Akhir Pekan di Cijeruk: Treking, Hutan Pinus, dan Makan Enak di Lenirra Villa and Resto

Akhir pekan ini saya habiskan dengan treking tipis-tipis ke Suaka Elang dan Curug Cibadak di Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasinya tak terlampau jauh, hanya sekitar 70km dari Jakarta, sangat-sangat lumayan untuk mengobati penat sekaligus seru-seruan bersama kawan-kawan.


Kali ini, saya pergi bersama sepuluh teman foodies dari komunitas Food Blogger Indonesia. Tujuan kami bukan sekadar jalan-jalan di alam, melainkan juga sambilan merayakan ulang tahun keempat komunitas blogger makanan ini. Tahun sebelumnya, saya melewatkan perayaan di salah satu curug di Sentul. Karena itu, kali ini saya tak ingin absen lagi meski kaki dalam kondisi tak terlalu baik karena seminggu sebelumnya saya terpeleset di depan pintu kamar mandi.

Hahaha…ga elit banget ya, jatuh di depan kamar mandi.

Namun, namanya juga sudah punya rencana jalan-jalan. Selama masih memungkinkan, rasanya sayang kalau harus membatalkannya. Gaslah!

Satu Jam dari Stasiun Depok Baru

Agar praktis, beberapa orang berencana bertemu di stasiun Depok Baru dan kemudian dari sana lanjut menggunakan taksi online. Saya sempat mengecek tarif taksi online dari Stasiun Depok Baru menuju Lenirra, tarifnya sekitar 180.000 per sekali jalan.

Namun ternyata, salah satu kawan membawa kendaraan sehingga akhirnya kami menuju Cijeruk dengan menggunakan kendaraan pribadi. Dengan kecepatan santai, satu jam kemudian kami sampai di Lenirra Villa and Resto.

Lha, kok, malah ke Lenirra? Yaa, karena hiking ke Curug Cibadak ini adalah salah satu paket Fun Games and Adventure yang ditawarkan oleh Lenirra Villa and Resto. Harganya sekitar 150 ribu rupiah per orang dan akan berangkat jika peserta sudah mencapai minimal 6 orang.

Pukul 08.30 pagi kami dijemput oleh Mas Kidal, guide yang akan membawa kami hiking. Untunglah, walaupun kami agak kesiangan, udara tak terlampau panas karena awan baik menaungi kami sepanjang perjalanan. Namun saran saya, sih ya, sebaiknya treking sudah dimulai pukul tujuh pagi agar tak terlampau siang sampai di curugnya.

Awalnya Landai, Lalu ….

Curug ini berada di kaki Gunung Salak Halimun, gunung yang sempat menjadi perbincangan utama ketika pesawat Sukhoi terjatuh di sana. Tapi bukan, ini bukan area yang sama dengan itu. Areanya relatif nyaman dan aman untuk dilalui.

Dari Lenirra kami diantar ke titik awal pendakian dengan menggunakan mobil. Sekitar sepuluh menit kemudian kami sampai di sana dan langsung di-briefing oleh Mas Kidal. Kami juga diberi trekking pole, yang ternyata sangat-sangat dibutuhkan sepanjang perjalanan.

Sepuluh menit awal, kami melewati jalan tanah landai yang di kiri kanannya tumbuh semak-semak rendah. Dari kejauhan terlihat Gunung Salak yang puncaknya ditutupi kabut. Sayup-sayup juga terdengar suara gemericik air dari aliran sungai di bawah. Pikiran berasa segar melihat kehijauan begini.

Saya masih tertawa-tawa sambil berkata dalam hati, “ah, kalau begini gampang mah ini jalurnya. Kaki aman ini.”

Namun ternyata, kejumawaan saya langsung dibayar instan. Setelah sampai di jembatan pertama, jalan mulai menanjak. Jalan yang tadinya tanah landai berubah menjadi undakan tangga dari batu-batu yang lumayan tinggi. Saya mesti berhati-hati berjalan karena di beberapa bagian agak licin karena semalam hujan turun. Beberapa kali saya hampir terpeleset padahal saya sudah memakai sepatu gunung andalan saya yang grip-nya lumayan. 

“Beberapa hari ini kalau sore di sini hujan, jadi lumutan,” tukas Mas Kidal sambil menyuruh saya berhati-hati.

Sepertinya sepatu gunung ini harus mui dilengserkan dan diganti dengan yang baru, ya.

