Perjalanan Tur ke Kazbegi yang Penuh Drama

Hari ketiga di Georgia, saya memutuskan untuk mengikuti tur ke Kazbegi, salah satu area wisata di Georgia. Saya mupeng ke sini setelah melihat foto kawan saya. Dia berdiri di salah satu bukit padang rumput luas, bagian belakangnya ada deretan pegunungan yang diselimuti salju. Indah. Seharusnya begitu, kalau saja perjalanan ke Kabegi saya tak dirusak oleh seseorang wanita cantik berwajah datar.

Kazbegi, sekarang bernama Stepantsminda, adalah salah satu wilayah di Georgia. Lokasinya sekitar 154km ke arah utara Tbilisi. Kira-kira sejauh perjalanan dari Jakarta ke Bandung via tol Cipularang.

Tempat ini menjadi terkenal karena lansekapnya yang indah, terutama di musim dingin. Walaupun saya datang di musim panas, semua orang yang saya temui di sepanjang perjalanan menuju Georgia tetap menganjurkan saya untuk paling tidak menghabiskan waktu sehari di Kazbegi.

Kazebgi bukan hanya punya lansekap indah. Ia juga punya beberapa destinasi wisata. Ada Trinity Church, gereja Kristen Ortodok cantik di atas puncak bukit.  Foto gereja ini seakan jadi ikon wisata Georgia. Ia dipajang di mana-mana, di postacard, di brosur wisata, dan juga di dinding bandara.

Kazbegi juga dekat dengan Gaudari, area ski yang terkenal hingga ke Arab Saudi. Konon katanya, orang Arab memiilih berwisata musim dingin ke sini karena bujet yang mereka keluarkan lebih murah ketimbang mereka harus pergi ke Swiss.

Pantas saja, ketika saya sampai di Tbilisi Airport tiga hari lalu, saya dikepung rombongan dari Arab, sampai-sampai saya dikira orang Arab oleh penjaga toko simcard dan disapa dengan bahasa Arab.


Ditolak Lagi oleh Cewek Ukraina

Untuk menuju Kazbegi dari Tbilisi, bisa menggunakan angkutan marshutka, taksi minibus khas Rusia. Harganya hanya 10 gel (sekitar 45 ribu rupiah), dan bisa dinaiki dari Didube Metro Station. Tapi sayangnya, seperti angkot di Pasar Palmerah, marshutka ini baru akan jalan kalau penumpangnya sudah penuh. Hanya Tuhan dan si abang yang tahu kapan marshutka akan berangkat.

Alternaitf ini cuma cocok bagi traveler yang tak masalah soal waktu ataupun traveler yang akan menginap di Kazbegi.

Karena saya hanya punya waktu sedikit dan tak berencana menginap di Kazbegi, saya memutuskan untuk ikut one day trip dari travel yang direkomendasikan oleh salah satu pegawai hostel Diwan yang saya inapi. Harga turnya 54 lari atau sekitar 250rb rupiah.

Hal yang saya sesali karena ternyata kantornya jauh dari hostel dan pagi-pagi saya mesti jalan kaki sekitar 3km, karena titik kumpulnya harus di kantor itu. Padahal nantinya, saya akan bergabung dan menjemput beberapa peserta lain di agen tur yang letaknya lebih dekat dengan hostel saya. Nasib.

Rombongan saya terdiri dari banyak orang dari berbagai bangsa. Ada pasangan dari Iran, pasangan dari Israel, pasangan gay dari Perancis, pasangan suami istri dari Inggris, pasangan dari Arab dan pasangan baru dari India. Ada juga female solo traveler yang cantik dari Ukraina dan dari Rusia. Ada juga male solo traveler dari Jordan. Dan saya tentunya. Empat belas  orang jumlahnya.

Karena sendirian, saya berusaha mengakrabkan diri dengan si cewek cantik Ukraina itu. Cewek yang bisa 4 bahasa karena pernah tinggal dan bekerja di Dubai dan Jerman. Namun, seperti halnya saya ditolak di hostel di Azerbaijan, lagi-lagi saya ditolak cewek Ukraina. Keramahan saya dibalas dengan tatapan cuek, pertanyaan saya dijawab seperlunya saja. Dia lebih suka ngobrol dengan yang lain. Oke, fine…

Untunglah ada Khaleed, si cowok botak cerewet dan kritis asal Jordan. Dia lah yang jadi partner dan fotografer saya selama tur itu.

Yee…dapet juga kaaan mbak.

