Event

Ternyata, Begadang Bisa Bikin Obesitas

Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya…“. Begitu salah satu bait syair yang dinyanyikan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama.

Wajar kalau Rhoma Irama berkata demikian. Karena begadang ataupun kurang tidur memang menimbulkan banyak penyakit, salah satunya obesitas. Studi mengatakan, di dalam tubuh manusia, nafsu makan dipengaruhi oleh dua hormon yaitu ghrelin dan leptin.

Seseorang yang kerap begadang kurang tidur akan mengalami peningkatan kadar hormon lapar (ghrelin) dan penurunan kadar hormon kenyang (leptin). Akibatnya, orang yang kurang tidur akan cenderung makan berlebihan dan akhirnya mengalami peningkatan berat badan.

Selain itu, kurang tidur juga memengaruhi laju metabolisme dan pembakaran kalori. Ada studi yang menemukan bahwa kurang tidur menyebabkan pembakaran kalori berkurang hingga 5-20 persen untuk proses mencerna.

Selain kurang tidur, ada penyebab obesitas lainnya yakni pola makan yang tidak seimbang, olahraga atau gerak yang kurang, dan beban pikiran berlebihan atau stress.

Hal ini terungkap dalam webminar Hari Gizi Nasional 2022 yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia. Dalam webminar ini, ada paparan dari 4 pembicara yakni Melinda Mastan, S.Gz, Grants Officer
Tanoto Foundation; Eriana Asri MPH, Konsultan Gizi Nutrition International; Nazhif Gifari, S.Gz, MSi Dosen Ilmu Gizi, dan Deasy dari Indonesia Yakult.

Para pembicara di webminar Hari Gizi Nasional 2022

Perlu Pola Makan Seimbang

Di dunia ini, cukup banyak remaja dan orang dewasa yang terkena obesitas. Banyak faktor penyebabnya, antara lain pola makan yang salah dan kurangnya aktivitas.

Karena itulah Nazhif Gifari, S.Gz mengatakan, bahwa untuk menjaga menjaga pola makan dan gizi seimbang adalah salah satu cara mencegah obesitas. Ia menyarankan untuk membatasi asupan garam, gula dan lemak dalam makanan sehari-hari, karena ketiga itulah sumber kelebihan gizi yang menyebabkan obesitas di Indonesia.

Data obesitas dunia. Sumber: presentasi Nazhif Gifari, S.Gz

Porsi makan juga harus diperhatikan, perbanyak konsumsi sayur dan buah, serta minum air putih minimal 8 gelas sehari. Ia juga memaparkan bagimana pola makan yang sehat. Yakni harus mengandung protein rendah lemak, karbohidrat komplek, susu rendah lemak, pilih lemak yang baik, cukup serat, dan cukup air putih.

Nazhif juga memberikan tips bagaimana pola makan yang benar.

  • Biasakan sarapan
  • Penuhi kebutuhan karbohidrat
  • Penuhi kebutuhan protein
  • Konsumsi sayur dan buah
  • Cukup minum air putih
  • Baca label pangan
Komposisi makanan, terutama jika ingin mengurangi berat badan. Sumber: presentasi Nazhif Gifari, S.Gz

Perlu Gerak Fisik Meski di Rumah Aja

Penyebab lainnya obesitas adalah kurangnya aktivitas fisik, terutama di saat pandemi, saat kita mesti berdiam diri di rumah saja. Padahal, beragam aktivitas fisik dapat dilakukan mulai dari berberes rumah, dance, hingga melakukan olahraga.

Idealnya, setiap hari kita harus melakukan peregangan (stretching) dan berolahraga minimal 3 kali seminggu. Olahraganya bisa apa saja, tapi sebaiknya untuk hasil lebih baik, kombinasikan olahraga kardio dengan strengthen (penguatan otot).

Sumber: presentasi Nazhif Gifari, S.Gz
Jumlah waktu olahraga yang dibutuhkan, sesuai dengan goal masing-masing. Sumber: presentasi Nazhif Gifari, S.Gz

Anemia Juga Perlu Diwaspadai

Selain obesitas, masalah gizi yang banyak terjadi di Indonesia, khususnya remaja, adalah anemia. Ternyata, menurut data 1 dari 4 remaja putri di Indonesia mengidap anemia karena pola makan yang salah. Takut gemuk, salah satunya.

Sumber: presentasi Eriana Asri, MPH

Anemia adalah salah satu penyakit gangguan darah yang ditandai dengan kurangnya jumlah sel darah merah dalam tubuh manusia. Itu sebabnya, kondisi ini disebut juga sebagai penyakit kurang darah (tidak sama dengan darah rendah).

Anemia pada taraf ringan mungkin tidak memunculkan gejala yang begitu berarti. Umumnya gejalanya adalah

  • Merasa mudah marah
  • Merasa lemah atau lelah lebih sering dari biasanya
  • Sakit kepala
  • Sulit berkonsentrasi atau berpikir

Namun, kondisi ini bisa semakin parah apabila tidak kunjung ditangani. Jika semakin memburuk, gejala kurang darah yang muncul bisa lebih berat. Karena itu, Eriana Asri menyarankan untuk memeriksakan diri jika ada gejala tersebut dan melakukan pengobatan, salah satunya dengan meminum tablet penambah darah.

Mantan jurnalis dan editor di Kompas Gramedia Group. Travel writer yang sudah mendatangi 41 negara di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!