Hampir “Mati” di Tengah Laut Papua

…
Lima tahun lalu, di akhir 2021, saya ditugaskan untuk meliput ke Kabupaten Raja Ampat, Papua. Sebuah kesempatan yang pastinya tak akan saya tolak. Namun ternyata, saat pulang dari sana, saya mengalami kejadian “hampir mati” yang membuat saya tak akan mau mengulanginya lagi.
Saya datang ke Raja Ampat bersama empat orang lainnya: dua orang dosen dan dua asistennya. Mereka ditugaskan untuk membimbing pemerintah daerah membuat action plan untuk program pemerintah. Sementara saya, ditugaskan untuk mewawancarai kepala daerah, meliput kegiatan pendampingan tersebut, melihat encatat potensi daerah yang bisa dikembangkan, dan tentu saja, semua dilakukan sambil jalan-jalan.
Kami hanya diberi waktu sekitar lima hari: satu hari untuk perjalanan pergi, satu hari untuk perjalanan pulang dan tiga hari untuk kegiatan di sana. Sayangnya, kali ini saya tak boleh extend; saya mesti datang dan pulang sesuai tanggal yang tertera di surat tugas. Padahal saya sudah berencana untuk menghabiskan waktu lebih lama di sana karena Bupati pun sudah mengajak untuk datang ke rumahnya di Misool.
Tapi okelah, tiga setengah hari di Raja Ampat rasanya cukup walaupun mepet.
Naik Kapal Ferry
Dari Sorong, kami menggunakan feri Express Bahari menuju Waisai, ibukota Kabupaten Raja Ampat. Kami memang harus ke sana terlebih dahulu karena di situlah pusat pemerintahan berada.
Feri berangkat pukul 09.00 dari pelabuhan Sorong. Salah satu perwakilan dari Kabupaten Raja Ampat menjemput kami di airport dan langsung membawa kami ke pelabuhan untuk membeli tiket. Tiket tak bisa dipesan online, sehingga kami harus membelinya on the spot sebelum berangkat.
Ferinya lumayan besar, namun karena ini hanya ferry penumpang, tak ada kendaraan yang bisa masuk. Kami dibelikan tiket VVIP yang saat itu harganya sekitar 225.000 rupiah per sekali jalan. Ruangannya bersih, dengan AC dan toilet di dalamnya untuk ruangan VVIP. Saya sempat mengintip versi ekonominya, dari penampakan tidak terlampau berbeda, namun mungkin tidak ada AC di sana.
Perjalanan kami sangat mulus, laut amat tenang dan tak ada ombak yang terlampau tinggi. Saya bisa tertidur dengan santainya tanpa harus menelan sebutir antimo, yang biasa saya lakukan jika harus menempuh perjalanan laut.
.

Ferinya Datang Terlambat
Tiga hari di sana saya isi dengan wawancara dengan kepala daerah, berkeliling beberapa tempat di Waisai, dan pastinya menengok destinasi wisata unggulan mereka. Tentu saja saya datang ke Piyanemo, menyaksikan langsung tempat yang dinobatkan sebagai Last Paradise on Earth ini.
Di hari kepulangan, kami mampir ke Desa Arborek untuk melihat desa wisata yang sehari sebelumnya baru saja dikunjungi oleh Sandiaga Uno ini.
Desanya sangat tenang dan menyenangkan, begitupun warganya. Sayangnya kami tak bisa berlama-lama di desa ini karena kami harus segera kembali ke Sorong dan naik pesawat ke Jakarta pukul empat sore.
Namun ternyata, hari itu ferry akan mengalami keterlambatan; yang semula jadwalnya pukul 14.00, diperkirakan baru akan berangkat pukul 15.00. Dengan lama perjalanan sekitar dua jam, ferry akan tiba di pelabuhan di Sorong pukul 17.00, sementara pesawat kami ke Jakarta bertolak pukul 17.05. Pastinya kami akan ketinggalan pesawat yang saat itu harga tiketnya mencapai delapaan jutaan sekali jalan.
Alhasil, kami mencari alternatif lain, yakni naik perahu nelayan. Perjalanan dengan perahu nelayan sekitar 2 jam juga, tak berbeda dengan perjalanan dengan feri, namun kami bisa berangkat lebih awal. Kami bisa berangkat pukul 13.00 dan sampai di Sorong sekitar pukul 15.00. Masih pas untuk mengejar pesawat.
Saya sebenarnya sangsi, mengingat yang akan kami hadapi adalah laut lepas. Namun empat orang lainnya, yang telah dua kali ke sini, meyakinkan saya. Mereka berkata kalau mereka telah melakukan hal yang sama di kunjungan sebelumnya. “Tenang aja, ombaknya bersahabat, Mbak” kata mereka.
Perahunya Kecil!
Saya pikir, perahu nelayan yang akan dipakai adalah perahu yang lumayan besar. Namun ternyata, perahunya lebih kecil daripada perahu wisata di Ancol. Isinya paling hanya maksimal 10 orang duduk berhadapan, dengan satu motor penggerak di belakang. Tapi okelah, toh langit cerah dan ombaknya terlihat tenang.

Namun ternyata, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap, hujan turun, dan ombak pun menjadi sangat besar. Kapal harus menerjang ombak yang datang dari samping, dengan hanya bermodalkan satu mesin.
Kami semua yang tadinya tertawa lebar sambil bercanda, langsung terdiam kecut. Sepanjang jalan kami bahkan tak berani bergerak seinci pun, takut kapal tak imbang, bergoyang, dan akhirnya terbalik. Kami tambah diam karena tak ada satupun pelampung yang tersedia.
Di tengah laut tiba-tiba sang nelayan berkata, “maaf karena ini gelombang tinggi, ga bisa cepat-cepat. Tiga jam paling cepat sampai di sana,”
Mendengar itu kami semua langsung serempak melihat jam. Tiga jam lagi berarti sampai di sana pukul 17.00. Sia-sia lah perjuangan kami melawan ombak karena toh akan terlambat juga dan ketinggalan pesawat.
Pesawatnya ……
Setelah berjibaku dengan ombak selama empat jam, pukul 17.00 kami akhirnya tiba di Sorong. Begitu kaki menginjak lantai pelabuhan, kami semua serempak langsung duduk dan mengucap syukur dengan sangat lantang, membuat orang-orang di sana melihat kami dengan heran.
Salah seorang dosen bahkan berkata, “Alhamdulillah ya Allah, ga jadi mati kita. Tadinya gue pikir, kita bakal masuk koran Kompas nih dengan judul ‘Seorang Wartawati dan Empat Dosen mati tenggelam di tengah laut Papua’.”
Yang lainnya berkata, “Saya baca semua doa. Dari Yassin, do’a sejuta umat, sampe makan pun dibaca. Empat jam sampe abis semua persediaan doa yang saya hapal,”
Yang lainnya menjawab, “samaaa…” lalu kami tertawa terbahak-bahak.
Namun tawa kami terhenti karena tiba-tiba kami semua mendapat WA dari maskapai yang akan kami naiki. Di sana tertulis, “penerbangan Anda dengan nomer penerbangan xxxx diubah menjadi pukul 19.00”
Melihat pesan ini kami tertawa lagi. Kali ini tertawa tragis.
Kami tak tahu harus bersyukur karena pesawatnya delay sehingga kami tak harus membeli tiket baru atau harus menyesal karena pemberitahuannya datang terlambat. Kalau tau akan diubah penerbangannya, kami ga perlu repot-repot menerjang maut di Laut Papua. Naik ferry aja, bisa nonton TV sambil tiduran!
