When I Lost My Passport in Thailand

Saat liburan ke luar negeri, kehilangan suatu barang adalah hal yang paling tidak diinginkan. Apalagi barang tersebut adalah barang berharga, paspor salah satunya.

Sewaktu liburan ke Chiang Mai kemaren, saya kehilangan paspor. Duh, sebel rasanya. Apalagi paspor saya hilang bukan karena saya kecopetan, tapi karena kelalaian saya. Kesebalan saya bertambah mengingat di paspor itu cukup banyak stempel dan visa negara-negara maju, yang tentunya akan saya butuhkan saat apply visa di kemudian hari.

Rasanya, tak perlu saya ceritakan detailnya bagaimana saya kehilangan paspor itu. Yang akan saya ceritakan di sini adalah proses setelah paspor saya hilang hingga akhirnya saya berhasil menembus imigrasi tanpa paspor itu.

****

Setelah sadar kehilangan paspor, saya berusaha melapor. Walaupun Chiang Mai adalah kota turis, tak mudah ternyata melaporkan kasus kehilangan paspor. Awalnya saya berusaha melapor ke petugas informasi di Arcade Bus Station Chiang Mai, tempat saya kehilangan paspor. Tapi petugas yang ada di sana sama sekali tak membantu, bahkan  tak berusaha sedikit pun memberi tahu saya di mana saya bisa melaporkan kasus saya ini. Mukanya datar, sedatar jalanan di jalan tol.

Orang-orang di sana pun tak banyak membantu. Cuek saja. Saya tak tahu, apa ini disebabkan mereka tak mengerti bahasa Inggris, atau karena sudah terlalu banyak kejadian serupa terjadi di sini. Atau mungkin, mereka bukan orang yang ramah. Entahlah.

Akhirnya, saya menuju ke kantor polisi kecil yang ada di ujung terminal bus. Walaupun di pintunya tertulis “open 24 hours” namun tak tampak satupun polisi yang menjaga. Saya sempat menunggu hingga setegah jam dan akhirnya menyerah.

Akhirnya, ada supir tuk-tuk yang menganjurkan saya untuk menuju ke salah satu tourist police office yang dia tau, yang ternyata letaknya di Night Bazaar (15 menit dari stasiun). Saya yakin, dia tak berniat membantu, hanya menganjurkan supaya saya menggunakan jasanya menggunakan tuk-tuk.

Tourist police ini ternyata sangat kecil, menyempil di tengah-tengah Night Bazaar. Saya sudah hopeless sebenarnya, karena polisi yang ada di situ ternyata tak bisa berbahasa Inggris. Untunglah, ia kemudian memanggil rekannya, yang lebih pintar berbahasa Inggris.

Urusan belum selesai di situ. Tourist police yang ada di Night Bazaar ternyata tak bisa mengeluarkan surat kehilangan. Kantor polisi yang dapat mengeluarkan surat tersebut letaknya cukup jauh, butuh waktu 40 menit untuk sampai di sana. Gaswat! Mana cukup waktu saya. Setelah mengandalkan muka memelas dan bilang kalau saya harus balik malam itu juga ke Bangkok, pak polisi itu mau mengantarkan saya ke kantor polisi, plus mengantarkan saya  kembali ke stasiun.

Awalnya saya mengira, pak polisi itu akan mengantar kami berdua dengan menggunakan kendaraan umum macam tuk-tuk. Ternyata o ternyata, mereka menggunakan mobil polisi bersirine. Wiiih..saya berasa kena razia waria!

Ternyata benar. Kantor polisi itu cukup jauh, dan hampir saja tutup. Omaigod, kenapa di negara yang katanya tourismnya maju, tak ada polisi yang buka 24 jam sih?

Setelah 30 menit menunggu, surat kehilangan saya pun jadi. Dalam bahasa Thailand, yang tak bisa saya baca. Untunglah, pak polisi berbaik hati memberikan saya beberapa lembar salinan sehingga bisa saya gunakan di beberapa tempat.

Petualangan belum berakhir di situ. Saya harus mengejar bus yang akan berangkat. Jantung saya berdebar kencang, waktunya tinggal 20 menit dan jalanan ke sana ternyata macet. Akhirnya, pak polisi mengeluarkan jurus andalannya: sirine. Karena sirine itu, mobil-mobil menyingkir dan saya bisa lewat dengan cepat. Lima belas menit kemudian, saya sampai di stasiun, di depan bus yang akan saya tumpangi. Ya, mobil polisinya berhenti tepat di depan bus. Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali, saya keluar dari mobil polisi itu dengan cengiran lebar, karena semua mata di stasiun memandang saya dengan tanda tanya. Mungkin mereka berpikir, kenapa tuh mbak-mbak di tangkep polisi? 

