Catatan dari Iran: Secuil Kehidupan di Tehran

Tehran terbelakang, kotor, dan tak maju. Itu yang saya dengar dari mana-mana. Fakta yang ada, sungguh berbeda.

Pesawat airasia yang saya dan kawan saya naiki akan segera mendarat. Pilot sudah mengumumkan keadaan cuaca di Imam Khomeini Airport, para awak pesawat mulai berkeliling meminta tray dinaikkan, jendela dibuka, dan seatbelt dipakai.

Mendengar pengumuman itu, para penumpang wanita asal negara Iran langsung berdiri, mengenakan jubah untuk menutupi baju  yang agak terbuka serta memakai kerudung untuk menutupi rambut.

Itulah yang terjadi di penerbangan kami ke Iran.

Karena negara ini menerapkan aturan ketat soal busana, terutama untuk wanita, maka sebelum mendarat para wanita Iran ini mengganti busana mereka dengan busana yang sesuai dengan aturan pemerintah: baju panjang hingga selutut dan rambut tertutup. Wanita-wanita pelancong seperti saya mesti ikut aturan juga. Namun aturannya tidak seketat warga negaranya, masih ada toleransi bagi kami yang berkunjung ke negaranya.

Mitos dan Fakta tentang Backpacking ke Iran

Soal busana ini, awalnya saya mengira akan melihat perempuan-perempuan berbusana serba hitam, seperti halnya yang saya lihat di televisi. Saya sudah menyiapkan beberapa baju hitam supaya tidak terlalu mencolok nantinya di sana. Ternyata saya salah. Busana wanita di Iran tidak melulu begitu. Mereka memang memakai busana panjang namun tidak harus hitam. Berwarna-warni malah, walaupun warnanya cenderung netral dan tidak bermotif alias polos.

Screenshot_2019-09-20_092830~2.jpg

DSCF3400.JPG
Pakaian sehari-hari wanita Iran

Mereka umumnya menggunakan manteu (istilah mereka untuk mantel tipis) untuk luaran, kaus biasa bahkan beberapa menggunakan kaus tanpa lengan yang dipakai ketika di rumah, lalu dipadukan dengan celana panjang jeans.

Screenshot_2019-09-20_092818~2.jpg

Baca Juga: Catatan dari Iran: WiFi Gratis dari Tuhan


Dua minggu saya berada di Iran. Menginap di rumah beberapa teman Iran agar saya bisa merasakan kehidupan asli mereka.

Salah satunya Zohreh. Ia adalah kawan perempuan yang saya kenal sewaktu mengikuti ayahnya bertugas di Jakarta. Ia kuliah di fakultas yang sama dengan saya. Kami cukup akrab saat itu, saya beberapa kali bertemu keluarganya.

DSCF4738
Zohreh dan bibinya

Zohreh wanita Iran modern. Ia bekerja sebagai dosen bahasa Spanyol di sebuah universitas ternama, menyetir mobil sendiri ke mana-mana, tak pernah menggunakan pakaian hitam kecuali di saat keagamaan. Pendidikannya tinggi, S2 Sastra Spanyol.

Oiya, pendidikan di Iran ini gratis hingga pasca sarjana. Itu sebabnya, rata-rata orang Iran bertitel Master, termasuk tukang taksi yang saya naiki sewaktu di Shiraz. Jeleknya, karena kebanyakan pendidikan tinggi, mereka jadi punya saingan terlalu banyak. 

Di beberapa hari terakhir di Tehran, tadinya saya akan juga akan menginap di rumah Zohreh. Namun terjadi salah persepsi. Saya mengira ia masih di Kerman (saat itu ia pulang kampung untuk Nowrouz), padahal ia sudah buru-buru kembali ke Tehran demi menyiapkan rumahnya untuk saya.

Walau tak bisa menginap di rumahnya, saya sempatkan untuk main sebentar sebelum bertolak ke bandara. Rumahnya modern, letaknya di kompleks apartemen besar. Rata-rata perumahan di Tehran berbentuk flat atau apartment. Selama beberapa hari di sana, tak saya jumpai rumah tapak.

