Wakafmu Sembuhkan Mereka

Tubuhnya masih tampak lemah, selang infus di tangan masih mengalirkan cairan obat ke tubuhnya. Namun  ia masih bisa bercerita, kalau kemarin tubuhnya kaku seperti tak bernyawa. Untung saja ada rumah sakit gratis bagi dhuafa seperti dirinya.

Ibu Ilya namanya. Ibu dua anak ini adalah penderita hipertensi yang terkena serangan stroke ringan dua hari lalu. Saya bertemu Ibu Ilya dan suaminya di salah satu kamar perawatan di RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa di Parung, Bogor, Jawa Barat.

Didampingi sang suami, wanita paruh baya berjilbab ini bercerita kalau ia adalah ibu rumah tangga yang punya dua anak, sementara sang suami hanya bekerja sebagai guru honorer di salah satu sekolah di Bogor. Penghasilan sang suami yang tak seberapa tentu tak cukup untuk membiayai pengobatannya, apalagi ia masih punya hutang akibat usaha mereka mengalami kegagalan.  Untunglah, si ibu dibawah ke rumah sakit milik Dompet Dhuafa ini sehingga ia tak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun untuk berobat di sini.

Bukan hanya Ibu Ilya yang saya temui hari itu. Di ruang perawatan yang lain, saya juga bertemu dengan Ibu Suryani yang sedang menunggui suaminya yang dirawat intensif sejak beberapa hari lalu. Dengan bahasa Indonesia campur Sunda yang terbatas, Ibu Suryani yang sudah sepuh ini bercerita kalau ia dan suami adalah penjual gorengan di depan rumah. Hasilnya hanya cukup untuk keperluan makan mereka sehari-hari, tak cukup untuk tabungan apalagi untuk membiayai pengobatan. Dan karena penyakitnya, sang suami mesti bolak balik masuk ke rumah sakit.

“Mana ada duit saya,” katanya lirih. Untungnya tetangganya menganjurkan ia untuk berobat ke rumah sakit untuk kaum dhuafa ini sehingga ia yang awalnya harus ke rumah sakit di Ciawi bisa masuk ke sini dengan gratis.


IMG_20191017_135421.jpg

Pertemuan saya dengan dua pasien itu membuat saya sadar, kalau kehadiran rumah sakit  ini begitu perlu bagi kaum papa dan kaum dhuafa seperti mereka. Bayangkan berapa biaya yang mesti mereka keluarkan, apalagi kalau mereka tidak memiliki BPJS dan akses ke rumah sakit rujukan Puskesmas tidak terjangkau.

Itu sebabnya, wakaf untuk membangun fasilitas kesehatan sedang digalakkan beberapa lembaga nazhir (lembaga pengumpul wakaf). Seperti halnya yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa dengan mendirikan RS Rumah Sehat Terpadu di Parung.

Rumah sakit yang didirikan tahun 2012 ini dibangun dari wakaf para donatur dan dioperasikan dari dana zakat dan infaq yang masuk ke rekening Dompet Dhuafa. Sebelum membangun Rumah Sakit Sehat Terpadu, Dompet Dhuafa sebenarnya sudah memiliki sekitar 50-an klinik kesehatan gratis yang tersebar di seantero Indonesia. Namun para dhuafa yang berobat di sana sering bingung jika harus mendapatkan tindakan lanjutan karena tersandung biaya. Akhirnya didirikanlah rumah sakit ini untuk memfasilitasi mereka.

Meskipun diperuntukkan gratis untuk kaum dhuafa, Rumah Sakit Sehat Terpadu  ini memiliki fasilitas yang sangat baik. Itu yang saya lihat dari kunjungan singkat saya ke sana. Selain bangunannya yang bersih dan modern dengan arsitektur yang cukup baik, rumah sakit ini memiliki 8 poliklinik, fasilitas farmasi, laboratorium, radiologi, UGD, dan ruang rawat inap dengan 82 tempat tidur.

IMG_20191017_150130
Area rawat inap RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa

Kesan mendalam terhadap rumah sakit dari wakaf juga membawa saya mencari tahu soal sejarah wakaf untuk fasilitas kesehatan.

Selama ini, kebanyakan orang mengira kalau wakaf tanah hanya bisa digunakan untuk membangun masjid, makam dan madrasah. Padahal sebenarnya, wakaf tanah pun dapat digunakan untuk fasilitas kesehatan.

Hal ini sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Di tahun 626 M, seseorang bernama Mukhairiq mewakafkan 7 bidang kebun buah-buahan miliknya yang ada di Madinah. Nabi SAW mengambil alih kepemilikan tujuh bidang kebun tersebut dan menetapkannya sebagai wakaf untuk diambil manfaatnya bagi fakir miskin. Salah satunya adalah untuk membiayai pengobatan bagi umat muslim.

Di zaman keemasan Islam, banyak rumah sakit dibangun dari tanah dan dana wakaf. Salah satunya adalah Nasiri Hospital, sebuah rumah sakit umum yang dibangun oleh Salahudin Al-Ayyubi pada tahun 1284. Rumah sakit ini bahkan digadang-gadang sebagai rumah sakit berfasilitas terlengkap saat itu, yang dilengkapi dengan pendidikan kedokteran.