Ke KBRI

Kelegaan saya hanya sementara. Saya mesti mengurus kehilangan dan paspor saya ke Indonesian Embassy di Bangkok. KBRI ini beralamat di Petchburi Road 600-602, tak jauh dari Platinum Market. Ketika saya sampai di sana, KBRI sudah tutup untuk istirahat, dan baru buka dua jam kemudian. Haiyah…

Untungnya, Pak Satpam asli Thailand yang fasih berbahasa Indonesia karena sudah bekerja di sana selama 8 tahun memperbolehkan saya masuk ke dalam kedutaan. Saya akhirnya makan siang di kantin sekolah milik kedutaan. Hff, lumayan. Ngadem sekaligus mengisi perut dengan nasi uduk, ayam goreng, dan sepotong bakwan, yang saat itu terasa sangat nikmat.

Jam dua tepat, KBRI dibuka lagi. Saya diminta menghadap Ibu Ita, yang bekerja di bagian pembuatan paspor. Menurut Ibu Ita, mereka nggak bisa menerbitkan paspor untuk saya. Sebagai gantinya, saya akan diberikan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP), yang bentuknya mirip dengan paspor, namun hanya berlaku untuk satu kali perjalanan saja.

Untuk mendapatkan paspor ini, dibutuhkan syarat-syarat sbb.
– Fotokopi paspor yang hilang
– Fotokopi KK
– Fotokopi KTP
– Fotokopi Akte
– Pasfoto 4×6 sebanyak 3 lembar

Saya sudah punya 4 hal pertama, karena sebelum ke KBRI, saya sempet meminta orang di rumah mengirimkan itu semua ke email saya. Tapi masalahnya, saya tak tahu kalau harus menggunakan foto. Untunglah, di deket situ ada tukang foto. Berbekal uang 80 bath, saya mendapat 8 lbr pas foto ukuran 4×6.

Setelah syarat lengkap, Ibu Ita bilang dia akan proses SPLP saya besok pagi karena sebentar lagi KBRI akan tutup. Waks, gaswat banget. Saya harus balik ke Jakarta malam itu juga!

Begitu tau saya harus balik malam itu, Ibu Ita langsung kasihan. Dia rela lembur demi mengeluarkan surat untuk saya. Setengah jam kemudian, SPLP saya pun jadi, hanya dengan membayar 150 bath. Uff!!

Sebagai informasi, menurut Ibu Ita, normalnya pembuatan SPLP butuh waktu satu hari kerja. Itu kalau semua syarat lengkap. Jika syarat kurang lengkap (seperti fotokopi paspor nggak ada), butuh waktu lama lagi. Tanpa syarat tadi, mereka harus cross check data ke imigrasi Indonesia, yang tentunya butuh waktu lumayan lama.

Nah, di imigrasi, saya tinggal menunjukkan SPLP itu, beserta surat sakti dari KBRI, plus surat kehilangan dari kepolisian Chiang Mai. Semua berjalan lancar. Tanpa kesulitan yang berarti, SPLP dicap dan saya balik ke Indonesia dengan selamat. Thank God!

TIP

Dari kejadian ini, saya banyak dapet hikmah. Selain harus lebih berhati-hati lagi terhadap paspor, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

1. Simpan paspor terpisah dengan uang, atm, dan kartu kredit. Jika terjadi kehilangan paspor, masih punya simpanan uang.

2. Scan semua dokumen, mulai dari KTP, Akte, KK, kartu ATM, paspor. Masukin ke imel atau simpan di dropbox. Atau kalau memungkinkan, bawa fotokopiannya.

3. Tinggalin juga fotokopian dan dokumen asli itu di rumah, dan beritahu lokasi penyimpanannya ke semua orang rumah. Ini bermanfaat banget kalau kita nggak menemukan imel atau nggak punya koneksi internet.

4. Catat lokasi embassy atau konsulat yang ada di kota tujuan.

5. Saat terjadi kehilangan, jangan panik. Segera lapor ke tourist police terdekat atau kantor polisi.

6. Foto semua isi paspor, termasuk stempel masuk ke negara itu. Ketika di Imigrasi, gue ditanya kapan masuk. Karena kebetulan gue masuk ke sana bersama- temen gue, stempel masuk temen gue yang diliat oleh pihak imigrasi. Kalau nggak ada stempel itu, imigrasi mesti mengecek lagi ke komputer mereka, dan butuh waktu lumayan lama.

Semoga nggak ada yang kehilangan paspor, dan semoga tulisan ini bermanfaat!

NOTE:IL 

Tip ini sudah dimuat di Majalah Travel Fotografi

 

4 thoughts on “When I Lost My Passport in Thailand

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s