Bahagia Bersama AirAsia: Birthday Trip ke Luang Prabang

Di hari ulang tahun, saya menghadiahi diri saya sebuah tiket menuju salah satu kota kecil di Laos: Luang Prabang. 

Sebuah postcard bergambar sebuah kuil keemasan mampir ke meja saya. Di baliknya ada tulisan: “Ayo ke Luang Prabang, lo pasti suka.”

Gambar itu merasuk ke otak kecil saya, namun entah kenapa, sudah dua tahun sejak postcard itu tiba, saya belum juga sempat ke sana.

Beberapa hari sebelum bulan Juli, saya iseng mengecek aplikasi Airasia Big di hape saya. Di situ ada gambar yang sama dengan postcard yang saya terima. Di bawahnya ada tulisan: Final Call Airasia.

Saya kegirangan dan langsung menepi, turun dari bus transjakarta dan mencari tempat yang enak untuk membuka aplikasi Airasia dan Airasia Big. Dua aplikasi yang sudah lama ada di handphone saya dan menjadi salah satu aplikasi andalan saya.

Final Call adalah salah satu promo dari Airasia untuk para member BIG. Biasanya, promo dibuka untuk penerbangan dalam waktu seminggu hingga dua bulan ke depan.

Kebetulan, bulan Juli adalah ulang tahun saya, dan di setiap ulang tahun, saya menghadiahi diri saya sebuah perjalanan solo ke tempat-tempat impian saya. Luang Prabang adalah salah satunya, makanya ketika ada final call ke sana, saya bersorak gembira.

IMG-20191217-WA0005-01.jpeg

Harga final call dari Bangkok ke Luang Prabang pulang pergi hanya 6.000 poin big. Plus pajak 350 ribu rupiah, saya sudah bisa mampir ke salah satu kota kecil di Laos yang jadi warisan dunia versi UNESCO ini.

A sweet gift from me to me…


Kota kecil di utara Laos ini sudah terbayang-bayang. Tak sabar untuk menuju ke sana dan menyesap secangkir kopi di cafe ala Perancis yang bertebaran di sana. Ya, karena Luang Prabang pernah dijajah Perancis, kota ini amat kental dengan budaya Perancis.

Namun karena penerbangan ke Luang Prabang berangkat dari Bangkok, saya mesti mencari tiket ke sana lebih dulu. Mestakung, lagi-lagi semesta mendukung. Ada promo 20 % diskon untuk penerbangan internasional dari Jakarta. Tapi sih, kalaupun tak promo, tiket Airasia ke Bangkok juga tak terlampau mahal. Masih masuk bujet saya yang tak terlampau banyak.

Tak ada kesulitan saat saya membeli tiket. Semuanya bisa saya lakukan di aplikasi  dan website Airasia. Saya pribadi lebih suka pakai aplikasi karena saya lebih sering menggunakan handphone saya ketimbang laptop. Pilihan pembayarannya pun banyak, tapi demi mendapat poin kartu kredit yang nantinya akan saya tukarkan lagi dengan poin Airasia Big, saya memilih opsi pembayaran menggunakan kartu kredit.

Modis, alias modal diskon.

Pun saat check in di bandara Don Mueang, Bangkok. Saya terbiasa melakukan check-in online sehari sebelum keberangkatan, sehingga saya tak perlu lagi antri panjang di konter check-in. Kebetulan, kali ini saya tak membeli bagasi karena saya hanya membawa keril mungil oranye saya, sehingga saya tak perlu mendrop bagasi saya. Langsung cuss ke area keberangkatan.

Check in online ini bisa dilakukan mulai dari 14 hari hingga 4 jam sebelum keberangkatan. Ada beberapa cara untuk check in online. Pertama, lewat web airasia.com. Kedua, lewat aplikasi seperti yang saya lakukan. Ketiga, lewat konter check in yang tersedia di beberapa bandara.

Sebenarnya, kalau menggunakan aplikasi, saya tak perlu mencetak boarding pass. Cukup tunjukkan e-boarding pass kepada petugas. Namun, saya masih terpaku pada tradisi lama: tak enak rasanya kalau tak memegang kertas boarding pass. Alhasil, sampai di bandara Don Mueang, saya mencetak lagi boarding pass saya di mesin self check in yang tersebar di mana-mana. Kuno, ya?


Di gate, saya mendapat kejutan kecil: ucapan selamat ulang tahun dari petugas Airasia di gate yang lumayan ganteng. Dia ternyata sempat melirik tanggal lahir saya di paspor.  “Happy sweet birthday, miss. Have a fun birthday journey in Luang Prabang,” katanya lantang. Beberapa penumpang yang berdiri di belakang saya jadi ikutan memberikan ucapan selamat kepada saya.

Walaupun cuma sebatas kata-kata, saya jadi berseri-seri karenanya. Untung si petugas tak menyebutkan berapa umur saya 😀


Pesawat airbus A-320 yang saya tumpangi mendarat dengan selamat di Luang Prabang International Airport. Sempat terjadi guncangan dan turbulance selama penerbangan, namun tulisan Kapten Lim di majalah Travel3Sixty menenangkan saya. Menurutnya, turbulance itu hal biasa di penerbangan, seperti naik roller coster saja. Tak perlu khawatir.

