Cuti dan Backpackeran

Maunya sih jalan terus menerus, tapi apa daya. Uang mesti ditabung dulu, begitu pula cuti.

 Itulah susahnya jadi pegawai, ga bisa kemana-mana seenak jidatnya. Mo pergi lama, kudu cuti. Padahal, dalam setahun, gue cuma punya cuti 12 hari. Kepotong buat cuti lebaran, paling banter cuti gue cuma tinggal 8-9 hari. Uhhh..

Sebenarnya, gue cukup beruntung berada di kantor ini. Di kantor lain, cuti mesti diajukan jauh-jauh hari, dan mesti persetujuan atasan yang berbelit. Di sini, gue bisa mengajukan cuti mendadak, bahkan bisa cuti susulan. Tapi tetap aja, cuti ga bisa dilakukan terlalu lama kecuali dengan alasan tertentu. Tabloid gue kan terbitnya 2 minggu sekali, kalo gue cuti melebihi 2 minggu, itu artinya gue ga menulis satu terbitan tabloid..Mana bisa….Ntar tabloid gue nggak terbit..:P

Pilihan lainnya, kalo ga mau ambil cuti, adalah pergi di weekend, hari libur ato libur panjang. Tapi…pergi waktu libur itu sama dengan kemewahan. Segala sesuatunya mahal. Ongkos mahal, penginapan mahal. Emang sih, kalo gue perginya ke luar negeri, waktu libur di sana nggak sama dengan di sini. Tapi sekali lagi, itu tetep mahal. Paling nggak, ongkos pesawatnya jauh lebih mahal ketimbang pergi di hari kerja.

Cuti oh cuti…

2 thoughts on “Cuti dan Backpackeran

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s