Di masa kini, ada banyak juga rumah sakit berbasis wakaf. Di Pakistan, ada Ishak Haroon Hospital. Rumah sakit tersebut mengenakan biaya yang minim kepada para pasiennya. Pasien yang berobat hanya membayar 40 rupees yaitu sekitar 4.000 rupiah untuk berobat umum dan 100 rupees (setara dengan 10.000 rupiah) untuk berobat ke spesialis. Di dalam rumah sakit disediakan kotak donasi bagi siapa saja yang mau menyumbang dan rekening khusus untuk wakaf. Beberapa orang juga mewakafkan rumahnya sehingga bangunan rumah sakit terus berkembang luas. Hingga akhirnya rumah sakit ini terdiri atas beberapa bangunan dengan bangunan utama 3 lantai ditambah rumah-rumah di sekelilingnya.

Di Indonesia, beberapa lembaga nazir telah membangun rumah sakit berbasis wakaf. Selain Rumah Sehat Terpadu di Parung, ada 7 rumah sakit lain yang dibangun oleh Dompet Dhuafa. Salah satunya adalah rumah sakit mata di Serang, Banten, yang merupakan kerjasama antara Badan Wakaf Indonesia (BWI) dengan Dompet Dhuafa. Rumah sakit ini  dibangun di atas tanah wakaf keluarga Achmad Wardi.


Mengapa wakaf untuk kesehatan penting?

Bagi pewakaf, manfaatnya jelas. Wakaf membawa pahala yang terus menerus mengalir dan tak terputus-putus. Bayangkan, walaupun sudah tak lagi ada di dunia, pahalanya terus datang. Bagi orang lain, wakaf bisa menolong mereka. Bayangkan kalau tidak ada wakaf untuk fasilitas kesehatan gratis, mungkin saja orang seperti Ibu Ilya dan Suryani tidak dapat mengobati penyakit berat mereka.

images (19).jpeg

Wakaf tanah untuk kesehatan dapat dilakukan melalui beberapa nazhir (lembaga wakaf) terpercaya seperti BWI, Dompet Dhuafa, dan sebagainya. Namun jangan lupa, wakaf tanah ini mesti dibuatkan sertifikat wakaf melalui PPAIW (Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf) sehingga status hukumnya jelas. Infografis yang saya kutip dari bimasislam.kemenag.go.id  dan https://literasizakatwakaf.com/ di bawah ini bisa menjelaskannya.

 


Nah, bagaimana kalau tak memiliki tanah yang cukup untuk digunakan sebagai fasilitas kesehatan? Seperti saya misalnya.

Tenang, kini para nazhir (lembaga pengumpul wakaf) mulai menggalakkan wakaf melalui uang yang nantinya dapat digunakan untuk membeli tanah sekaligus mendirikan fasilitas kesehatan. Dompet Dhuafa misalnya, menggunakan istilah tabung wakaf untuk menerima wakaf melalui uang yang nantinya akan dipakai untuk berbagai hal, termasuk mendirikan fasilitas kesehatan. BWI yang bekerja sama dengan beberapa bank mengumpulkan wakaf melalui uang untuk dibuatkan rumah sakit mata di Serang, sementara Rumah Wakaf mengumpulkan wakaf uang untuk didirikan klinik kesehatan melalui kampanye “Wakaf Klinik”.

Secara sederhana, wakaf uang adalah sejumlah dana tunai yang diberikan oleh wakif (pemberi dana wakaf) kepada nazhir (pengelola dana wakaf). Dana ini bisa untuk pembelian tanah atau bangunan sekolah, makam, rumah sakit, dan sebagainya.

Memangnya, sah wakaf melalui uang untuk dibelikan tanah dan nantinya dibangun fasilitas kesehatan? BWI sebagai lembaga wakaf negara telah mengeluarkan peraturan mengenai wakaf uang ini melalui peraturan no 41/2004. Intinya wakaf uang diperbolehkan dalam Islam karena sudah dilakukan sejak zaman Rasullullah.

Sebagai tambahan pengetahuan, saya share ya jenis wakaf berdasarkan jenis hartanya:

  • Wakaf benda tidak bergerak yang di dalamnya meliputi hak atas tanah, bangunan, dan benda tidak bergerak lainnya.

  • Benda bergerak selain uang, terdiri dari benda dapat berpindah, benda dapat dihabiskan, air dan bahan bakar, benda bergerak karena sifatnya yang dapat diwakafkan, benda bergerak selain uang, dan surat berharga, hak atas kekayaan intelektual, dan lain sebagainya.

  • Benda bergerak berupa uang seperti wakaf tunai.


Sekarang bayangkan, apabila seluruh umat muslim di Indonesia punya kesadaran wakaf untuk kesehatan. Jumlah muslim di Indonesia sekarang ini sebesar 221 juta jiwa. Okelah tak semuanya ingin berwakaf. Taruhlah sekitar 1% atau 2.210.000 jiwa saja yang berwakaf, maka jumlahnya akan sangat besar. Misalnya, setiap muslim dari 1% itu mewakafkan uangnya sebesar Rp10.000 saja seperti di Pakistan tadi, dalam sebulan akan terkumpul dana wakaf tunai sebanyak Rp2.2100.000.000. Kalau kita kalikan dengan 12 bulan, atau setahun, angkanya akan sangat fantastis, kan?.

Angka fantastis yang sangat besar untuk membangun sebuah rumah sakit untuk dhuafa. Angka fantastis untuk menolong Ibu Ilya dan Ibu Suryani yang lain.

Mari Berwakaf…

 

Advertisements

Author: rahma

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

One thought

  1. dulu saya selalu mikir kalau mau wakaf tuh uangnya harus banyak atau sudah punya tanah gitu..

    ternyata bisa wakaf uang tunai 10ribu saja yaa.. jadi pengen langsung ikutan wakaf di Dhompet Dhuafa dehh.. Biar bisa membantu orang-orang yang membutuhkan, seperti bu Ilya itu yaa.

    Like

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s