Pengalaman Umrah dengan Hanania Travel (bagian 2)

Dari Dubai, kami langsung menuju Jeddah. Kali ini kami ke Madinah dulu, baru ke Mekkah. Biasanya saya lebih suka ke Mekkah dulu ketimbang Madinah. Repot memang saat ambil miqot, tapi rasanya lebih enak sudah menunaikan yang utama (umrah di Mekkah), baru kemudian “healing” (baca: dan belanja) di Madinah.

Tapi kali ini saya bersyukur kami ke Madinah dulu baru ke Mekkah, sebab saya jadi bisa kembali merasakan umrah di Mekkah di bulan Ramadhan, yang pahalanya setara dengan pahala haji.

Review Hotel di Mekkah dan Madinah

Hotel yang kami dapatkan adalah hotel Province al Sham di Madinah dan Anjum di Mekkah. Dua-duanya alhamdulillah sesuai dengan yang dijanjikan di brosur. FYI, ada threads yang mengatakan kalau dia mendapat hotel yang tidak sesuai. Mungkin kami termasuk yang beruntung.

Province al Sham Hotel Madinah

Hotel ini lokasinya tiga blok dari Masjid Nabawi, lurus dari pintu 329. Lokasinya strategis: di seberangnya ada restoran Sunda, resto yang menyajikan makanan khas Indonesia, di dekatnya ada Row, coffe shop yang lumayan populer. Juga ga terlalu jauh dari toko satu riyal dan stall es krim mawar yang viral.

Letak hotel ini juga cukup dekat dengan area sholat wanita, jadi sejam sebelum azan masih cukup buat datang ke masjid.

FYI, saya pernah stay di area ini 3 kali, pernah juga di area dekat masjid Ghamamah, pernah di apartemen di Quba Street. Buat saya, area antara pintu 328-339 ini area yang paling enak kalau mau solat, terutama untuk wanita. Sementara area di sekitar masjid Ghamamah dan Quba itu paling enak kalau mau kulineran atau jalan malam-malam, tapi agak jauh dari area solat wanita.

Province al Sham Hotel Madinah. Sumber: booking.com

Kamar kami cukup luas, kamar mandinya pun besar dan ada bathtub-nya. Ada lorong besar yang memisahkan antara kamar mandi dengan kasur, sehingga bisa kami pakai untuk membuka dan meletakkan delapan koper kami.

Ada CS yang membersihkan kamar tiap hari dan selalu memaksa untuk menambah air minum kemasan setiap hari. Mungkin itu SOP wajibnya ya, padahal kami selalu menolak karena kami punya banyak air zam-zam yang diambil dari masjid.

Kekurangannya, menu breakfast-nya kurang pas untuk saya sehingga saya lebih sering jajan di luar. Menunya setiap hari hanya nasi putih plus telor dan nugget atau sosis, yang tak bisa saya makan. Namun makan siang dan makan malamnya lumayan enak dan bervariasi.

PS: karena Madinah ini konturnya landai, hotel jauh pun menurut saya nggak bikin capek, ya.

Anjum Hotel Mekkah

Saat lihat ini hotel yang akan saya tempati, kawan saya langsung berkomentar, “Ini mah hotel yang dekat di mata, jauh di kaki“.

Ya, Hotel Anjum dapat julukan begitu karena lokasinya yang dekat dengan perluasan masjid baru, tapi (saat itu) jauh dari pintu masuk menuju Mataf (area Kabah). Jamaah yang menginap di Anjum mesti memutar dan masuk lewat pintu 79.

Mendengar testimoni kawan saya ini dan beberapa orang yang pernah menginap di sini, saya sih pasrah aja ya.

Ya lo bayar murah, lo dapatnya segini lah. Mau yang deket, bayar lah paket pelataran. Gitu sih prinsip saya.
Eh, saya kan ga bayar yaa. Gratis.

Ternyata Anjum punya pintu masuk shortcut yang membuat kita ga mesti nanjak.

Tapi ternyata, semua testimoni itu ga berlaku lagi. Sejak awal Ramadhan, penutup terowongan (entah yang mana) dan pintu baru menuju masjid dibuka, dan ini menyebabkan jarak dari hotel Anjum menuju Mataf ga lagi jauh. Dari pintu masuk Anjum, tinggal luruus saja menuju Umrah Gate.

Lebih gampang, dan malah menurut saya, lebih enak masuk ke Mataf lewat gate ini ketimbang Gate 79. Kalau masuk dari Gate 79, untuk menuju Kabah rasanya jauh banget. Sementara dari Umrah Gate, jaraknya lebih dekat, bahkan saya sudah bisa melihat Kabah dari depan gate.

View dari jendela kamar.

Dan alhamdulillah, saya mendapat kamar dengan view Masjid Haram. Ka’bahnya sih nggak terlihat karena terhalang menara-menara dan karena letak kamar yang kurang tinggi. Tapi saya sudah sangat bersyukur karena tak ada orang lain di rombongan kami yang mendapat “anugerah” kamar dengan view seapik ini.

Rezaki anak solehah.

Kelebihan lainnya, makanannya melimpah dan enak semuaa…. saya sampai bingung mesti makan yang mana duluan. Dan kabar baiknya, mereka membolehkan membungkus makanan, bahkan menyediakan kotak untuk membawanya.

Kelebihan Pakai Hanania

Dari beberapa travel yang pernah saya ikuti, Hanania ini menurut saya yang handling-nya paling satset. Di bandara, kami benar-benar dipandu oleh Tour Leader (TL). Ia menjelaskan cara melewati imigrasi, menunggu paling belakang untuk memastikan kami semua sudah melewati imigrasi.