Sekitar setengah jam kemudian, kami sampai di jembatan gantung dan hutan pinus Suaka Elang. Mendengar namanya, tadinya saya pikir kami akan melihat area konservasi yang dipenuhi elang-elang berterbangan, mirip dengan konservasi orangutan di Kalimantan atau konservasi burung Cendrawasih di Jayapura yang pernah saya datangi sebelumnya. 

Dulu iya begitu, tapi ternyata sekarang ini pengunjung tidak diperbolehkan melihat langsung elang-elang tersebut.



Nah, di sekitar pos suaka elang ini banyak tanah lapang yang ternyata digunakan untuk camping. Ya, di sini kalian bisa mendirikan tenda sendiri dengan membayar biaya retribusi dan tiket masuk sebesar 15.000 rupiah. 

Di hutan pinus ini kami berdiam cukup lama. Area ini memang estetis; di sana ada deretan pohon pinus yang tinggi yang cocok dijadikan setting foto-foto instagramable. Udaranya juga terasa sejuk, cocok untuk beristirahat setelah berjalan menanjak selama sekitar satu jam. Tak heran kalau area ini jadi favorit para pengunjung.

Sayangnya, perjalanan saya berakhir di hutan pinus. 

Ya, sejak awal saya memutuskan tidak lanjut ke Curug bersama kawan-kawan karena mendengar cerita tentang treknya yang cukup menantang dan licin. Dengan kondisi kaki yang tak baik, rasanya lebih bijak kalau saya mencukupkan diri, berhenti di sini dan kembali ke bawah.

Dari cerita kawan-kawan, jalurnya memang cukup menantang. Di beberapa bagian, jalur berada di sisi jurang sehingga mereka harus ekstra hati-hati. Ada pula area yang mengalami longsor, membuat mereka harus merapat ke dinding tebing ketika melintas.

Namun perjalannya sebanding dengan air jernih yang segar yang mereka dapatkan setibanya di Curug Cibadak.

Oiya, trekking ini bisa juga untuk anak-anak ya, asal hanya sampai jalur hutan pinus aja, tak sampai ke Curug. 

Makan Siang Lahap di Lenirra

Setelah turun dari kawasan Suaka Elang, saya dan seorang teman kembali ke Lenirra Villa and Resto menggunakan mobil jemputan. Sambil menunggu teman-teman lain menyelesaikan trekking, kami berkeliling untuk melihat-lihat fasilitas yang tersedia.

Ternyata, Lenirra bukan sekadar tempat makan saja. Di sini tersedia pilihan akomodasi berupa glamping dan vila, dengan fasilitas kolam renang. Ada pula beragam aktivitas yang bisa dicoba, seperti ATV, memanah, bersepeda atau berjalan-jalan di tepian sawah.

Buat yang ingin menghabiskan akhir pekan tanpa harus jauh-jauh dari Jakarta, tempat seperti ini bisa menjadi alternatif untuk berkumpul bersama keluarga atau teman. Kita bisa menginap, menikmati suasana alam, mencoba aktivitas luar ruang, sekaligus makan bersama.

Nah, untuk makan siang, kami memilih restoran kedua yang berada di bagian bawah, dekat area vila. Berbeda dengan restoran di bagian atas yang berada di dalam ruangan, restoran ini memiliki konsep semi-outdoor.

Bagian yang paling saya suka adalah pemandangannya. Dari tempat duduk, kami bisa melihat hamparan sawah yang membuat suasana makan terasa lebih santai.

Kami memesan dua paket makan untuk sepuluh orang. Setiap paket terdiri dari karedok, tahu dan tempe goreng, gurame goreng, ayam bakar, sambal merah, sambal hijau, lalapan, es kelapa, dan es teh manis.

Semua hidangannya terasa enak, tetapi favorit saya jatuh kepada gurame goreng yang dicocol dengan sambal hijau.

Ya Allah, nikmat banget!

Mungkin karena sudah berjalan cukup jauh dan mengeluarkan banyak tenaga, makan siang kali ini terasa jauh lebih menyenangkan. Kami makan dengan lahap, bahkan hampir semua menambah nasi. Saya yang biasanya makan nasi dalam porsi sedikit pun sampai ikut berebut nasi dengan teman di sebelah.

Benar-benar lapar setelah trekking!

Pelajaran penting dari perjalanan kali ini: kalau merencanakan makan bersama setelah hiking, jangan hanya menghitung jumlah lauk. Perkiraan kebutuhan nasi juga perlu ditambah. Sebab, sepuluh orang yang baru selesai trekking bisa saja punya selera makan yang berbeda dari sepuluh orang dalam kondisi normal.

Lain kali, kalau ke sini, sepertinya kami harus memesan porsi nasi lebih banyak daripada jumlah orang yang datang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!