Solo Travelling ke Uzbekistan: Cinta dalam Sepotong Roti dan Segelas Ceri

Saya tinggal di Art Hostel di tengah kota Tashkent. Banyak solo traveler di sana, salah satunya adalah traveler dari Jepang yang bekerja untuk proyek pemerintah Jepang di Tajikistan. Dia akan menuju Chorsu Bazaar dan menawarkan saya untuk ikut bersamanya. Saya, yang doyan melihat pasar, tentu tak melewatkan ajakannya.

Chorsu Bazaar adalah pasar tradisional terbesar di Tashkent. Pasar ini adalah hasil restorasi pasar tradisional sebelumnya yang telah berdiri sejak abad 15-an; pasar tradisional terbesar di Uzbekistan dan juga di Asia Tengah.

Konon, nama Chorsu diambil dari bahasa Persia yang berarti four source alias empat sumber. Nama ini disematkan karena pasar ini terletak di tengah-tengah 4 persimpangan jalan. Dan layaknya pasar di negara-negara Islam, Chorsu Bazaar didirikan di dekat pusat ibadah (Juma Mosque) dan pusat pengetahuan (Kulkedash Madrasah).

Baca Juga: Solo Travelling To Uzbekistan: Its Fifteen or Fifty?


Chorsu Bazaar ini amat besar. Saya tidak berhasil mendapat data seberapa besar pasar ini, namun melihat lamanya saya berkeliling dan seringnya saya tersasar, saya yakin pasar ini sama besarnya dengan pasar Tanah abang.

Saya dan kawan berkeling. Acak, karena kami bingung begitu banyaknya section di sini. Chorsu Bazaar memang terbagi menjadi beberapa section, ada section buah-buahan, bumbu dapur, keju, makanan kaleng, daging, baju, keramik, dan sebagainya.

Akhirnya kami memulainya dari area buah-buahan, tempat berbagai buah-buahan segar dijajakan. Uzbekistan memang termasuk negara Asia Tengah yang kaya dengan hasil buah-buahannya. Salah satu buah yang banyak dijumpai di sini adalah ceri.

2019_0615_23515300-01 (1)
Ini keju lho. Dan lagi-lagi, saya disuruh mencicipi keju ini gratis. Tapi saya tolak, soalnya rasanya asin banget!

Ceri adalah salah satu komoditas unggulan di Uzbekistan.  Setiap tahunnya, Uzbekistan memproduksi lebih dari 100 ribu ton ceri dan 30 persennya diekspor ke berbagai negara di dunia, menjadikan negara ini termasuk ke dalam 10 negara penghasil ceri terbanyak di dunia.

Dengan mudah, ceri ditemukan di pasar-pasar tradisional. Bahkan di salah satu pasar di Khiva yang saya kunjungi, ceri dibeli masyarakat dalam wadah-wadah ember besar. Penjual jus ceri juga bertebaran di mana-mana, termasuk di Chorsu.

DSCF8865-01

Try, try this,” kata ibu-ibu penjual jus ceri ketika saya melihat jualannya dengan penasaran. Jus berwarna merah pekat diletakkan di atas meja kecil rendah dari dus. Di sebelahnya, tampak tumpukan buah ceri yang ranum menggiurkan.

Dia memberi saya segelas jus ceri di gelas plastik kecil. Saya langsung minum sampai habis. Melihat saya kehausan, dia menuangkan lagi segelas. Langsung habis juga.

How much?” saya menyodorkan uang 10.000 som kepadanya. Namun dia malah mengembalikan uang saya. “No. Free…free,” katanya sambil melambaikan tangannya tanda menolak.

Baca Juga: Solo Backpacking ke Georgia: Antara Diwan Hotel, Indomie, dan Pasta Italia


Setelah melewati area bumbu-bumbuan dengan aroma yang sangat khas,  saya dan kawan Jepang saya mengunjungi area roti. Di sini roti memang jadi makanan utama. Lepeshka, begitu sebutannya. Atau “non” dalam bahasa lokal. Berbentuk bulat, tebal di pinggir dan tipis di tengah.  

