Naik Ferry dari Maroko ke Spanyol

Setelah 5 hari berada di Maroko, saya dan sepupu bertolak ke Spanyol, menyebrang melalui Selat Gibraltar yang termahsyur.

Menyebrangi Selat Gibraltar yang penuh sejarah menjadi salah satu impian saya dari dulu. Selat ini adalah saksi bisu penaklukan Andalusia di bawah pimpinan pangilma perang idola saya: Thariq bin Ziyad.

Menurut cerita, pada tahun 92 Hijriah, 7000 orang tentara yang terdiri dari bangsa Barbar dan Arab yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad mulai menyebrangi lautan dari Ceuta (di Maroko) menuju Andalusia menggunakan perahu.

Sabagian dari pasukan ini disusupkan di atas kapal-kapal para pedagang yang bolak-balik ke Andalusia. Para penduduk Andalusia sama sekali tidak menyadari hal itu. Bahkan mereka mengira perahu-perahu tersebut hanya membawa para pedagang. Padahal perahu tersebut membawa pasukan dalam kelompok demi kelompok menuju Andalusia.

Begitu sampai di Spanyol, Thariq bin Ziyad memberikan orasi pembangkit semangat. Bukit yang menjadi tempatnya berpidato itulah yang kemudian dinamakan Jabal Thariq atau Gibraltar. Nama Selat Hercules, pemisah antara benua Maroko dan Spanyol, pun berganti nama menjadi Selat Gibraltar.

Keinginan yang Terwujud

Begitu inginnya saya menyebrang selat ini. Kali pertama datang ke Maroko dan kemudian menuju Spanyol, saya tak melewati selat ini. Tak cukup waktu hingga saya dan kawan-kawan memutuskan untuk naik pesawat saja. Saya menyesal, hingga akhirnya saya bertekad: kalau saya kembali ke Maroko dan Spanyol, saya mesti menyebrang selat ini.

Keinginan ini hampir pupus. Ada kanar kalau penyebrangan ferry Maroko-Spanyol ditutup sementara selama pandemi Covid 19. Namun alhamdulillah, sebulan sebelum berangkat, ada kabar bahagia: pelabuhan akan segera dibuka.

Mestakung, semesta mendukung.

Naik dari Tangier Ville

Kami memilih berangkat dari Tangier Ville karena sepupu saya ingin melihat fenomena alam yang langka: pertemuan dua arus yang ada ceritanya dalam Al Quran. Ya, karena terletak antara Samudra Atlantik dan Laut Tengah, di selat Giblartar ini ada pertemuan dua arus laut. Kalau beruntung, kita bisa menyaksikan dua arus yang berbeda warna. Kalau beruntung…

Sebenarnya saya lebih ingin lewat Tangier Med sehingga bisa menyaksikan bukit Giblartar, tapi dengan pertimbangan jauhnya jarak menuju Tangier Med, akhirnya diputuskan lewat Tangier Ville saja.

Jarak pelabuhan dari hotel kami tak terlampau jauh, hanya 1 km. Namun karena kami mesti membawa koper, kami tentu saja lebih memilih naik taksi. Toh harga taksi di sini tak terlampau mahal, lebih mahal beli minuman di pelabuhan kalau kami kepayahan mendorong koper.

Taksi di Tangier ini sebenarnya memakai argo. Saya tak tahu berapa argo yang tertera di sana, tapi saya memberikan uang 10 dirham (sekitar 15 ribu rupiah) ke pak supir dan dia tak memprotesnya. Ya sudah.

Diperiksa Gara-Gara Nyamuk

Begitu masuk pelabuhan, langsung ada petugas yang memeriksa paspor dan visa dan bukti vaksin. Ya, karena saat itu masih pandemi, masih dibutuhkan bukti vaksin dan booster. Vaksinnya pun harus vaksin yang diterima Uni Eropa, bukan vaksin buatan China.

Satu jam sebelum jadwal keberangkatan, kami diminta naik menuju lokasi x-ray dan imigrasi Maroko. Di x-ray ini lah saya sempat tertahan. Seorang petugas ganteng, wajahnya perpaduan antara Arab dan Eropa, meminta saya membuka koper.

Assalamualaikum my sister, could you please open your luggage?”, katanya sambil senyum. Baru kali ini petugas bea cukai panggil saya sister dan senyum manis. Biasanya jutek..

Si petugas mencari barang yang dia curigai. Saya pikir dia akan bertanya soal 20 botol argan oil yang saya bawa, tapi ternyata bukan. Barang yang dia cari adalah…..isi obat nyamuk elektrik!

Yassalam, saya lupa. Karena di penginapan kemarin banyak nyamuk, makanya saya beli obat nyamuk elektrik. Alatnya saya tinggal di penginapan, tapi isinya terbawa di koper.

What’s is this?” katanya sambil menunjuk 10 lembar isi refill yang berwana biru.

Seketika saya lupa apa namanya dan lupa juga apa bahasa Inggris-nya nyamuk. Yang terlintas di otak saya cuma satu kata: “Raid“. Merek obat nyamuk.

Entah kenapa itu yang tercetus, padahal merek obat nyamuknya bukan itu. Untunglah petugas ganteng itu paham dan langsung berkata, “Oh, mosquito killer. Ok

Dia menambahkan, “Sorry for making your luggage messy, sister. Enjoy your trip in Spain, may Allah protect your trip.”

Sambil senyum lagi, yang membuat saya berpikir untuk berlama-lama di situ saja.

