Ke Rusia Saat Corona: Sepinya Red Square

Red Square Mosqow

Red Square adalah tempat wisata utama di Moscow, Rusia. Di area ini terdapat banyak destinasi wisata seperti St Basil Cathedral, Kremlin Mosque, Lenin Moseleum, Arbat Street, dan lain sebagainya.

Setiap harinya, Red Square ini dipenuhi oleh turis-turis yang ingin mengabadikan dirinya di depan National History yang berwarna merah serta St. Basil Cathedral, gereja dengan kubah warna warni mirip lolipop. Kebanyakan turis asal China, sehingga orang Moscow kerap menyebut Red Square ini sebagai “Shanghainya Moscow” karena yang terdengar di sini lebih banyak bahasa Cina ketimbang bahasa Rusia.

Namun saat saya tiba di sana, Red Square tak seperti biasanya. Hanya ada saya, kawan saya, dan beberapa gelintir orang. Menurut Mbak Susan, kawan baik kami yang juga seorang guide di Moscow, hal ini telah berlangsung sejak kota Wuhan di China terkena virus Corona dan semua negara membatasi kedatangan warga China ke daerahnya. Termasuk Rusia.

Sepinya Red Square juga dibarengi dengan ditutupnya semua tempat bersejarah di sekitarnya. Kremlin dan Lenin Moseleoum, dua tempat yang saya ingin datangi, tak buka. Hanya ada sepasang polisi di depan, yang langsung menyilangkan tangan di dadanya begitu kami mendekat ke sana. Closed, itu arti silangan tangan itu.

Bahkan GUM, mal bersejarah tepat di depan Red Square pun sangat sepi. Toko-toko masih buka, termasuk toko ice cream yang legendaris yang sempat kami cicipi. Tapi pengunjung yang datang amat sedikit.

Rupanya semalam, Mayor Moscow Sergei Sobyanin mengumumkan perintah untuk membatasi kerumunan massa di Moscow. Saat itu, telah 63 orang positif terinfeksi Covid-19 di Rusia. Karena perintah ini, sekolah mesti libur, begitupun tempat wisata. Orang-orang juga tak boleh berkumpul lagi dan semua kegiatan yang melibatkan banyak orang akan dihentikan.

Baca Juga: Ke Rusia Saat Corona: Welcome to Moscow


Moscow di Awal: Masih Normal

Kami menghabiskan total empat hari di Moscow. Dua hari di awal kedatangan, dan dua hari sebelum kami bisa terbang ke Jakarta setelah berjuang mendapatkan tiket pulang. Soal ini, bisa dibaca di TULISAN INI

Selama dua hari di awal, kehidupan di Moscow tak terlampau sepi. Orang-orang tetap berlalu lalang di mana-mana, subway tetap ramai, supermarket tetap penuh. Kalau saya tak baca berita, saya tak akan tahu kalau ada perintah dari Sergei Sobyanin untuk membatasi kerumunan massa. Semuanya biasa saja.

Tak ada satupun orang yang memakai masker. Tak ada petugas pembersih yang mengelap-lap dengan desinfketan seperti yang saya lihat di MRT Jakarta. Tak ada yang sibuk menyemprot tangannya dengan hand sanitizer seperti yang selalu saya lakukan.  Tak ada social distancing, tak ada upaya mengurangi sentuhan dengan permukaan seperti railing tangga, pintu subway dan sebagainya.

Semuanya tampak biasa saja. Kecuali di di tempat wisata.

Bersama Mbak Susan, kami juga masih bisa masuk ke Cathedral Mosque Moscow, masjid terbesar di Moscow yang punya museum Quran. Kami masih bisa makan di restoran di mal, makan di kantin di sebelah masjid, bahkan masih bisa hilir mudik ke sana-sini.


Di Akhir: Sepi Bak Kota Mati

Namun berbeda halnya ketika kami kembali ke sini, beberapa hari kemudian. Rupanya Vladimir Putin sudah mengeluarkan larangan tegas sebelumnya. Semua penerbangan ke Rusia ditutup, begitupun dengan jalur darat. Tak boleh ada wisatawan asing datang berkunjung lagi.

Uff….saya menarik napas panjang membaca berita ini. Kemarin di Muscat, tepat setelah saya mendarat ada berita kalau esok harinya Oman juga tertutup untuk wisatawan asing. Nyaris saya tidak bisa masuk. 

Aturan tegas dari Putin ini juga melarang penduduk di atas usia 65 tahun ke luar rumah, menutup beberapa rumah ibadah untuk kunjungan wisata, dan menutup beberapa restoran kecuali yang popular di kalangan wisatawan.

Rupanya, dalam waktu beberapa hari saja, jumlah penderita positif Covid-19 di Rusia  sudah mencapai 430 orang. Delapan kali lipat dari waktu kami datang seminggu yang lalu.

Alhasil, di dua hari terakhir kami di Rusia, kami merasakan Moscow yang berbeda. Jalanan sangat sepi, subway kosong melompong, supermarket tak ada orang.

Orang-orang yang berkeliaran juga mulai memakai masker. Toko-toko banyak yang tutup, bahkan Ismailov, pasar souvenir yang amat terkenal di Rusia, juga sepi. Hanya ada beberapa penjual yang berjualan, termasuk pedagang sate asal Tajikistan yang menceritakan kalau hanya kami yang makan satenya hari itu.

IMG_20200324_151445-01
Stasiun aja sepi begini
penjual sate Ismailov
Satu-satunya penjual sate yang buka di Ismailov

 

 

Author: rahma ahmad

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis dan editor di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

7 thoughts

  1. anugerah juga mbaak…bisa menyaksikan Rusia yang sepi….mungkin gak akan ada lagi nanti kesempatan tuk menyaksikan rusia yang sepii…he he he he

    Like

  2. Beneer….kapan lagi bisa foto nungging gegayaan tanpa ada orang bolak balik di belakang. Apalagi tau sendiri kalau ada turis china, susaaah fotonya

    Like

  3. Wah pengalaman sekali seumur hidup nih kayanya bisa ngalamin momen kaya gini. Hebat juga ya bisa pada patuh gitu sampe langsung sepi. Tapi GUMnya masih tetap buka ya, jadi masih bisa nyicipin eskrimnya hehehe.

    Like

Leave a Reply to Ikhwan Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s