Baca Juga: Solo Backpakcing ke Azerbaijan: Ditolak Cewek Ukraina di Penginapan


Dari Bendungan ke Benteng

Minibus saya berangkat sekitar jam 9, dan langsung menuju arah Kazbegi. Saya yang ngantuk berat karena semalam tak tidur nyenyak, tertidur di separuh perjalanan dan baru terbangun saat si guide yang saya lupa namanya mengatakan kami sudah sampai di Zhinvali Reservoir, sebuah bendungan yang dibangun di zaman Uni Soviet.

Ia tak menjelaskan lebih lanjut tentang bendungan ini,  namun dari tempat saya berdiri telah terbentang pemandangan danau buatan berwarna biru kehijauan dengan latar belakang pegunungan. Bagus, tapi tak luar biasa.

DSCF8585JPG
Zhinvali Reservoir

Tujuan selanjutnya adalah Annauri Fortress, sebuah benteng kuno yang dibangun pada abad ke-13.  Di dalamnya terdapat dua buah gereja kristen Ortodok. Saya tak terlalu tertarik dengan gereja ini, karena seharian kemarin saya sudah masuk ke beberapa gereja Ortodok di Tbilisi. Lagipula, bagi saya, interior gereja Ortodok rada membosankan, hanya didominasi warna cokelat tanpa ornamen mencolok; tak seperti gereja Katolik yang penuh warna dan ornamen indah.

Bagi saya, bagian luarnya lebih menarik karena di belakangnya ada reruntuhan bangunan berlatar belakang Zhinavali Reservoir yang sebelumnya kami kunjungi.

Perjalanan ke Kazbegi
Annauri Fortress
DSCF8621JPG
Salah satu sudut Annauri Fortress

Baca Juga: Solo Backpacking ke Georgia: Rekomendasi Rute di Old Town Tbilisi


Begitu masuk minibus, saya mencoba tidur lagi, tapi tak bisa lelap karena di bangku belakang si cowok Jordan sibuk berbicara keras dengan pasangan Israel mengenai kesamaan makanan Israel dan Jordania. Di bangku depan, si cewek Ukraina cekikikan bersama partner barunya yang ternyata berasal dari Rusia.

Sementara si guide malah sibuk berbicara dengan pasangan Prancis, memamerkan bahasa Prancisnya yang lumayan oke. Untunglah kemudian ia sadar diri, dan mengganti percakapannya dengan bahasa Inggris yang dimengerti semua orang.

Sayup-sayup, saya mendengar ia menyebutkan kalau kami sedang melewati Georgian Militery Highway, jalan utama yang menghubungkan Georgia dengan Vladikavkaz di Rusia. Konon katanya, di zaman dulu rute ini adalah rute para pedagang jalur silk road yang membawa barang dagangannya dari China menuju Russia. Namun jalan aspal  yang sekarang ini dibuat oleh para tentara Rusia di tahun 1799, itu sebabnya jalan ini berembel-embel “military” di namanya. Katanya lagi, ini termasuk salah satu highway terindah di dunia.

Saya melihat ke arah jalan. Memang benar, jalan yang dibuat mengitari pegunungan Kaukasus ini indah. Di kanan kirinya bisa dilihat pegunungan bersalju membentang. Saya datang di bulan Juni, dan masih turun hujan salju. Di musim dingin, salju di sini sangat lebat, sehingga di beberapa tempat dibuat terowongan guna menghindari longsoran salju.


Terlambat Satu Jam karena Parasailing

Perjalanan dilanjutkan ke Russia-Georgia Friendship Monument. Seperti namanya, monumen setengah lingkaran ini  adalah monumen persaudaraan antara Rusia dan Georgia. Saya tak terlalu tertarik dengan penjelasan guide soal monumen ini, karena mata saya tertuju pada vista di belakang monumen ini. Sebuah lapangan rumput besar, dengan deretan lembah gunung di belakangnya. Ujung gunung tersebut masih diselimuti salju. Indah. Saya membayangkan, apa jadinya kalau saljunya lebih banyak. Pasti luar biasa.

DSCF8724JPG

IMG_20190612_170413-01

Guide memberi kami waktu tiga puluh menit untuk menikmati pemandangan ini. Saya dan sembilan peserta lainnya patuh dengan perintah ini. Kami sudah ada di dalam minibus tepat di waktu yang ditentukan. Tapi satu orang lagi, si cewek Ukraina, tak ada di tempat. Tak ada yang tau ia ke mana, termasuk kawan barunya itu. Ternyata, ia naik parasailing yang memang merupakan atraksi favorit di sana.

