Rekomendasi Restoran dan Kuliner di Mekkah

Salah satu yang saya lakukan ketika umrah mandiri kali ini adalah mencoba berbagai kuliner yang ada di Mekkah dan Madinah. Hal yang jarang saya lakukan tatkala umrah bareng travel, karena saya lebih sering menyantap makanan yang telah disediakan pihak travel di hotel. Sayaang, udah bayar …

Nah, selama 16 hari umrah Ramadhan kemarin, saya dan kawan-kawan sempat mencoba beberapa makanan di sana, mulai dari makanan India, Arab, Turki, hingga Indonesia. Karena waktunya terbatas—hanya saat buka puasa dan sahur—kebanyakan yang kami datangi adalah restoran yang menyajikan makanan berat. Cemilan seperti es krim atau kue-kue biasanya kami lewatkan.

Ini dia beberapa restoran dan kuliner di Mekkah yang sempat saya coba.

Kabsah Hashi, Nasi Unta Khas Arab

Sesuai namanya, restoran ini menyajikan segala sesuatu berbau unta. Ada nasi kabsah, samosa, shawarma, dan lainnya. Adalah Rizky yang kali pertama tahu soal tempat ini dan kemudian mengajak kami mencicipinya setelah selesai terawih.

Hanya empat orang mau bergabung, termasuk saya. Yang lainnya takut tidak suka dengan rasa daging unta ini. Sebenarnya, kami berempat pun belum pernah makan daging unta, tapi ini malah membuat kami tambah penasaran mencobanya. Kalau tak enak, ya udahlah, yang penting tak penasaran. Begitu prinsip kami.

Takut tak pas di lidah, kami hanya memesan seporsi nasi kabsah unta ukuran medium. Ternyata oh ternyata rasanya enaaak, bahkan menurut saya, ini makanan terbaik yang saya makan selama di Mekkah. Nasi kabsahnya kaya rempah, daging untanya empuk dan sama sekali tak berbau berengus seperti yang kami takutkan di awal.

Sebenarnya satu porsi tak cukup buat kami. Tapi mengingat harganya lumayan, akhirnya perut lah yang terpaksa berkompromi.

Restoran Kabsah Hashi terletak di daerah Azizyah, tak jauh dari Al Baik. Ada dua lantai, bagian bawah dapur dan kasir, di atasnya tempat makan yang bentuknya lesehan. Lucunya, begitu masuk, semua mata memandang saya dan Bu Indah—kawan lainnya—dengan heran. Belakangan baru saya sadari, semua orang di sana adalah laki-laki. Pantas ajaa…

El Dahan Resto di Bawah Tower Zamzam

Kali pertama saya melihat restoran ini adalah saat umrah bareng keluarga, tahun lalu. Karena menginap di Swissotel AL Maqom, saya tiap hari melewati tempat ini. Tapi berhubung kami selalu makan yang telah disediakan di hotel, saya tak pernah membeli apapun di sini. Makanya, begitu umrah mandiri, saya langsung tancap gas untuk membeli makanan di sini.

Restoran ini lumayan ramai menjelang buka puasa karena dia membagikan nasi biryani gratis setiap hari. Buat yang nggak mau gratisan, nasi ini dijual dengan harga 10 SAR saja. Porsinya lumayan banyak, cukup untuk makan berdua. Rasa nasinya standar sih, bumbunya tak terlalu “medok” dan berempah seperti nasi biryani yang saya coba di tempat lain. Tapi untuk harga 10 SAR, ini sudah sangat-sangat lumayan.

Selain nasi biryani 10 SAR itu, mereka juga punya makanan lainnya. Ada shawarma, nasi ayam, dan lain sebagainya. Saya belum pernah coba,sih, tapi karena banyak banget yang antri di sini, kemungkinan besar semua makanan yang mereka jual enak.

El Dahan Resto

Al Romansiah di Jabal Omar

Restoran ini lumayan terkenal di Saudi dan punya banyak cabang. Salah satunya di Jabal Omar foodcourt. Dari tangga, tinggal belok ke kiri, setelah cafe-cafe outdoor itu. Kawan saya, Firman dan Rizky, membeli dua porsi nasi bukhari daging sapi dan kami habiskan berlima.

Walaupun di foodcourt, mukbang ala Arab tetap kami lakukan. Meja dilapisi plastik besar dan nasi dituang di meja begitu saja. Seru, kaan?

Al Tajaz, Lebih Enak dari Al Baik

Ini restoran ayam goreng sejenis Al Baik. Sebenarnya banyak resto sejenis, tapi hanya Al Baik dan Al Tajaz yang cabangnya paling banyak, salah satunya dekat dengan Masjidil Haram—di mal di bawah Hilton Tower.

Menu andalan mereka adalah ayam berbumbu dengan saus bawang putih. Menurut saya, nih, rasa ayam goreng di sini jauuh lebih enak ketimbang Al Baik. Keponakan saya yang tahun lalu ikut umrah pun setuju dengan pendapat saya ini, sampai-sampai mereka minta dibawakan oleh-oleh Al Tajaz ini.

Tapi, seperti halnya AlBaik, rasa Al Tajaz ini tak terlalu enak kalau sudah lama. Jadi lebih baik makan sajalah langsung setelah dibeli.

Foodcourt di Atas Hilton

Walaupun pernah umrah beberapa kali, saya baru tahu kalau di sini ada foodcourt! Letaknya di Hilton Tower yang ada di depan Masjidil Haram (bangunan yang terkenal karena eskalator viral). Letak persisnya ada di sebelah kanan, berseberangan dengan Carrefour.

Ternyata banyak restoran di sini, kebanyakan berupa restoran siap saji seperti KFC, walau ada juga restoran lain yang menyajikan nasi ala Arab. Harganya lebih mahal ketimbang restoran-restoran yang ada di bawah, yang biasa jadi langganan saya.

Karena kenyang, saya hanya membeli jus mangga seharga 12 SAR. Mahal memang, tapi sangat worth it karena mangganya padat, tak seperti jus mangga depan gang rumah saya yang lebih banyak airnya ketimbang mangganya.

Oya, kalau dapat duduk di depan KFC, kalian bisa lihat pemandangan ke arah pelataran Masjid Haram, lho!

Mencicipi Bakso di The View Restaurant Zam Zam Tower

Kalau kangen masakan Indonesia, bisa mampir ke The View Restaurant yang ada di ZamZam Tower (Mekkah Clock Tower) lantai P3. Lokasinya agak tersembunyi memang, di pojokan, .

Saya tak mencoba makan di sini karena saya lebih memilih mencicipi hidangan ala Arab yang jarang saya temui di Indonesia. Ditambah lagi, harganya lumayan mahal untuk ukuran saya; satu porsi baso yang berisi 6 buah baso kecil dibanderol dengan harga 20 riyal atau setara dengan 90 ribu rupiah.

Hahahaa….sayang rasanya mengeluarkan uang segitu untuk membeli baso dengan harga 4 kali lipat ketimbang Baso Jono dekat rumah. Lebih baik saya menundanya sampai pulang ke Indonesia aja!

Baca Juga: Cerita Umrah Mandiri: Antara Ditipu dan Lari-Lari Mengejar Bus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!