Menjajal Abra, Perahu Tradisional Dubai yang Melegenda

Sebuah perahu tradisional beratap terpal melintas di atas sungai. Jauh di belakangnya terdapat barisan bangunan berwarna cokelat khas Timur Tengah. Di atas perahu, ada dua bilah papan tempat belasan orang duduk beradu punggung. Itulah Abra, perahu tradisional Dubai

Advertisements

Melongok Tjong A Fe Mansion, Rumah Taipan Asal Medan

Tak sah rasanya jika sudah ada di Medan namun tak menyambangi kediaman Tjong A Fie, orang terkaya di Medan.

Tjong A Fie, adalah seorang saudagar asal Guangdong, China, yang kemudian bermigrasi ke Medan saat ia berusia 18 tahun. Berkat kegigihannya, ia berhasil menduduki jabatan penting di perkebunan Belanda dan juga di dewan pemerintahan Hindia Belanda. Ketika ia membangun usaha, hubungan baiknya dengan orang-orang Belanda dan kesultanan Deli sangat membantunya. Dalam waktu singkat, ia berhasil membangun kerajaan bisnisnya di Indonesia, hingga negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Usahanya meliputi perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, dan pabrik gula. Ia juga memiliki saham di Deuscthe Bank dan juga di jalur kereta api Sumatera.

Travelling Tetap Jalan, Rumah Nyaman dalam Genggaman

Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi dengan kawan saya seorang perencana keuangan kawakan. Ia menceritakan kalau kaum milenial sekarang banyak yang menunda membeli rumah karena lebih memilih untuk jalan-jalan.

Padahal, program travelling dan membeli rumah bisa diselaraskan. Ini saya lakukan sejak awal bekerja. Setiap bulan, saya menyisihkan dana khusus untuk travelling, dimasukkan ke dalam tabungan terpisah. Saya juga sisihkan dana di tabungan lainnya untuk membeli rumah idaman. Hasilnya, saya sekarang sudah punya rumah idaman, yang walaupun belum saya tempati karena saya masih single dan tinggal bersama orang tua, sudah bisa memberikan passive income tambahan buat saya.

Saat mencari rumah  idaman itu, saya memilih rumah yang tak

19 Jam di Bandara Muscat, Ngapain Aja?

Di penerbangan pulang saya ke Jakarta, saya kembali harus transit 19 jam di Muscat. Awalnya saya niat jalan-jalan lagi di sana, mengunjungi spot yang belum sempat saya eksplor sebelumnya. Saya malah sudah bikin janji temu dengan salah satu kawan couchsurfing saya. Tapi nasib berkata lain. Gara-gara banyak makan yang terlalu asam di Uzbek dan Turki, perut saya berontak.

Terpaksa saya mesti ngendon di Muscat Airport dan ga jalan-jalan di kota. Ngapain aja saya di sana?

Catatan dari Iran: Secuil Kehidupan di Tehran

Pesawat airasia yang saya dan kawan saya naiki akan segera mendarat. Pilot sudah mengumumkan keadaan cuaca di Imam Khomeini Airport, para awak pesawat mulai berkeliling meminta tray dinaikkan, jendela dibuka, dan seatbelt dipakai.

Mendengar pengumuman itu, para penumpang wanita asal negara Iran langsung berdiri, mengenakan jubah untuk menutupi baju  yang agak terbuka serta memakai kerudung untuk menutupi rambut.

Itulah yang terjadi di penerbangan kami ke Iran.