Begini Cara Membuat E-Visa Turki

Perjalanan solo travelling saya ke lima negara di bulan Juni lalu menyebabkan saya mesti menyiapkan banyak visa sebelum berangkat. Salah satu yang saya harus lakukan adalah membuat e-Visa Turki.

Ini kali ketiga saya ke Turki. Yang pertama, apply visa di Kedutaan di Jakarta. Kedua, pakai e-Visa, karena malas VoA di bandara.

Nah sejak tahun lalu, Turki tidak memperbolehkan lagi turis negara lain, termasuk Indonesia, masuk ke negaranya dengan menggunakan VoA. Semuanya harus menggunakan e-Visa Turki yang bisa diapply secara online melalui situs resminya.

Cara membuat e-Visa Turki ini ga susah kok. Lebih susah nyari jodoh #halahcurhat. Hanya butuh koneksi internet dan kartu kredit. Ga punya kartu kredit? Pinjem punya temen.

Begini cara membuat e-Visa Turki

Yuk, Berburu Kerajinan Murah di KriyaNusa 2019

Travelling ke 26 Provinsi di Indonesia membuat saya sadar, Indonesia bukan hanya kaya dengan keindahan alamnya, namun juga kaya budaya dan hasil kerajinan.

Misalnya setahun lalu, saat jalan-jalan di Pulau Sumbawa, saya diajak melihat tempat menenun kain di daerah Dusun Samri, Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa.

Indonesia memang kaya dengan hasil kerajinan tangan/kriya. Dua yang saya sebutkan tadi hanya contoh yang saya datangi. Masih banyak lagi hasil kriya lainnya, mulai dari songket Palembang, kain tapis Lampung, batik Pekalongan, hingga tenun ikat NTT.

Kerajinan Indonesia memang mesti dilestarikan dan dikembangkan karena itu merupakan warisan yang tak ternilai harganya. Itu sebabnya, Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional) kembali mengadakan pameran KriyaNusa di Balai Kartini Jakarta tanggal 11-15 September 2019.

Menyesap Teh di Puncak Darjeeling

Siapa yang tak kenal Darjeeling Tea, teh yang amat termahsyur di dunia. Merek-merek teh dunia seperti Twinings, Ahmad Tea, Dilmah, pasti memiliki jenis teh ini.

Darjeeling tea plantation alias kebun teh ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, namun jadi populer sejak Inggris menduduki India dan membawa hasil teh ini ke negara mereka. Itu sebabnya, saya yang penggemar berat teh, kegirangan bukan main ketika kawan saya mengajak saya mampir ke sini dulu sebelum melawat ke Sikkim.

Melongok Tjong A Fe Mansion, Rumah Taipan Asal Medan

Tak sah rasanya jika sudah ada di Medan namun tak menyambangi kediaman Tjong A Fie, orang terkaya di Medan.

Tjong A Fie, adalah seorang saudagar asal Guangdong, China, yang kemudian bermigrasi ke Medan saat ia berusia 18 tahun. Berkat kegigihannya, ia berhasil menduduki jabatan penting di perkebunan Belanda dan juga di dewan pemerintahan Hindia Belanda. Ketika ia membangun usaha, hubungan baiknya dengan orang-orang Belanda dan kesultanan Deli sangat membantunya. Dalam waktu singkat, ia berhasil membangun kerajaan bisnisnya di Indonesia, hingga negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Usahanya meliputi perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, dan pabrik gula. Ia juga memiliki saham di Deuscthe Bank dan juga di jalur kereta api Sumatera.

Travelling Tetap Jalan, Rumah Nyaman dalam Genggaman

Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi dengan kawan saya seorang perencana keuangan kawakan. Ia menceritakan kalau kaum milenial sekarang banyak yang menunda membeli rumah karena lebih memilih untuk jalan-jalan.

Padahal, program travelling dan membeli rumah bisa diselaraskan. Ini saya lakukan sejak awal bekerja. Setiap bulan, saya menyisihkan dana khusus untuk travelling, dimasukkan ke dalam tabungan terpisah. Saya juga sisihkan dana di tabungan lainnya untuk membeli rumah idaman. Hasilnya, saya sekarang sudah punya rumah idaman, yang walaupun belum saya tempati karena saya masih single dan tinggal bersama orang tua, sudah bisa memberikan passive income tambahan buat saya.

Saat mencari rumah  idaman itu, saya memilih rumah yang tak

19 Jam di Bandara Muscat, Ngapain Aja?

Di penerbangan pulang saya ke Jakarta, saya kembali harus transit 19 jam di Muscat. Awalnya saya niat jalan-jalan lagi di sana, mengunjungi spot yang belum sempat saya eksplor sebelumnya. Saya malah sudah bikin janji temu dengan salah satu kawan couchsurfing saya. Tapi nasib berkata lain. Gara-gara banyak makan yang terlalu asam di Uzbek dan Turki, perut saya berontak.

Terpaksa saya mesti ngendon di Muscat Airport dan ga jalan-jalan di kota. Ngapain aja saya di sana?