Bill and Beer

FB_IMG_1574699541358

“Can i have my bill?” Pinta saya pada pramusaji di Nabeyez Iranian Resto, salah satu resto halal di Tbilisi, Georgia.

Ga lama dia datang. Tapi bukan kertas yang ada di tangannya, melainkan sebuah gelas besar berisi minuman kekuningan berbusa. Gelas itu ditaruh di depan saya.

Bir segelas penuh.

Sambil melongo campur kaget, saya langsung bilang. “No no, i dont drink this. I’m asking for bill. To pay”.

Sang manajer, yang denger itu langsung datang. Dia ambil gelas beer, minta maaf berkali-kali. Lalu datang lagi sambil bawa bill betulan dan chai gratis sebagai bentuk permintaan maaf.


Hal yang sama terulang lagi di Samarkand, Uzbekistan. Kali ini, pramusajinya masih bocah. Anak yang punya. Ketika saya minta bill, dia kaget. Lalu lari sambil tanya bisik-bisik ke kakak perempuannya.

Sadar dia salah tangkap, saya buru-buru ralat. Untungnya kakaknya cuma ketawa terbahak-bahak sambil bilang kalau adeknya bodoh.

Sejak itu, saya ga pernah minta “bill” lagi.

Author: rahma

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

3 thoughts

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s