Solo Travelling ke Azerbaijan: Menikmati Laut Caspia di Baku Boulevard

Caspian Sea.

Begitu denger nama ini, saya langsung inget film “Narnia: Prince Caspian”. Makanya, begitu sampai Baku, Azerbaijan, saya langsung minta Syahriyar, warga Baku kawan couchsurfing saya untuk mengantar saya melihat Caspian Sea.

Kalau mengintip literatur, Caspian Sea ini sebenarnya bukan laut, tapi sebuah danau besar yang dikelilingi daratan. Namun karena ukurannya sangat luas, melebihi luas Jepang, danau ini akhirnya disebut “sea”. Selain Azerbaijan, Caspian Sea ini melingkupi beberapa negara antara lain Iran, Kazahktan, Rusia dan Turkmenistan.

Syahriyar mengajak saya ke dua tempat untuk menikmati Caspian Sea ini. Yang pertama terletak di pusat kota Baku, di sepanjang Baku Boulevard. Katanya siih, Baku Boulevard ini udah ada sejak seratus tahun lalu, diawali saat para orang kaya saudagar minyak di Azerbaijan mendirikan villanya di tepi Laut Caspia. Lama kelamaan boulevard-nya bertambah panjang hingga sekarang membentang sejauh 26km. Di tepian Baku Boulevard ini berderet hotel, restoran mewah, mal, taman hiburan, hingga gedung pertunjukan.

2019_0624_04231700-01

Boulevard ini terbagi menjadi dua, yakni Boulevard lama dan Boulevard baru atau yang sering juga disebut dengan nama Yani Boulevard. Saya nggak paham mana batas antara yang lama dan yang baru, tapi menurut Syahriar, bisa dilihat dari betonnya. Yang baru, beton penutup trottoarnya lebih baru. Ya iyalah…


Boulevard lama (Old Boulevard) mirip Ancol versi bersih. Di sini ada trotoar lebar yang enak buat jalan-jalan, kalau nggak panas. Yaa, Baku di bulan Juni ternyata lumayan panas. Bikin pipi merah. Karena itu, waktu yang pas untuk ke Boulevard ya pas sore menjelang magrib. DIisaat itu, dari Boulevard saya bisa menikmati sunset atau jalan-jalan cuci mata sambil liat Flame Tower yang menyala dari kejauhan.

2019_0624_04215600-01

2019_0624_04222900-01.jpeg

Cara lain menikmati sore di Baku Bouelevard adalah sambil duduk-duduk menyesap teh di cafe mahal yang bertebaran di sana. Tapi bagi yang dananya pas-pasan seperti saya, alternatif terbaik adalah duduk-duduk di undakan sambil makan roti bekal yang saya beli di supermarket. Itu aja udah bikin saya bahagia. Ke Ancol yang kotor, bawa bekal nasi uduk dan menggelar tikar sendiri aja saya dah senang, apalagi di pinggir Caspian Sea begini. Kan bisa bikin status di IG: “menikmati sore di pinggir Caspian Sea”

Sementara di Boulevard yang baru, selain betonnya lebih baru, pohonnya lebih sedikit. Alhasil, panasnya lebih mencekam. Nah daripada saya melipir terus nyari bayangan pohon, Syahriar mengajak saya naik sepeda. Sepeda ini bisa disewa di sana dengan harga 2 manat atau setara dengan 19.000 rupiah per jam.

2019_0624_04253600-01.jpeg


Esoknya, saya diajak ke Bilgah Beach, untuk melihat sisi lain Caspian Sea. Public beach ini lokasinya sekitar 1 jam dari Baku. Jauh. Saya mesti naik angkutan umum (berupa bus) dari terminal yang saya lupa namanya. Ongkosnya sangat murah, hanya 1 manat alias 8500 rupiah untuk perjalanan selama 1 jam.

Tak ada tiket untuk masuk sini, hanya saja saya mesti bayar 10 manat untuk sewa tempat duduk sepuasnya. Pantainya tak istimewa, jelas lebih istimewa pantai di Indonesia. Makanya, saya ga  terlalu antusias di sini. Sementara si host CS saya berenang bolak-balik, saya cuma jalan-jalan di pinggiran pantai dan menghabiskan waktu lalu duduk-duduk  di bawah payung, sambil melihat cewek-cewek Azer berbikini dan cowok-cowok brewokan mondar-mandir. Ya, walaupun Azerbaijan adalah negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, nuansa Islam di sini amat tidak terasa.

Oya, walau udara di sana saat itu 30 derajat, dan pasirnya panasnya minta ampun, airnya dingin ternyata. Dan ga asin lho!

Author: rahma

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

26 thoughts

  1. jooos…
    tapi kurang mbak….pingin tahu untuk ke sana naik pesawat dari mana dan gimana ceritanya…n syukur syukur kalau dikasih tahu harga tiketnya..
    maturnuwuwun..

    Like

  2. Seru banget siiih udah traveling ke Azerbaijan. Impiam aku banget bisa traveling ke sonoh dan negara2 tan tan tan… kazahtan, uzbekistan dll.

    Eh gimana ngurus visa nya? bebas visa / VOA kah buat WNI? flight gimana pake apa kena berapa? terus karakter orang-orangnya gimana? Pake couchsurfing ya?

    Ah maap kebanyakan pertanyaannya hahaha

    Like

  3. Yaa namanya danau ma.. ya gak asin lahh.. kecuali klo dibilang itu danau air asin.. heheehee..

    Terus mana foto cwo-cwo berewokan yang berseliwerannya?? Mana??

    Wkwkkwkkwk

    Like

  4. Aaakkkk aku langsung berasa ada disana mba. Panasnya lumayan ya mba sampe 30 derajat. Itu pasti enak banget klo berendam. Kan airnya dingin tuh ya…0

    Like

  5. Jadi bener ya kalo traveling itu harus prepare dana.. jangan sampe mupeng cuma liat orang orang duduk di cafe sambil menikmati teh or coffee.. sayang banget udah disana ngga nyobain coffee shopnya.. Azerbaijan akupun pernah denger kalo disana gaya hidup sudah seperti di US.. next solo traveling kemana mbak

    Like

    1. Wkwk, ga nikmatin coffe shop ga mengurangi kenikmatan travelling itu sendiri kok mbak. 🤭🤭 Duitnya kan bisa dipake buat hal lain yang lebih krusial.

      Like

  6. Sepertinya, aku akan lebih suka main di Boulevard Lama daripada Boulevard Baru ehehe. Iya sih ya sekilas Boulevard Lama agak mirip dengan Ancol versi jauh lebih bersih. Semoga nanti bisa mampir ke sana juga, menikmati senja bersama roti supermarket. Yang penting bisa update foto kece di Instagram. >,<

    Like

  7. jauh anet siii jalan-jalannyaaa… bikin mupeng ajaaa.
    udah gitu sednirian pulak! Solo traveling emang bikin asoy sih ya. Nggak ribet sama orang, tapi binun pas minta fotoin. hahahaa.

    Btw itu gedugnya kok mirip kayak art museum singapur yak?

    Like

    1. Bangeet. Banyak juga lho yg nyinyir, bilang jalan2nya ke luar negeri melulu, ga cinta indonesia. Padahal setelah jalan2 ke luar, malah makin cinta Indonesia.

      Dan dia ga tau ajaa, aku udah jelajahin 28 provinsi di Indonesia 🤭🤭

      Like

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s