jilbab travelogue

Wajah Baru TIM: Si Dewasa yang Kembali Remaja

Lima puluh tiga tahun usia Taman Ismail Marzuki. Jika diibaratkan manusia, ia sudah masuk fase dewasa akhir, menjelang fase lanjut usia. Jika manusia, di usia ini tubuhnya sudah mulai renta dan butuh perhatian ekstra, maka dalam bangunan, usia-usia ini sudah harus diremajakan kembali.

Revitalisasi. Begitu istilah kerennya.

Jika mengacu pada istilah arsitektur, revitalisasi berarti upaya untuk memvitalkan kembali suatu bangunan, kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah hidup, akan tetapi kemudian mengalami kemunduran. Revitalisasi yang dilakukan nantinya harus mampu mengenali dan memanfaatkan potensi lingkungan, antara lain sejarah, makna, keunikan lokasi dan sekitarnya.

Inilah yang coba dilakukan pada Taman Ismail Marzuki.

Si Saksi Bisu Perjalanan Para Seniman

Berdirinya Taman Ismail Marzuki diawali dari tulisan Ajib Rosidi, sastrawan Sunda, yang terbit di Majalah Intisari. Tulisannya bercerita soal kegundahan para seniman yang tidak memiliki tempat untuk berkumpul.

Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin, yang membaca tulisan itu langsung menindaklanjuti dengan mencari lahan yang cocok menjadi tempat untuk mewadahi para seniman tersebut.

Kebun Binatang Cikini lah menjadi tempatnya karena dinilai cukup luas, strategis, dan mudah dijangkau dari mana saja. Ditambah lagi, tempat ini tak asing bagi para seniman karena di kompleks Kebun Binatang Cikini tersebut ada panggung tempat para seniman menunjukkan kemampuannya. Ateng, Iskak, dan Eddy Sud merupakan contoh seniman yang kerap tampil di panggung itu,

Kebun Binatang Cikini pun direlokasi ke Ragunan, dan di tahun 1968, dimulailah pembangunan Taman Ismail Marzuki.

Saat itu, TIM hanya memiliki dua gedung teater, satu teater terbuka, area pameran, serta gedung Planetarium yang sudah lebih awal dibangun. Gedung-gedung tersebut (dua gedung bioskop, Garden Hall, dan Podium) merupakan peninggalan Taman Raden Saleh yang dulunya sering dimanfaatkan warga untuk menonton film di malam hari.

Seiring dengan perkembangan kawasan, kemudian dibangun lebih banyak fasilitas yang bisa digunakan: tiga gedung teater (Graha Bakti Budaya, Teater Besar dan Teater Kecil), dua galeri seni (Galeri Cipta II dan Galeri Cipta III), dua plaza (Plaza Pancasila dan Plaza Teater Kecil). Adapula fasilitas penunjang lainnya mencakup perpustakaan daerah, pusat dokumentasi H.B Jassin, deretan kedai makanan nusantara, kineforum, toko buku Jose Rizal, dan Masjid Amir Hamzah.

Baca Juga: Fakta Unik Taman Ismail Marzuki: Dari Kebun Binatang Hingga Rayuan Pulau Kelapa

Wajah Baru TIM: Oase Bagi Semua

Revitalisasi TIM

Selama lima puluh tiga tahun, bangunan di Taman Ismail Marzuki tidak pernah dirombak ataupun direvitalisasi. Ibarat tubuh manusia, kalau tidak diremajakan dengan olahraga, akhirnya mengalami kemunduran dan akhirnya tidak bisa berfungsi dengan optimal.

Pun dengan bangunan di Taman Ismail Marzuki. Bangunannya, walaupun dirawat dengan baik, namun akhirnya banyak yang sudah tidak bisa mewadahi kegiatan para seniman. Itulah sebabnya di tahun 2007, Pemerintah DKI Jakarta mengadakan sayembara untuk menemukan Wajah Baru TIM.

Adalah Andra Matin, arsitek kawakan yang juga terlibat dalam revitalisasi Gelora Bung Karno, yang memenangi sayembara ini. Konsep desainnya simpel: ia mau mengembalikan TIM sebagai sebuah Oase.

Bagi para seniman, Oase ini dapat berarti TIM yang baru dapat mewadahi semua kegiatan yang mereka lakukan. Bagi masyarakat, Oase ini berarti Wajah Baru TIM dapat menjadi tempat menonton pertunjukan, tempat melepaskan ketegangan di antara belantara hutan beton Cikini.

Taman Besar Menyatu Lingkungan

Mendapat kesempatan mengintip TIM yang hampir selesai direvitalisasi, saya kembali teringat oase tadi. Benar, dari depan, oase ini mulai terasa. Sebuah “bukit” rumput luas nan hijau langsung terlihat segar di antara himpitan gedung-gedung tinggi Cikini.