Tak Bertemu Dua Arus

Setelah imigrasi Maroko, kami langsung naik ferry. Ferry ini terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama deck tempat mobil masuk. Koper yang kita bawapun mesti diletakkan di sini. Lantai dua berisi tempat duduk (ada colokan di sebelahnya), sementara lantai tiga adalah deck. Kalau mau pemandangan lebih luas, lebih enak duduk di deck.

Tadinya saya ingin duduk di deck ini. Tapi ternyata anginnya itu dingin luar biasa, sementara jaket saya ada di tas jinjing yang saya letakkan di atas koper. Mengambil jaket tak mungkin karena selama perjalanan tak diperkenankan turun ke deck bawah. Berbahaya, katanya.

Saya ingin di atas supaya bisa melihat pertemuan dua arus laut, kalau ada. Tapi karena dingin, sepupu saya yang berjaket tebal yang mampu bertahan di atas, sementara saya menyerah dan duduk di lantai dua saja. Untunglah, tak ada pertemuan dua arus itu sehingga saya tak terlampau menyesal duduk di lantai dua.

Hampir Gagal Masuk Spanyol

Di taksi tadi, saya baru sadar kami belum mengisi semacam form kedatangan, yang seharusnya diisi tiga hari sebelum masuk ke Spanyol. Saat itu masih pandemi memang, sehingga syarat masuk Spanyol masih ketat. (ps: ini hanya berlaku saat pandemi, sekarang sudah tidak perlu lagi)

Saya sedikit ngomel ke sepupu saya yang abai soal ini, karena saat di Indonesia kami sudah berbagi tugas. Saya yang menyusun itenerary plus mencari penginapan serta transportasi, sementara dia yang bertugas mencari tahu soal syarat masuk ke negara-negara yang akan kami datangi. Dia lupa soal ini.

Tapi ya sudahlah. Kalau tak bisa masuk Spanyol dan diminta kembali ke Maroko, eksten lagi lah di Maroko tiga hari. Toh, jadwal kami fleksibel.

Alhamdulillah, tak ada pertanyaan soal ini sama sekali di imigrasi Maroko dan Spanyol. Prosesnya sangat cepat, saya bahkan tak ditanya soal penginapan selama di Spanyol. Langsung dicap!

Welcome to Andalusia!

TIP MENYEBRANG MAROKO-SPANYOL

Memilih Pelabuhan

Di Tangier, ada dua pelabuhan ferry untuk menyebrang ke Spanyol. Yang pertama dari Tangier Ville menuju Tarifa, kedua dari Tangier Med menuju Algeciras. Mana yang mesti dipilih? Saya tulis plus dan minusnya ya, dan bisa nentuin sendiri mana yang mesti dipilih.

Tangier Ville – Tarifa

Kelebihan

  • Pelabuhannya lebih dekat kota. Dari stasiun kereta Tanger Ville hanya 10 menit naik taksi. Kalau saya kemarin, karena menginap tak jauh dari sini, sebenarnya bisa jalan kaki. Tapi berhubung bawa koper, akhirnya memilih untuk naik taksi dengan harga 10 dirham saja.
  • Pelabuhannya ga terlalu besar, jadi tak terlalu hectic.
  • Perjalanan laut tak terlalu lama, hanya 1 jam saja.
  • Lebih dekat ke Seville, jadi buat yang mau ke Seville lebih baik naik ini
  • Kalau beruntung bisa lihat pertemuan dua arus, walaupun jarang terjadi

Kekurangan

  • Hanya ada satu perusahaan, yakni FRS sehingga jadwal lebih sedikit
  • Harga lebih mahal ketimbang naik dari Tangier Med. Walaupun kalau ditotal dengan ongkos taksi ke sana, totalnya jadi sama aja.
  • Lebih jauh dari Malaga, Alhambra dan Granada
  • Pilihan transportasi dari sini menuju kota lain lebih sedikit. Kalau mau naik kereta mesti naik bus lagi

Tangier Med – Algeciras

Kelebihan

  • Bisa lihat Rock of Gibraltar dari atas ferry. Buat penyuka sejarah Islam, ini akan sangat menyenangkan.
  • Lebih dekat jika mau ke Alhambra ataupun Granada.
  • Kalau mau naik train, bisa langsung jalan kaki dari port ke stasiun kereta. Jika turun di Tarifa, mesti naik bus lagi ke stasiun kereta (atau ke Algeciras port) karena tidak ada kereta dari Tarifa.
  • Pilihan perusahaan ferry lebih beragam dan jadwal lebih banyak
  • Harga lebih murah

Kekurangan

  • Lokasinya lebih jauh dari Tangier, sekitar 50 km dari pusat kota. Kalau naik mobil atau taksi sekitar 1 jam. Tapi lebih dekat dari Tetoun atau dari Chefchoun. Jadi kalau datang dari kedua kota itu, ketimbang mesti balik ke pusat kota Tangier, lebih enak langsung ke sini.
  • Jarak dari pelabuhan ini ke Spanyol (Algeciras) lebih jauh sehingga perjalanan lautnya juga lebih lama, yakni sekitar 1.5 jam. Kalau yang mabuk laut, kayaknya ga cocok naik ini.

Beli Tiket Online atau On The Spot ?

Tiket ferry bisa dibeli langsung di pelabuhan ataupun lewat situs online. Kalau punya itenerary yang sudah fix, lebih baik booking online supaya nggak kehabisan. Kalau punya jadwal yang super fleksibel macam saya, lebih baik beli on the spot. Siapa tahu berubah pikiran.

One thought on “Naik Ferry dari Maroko ke Spanyol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!