Mengintip “Sel Tikus” Boven Digoel, Tempat Sutan Syahrir Dipenjara

“Jangan mati sebelum ke Banda Neira”, begitu kalimat dari Sutan Syahrir, yang diucapkannya saat ditawan Belanda di sana. Namun tahukah kalian ada satu tempat lagi yang menjadi saksi jejak perjuangan Sutan Syahrir, yang berada di tengah hutan belantara?

Sebuah pintu kayu berwarna biru tua yang terlihat baru saja dicat ada di hadapan saya. Bentuknya tebal dan berat, seakan dibuat bukan hanya untuk menjaga ruangan di dalamnya, tetapi juga untuk memastikan tak ada yang bisa keluar dari sana.

Di tengah pintu tergantung sebuah gerendel besar dari baja yang terlihat sangat kokoh, sementara jeruji besi berjajar rapat di bagian atasnya, yang hanya menyisakan celah sempit untuk melihat ke dalam.

Di bagian luar pintu, terpasang sebuah papan kecil bertuliskan “Cell No. 1” dengan huruf putih yang masih terlihat jelas. Tulisan ini langsung memberi tahu saya bahwa pintu ini bukan pintu biasa, melainkan pintu menuju sebuah sel penjara.

.

Deretan sel tikus di Penjara Boven Digoel

..

Saya meminta Pak Petrus, penjaga penjara, membuka pintu itu karena saya ingin melihat seperti apa ruangan di balik pintu kokoh itu. Awalnya saya kira akan menemukan sebuah ruang besar, setidaknya seukuran kamar saya. Namun ternyata hanya ada sebuah ruangan kecil yang ukurannya tak lebih dari 2 meter x 2 meter. Sangat kecil dan sempit, sehingga Pak Petrus dan para penajaga menjulukinya sebagai “sel tikus”.

Di sisi kiri ruangan ada dipan papan sempit yang nampaknya berfungsi sebagai tempat tidur.  Tak ada kasur, apalagi bantal. Tak ada jendela, apalagi lampu. Begitu pintu ditutup, sumber cahaya hanyalah dari lubang-lubang di langit-langit yang meneruskan cahaya dari ventilasi di atap.

Saya tak berani membayangkan bagaimana jika malam tiba, rasanya semua akan gelap gulita.

Saya meminta pintu ditutup kembali, namun kali ini saya ada di dalamnya. Saya ingin tahu apa yang dirasakan Sutan Syahrir dan penghuni sel tikus ini. Saya mencoba duduk di dipan, berdiri, lalu duduk lagi. Rasanya….ternyata pengap dan semua kebebasan saya hilang begitu saja; hanya dua menit saja saya sanggup berada di dalamnya.

.

Dipan kayu di sel tikus, tempat Sutan Syahrir tidur selama 1 tahun.

.

Tempat Pembuangan Tahanan Belanda

Begitulah gambaran sel di Bekas Penjara Boven Digoel yang pernah ditempati oleh Sutan Sjahrir dari tahun 1934-1935, sebelum ia “dibuang” Belanda ke Banda Neira. Bersama Bung Hatta, ia diasingkan ke sini karena dianggap berbahaya bagi perkembangan politik Belanda. Namun Bung Hatta ditempatkan di “penjara” yang berbeda dan lebih layak, berupa rumah yang kini sudah tidak tersisa lagi.

Belanda memilih Boven Digoel sebagai tempat pembuangan para tahanan poliitk karena lokasinya yang jauh, terpencil, dan “menyeramkan”. Kabupaten yang sekarang menjadi ibu kota Papua Selatan ini berada di tengah hutan belantara dengan pohon yang lebat dan tinggi menjulang. Aksesnya pun sulit sehingga tak ada kemungkinan para tahanan ini melarikan diri. Kalau kini Boven Digoel bisa diakses dengan pesawat ATR dari Jayapura, dulu kota ini hanya bisa didatangi via sungai yang dulu menjadi habitat buaya rawa yang ganas.

Sungai di belakang penjara yang dulu dihuni buaya ganas.

.

Berada di tengah hutan juga menjadikan Boven Digoel menjadi daerah endemi nyamuk Anopheles, nyamuk penyebab penyakit malaria. Banyak narapidana yang terkena penyakit ini dan kemudian dibiarkan mati oleh pemerintah Belanda.

“Dulu Belanda itu mengharapkan Bung Hatta dan Sutan Syahrir itu meninggal karena stress atau terkena penyakit malaria,” cerita Bupati Boven Digoel yang sempat bertemu saya. “Namun Tuhan menjaga mereka, mereka bisa selamat dan berjuang untuk Indonesia,” tambahnya.

.

Sel Beraliran Listrik

Di sebelah sel tikus tempat Sutan Syahrir itu, ada 5 sel serupa lainnya. Petrus tak tahu siapa yang menempatinya karena katanya isinya terkadang berganti.

“Kalau mereka mati karena malaria, langsung diganti,” katanya tanpa basi-basi.

Saya langsung tersenyum kecut mendengar perkataannya, takut jika tiba-tiba ada nyamuk yang mendarat di wajah. Walaupun Boven Digoel sudah tidak menjadi pusat endemi, sebelum ke sini saya tetap disarankan meminum pil kina dan memakai lotion anti-nyamuk di seluruh tubuh, termasuk wajah, untuk mencegah terkena malaria.

Petrus juga menceritakan kalau tahanan ditempatkan berdasarkan klasifikasinya. Tahanan “elit” seperti Sutan Syahrir akan ditempatkan di sel tersendiri, sementara tahanan “kelas bawah” ditempatkan di sel bersama.

.

Di sebelah kiri itu adalah sel bersama.

.

Ya, di kompleks penjara yang dibangun tahun 1927 ini ada bangunan-bangunan lain. Ada beberapa sel bersama yang bisa menampung 30-50 tahanan, ada sel lebih kecil yang bisa menampung 3-4 orang, ada ruang perlengkapan bawah tanah yang dialihfungsikan sebagai sel untuk tahanan yang dinilai sangat membangkang. Ada pula dapur besar dan menara pandang.

“Kalau tambah membangkang, mereka kasih taruh di sel Blok B, yang langit-langitnya ada besi yang diberi aliran listrik,” tukasnya.

Saya langsung merinding membayangkan hal itu. Kejam juga mereka rupanya.

Petrus membawa saya melihat semua itu. Di Sel Bersama untuk 50 orang ada dipan berderet-deret yang hanya terbuat dari papan. Di sebelahnya ada satu bilik kamar mandi bersama yang terbuka, hanya dipisahkan sekat setinggi dada. Toilet tempat membuang hajat pun hanya ada di pojokan ruang dan bisa dilihat semua orang.

.

Sel beraliran listrik dan sel bawah tanah
Sel bersama

Hanya sekitar 30 menit saya berada di Penjara Boven Digoel dan langsung merasakan beratnya perjuangan para pahlawan Indonesia dulu merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Dalam hati saya langsung berdoa semoga Indonesia tetap berjaya dan tidak hancur di tangan bangsa sendiri.



“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!