Saya memang penggemar tulisan Kapten ini. Setiap naik pesawat Airasia dan membaca majalahnya, yang saya cari pertama kali adalah kolom Pilot Persepective. Informasinya banyak, dan bikin saya melek soal segala hal yang ada di pesawat.

images (32).jpeg
Majalah Travel3Sixty yang selalu saya baca ketika di pesawat

Bandara Luang Prabang International Airport ternyata amat kecil dan minim informasi. Saya bingung, mesti naik apa ke dari airport Luang Prabang ke penginapan saya yang ada di tengah kota.

Untung, di pesawat saya sempat berkenalan dengan seorang backpacker asal Kolombia. Dia yang kemudian mengajak saya mencari angkutan ke kota.

Ternyata tak susah. Begitu keluar dari pintu kedatangan, di pojok kanan akan ada counter taksi resmi. Tinggal beli tiket di sana. Untuk mencapai kota yang jaraknya kurang lebih 4km saja dari sini, biaya yang harus dikeluarkan sekitar 7USD. Biaya ini untuk sekali antar pertiga orang ke satu tujuan. Jadi kalau jalan sendiri, biayanya segitu. Kalau berdua, ya segitu juga, asalkan tujuannya sama. Karena itu, saya dan kawan baru saya itu memutuskan untuk bergabung saja dan berhenti di hotel saya. Dari situ, saya ia tinggal jalan kaki ke hotelnya.

Untung dia mau ngalah 😀

Hotel saya ini lokasinya di pinggir sungai Mekong. Kepunyaan pria berkebangsaan Prancis yang telah belasan tahun tinggal di Luang Prabang bersama keluarganya. Begitu tahu hari itu saya berulang tahun, ia memberi saya hadiah: sepiring mango sticky rice dan segelas jus kelapa di restoran miliknya.

Yeay, rezeki anak solehah!

DSCF8019.JPG


Mango sticky rice itu saya habiskan dengan lahap. Padahal, tadi di pesawat Airasia, saya sudah makan Nasi Lemak Pak Nasser. Saya sengaja memesan ini karena saya penggemar berat Santan Menu Airasia. Semua makanan rasanya sudah saya coba (Baca Juga: Review Makanan di Airasia) .

images (20).jpeg
Nasi Lemak Pak Nasser Favorit

Untuk penerbangan dengan kode AK seperti yang saya gunakan ke Luang Prabang, pilihan menunya lumayan bervariasi. Ada Uncle Chin’s Chicken Rice, ada Pad Thai with Egg Wrap, dan sebagainya. Tapi favorit saya tetap:  Nasi Lemak Pak Nasser.

Saya selalu pre-book menu Santan di Airasia karena nasi lemak ini jadi favorit semua orang. Kalau saya tak order sebelumnya, dan beli langsung di atas pesawat, dipastikan saya tak akan dapat nasi ini. Lagi pula, harganya lebih murah sekitar 44 persen ketimbang beli langsung di atas pesawat. Dan dapat air putih gratis pula!

Screenshot_2019-12-16_213743.jpg
Cara add-ons Santan Menu di aplikasi airasia

Cara order makanannya tak susah. Bisa adds-on order saat membeli tiket pesawat. Atau kalau lupa, bisa menyusul setelahnya atau saat check-in online. Tinggal buka manage my booking, lalu add-ons dan pilih menu makanan di sana. Mudah!


Luang Prabang benar-benar lebih dari ekspektasi saya. Saya sedikit menyesal karena cuma menghabiskan waktu tiga hari di sini. Padahal, banyak hal menarik yang saya temukan di sini. Mulai dari arsitekturnya, pasar malamnya, hingga tradisi almgiving yang terkenal di mana-mana.

Arsitektur Luang Prabang merupakan paduan dari budaya Perancis dan IndoChina. Di mana-mana bisa saya tamui pagoda-pagoda beratap emas, bangunan-bangunan kayu jati yang penuh ukiran khas Laos, serta vila-vila mewah bergaya Eropa yang dibangun saat Laos masih berada di bawah kekuasaan Perancis.

Betah saya berlama-lama di sana.

DSCF7529-01

DSCF7679-02.jpeg

DSCF7999-01.jpeg

Selain arsitekturnya, yang paling saya tunggu adalah Alm giving, tradisi turun temurun yang dilakukan penduduk lokal untuk memberi sedekah kepada para biksu yang ada di sana. Pagi-pagi, para biksu berbaju oranye ini akan keluar dari wat (kuil)nya, berjalan melewati jalan-jalan di Luang Prabang, dan kemudian kembali ke kuilnya untuk makan bersama. Karena kuil di sini jumlahnya puluhan, biksu yang keluar jumlahnya cukup banyak sehingga menjadi daya tarik utama di tempat ini. Luar biasa.

DSCF7932-01.jpeg

Ulang tahun kali ini benar-benar istimewa.

Bahagia bersama AirAsia.

Author: rahma ahmad

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis dan editor di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

2 thoughts

  1. Ngeliat salah satu foto aku kepikiran, “wah ini Luang Prabang kok ya kayak Havana!”
    Hahaha. Cakeeep!

    Semoga bisa kesempatan ke sana juga aku. Sekalian khatamin ASEAN yang masih sisa… BANYAK hwhwhw

    Like

Kalau ada pertanyaan atau tanggapan, silakan komen di bawah ini yaa...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s