Indonesian Humanitarian Summit 2026: Filantropi Harus Berinovasi dan Memberdayakan Masyarakat
Filantropi bukan juga hanya berkutat berapa banyak dana yang bisa dikumpulkan. Namun yang lebih penting, berapa banyak masyarakat miskin yang bisa terdampak.
Kemiskinan masih menjadi persoalan krusial yang dihadapi bangsa Indonesia hingga hari ini. Di balik pertumbuhan ekonomi dan berbagai capaian pembangunan yang digadang-gadang makin meningkat, jutaan masyarakat Indonesia masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Data resmi pemerintah memang menunjukkan adanya tren penurunan angka kemiskinan, namun jika dilihat secara kuantitas, jumlah penduduk miskin Indonesia masih cukup banyak. Menurut rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan nasional pada Maret 2025 tercatat sebesar 8,47 persen, atau setara dengan 23,85 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Apalagi, akhir-akhir ini, Indonesia mengalami rentetan peristiwa yang menyebabkan banyak perusahaan terpaksa gulung tikar dan akhirnya berakibat pada pemutusan hubungan kerja.

Filantropi dan Pemberdayaan Masyarakat
Menurunkan angka kemiskinan ini tak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Sinergi dan kolaborasi mesti dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat, salah satunya lewat kegiatan filantropi. FYI, buat kalian yang belum tahu, filantropi secara sederhana dapat diartikan sebagai aktivitas kedermawanan, kegiatan peduli terhadap sesama.
Namun, filantropi bukan hanya sekadar kegiatan kedermawanan saja. Ada makna filantropi yang lebih dalam, yang terungkap dalam Indonesian Humanitarian Summit 2026 yang diadakan oleh Dompet Dhuafa, bekerja sama dengan Nusantara TV.
Dalam forum bertema “Empowerment to The Next Level” ini para pembicara dan keynote speaker membahas makna sebenarnya filantropi. Sesuai tema ini, filantropi seharusnya tidak berhenti pada penyaluran bantuan semata, melainkan berfokus pada penyediaan solusi berkelanjutan berbasis pemberdayaan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong para mustahik keluar dari lingkar kemiskinan dan bertransformasi menuju kehidupan yang lebih mandiri.

Filantropi Tumbuh Pesat
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Republik Indonesia, Waryono Abdul Gofur mengatakan jika saat ini lembaga filantropi tumbuh sangat pesat. Di 2025 ini, Kemenag sudah memberikan 35 izin baru untuk lembaga filantropi. Namun ia berpesan agar lembaga ini tidak hanya memikirkan jumlah dana yang bisa dihimpun.
“Filantropi bukan juga hanya berkutat berapa banyak dana yang bisa dikumpulkan. Namun yang lebih penting, berapa banyak masyarakat miskin yang bisa terdampak,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Anis Matta (Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia). Menurutnya, gerakan filantropi harus bisa mengubah seseorang yang tadinya mustahik (penerima zakat) menjadi seorang muzakki (pemberi zakat).
Lebih lanjut, Anis Matta mengatakan jika gerakan filantropi tidak hanya berdampak positif dalam membantu orang lain, tetapi juga memiliki fungsi psikologis dan healing bagi yang memberi. Menurut Anis Matta, tradisi memberi dapat membantu meningkatkan kesehatan mental serta memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat.
Masyarakat Makin Percaya Filantropi
Di forum Indonesian Humanitarian Summit 2026 juga terdapat dua talkshow. Diskusi pertama bertema “Lembaga Filantropi dalam Pemberdayaan Berdampak Selaras dengan Asta Cita” menghadirkan Dewan Pengawas Syariah Dompet Dhuafa, Wahfiudin Sakkam; Director of IDEAS, Agung Pardini; anggota Advisory Board Dompet Dhuafa, Yudi Latif; Head of Innovation and Literacy Division Forum Zakat, Dr. Eko Muliansyah; dengan Dede Apriadi (Commercial Director of NTV) sebagai moderator.
Anggota Advisory Board Dompet Dhuafa, Yudi Latif, menilai meningkatnya pertumbuhan filantropi di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari krisis kepercayaan masyarakat terhadap negara dan pasar.
“Pertumbuhan filantropi memang terus naik, tetapi pada saat yang sama problematika kehidupan juga semakin kompleks. Ini menunjukkan bahwa di tengah krisis kepercayaan terhadap negara dan market, masyarakat masih menaruh harapan besar kepada lembaga filantropi,” ujar Yudi.

Pada talkshow lainnya yang menghadirkan owner Batik Trusmi, Sally Giovanny; Founder dan CEO Agradaya, Andhika Mahardika; serta Penerima Manfaat Dompet Dhuafa, M Attiatul Muqtadir, dikemukan peran pengusaha muda dalam gerakan filantropi.
Selain itu, Sandiaga Uno yang menjadi salah satu pembicara dalam talkshow itu juga membocorkan resep agar lembaga filantropi bisa bertahan. Resep yang ia namakan “3 Si” ini terdiri dari Inovasi, adaptasi, dan kolaborasi.

Capaian Dompet Dhuafa di tahun 2025
Dompet Dhuafa sebagai salah satu lembaga filantropi di Indonesia, melakukan banyak program untuk mengurangi kemiskinan di Indonesia. Di forum Indonesian Humanitarian Summit 2026 (I-Hits 2026), Rahmad Riyadi (Anggota Pembina Dompet Dhuafa), menceritakan cikal bakal Dompet Dhuafa yang sudah berdiri selama 32 tahun.
“Ada tiga peran utama Dompet Dhuafa selama tiga dekade ini. Yakni pelopor pengelola ZISWAF modern, penggerak industri komunal yang dimiliki oleh masyarakat, penyelenggara layanan gratis dan berkualitas dan mitra strategis dalam kemanusiaan global,” kata Rahmad.

Ahmad Juwaini, Ketua Pengurus Dompet Dhuafa memaparkan perjalanan Dompet Dhuafa di tahun 2025 kemarin. Sepanjang 2025, Dompet Dhuafa berhasil menghimpun dana sebanyak 426.52 miliar rupiah dan menyalurkan sebesar 422,94 miliar rupiah. Dari angka penghimpunan di atas, total penerima manfaat pada tahun 2025 sebanyak 2.828.823 jiwa dan melalui 3.632.925 layanan.
Ahmad Juwaini juga memaparkan program-progam Dompat Dhuafa di 5 pilar, yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat. Salah satunya adalah pembinaan produksi nanas Subang, yang sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat.


Bukti Nyata Pemberdayaan
Bukti pemberdayaan masyarakat Dompet Dhuafa terlihat juga di gelaran forum Indonesian Humanitarian Summit 2026 ini. Di sini terdapat beberapa booth pemberdayaan, antara lain Great Edunesia yang menghadirkan beasiswa, Yayasan Rumah Sehat Terpadu (YRST) yang menghadirkan pemeriksaan mata gratis, serta layanan pemeriksaan kesehatan gratis.
Adapula Indonesia Berdaya memamerkan produk pemberdayaan ekonomi dan produk UMKM Zona Madina, Disaster Management Center (DMC), Lembaga Pelayanan Masyarakat (LPM).




