Can You Speak Arabic?

index

Kalau disangka sebagai orang Malaysia, saya sudah biasa. Tak heran lagi. Tapi kalau dikira orang Arab dan disuruh bicara bahasa Arab, itu baru ajaib. Padahal, jelas-jelas tampang saya Melayu begini. Hidung pesek pula…

Ya, saya disangka berasal dari Timur Tengah karena ternyata masih banyak orang di dunia ini yang tak bisa membedakan orang Arab dengan orang Islam. Orang Islam sama dengan orang Arab, yang artinya bisa berbicara bahasa Arab.

Kejadian pertama waktu saya berkunjung ke Osaka, Jepang tahun 2009. Kala itu saya menginap di J-Hoppers, salah satu hostel yang favorit di kalangan backpacker. Saat saya baru datang, salah satu staffnya bertemu dengan saya di lorong. Sambil tersenyum lebar dia berkata, “Hello, are you from Arab? You are my first Arab costumer. Glad to meet you, finally.”

Ketika saya bilang saya dari Indonesia, dia bilang. “But you can speak Arabic, right?” Ketika saya jawab, “alhamdulillah“, dia girang. Mungkin dia pikir saya sudah berbicara sepatah kata dalam bahasa arab.

Diminta berbahasa Arab juga terjadi ketika saya akan masuk ke Dubai. Si petugas imigrasi yang wajahnya beda-beda tipis dengan Pangeran Faz itu tak meminta kertas┬ávisa saya (yang sudah saya buat dengan susah payah) sebagai syarat masuk. Dia malah minta saya menjawab pertanyaannya dengan bahasa Arab. Alasannya, “muslimah should speak Arabic.” Katanya lagi, saya baru boleh masuk kalau bisa menjawab semua pertanyaannya.

Untungnya, dulu, saya pernah belajar bahasa Arab sewaktu saya bersekolah di Madrasah dulu. Masih ada lah sedikit sisa-sisa ilmu yang menyangkut di kepala saya. Kalau saya nggak bisa jawab, ya paling senyum aja semanis mungkin… ­čśÇ

Kejadian paling aneh, menurut saya, adalah ketika saya di Angkor Wat dan disangka orang Persia oleh turis bule ganteng dari Jerman yang kemudian meminta saya ngomong bahasa Arab (menyebabkan kawan saya yang mendengarnya tertawa geli terbahak bahak).

Lah Mas, tampang begini dikira orang Iran……Maafkan wahai bangsa Persia yang ┬ácantik-cantik, yang bikin pasaran kalian turun karena ada yang nyangka saya dari Persia.

Tapi omong-omong soal bahasa Arab, saya jadi ingat kejadian waktu saya pertama kali umrah belasan tahun lalu. Kami, saya dan adik saya, sudah sok-sokan berbicara bahasa Arab pas-pasan saat membeli kebab. Dan kemudian dijawab dengan, “mau pedas atau tidak?”

Wkwkwk, kami jadi malu, rupanya pedagang di Arab semuanya bisa berbahasa Indonesia. Ye, meneketehe…

 

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!