Kampung Yaboi, Kampung Sagu Warna Warni di Sentani

“Ja takut kakak, ombak memang besar. Tapi sa jaga kakak,”

Begitu tutur salah satu penumpang perahu yang duduk di sebelah belakang saya. Seorang pria berkaus kuning, berkulit hitam, dan berambut keriting khas Papua.

Ia berkata seperti itu karena saya mendekap kencang tas saya. Sebenarnya bukan karena takut ombak, tapi takut kamera saya ikutan basah terciprat air yang masuk ke perahu nelayan yang tak terlampau besar itu. Saya lupa bawa tas waterproof.

Ombak sore itu memang cukup besar—angin sedang bertiup kencang—sehingga perahu yang saya tumpangi dari Kampung Yaboi menuju Dermaga Yatim agak sedikit bergoyang. Ya, walaupun ini danau, ada ombak di sini, karena Danau Sentani ini memiliki luas 9.360km2 dan dikeliling perbukitan yang membuat angin bertiup kencang.

“Ini belum besar, kakak. Makin sore nanti ombaknya makin besar.”

Kali ini wanita muda di sebelah kiri saya yang berbicara. Ia membawa seember ikan berwarna hitam yang akan dijualnya di pasar di Dermaga Yatim. Katanya, hasil penjualannya akan ia belikan pisang dan keperluan dapur lainnya. Besok pagi, baru ia kembali ke Yaboi lagi. Begitu setiap hari.

Di belakang saya, di sebelah pria tadi, ada lagi ibu-ibu yang terus tertawa-tawa sambil mencolek saya, mengajak saya berbicara. Tapi dia tak bisa bahasa Indonesia, sehingga saya bingung mesti menjawab apa. Saya hanya sesekali memutar kepala menghadap ke arahnya, sambil mengangguk menjawab keramahan mereka.

Begitulah suasana di perahu kayu tanpa atap ini yang membawa saya, beberapa kawan, dan penduduk Kampung Yaboi. Perahu ini memang menjadi satu-satunya alat transportasi yang menghubungkan kampung-kampung di pinggir Danau Sentani dengan daratan di Kabupaten Jayapura. Harganya murah, hanya 10-15 ribu sekali jalan.

View Danau Sentani dari Bukit Tungku Wiri
Perahu kayu yang jadi transportasi andalan penduduk di Sentani

Trek Mengitari Kampung Sagu

Kampung Yoboi yang saya datangi dengan perahu itu adalah salah satu kampung wisata di Danau Sentani. Kampung ini menjadi viral karena ada dermaga warna-warni yang instagramable, yang ada di seantero kampung.

Namun sebenarnya, Kampung Yoboi bukan hanya punya itu. Di kampung ini, pengunjung dapat melintasi trek kayu sepanjang 420 meter di tengah hutan sagu dan jika beruntung, bisa melihat petani sagu memanen sagunya. Sagu memang menjadi komiditi utama kampung yang berdiri di atas air ini. Mereka memiliki hutan sagu seluas 1.600 hektar dengan 20 jenis sagu, yang merupakan jenis sagu terbanyak di Indonesia.

Selain itu, pengunjung melihat kehidupan sehari-hari masyarakat kampung yang sehari-harinya hilir mudik dengan perahu. Saat festival atau perayaan tertentu, pengunjung bisa menikmati sajian khas dari sagu atau bahkan—jika berani—ikutan mencoba menikmati sate ulat sagu. 

Foto Kampung Yaboi saat festival. Sumber: Kemenparekraf

Masih Banyak PR Menanti

Potensi kampung ini sangat besar, tapi masih banyak PR yang harus dilakukan di sini. Selain hari-hari festival, “napas” sagu kurang terasa di sini. Tidak ada tempat yang menjajakan makanan atau buah tangan khas sagu. Petunjuk juga terasa kurang; tak ada papan pentunjuk, peta, ataupun guide yang menjelaskan tentang kampung ini. Jembatan kayu warna-warni yang mengitari kampung pun mulai pudar dan di beberapa tempat rusak.

Kami yang berharap bisa memanen sagu ataupun mencicipi penganan khas sagu, hanya bisa gigit jari. Akhirnya kami hanya mengitari kampung ini sambil melihat beberapa orang yang sedang beraktivitas di depan rumahnya. Selebihnya tak ada orang lagi; mungkin karena kami datang di siang hari ketika udara sedang panas membara.

Hal ini diakui oleh Mama Hanny, penduduk Kampung Yoboi yang juga penggiat literasi yang memanggil saya ketika saya lewat depan rumahnya. Mama Hanny mengatakan bahwa ia masih berusaha mengajak penduduk untuk melakukannya, ditambah dengan upaya-upaya lain—seperti membersihkan sampah—supaya Kampung Yoboi lebih terjaga dan dapat “dijual” kepada wisatawan.

Kampung Asei, Kampungnya Para Perajin Kulit

Keesokan harinya, saya diajak mengunjungi kampung lainnya: Kampung Asei.

Berbeda dengan Kampung Yaboi yang bisa dicapai setelah berperahu selama 15 menit dari Dermaga Yatim, Kampung Asei ini lebih dekat. Lokasinya hanya berjarak 5 menit berperahu dari Dermaga Kholhate, dermaga yang selalu dipakai untuk Festival Danau Sentani.

Kampung yang termasuk ke dalam Distrik Sentani Timur ini terkenal sebagai penghasil kerajinan lukisan di atas kulit pohon Khombhow; para wisatawan yang datang berkunjung bisa membeli lukisan ini sekaligus melihat proses pembuatannya.