Ia baru datang setengah jam kemudian, dan dengan muka tanpa merasa bersalah, ia mengatakan kalau antriannya penuh dan ia akhirnya tak jadi naik parasailing itu.

Lah sejam tadi ngapain aja, Neng?

Omelan terdengar di seluruh minubus. Semua penumpang protes karena ini berarti kami akan terlambat setengah jam di Kazbegi, tujuan utama kami hari itu.  Semuanya khawatir hujan akan turun di sana, karena di kejauhan, awan hitam tebal sudah terlihat menggelantung.

Tapi si muka datar cuek saja, tak menggubris omelan semua orang dan malah asyik memamerkan foto-fotonya ke kawan barunya.

Pengen saya colek rasanya. Pake sambel campur bon cabe level 10.


Hampir Terjebak Badai

Begitu sampai di Kazbegi, langit semakin gelap. Tapi berhubung kami sudah membayar uang tambahan untuk naik ke Trinity Church, kami tetap naik. Oya, untuk naik ke Trinty Church ini, kami haru berganti mobil. Minibus yang kami naiki tak bisa menanjak hingga ke puncak gunung.

Dan tahukah kalian, si cewek Ukraina ini tak ikutan naik karena ia akan dijemput oleh pemilik penginapan di situ. Yaa, dia dan satu orang lainnya ternyata menginap di Kazbegi , saudara-saudara. Dia baru akan naik besok, bersama guide dari hotelnya.

Kami semua memandangnya dengan tatapan sebal dan menusuk kalbu, lalu masuk ke mobil jeep yang akan membawa kami ke puncak gunung, tempat gereja Trinity berada. Mobil kecil ini hanya berisi lima orang: guide kami, saya, cowo Jordan itu, dan pasangan  gay dari Perancis. Peserta lain ada di mobil satunya.

Di dalam mobil tentu semua menumpahkan kekesalan kepada si guide yang masih berusaha bersikap baik dengan membela cewek itu.  Saya tak ikut marah-marah, selain susah ngomel pakai bahasa Inggris, saya lebih khawatir pada awan hitam di langit yang makin tebal saja.

Benar saja, begitu sampai di atas, hujan turun. Si guide langsung menyuruh kami  berlari mengambil kain pinjaman sebelum masuk ke dalam gereja. Ya, sama seperti masuk ke dalam masjid, untuk masuk ke gereja ortodok ini peraturannya amat ketat. Tak boleh memakai celana pendek, tak boleh memakai celana ketat apalagi rok mini. Hanya saya yang aman, tak perlu memakai kain tambahan.

Kami tak terlalu lama di dalam gereja, karena pemilik mobil meminta kami segera ke parkiran mobil, dan kembali menuju ke bawah. Ia takut badai besar menghadang dan kami tak bisa turun. Ya, begitu saya keluar dari gereja, angin kencang menerpa. Saya harus lari turun menuju parkiran (yang letaknya kurang lebih 100m) dengan melawan terpaan angin kencang dan hujan deras. Saya, yang paling kecil di antara yang lain, tertinggal di belakang, hingga akhirnya salah satu cowok Prancis itu kembali dan menarik tangan saya supaya saya tak terbang bersama angin.

Uhh, romantis kan. Andai bukan gay.

25 Gergeti Trinity church
Seharusnya, kalau ga ujan badai, pemandangan seperti ini yang akan saya dapati. Foto ambil di internet.

 

 

Author: rahma ahmad

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis dan editor di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

2 thoughts

  1. Cakep banget tampak luar Trinity Church, mbak. Itu gunung di belakangnya nggak terlalu jauh letaknya ya?
    Nggak diceritakan ornamen di dalamnya, mbak? Apakah sama dengan gereja Ortodok lainnya juga?

    Like

    1. Diceritain sebenernya, cuma karena di luar udah badai jadi buru-buru turun. Secara kesuluruhan mirip dengan gereja Ortodok lainnya, cuma ada beberapa ornamen detail yang beda. Misalnya ada lukisan Santa (aku lupa namanya) yang ga ada di gereja lain. Dan gerejanya ga terlalu besar, jadi ga terlalu menarik buatku. Lebih cakep luarnya sebenernya.

      Liked by 1 person

Kalau ada pertanyaan atau tanggapan, silakan komen di bawah ini yaa...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s