Ternyata lapangan rumput tersebut adalah sebuah gedung parkir. Gedung ini sengaja disembunyikan karena Aang, begitu sang arsitek dipanggil, tak mau kejadian lama terulang lagi. “TIM yang dulu fasadnya mobil, karena bagian depan TIM dipenuhi dengan lahan parkir. Jadi yang pertama dilihat orang ya mobil, bukan bangunannya,” tuturnya.

Bukit rumput ini bisa langsung diakses dari trotar di depan, sehingga bangunan terkesan menyatu dengan lingkungan tanpa ada pembatas. Agak berbeda dengan TIM dahulu, yang dikukungi pagar beton sehingga terkesan esklusif.

Gedung Panjang TIM
Nyamannya duduk di sini. Saya membayangkan nantinya, di sini akan ada para seniman yang berkumpul dan mempertunjukkan karyanya.
Tampak atas roof top gedung parkir yang dibuat taman

Jika menilik desain yang digagas Aang, ia menyebutkan bahwa konsep desain TIM ini memang serba hijau. Ruang Terbuka Hijau akan diperbanyak sehingga selain menghijaukan lingkungan, ia bisa menjadi wadah masyarakat untuk berkumpul dan berkegiatan.

Selain taman besar, nantinya akan ada teater terbuka yang dibangun dengan bentuk ampiteater dan disekelilingnya akan diteduhi pohon-pohon.

Dulu, Taman Ismail Marzuki punya teater terbuka berkapasitas 2.500 penonton. Teater ini berbentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk bertingkat-tingkat. Hebatnya, teater ini tidak dilengkapi sound system namun suara sang pementas akan dapat terdengar oleh seluruh penonton yang duduk hingga ke bangku paling atas. Desain seperti ini akan diterapkan kembali di desain baru TIM.

Gedung Panjang: Rayuan Pulau Kelapa dan Kapal Phinisi

Dari gedung parkir, saya beranjak ke sebuah gedung di sebelahnya. Sebuah gedung yang desainnya unik; bentuknya panjang dan berundak-undak. Gayanya simpel, menonjolkan finishing beton berwarna abu-abu. Unfinished style, begitu istilahnya dalam ilmu arsitektur.

Namanya Gedung Perpustakaan dan Wisma Seni, namun karena bentuk fisiknya yang memanjang, bangunan ini lebih dikenal sebagai Gedung Panjang.

Gedung Panjang ini terdiri dari 14 lantai. Dari depan, hanya terlihat ada 8 lantai, namun jika berjalan ke samping, barulah terlihat bahwa gedung ini terdiri dari 4 lantai yang tersusun berundak. Bentuk bangunan memanjang dengan desain berundak ini mengambil inspirasi dari bentuk Kapal Phinisi, kapal Suku Bugis yang sudah mendunia.

Saya berjalan ke bagian depan gedung ini. Ada tangga-tangga di sana, yang langsung menuju lantai dua. Nantinya, tak akan ada pagar di depan gedung ini. Bentuk seperti ini membuat saya merasa bahwa gedung ini, dan juga Taman Ismail Marzuki, menyambut terbuka siapa saja yang ingin datang.

Fasad bangunan dari samping

Jika melihat lebih detail ke fasad Gedung Panjang, akan terlihat jika jendelanya tersusun secara acak. Ternyata, ini merupakan perwujudan dari not balok lagu Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki, seniman asli Jakarta yang namanya diabadikan sebagai nama tempat ini.

“Tanah Airku Indonesia. Negeri elok amat kucinta. Tanah tumpah darahku yang mulia, yang kupuja sepanjang masa. Tanah Airku aman dan makmur, Pulau Kelapa yang amat subur”. Begitu bait yang dikutip dan dijadikan fasad.

Ada Wisma Hingga Perpustakaan

Memasuki lantai demi lantai Gedung Panjang, saya mulai merasakan arti revitalisasi ini. Gedung ini punya banyak fungsi. Jika lagi-lagi diibaratkan tubuh, boleh dibilang, Gedung Panjang ini semacam ginjal, yang punya banyak fungsi bagi tubuh.

Di lantai 1 hingga lantai 3 akan menjadi ruang publik yang berisi foodcourt dan ruang pamer.

Dulu, di atas lahan yang dibangun Gedung Panjang ini terdapat semacam pusat jajanan khas Cikini. Salah satunya Soto H Ma’ruf yang telah berdagang di sini sejak 1980. Nantinya, setelah bangunan ini dapat difungsikan, ia akan kembali menjajakan soto legendaris kesukaan para pejabat di foodcourt Gedung Panjang.

Ramp untuk para disabilitas

Lantai 4-7 akan diperuntukkan sebagai Perpustakaan Daerah DKI Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. HB Jassin ini merupakan seorang sastrawan dan seniman yang banyak berjasa bagi dunia sastra dan bahasa Indonesia. Ia mendirikan pusat dokumentasi sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki. Di sini juga nantinya akan dibuat co-working space yang dapat diakses siapa saja.