Begitu turun dari perahu, deretan penjual kulit kayu langsung bisa terlihat di sana. Salah satu yang saya ajak ngobrol adalah Mama Corry. Ia mengaku diajarkan cara melukis kayu ini oleh orang tuanya sejak ia duduk di bangku sekolah.

“Orang tua kami diajarkan oleh kakek nenek, kakek nenek diajarkan oleh orangtuanya juga. Turun temurun begitu terus,” ujarnya sambil tertawa, memamerkan giginya yang dipenuhi kapur sirih dan pinang.

Menurutnya ceritanya, hingga saat ini keterampilan melukis di atas kulit kayu ini masih terus dilestarikan. Anak-anak Kampung Asei sedari dini diwajibkan mempelajari keterampilan ini.

Lukisan di atas kulit kayu milik Mama Corry dijual dengan harga mulai dari 150 ribu hingga 1,5 juta rupiah, tergantung ukurannya. Harga yang jauh lebih murah kalau dibanding harga di toko souvenir di pusat Kota Jayapura.

Sebenarnya, di kampung ini kita juga bisa melihat banyak hal lain, misalnya saja ikutan workshop melukis, atau melihat langsung proses pengulitan pohon Khombhow. Sayangnya, saya terlampau sore ke sana dan harus pulang segera.

Semoga lain kali saya bisa kembali ke Sentani dan menikmati kampung lainnya.

9 Comments

  • Tika Samosir

    Sebenarnya 2 tahun lalu setelah covid sudah niat mau melancong ke Jayapura, kebetulan abang aku yang pertama tinggal di Sentani juga. Luar biasa memang indahnya negeri titipan Tuhan ini. Di Sentani ikan lautnya segar-segar pula.

  • lendyagassi

    Indah sekali Kampung Yaboi dan Kampung Asei.
    Mereka hidup dengan apa-apa yang masih sederhana dan disediakan oleh alam. MashaAllaa~
    Inilah yang disebut masyarakat adat, penjaga bumi Indonesia.

  • ulfi

    Luar biasa!!
    Cerita tentang Indonesia Timur selalu menggugah Aku untuk bisa kesana..

    Aku baca tulisan ini serasa di bawa kesana.. Terimakasih

  • Raja Lubis

    Emang ya Indonesia tuh sudah dianugerahi Tuhan dengan keindahan alam, dan keragaman tradisi adat budayanya. Tinggal dipoles lagi sedemikian rupa, biar menarik wisatawan berkunjung. Btw, aku suka banget lukisan di atas kulit kayu, sangat indah nan kreatif.

  • Hida

    Wuaaa…senengnya bisa liat langsung Danau Sentani..cantik banget ya pemandangannya. Pengen banget suatu saat nanti bisa berkunjung ke tanah Papua. Btw, lukisan kulit kayunya termasuk murah ya padahal buatnya handmade.

  • Fanny_dcatqueen

    Ya ampuuuun mbaa, aku jadi pengen ke sanaaaa . Papua ini memang menarik, surga, dan ada banyaaaak sekali yg bisa dilihat sebenarnya yaaa.

    Aku kebayang keramahan orang lokalnya di dalam perahu yg mba naikin . Jd inget dulu papa kerja di oil company yg ada di Tangguh, teluk Bintuni. Kerjanya 3 minggu full, libur 2 minggu. Begitu terus. Jd tiap kali libur dan pulang ke medan, pernah bawa seember besar kepiting yg udah dibumbui, yg besarnya byangetttttt, capitnya aja segede lengan ku, tapi hrg 1 ember itu waktu itu cuma RP150rb. 1 ember penuh kepiting besar loh. Aku sampe speechless. Mana ada di jkt hrg segitu

    Itu yg bikin aku pengen ke papua, tp memang ketabrak mulu ama jdwal trip LN.

    Lukisan di kulit pohon aku juga pengen. Pasti ga mudah utk menulis di situ . Wajar kalo dihargai agak mahal.

  • Fanny_dcatqueen

    Ya ampuuuun mbaa, aku jadi pengen ke sanaaaa . Papua ini memang menarik, surga, dan ada banyaaaak sekali yg bisa dilihat sebenarnya yaaa.

    Aku kebayang keramahan orang lokalnya di dalam perahu yg mba naikin . Jd inget dulu papa kerja di oil company yg ada di Tangguh, teluk Bintuni. Kerjanya 3 minggu full, libur 2 minggu. Begitu terus. Jd tiap kali libur dan pulang ke medan, pernah bawa seember besar kepiting yg udah dibumbui, yg besarnya byangetttttt, capitnya aja segede lengan ku, tapi hrg 1 ember itu waktu itu cuma RP150rb. 1 ember penuh kepiting besar loh. Aku sampe speechless. Mana ada di jkt hrg segitu

    Itu yg bikin aku pgn ke papua, tp memang ketabrak mulu ama jdwal trip LN.

    Lukisan di kulit pohon aku juga pengen. Pasti ga mudah utk menulis di situ . Wajar kalo dihargai agak mahal

  • Myra (Jalan-Jalan KeNai)

    Lukisan kulit kayu memang bagus banget. Ingat waktu suami ada kerjaan di Papua juga beli beberapa lukisan ini. Seneng lihatnya kalau anak-anak di sana masih diajarin juga melukis di kulit kayu. Cakep banget ya pemandangan alam di Papua

  • Leila

    Wah, bulan lalu ke sekitaran Danau Sentani juga tapi cuma melihat dari atas Bukit Teletubbies. Terlihat luas sekali memang, dan ternyata di tepiannya banyak aspek budaya yang bisa kita pelajari yaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!