DSCF8882-01

Lapeshka sudah ada dari zaman dulu. Menurut tradisi Uzbekistan, ketika seseorang meninggalkan rumahnya untuk waktu lama, dia harus menggigit sepotong lapeshka. Potongan roti itu mesti disimpan dan kemudian baru dimakan setelah ia kembali ke rumah.

Di Chorsu, ada section khusus Lapeshka ini. Di pintu masuknya ada dapur besar tempat memanggang roti. Roti hangat yang baru keluar dari oven langsung dijual di sana.

Saya naksir berat dengan roti ini. Saya mendekat ke salah satu penjual, menunjuk salah satu roti yang terlihat paling kecil ukurannya. Ia memberikannya ke saya, tersenyum dan lalu berkata, “take…take..”

Saya menggeleng menolak, tapi si penjual memaksa. “Gift…gift,” katanya.

Ah, lagi-lagi saya dapat “cinta” dari Uzbek, kali ini di sepotong roti.

 

Author: rahma ahmad

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

18 thoughts

  1. Takjub liat ceri sebaskom. Aku makan buah ini paling banter kalo ada yang ulang tahun hahaha itupun hasil nyomot di kuenya.

    Terharu aku pas si pedagang jus gak mau dibayar. Baik banget 🙂

    Like

  2. Kemaren baru aja ngomongin Uzbek, eh nongol tulisannya. Itu buah cherry banyak banget ya. Liatnya jadi ngiler.
    Btw mbak, gaya tulisannya bagus deh. Aku suka 🙂

    Like

  3. Wah baik banget ya mbak penjual-penjual di sana, ramah sekali kepada pengunjung, bahkan diberikan gift cuma-cuma 🙂 sesuatu yang jarang saya lihat kalau traveling kemana-mana.

    Like

  4. Roti dan ceri aiiiiihhhh perpaduan yang romantis apalagi gratis 😀 Hahahaha… Beneran deh aku melihat fotonya aja kepengen gigit rotinya sekarang. Di sana penduduknya apa seperti di negara kita ya friendly gitu kepada tiap orang? Oh jadi Uzbekistan itu penghasil ceri yang ekspor ke mana2? Hebat sekali 🙂

    Like

    1. Karena ini pecahan rusia, muka mereka rada jarang senyum. Ga kayak Iran atau Indonesia yg tiap ketemu org senyum. Tapi mrk baik dan selalau nyapa kalau ketemu org.

      Like

  5. Lapeshka itu unik banget bentuknya
    Btw itu klo bepergian lama gigit sepotong lalu potongannya disimpan trus dihabiskan nanti saat kembali
    Opo ndak jamuran ya? hehehe

    Btw mereka ramah-ramah ya ke pendatang
    Salut aku

    Like

    1. Hooh, itu keju semua. Awalnya aku kira telor, pas dikasih mau aja. Eh taunya keju yang asiiiin dan aseem. Langsung auto nolak pas disuruh nyoba yg lain

      Like

  6. Kalau aku ke situ pasti pulang-pulang bakalan kenyang tanpa beli apapun, kok pedagangnya baik-baik banget sih ya ampun. Ngebayangin rasanya jus ceri kayak apa, karna buah ceri biasa aja rasanya agak sepet-sepet manis gitu.

    Like

  7. Aku tuh pengen banget ke Uzbekhistan. Haji umroh udah. Mosok iya engga ke tempatnya perawi hadis sih. Lihat temen-temen udah ke sana. Pengen gitu dikasih info kapan mau pada berangkat. Eh…engga dapet infonya aja. Hehe…Aku melipir aja ke blog ini deh. Cari info lengkapnya. Makasih ya sudah menuliskan…

    Like

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s