Membuat Visa Schengen Belanda: Tak Sesulit yang Dikira

Bagi sebagian orang, visa schengen Eropa jadi momok yang menakutkan. Ada yang bilang, visa schengen Eropa susah didapat. Ada yang bercerita, visanya ditolak padahal syaratnya sudah lengkap. Bikin jiper.

Saya pun jadi deg-degan sebelum membuat visa schengen ini. Apalagi, cap di paspor saya yang ini tak terlampau banyak, hanya ada cap dari Singapura, Malaysia, Cina, Turki, UAE, dan India. Paspor lama saya, yang ada paspor negara-negara maju macam Inggris, Jepang, dan Australia, hilang ketika saya pergi ke Chiang Mai dua tahun lalu.

Ternyata, prosesnya tak sesulit yang saya bayangkan. Saya cuma butuh waktu tiga hari untuk mendapatkan visa schengen di paspor saya. Ya, cuma tiga hari.

Ini dia caranya:

Pertama, tentukan negara tempat Anda akan meng-apply visa. Schengen meliputi hampir semua negara di Eropa, kecuali Inggris dan beberapa negara pecahan Rusia. Di mana mesti apply? Sebaiknya visa di-apply di negara yang nantinya paling lama ditinggali.  Misalnya nih, Anda akan pergi jalan-jalan ke 4 negara Eropa, di Belanda 5 hari, Perancis 3 hari, Italia 3 hari, Swiss 3 hari, maka applynya harus di Belanda. Kalau semuanya sama-sama 3 hari, maka apply-nya di negara yang pertama didatangi.

Saya mendarat pertama kali di Amsterdam, Belanda sehingga saya apply visa dari Belanda.  Katanya, Belanda ini negara Eropa paling gampang untuk apply visa. Asal syaratnya lengkap, visa orang Indonesia pasti disetujui. Mungkin karena jasa balas budi kali yaa…

Untuk apply visa Belanda, saya mendatangi kedutaan Belanda di Rasuna Said, Jakarta. Yang harus diperhatikan adalah, nggak semua visa Eropa mesti di-apply di Kedutaannya. Visa Italia, Spanyol, dan beberapa negara Eropa lainnya mesti di-apply di kantor VFS di Kuningan City.

Kedua, lengkapi dokumennya.  Syarat dokumen untuk visa Schengen Belanda bisa dibaca website resmi kedutaan Belanda, yakni sbb

Print-out penerbangan. Kalau ga pede visa di-approve, jangan dulu beli tiket penerbangan (tiket jangan di-issued). Beberapa agen perjalanan bisa melakukan booking tiket pesawa untuk keperluan visa. Saya belum pernah melakukannya, tapi beberapa teman saya berhasil melakukannya dengan membayar sejumlah biaya ke agen tersebut. Kalau saya kemarin, pede setengah mati. Saya langsung beli tiket dua bulan sebelum keberangkatan, dan kebetulan harganya tak terlalu mahal. Hahaha…untung di-approve visa saya, yaa…

Foto. Usahakan foto di tempat yang memang biasa mencetak foto visa. Foto harus berlatar belakang putih, berukuran 3,5×4,5 (kalau ga salaah, soalnya saya lupa ukuran pastinya) . Kalau memakai jilbab, jilbab jangan sampai menutupi alis dan jidat.  Saya bikin foto di fuji film di lantai dasar Mal Ambassador. Kenapa pilih di situ? Ga ada alasan khusus sih. Kebetulan aja lewat di sana dan saya melihat tulisan di depannya “foto untuk visa”, langsung deh saya masuk ke dalamnya.

Asuransi. Eropa menyaratkan asuransi dengan pertanggungan minimal E3000.  Untuk asuransi ini, saya pilih asuransi AXA Smart Traveller karena bisa beli online dan polisnya dikirim via email. Sebenarnya ada asuransi yang lebih bagus, tapi berhubung ga bisa online, saya akhirnya pilih Axa saja.
Harga untuk 11-15 hari sekitar $43, tapi saat itu diskon hingga harganya hanya $38. Lengkapnya soal asuransi perjalanan, saya tulis belakangan ya.  Tadinya saya akan beli paket family karena saya pergi dengan ibu saya, namun ketika saya telepon ke AXA, mereka bilang kalau yang dimaksud family itu adalah ayah-ibu dan dua orang anak yang umurnya di bawah 20 tahun. Saya ama ibu saya nggak termasuk keluarga karena umur saya sudah sangat-sangat lewat dari 20 tahun 😀

Bukti reservasi hotel. Saya pergi ke 6 negara, tapi yang saya sertakan hanya bukti hotel di 3 kota saja: bukti di Amsterdam, Paris, dan Roma.  Saya buking hotel via situs booking.com, lalu setelah visa di-approve semua hotel itu saya cancel. Hahaha…ketika membuking, saya pilih hotel yang keliatan oke (walau tak terlalu mahal juga). Aslinya, saya kebanyakan pakai airbnb, dan pakai hotel yang promo. Enaknya buking via booking.com ya ini, pesanan bisa dibatalkan sehari sebelum berangkat, tanpa biaya, tanpa kena pinalti.