Hal ini tidak saya dapatkan ketika bersama NRA. Sepertinya karena saat itu rombongan NRA terlalu besar sementara TL hanya satu orang, sehingga jamaah harus mencari sendiri gate yang dituju. Untung saat itu rata-rata jamaahnya sudah terbiasa umrah dan berpergian ke luar negeri, sehingga tidak ada yang tampak kebingungan di imigrasi dan saat mencari gate.

Note: Ketika ibu saya ikut lagi NRA di bulan November 2025, jamaahnya lebih sedikit sehingga menurut ceritanya, TL-nya sangat “membimbing dan mengayomi” .

….

Di hotel, kami juga tak pernah menunggu lama. Begitu sampai, kunci sudah ada, tinggal dibagikan ke jamaah. Dengan jamaah yang hanya 41 orang, hanya butuh waktu sekitar 5 menit untuk mendapatkan kunci kamar.

Handling koper pun terasa mulus. Bahkan ketika tiba di Soetta, koper sudah diletakkan di trolley sesuai nama. Kami tinggal mendorong trolley itu menuju jemputan masing-masing.

TL kami juga sangat menguasai medan. Selain bisa berbahasa Arab—karena lahir di Mekkah dan berkuliah di AlAzhar Kairo—ia juga tahu lokasi semua tempat yang kami butuhkan, mulai dari tempat jajan hingga tempat belanja. Nggak semua travel punya TL yang bisa berbahasa Arab fluent, lho, tapi di Hanania semua TL kabarnya adalah lulusan Al Azhar Kairo.

Selain TL dan Mutowif, kami juga didampingi oleh fotografer/videografer khusus selama umrah. Ini gratis, tanpa ada biaya tambahan. Enak banget sih, terutama buat saya yang butuh footage tambahan untuk bikin konten.

Oya, selama perjalanan city tour kami diberikan snack. Kami juga mendapat dua boks ayam AlBaik; satu diberikan saat tiba di Jeddah dan satu lagi saat pulang di Soekarno Hatta. Lumayan banget buat oleh-oleh di rumah.

Kekurangan Pakai Hanania

Kekurangannya tentu saja ada. Selain manasik yang terlalu singkat, saya agak kurang puas dengan beberapa jawaban muthowif. Jawabannya terlalu pendek untuk saya yang terbiasa dengan jawaban panjang berbalut logika. Beda dengan mutowif yang mendampingi saya di NRA, yang dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan saya hingga saya paham betul.

Pun dengan mutowiffah cantik yang mendampingi kami ketika di Raudhah. Saya juga kurang puas dengan jawabannya mengenai beberapa hal, termasuk mengenai raudhah. Karena penasaran, saya sampai mencari tahu lebih dalam lagi mengenai jawaban sang mutowifah ini dengan me-WA sepupu Mama yang juga jebolan Al Azhar Cairo dan sekarang sudah menjadi dosen senior (dan terkenal killer) di UIN.

Hasil jawaban sepupu Mama? Cukup saya yang tahu aja yaa…

Selain itu, ketika di Madinah, jamaah tidak diberi tahu mengenai penggunaan Nusuk untuk mendaftar Raudhah. Di travel lainnya, hal ini sudah diberitahukan saat manasik bahkan ada yang dipandu membuatnya. Alhasil kebanyak jamaah, terutama yang usianya tak lagi muda, tak tau sama sekali soal hal ini hingga akhirnya saya lah yang membantu meng-install dan mendaftarkan Nusuk mereka, walau agak telat karena semua jadwal raudhah sudah terisi penuh.

Untunglah, walau tak mendapat slot masuk via Nusuk, kami berhasil mendapat tiket masuk melalui tasreh dari travel.

Satu lagi kekurangannya: itenerary-nya sangat-sangat fleksibel, bahkan kadang baru diberitahu beberapa jam sebelum pelaksanaan. Di satu sisi, hal ini memudahkan karena memang menyesuaikan situasi lapangan. Namun di sisi lain, buat saya yang sebelum-sebelumnya terbiasa memakai travel dengan fixed itenerary, jadi agak bingung. Plus saya jadi salah mengatur jadwal dan ritme saat free time.

Misalnya ketika tawaf wada. Tiba-tiba ada pemberitahuan kalau tawaf wada akan dilakukan dini hari sehari sebelum pulang. Di jadwal yang diberitahu sebelumnya, tawaf wada akan dilaksanakan pagi hari di hari kepulangan. Alasan perubahan, agar jamaah tidak kecapean karena sedang berpuasa.

Alasan yang logis dan masuk akal sih ya, tapi kan mereka seharusnya sudah tahu saat membuat jadwal awal, kalau saat itu sudah masuk puasa.

Karena berpatokan dengan jadwal awal itu, saya agak memporsir diri di H-1 kepulangan. Saya tawaf sunnah di pagi dan sore menjelang berbuka. Nggak mau rugi saya, mumpung masih di Baitullah. Alhasil, saya tak sanggup lagi melakukan tawaf wada bersama-sama, dan memutuskan untuk melakukannya sendiri keesokan paginya.

Sedih sih karena menurut jamaah yang lain, tawaf wada-nya sangat menyentuh kalbu.

Nah, kalau ditanya, rekomen pakai Hanania lagi atau nggak? Kalau ga ada masalah saat ini, saya pasti jawab iya. Tapi kalau sekarang, dengan kasus yang mereka hadapi, saya sepertinya akan bilang, “tunggu kasusnya kelar dulu ya”

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!