Apartemen Zohreh, yang menurut pengamatan saya masuk ke dalam kategori apartemen kelas menengah, juga dilengkapi dengan fasilitas modern. Masuk ke parkiran (yang ada di lantai dasar), ia tak perlu repot-repot turun dan membuka gerbang. Ada sensor yang membaca nomor mobilnya dan otomatis membuka pintu untuknya.

Di seberang apartemen ada mal besar, yang dilengkapi dengan bioskop. Di sebelahnya, sedang dibangun sebuah mal lagi yang tak kalah besarnya.


Zohreh dan Bibinya yang berusia 60 tahun, membawa kami ke dua tempat. Yang pertama adalah kawasan sejuk yang terletak di pinggir Tehran, saya lupa namanya. Di sana banyak tempat makan yang asri. Mirip dengan puncak menurut saya.

Kami juga diajak ke kawasan mal dan rekreasi modern yang terkenal di Tehran: BamLand.  Kawasan ini terdiri dari butik, mal, dan cafe di pinggir danau, yang sepertinya sering didatangi anak muda gaul di sana.

Screenshot_2019-09-20_093155~2.jpg

Kami masuk ke salah satu cafe yang didesain ala Timur Tengah. Dari sana terpapang pemandangan danau buatan. Di bangku depan saya, ada keluarga muda yang juga sedang menikmati sore. Di bangku sebelah kanan, ada grup sosialita yang akan merayakan ulang tahun salah satu anggotanya.

Sepanjang perjalanan menuju ke sana saya melihat hal yang biasa ditemui di kota metropolitan: mal, jalan tol, mobil berderet-deret yang entah kenapa warnanya putih semua. Tak seperti yang saya dengar di berita soal keterbelakangan kota-kota di Iran. 

DSCF4724
BamLand
DSCF4763.JPG
Salah satu jalan di Teheran

Di lain kesempatan, saat saya jalan sendiri dengan kawan saya, saya juga melihat kehidupan modern anak muda Tehran. Di ujung jalan bernama 30th Tir Street (Si-e-Tir), ada sebuah area yang terkenal sebagai kawasan kuliner gaul.

Related image

Area kuliner pinggir jalan itu dilapisi dengan conblock. Menyiratkan kehangatan. Di kiri jalan berderet truk-truk makanan dengan didesain menarik. Bangku dan meja kayu tertata rapi di depan food truck itu. Di sela-selanya ada tiang-tiang kayu, tempat lampu-lampu gantung bertengger. Mengingatkan saya dengan gaya pusat makanan di Praha dan Budapest.

Kami sempat menikmati beberapa makanan di sana. Sambil melihat dan mengamati yang lain tentunya. Kebanyakan mereka datang  bergerombol bersama kawan-kawannya. Tak beda dengan kehidupan metropolitan lainnya seperti Jakarta. Kecuali, tak ada alkohol tentunya.


 

 

 

Advertisements

Author: rahma

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

6 thoughts

  1. Kak, apa benar kalo toilet umum di Iran jorok? Aku pernah baca di suatu medsos katanya sejorok Arab Saudi (meski ga sejorok Cina)

    Like

  2. target travelingku itu, harus bisa dtg ke semua negara2 yg terkena Sanctions :D, kayak korut, iran, cuba, syiriah dan crimea region. Alhamdulillah Korut udh 8 sept kemarin.

    iran ini nasibnya sama kayak korut. pemberitaan di medianya jelek, tp ternyata saat melihat asli dgn mata kepala sendiri, beda 100%. korut yg dibilang jelek, kejam, kotor, terbukti aku liat sangat cantik, bersihnya ngalahin jepang, disiplin orang2nya lbh hebat dr singapur. Diliat dr fotomu, aku yakin Iran juga sama kyk gitu :). kadang ga ngerti ya mba, ama negara2 adidaya yg menjatuhkan embargo seperti ini dan mennyebarkan berita2 jelek ttg negara yg dimaksud.

    Like

  3. Wahhh akhirnya kami menemukan sebuah tulisan perjalanan ke Iran. Rasa penasaran kami semakin memuncak dengan negara yang satu ini…
    Semoga suatu saat kami bisa berkunjung kesana dan melihat secara langsung kehidupan disana juga…

    Iran tak seterbelakang yang dibicarakan media ya mbak

    Like

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s