Salah satu sudut perpustakaan TIM

Lantai 8-12 difungsikan Wisma Seni, sebagai tempat istirahat dan menginap seniman yang mengadakan pertunjukan seni di TIM. Ada sekitar 139 kamar dengan berbagai ukuran dan tipe, bahkan ada kamar yang terdiri atas bunk bed sehingga bisa memuat lebih banyak orang.

Sementara, 2 lantai terakhir, yakni lantai 13-14 adalah kantor Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan ruang diskusi Komite Seni

Pemandangan dari kamar utama di Wisma Seni Lt 8
Ada kolam renang dengan pemandangan belantara Jakarta. Kolam ini diperuntukkan bagi pengunjung yang menginap di Wisma TIM

Planetarium, Si Cagar Budaya Berkubah

Dari Gedung Panjang saya bisa melihat sebuah bangunan berkubah. Berbeda dengan bangunan lain yang mengalami renovasi total, bangunan yang menjadi ikon Taman Ismail Marzuki ini tidak seluruhnya diubah. Hal ini disebabkan Planetarium ini termasuk dalam kategori bangunan cagar budaya, tidak akan ada perubahan bentuk bangunan, hanya akan dilakukan perubahan dan upgrading interior.

Proyektor diperbaharui,  kursi-kursi diganti dengan kursi yang lebih ergonomis sehingga nantinya pengunjung lebih nyaman ketika melihat bintang-bintang di langit Planetarium.

Saya jadi teringat cerita Mama, yang seorang guru sejarah. Ia mengatakan kalau Planetarium ini pertama kali beroperasi pada 1969 dan didirikan oleh Ir. Soekarno. Ia ingin membangun sebuah planetarium dan observatorium di Indonesia, walaupun waktu itu sudah ada Observatorium Boscha di Lembang.

Pendirian planetarium ini dimaksudkan agar masyarakat Indonesia tak lagi percaya pada tahayul, seperti gerhana dan munculnya komet yang sering dikaitkan dengan malapetaka, bencana alam, dan sebagainya.

Oase Terakhir: Masjid Amir Hamzah

Sumber: Kataomed.com

Rancangan Revitalisasi TIM meliputi juga peremajaan Masjid Amir Hamzah, masjid yang terletak di antara Kompleks Taman Ismail Marzuki dan Gedung Institut Kesenian Jakarta. Masjid yang tadinya kurang representatif–karena ukurannya kecil, kumuh, dan gelap–dibangun dengan gaya arsitektur yang sama dengan bangunan lainnya: Simpel dan penuh makna.

Tak ada kubah di sana. Sebagai gantinya, Aang menyematkan menara di sana yang sepintas mengingatkan saya pada bentuk layar kapal.

Di kanan masjid terdapat kolam yang menyebabkan masjid ini terasa sangat sejuk

Teater yang Masih Bertahan

Selain bangunan-bangunan yang direvitalisasi, ada sebuah bangunan lagi yang tidak mengalami perombakan karena belum lama didirikan. Bangunan tersebut adalah Gedung Teater Jakarta.

Di gedung yang bentuknya terinsipirasi dari Tongkonan, rumah khas Toraja ini, terdapat dua buah teater yakni Teater Besar dan Teater Kecil.

Teater besar dapat memuat 1200 penonton. Tempat ini dilengkapi dengan panggung besar, lengkap dengan ruang VIP, ruang rias, ruang ganti, ruang tiket, dan lobi. Menurut informasi dari pengelola gedung, biaya sewa teater besar untuk pertunjukan adalah Rp30 juta per hari.

Sementara teater kecil, hanya berkapasitas 240 orang. Teater kecil ini biasanya digunakan untuk pertunjukan skala kecil, seminar, dan pertunjukan musikalisasi puisi. Biaya sewanya jauh lebih murah, sekita Rp3 juta per hari.

Teater Besar TIM. Sumber: kompas.com

***

Kini, proyek Revitalisasi TIM sudah mencapai tahap 3. Gedung Panjang sudah selesai dibangun, kini sedang dalam proses pengerjaan finishing interior. Bangunan di sekitar planetarium sedang dibongkar, dan akan dibangun Graha Bakti Budaya dan Gallery Annex, tempat para seniman bisa memamerkan karyanya.

Rencananya, semua proyek ini akan rampung di Maret 2022, dan setelahnya, masyarakat umum dapat menikmati ikon baru Jakarta. Taman Ismail Marzuki yang jadi salah satu destinasi wisata, TIM Urban Tourism.

Saya jadi membayangkan jika tempat ini telah selesai dibangun. Benar-benar sebuah proyek besar yang bisa mewadahi kegiatan para seniman. Sebuah oase bagi saya, penikmat seni dan warga Jakarta yang bangga.

Mantan jurnalis dan editor di Kompas Gramedia Group. Travel writer yang sudah mendatangi 41 negara di dunia.

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!