Bukti keuangan 3 bulan sebelumnya. Ini penting dan riskan. Banyak yang visa Schengen-nya ditolak padahal dana yang ada rekeningnya cukup besar. Ternyata, penyebabnya adalah dana itu tiba-tiba muncul dalam jumlah besar. Yang sebenarnya dilihat si kedutaan bukan cuma jumlah dana yang ada, tapi juga flow keuangan. Kalau setiap bulan ada pemasukan yang jelas dan teratur, menandakan kalau si pengaju visa punya penghasilan dan pekerjaan. Kalau memang mau pinjam, sebaiknya diatur sebisa mungkin biar tak kelihatan kalau pinjam. Biar kere tapi cerdas :D.
Berapa jumlahnya? Di syarat yang ada di web, dalam sehari kita harus punya E34. Kalau 10 hari, berarti di tabungan harus ada minimal E340.

Surat keterangan dari tempat kerja. Ini penting untuk tahu apa benar si pengaju visa bekerja. Saya pakai surat kerja dari HRD saya, tapi ibu saya yang usianya tak produktif lagi tak menyertakan surat apapun. Yaiyalah ya..

Itenerary singkat. Saya sudah buat itenerary per hari. Ga perlu detail, yang penting terlihat kalau kita tahu di sana mau ngapain aja. Di kedutaan, nanti juga akan diberikan lembaran itenerary singkat. (Itenerary lengkap saya di Eropa, bisa lihat di tulisan saya: Itenerary Eropa Barat).

Ketiga, setelah dokumen lengkap, buat janji via internet via https://jakarta.embassytools.com/en/index .  Di situ ada pilihan hari dan jam untuk janjian. Dan ada tombol juga untuk individual atau family. Saya awalnya bikin janji untuk family, tapi ternyata sistemnya error sebelum saya selesai mengisi semua formulir. Ternyata, ini menyebabkan saya gagal dan mendapat email yang mengatakan kalau saya baru bisa membuat janji lagi 13 hari kemudian. Alamak!! Mepet…
Atas saran teman-teman di milis Backpacker Dunia, saya apply kembali besok paginya dan buat janji untuk individual. Untungnya berhasil..:D

Keempat, datang ke Kedutaan di waktu yang udah disepakati di perjanjian. Jangan sampai tak datang karena kalau ini yang terjadi, Anda baru bisa apply lagi 30 hari kemudian. Saya buat janji jam 8 pagi. Jam 7 teng saya sudah ada di sana karena rumah saya cuma selemparan galah dari Kedutaan Belanda. Saya pikir, akan ada antrian nomor dan saya bisa pulang lalu balik lagi 15 menit sebelum jam 8. Ternyata, antriannya berdiri, bo! Di luar pagar pula.

Begitu jam 8 teng, pagar dibuka. Saya pikir, saya akan langsung antri di depan loket seperti di kedutaan lainnya. Ternyata, ada ruangan perantara dulu. Di ruang ini saya mesti mengisi formulir. Dokumen yang saya bawa diperiksa kelengkapan dan susunannya. Yup, susunannya mesti sesuai aturan yang mereka tetapkan, kalau tidak, katanya saya mesti mengulang lagi antrian dari awal.

Begitu selesai urusan di ruang tadi, barulah saya masuk ke antrian loket. Yang menerima berkas saya adalah ibu-ibu yang ramah. Dia bukan bertanya apa tujuan saya ke Eropa, tapi begitu tau saya editor, dia malah cerita soal anaknya yang jago menulis. Hahaha…..

Tiga hari berikutnya, visa Schengen pun tertempel dengan indahnya di halaman dalam paspor saya. Legaaa..

Gampang kan membuat visa Schengen?

Update:

  • per Juli 2016, Visa Schengen Belanda harus dibuat di VFS Global. Di Jakarta, lokasinya di Kuningan City. Lebih lengkapnya bisa klik http://www.vfsglobal.com/Netherlands/Indonesia/Bahasa/index.html. Harganya jadi lebih mahal, yakni sekitar Rp1,2 juta.
  • Saya apply visa Schengen kedua kalinya via Spanyol. Dan cuma dapet 3 bulan multiple. Huhuhu….tapi ini masih mending sih dibanding teman-teman saya yang hanya dapat 3 hari. Ya, 3 hari doang!!

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s