Imigrasi Oh Imigrasi

IMG_20190613_164856.jpg

Kalau urusan visa udah beres, yang paling bikin deg-degan adalah urusan imigrasi. Karena merekalah garda depan yang menentukan seseorang bisa masuk atau nggak ke sebuah negara.

Di perjalanan sebulan kemaren saya ketemu dengan 5 negara dengan imigrasi yang berbeda. Imigrasi Oman, Turki, Azerbaijan, Georgia, dan Uzbekistan.

Baca Juga: Transit 19 Jam di Muscat Oman: Menikmati Free Hotel dari Oman Air

Imigrasi Georgia yang paling galak. Cewe, pirang.

“What visa did you have in your new passport?” Paspor lama emang selalu saya sertakan, dicekrek di paspor baru.

Karena pertanyaannya begitu (pake past tense), saya bilang “Egypt”. Lah bener di paspor baru saya cuma ada visa Mesir.

Eh dia malah jawab, “I really dont care about Egypt. Do you have schengen visa?”

“Not valid, Mam. Its expired,” kata saya. Visa schengen saya abis masa berlakunya setahun lalu mengikuti masa habisnya paspor saya. Kalau punya visa schengen valid, masuk ke Goergia emang nggak perlu visa lagi.

“If you dont have any valid schengen visa, why you don’t give me your e-visa.” Katanya dengan muka datar. Khas Rusia.

“Its in your hand, Mam.”  Kata saya sambil nunjuk kertas putih di meja, di deket tangan dia.

Huff….padahal itu kertas e-visa dah saya kasiin dari tadi, barengan paspor. Dah sempet dia pegang pula. Tapi sabaar dah, daripada ga dikasih masuk.


Imigrasi Azerbaijan dan Uzbekistan biasa aja. Ga ada kejadian luar biasa. Ngasih paspor, e-visa, tanpa ditanya macem-macem, langsung dicap.

Namun di Uzbekistan, ada peraturan khusus. Walaupun bebas visa, saat keluar negara Uzbekistan, harus menyerahkan registration card alias bukti kalau kita benar menginap di hotel. Tiap hotel akan memberi semacam kartu kecil berstamp, berisi nama dan tanggal kita menginap.

Saya udah siapkan ini semua. Di dompet kecil dari Qatar yang selalu saya bawa, sambil setengah lari karena saya check in di akhir waktu. Tapi ternyata, petugas imigrasi tak bertanya sama sekali.  Langsung mencap paspor saya dengan stamp “keluar”.


Imigrasi paling baik di Turki. Mas-mas, ganteng.

“You made a mistake in your visa. Look this.” kata dia sambil senyum.

Saya lirik kertas E-Visa saya. Ternyata, kebalik antara surname dan name. Pasti karena buru-buru pas isi. Maklum, persiapan saya kali ini mepet, cuma sebulan lebih dikit.

Baca Juga: Begini Cara Membuat E-Visa Turki

Jantung langsung deg-degan ga karuan, jangan sampe gara-gara kebalik saya jadi ga bisa masuk. Tapi karena dia udah senyum manis, saya balik senyum manis aja. “Ops, my mistake. Indonesian never has surname, its confusing.”

Alesan.

Dia lapor ke atasannya. Tiga menit kemudian dia balik, senyum lagi, dan bilang, “Since your name is beautiful,  I let you in.”

Ya Allah…sempet-sempetnya dia ngegombal. 🙄🙄

***

PS: ini foto paspor baru saya. Tapi bukan berarti itu capnya udah sampe halaman 47 aja ya…di beberapa negara ngasih stempelnya emang di halaman belakang.

Advertisements

Author: rahma

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

44 thoughts

          1. Woogh, ternyata Singapura termasuk yg gak ramah ya? 😳
            Dari pengalaman beberapa kali dulu mungkin saya pas lagi hoki ya 😁

            Like

          2. Lumayan banyak orang IndonesiaInd kena random check dan akhirnya ga bisa masuk bahkan kena blacklist. Temenku yang dah bolak balik Amerika aja di situ ditolak 😬

            Like

  1. Masalah cap paspor ini aku suka kssel. Mbok ya urut halaman biar cantik. Hahaha. Padahal tau ga penting, yang penting bisa masuk ke negara tersebut dengan lantjar djaya

    Like

  2. Emang paling deg2 an tuh ngadapin imigrasi, kalau udah stempel di cetak cetok…rasanya tuh legaaaa luar biasa. Jadi paling berusaha pasrah dan gak panik. dan yang pasti melengkapi semua dokumen yang dimintakan. Pengalaman di Georgia bikn deg2 an kalau begitu yah, apalagi kalau nanyanya jutek. Hadeuhhhh

    Like

    1. Imigrasi negara-negara Rusia emang rada-rada deh. Aku kemaren transit doang di Moskow diperiksanya lama amat. Ditanyain segala macam, semua cap di paspor diliatin satu-satu. Untung lewatt…

      Like

  3. Memang betul ternyata, petugas imigrasi di Turlk itu ramah2. Mereka demen orang Indonesia, seperti yang aku rasakan ketika berkunjung ke sana Mei lalu 🙂 Ga ada yg ga ganteng kan orang Turki, bahkan supir bus pun keren2 hahah. Kita mesti sabar ya menghadapi para petugas imigrasi, mbak Rahmah.

    Like

  4. Aku sampai scroll bol-bal, namanya siapa Mbake yang beautiful. Hehe…soalnya blognya kaan Jilbab Backpacker. Duh, aku ngiri ama yang udah pernah ke Uzbekhistan. Pengen lihat arsitekturnya…

    Like

  5. Wah si mbak gimana tuh pas dibilangin e-visanya udah di tangan dia
    Kalau aku sih pasti kekei setengah mati
    Masih tetep datar ajakah wajahnya? hihihi

    Btw drama-drama imigrasi itu sesuatu ya
    Tapi seru juga, bisa jadi kenangan tersendiri

    Like

  6. Ahaha, bisa aje nih mas-mas Turki.
    Tapi memang terkadang itu lebih enak yang memeriksa adalah lawan jenis. Kalau cowok ya yang meriksa cewek dan begitu pula sebaliknya. Kayak ada “rasa”nya gitu lho kalau berbicara dengan lawan jenis 🙂

    Like

    1. Bener juga sih….kalau situasi memungkinkan saya milih petugas cowok karena biasanya lebih ramah dan ga jutek. Tapi kalau nasib ya udah…gimana lagi

      Like

  7. waaaah pasti ser jalan2nya dengan bumbu imigrasi yang dramanya seru gini. hihihi
    aku kalau antri di imigrasi suka kalau yg jaga loketnya “cowok”. soalnya kadang lebih ramah dr pd cewek yang seringnya jutek. wkwkwkwk
    sempet2nya yaaa di gobalin kak >.<

    Like

    1. Wwkwk, nyesel aku mbak, ga selipin nomer WA hahaha…
      Singapura emang rada-rada, temenku yang permanen resident di sana aja kena random check juga.

      Like

  8. “Since your name is beautifull, i let u in”, wkwk, auto ketawa pas baca ini. Sa ae mas, wkwk. Negara2 yg jadi jadi whistlist aku juga ni mbak, hihi. Semoga bisa nyusul keliling dunia kaya gini, aamiin..

    Like

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s