminta, boarding pas dicetak, koper langsung dimasukkan bagasi (padahal cuma satu dari kami yang beli bagasi!). Setelah itu kami diajak melewati jalur VIP untuk x-ray, masuk gate, dan langsung naik pesawat. Begitu kami duduk, pintu pesawat ditutup dan pesawat lepas landas.!!

Fiuhhh….hanya butuh waktu 10 menit dari ketibaan kami di bandara hingga pesawat lepas landas.

Di pesawat, kami bertiga cuma bengong. Baru setelah itu tertawa terbahak-bahak dan mengucap syukur karena diberi kemudahan secepat itu. Kami bahkan diberi tempat duduk paling depan (tepat di belakang bussiness class) yang termasuk seat termahal untuk kelas ekonomi.

Alhamdulillah.

TIP: Apa yang Mesti Dilakukan Kalau Pesawat Dibatalkan?

Apa yang Mesti Dilakukan Kalau Pesawat Dibatalkan?

  • Jangan panik dan jangan buru-buru minta refund karena biasanya harga pesawat di dekat hari H jauh lebih mahal ketimbang harga saat kita beli.
  • Hubungi tempat kita membeli, kalau belinya lewat OTA (online travel agent) macam tiket dot com, hubungi chat-nya. Kalau belinya lewat website maskapai, hubungi lewat contact yang tertera di websitenya.
  • Kita sebagai penumpang sebenarnya punya hak untuk menolak perpindahan dan pembatalan ini (termasuk kalau tulisannya non refund karena ini kan bukan kita yang mau pindah jadwal), jadi ngotot aja minta solusi. Misalnya dipindahkan ke penerbangan terdekat dengan jadwal semula,.
  • Kalau beli di website maskapai langsung, biasanya negosiasi akan lebih mudah dan cepat. Beda kalau di OTA. Seringkali OTA menolak dengan alasan tidak bisa reschedule dan minta pembayaran untuk proses reschedule. Jangan langsung diiyakan, karena sekali lagi, kita punya hak untuk meminta pergantian jadwal.
  • Kalau OTA masih bersikeras, segera hubungi maskapai dan tanya apakah harus ada biaya. Janhgan lupa untuk mencatat nomer agen yang menjawab ini. Lalu hubungi kembali OTA dan katakan kalau kalian sudah menghubungi maskapai. Trik ini biasanya berhasil.

2 thoughts on “Backpacking ke Vietnam: An ImpulsiveTrip

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!