Fakta Unik Tumpeng dan Hubungan Indonesia-Amerika

DSCF9643.jpg

Tumpeng. Nasi yang dibentuk kerucut ini tak asing bagi kita, masyarakat Indonesia. Hampir di semua acara, mulai dari ulang tahun, peresmian gedung, kenduri, hingga acara seremoni penting lainnya, bisa ditemukan kuliner khas Jawa ini. Tapi tahu ga kalian, kalau sebenernya ada filosofi dan fakta unik soal tumpeng ini?

Tradisi membuat tumpeng pada perayaan hari besar telah ada saat zaman kerajaan Hindu. Lalu ketika Islam muncul di Indonesia, tradisi tumpeng ini masih diteruskan namun disesuaikan dengan nilai-nilai Islam. 

Dari mana nama tumpeng berasal? Ada beberapa pendapat mengenai asal usul nama tumpeng ini. Beberapa orang mengatakan bahwa tumpeng adalah akronim dari bahasa Jawa “Tumapaking panguripan. tumidak lempeng tumuju pangeran”, yang artinya “Berkiblatlah kepada pemikiran bahwa manusia itu harus hidup menuju jalan Tuhan.”

Ada lagi yang mengatakan kalau tumpeng ini singkatan dari falsafah “Yen Metu Kudu Mempeng” . Artinya kurang lebih “Saat keluar (rumah) harus sungguh-sungguh”.  Falsafah ini diajarkan oleh Sunan Kalijaga yang seringkali mengadopsi budaya setempat dengan mengasimilasikannya dengan budaya Islam.

Falsafah ini konon sejalan dengan surat Al Isra ayat 80 yang bunyinya sbb:  “Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”.  Surat ini menurut ahli tafsir merupakan doa Nabi Muhammad ketika hijrah ke Madinah. Maka, masyarakat saat itu percaya bahwa dengan menyajikan tumpeng, berarti ia sedang bersyukur sekaligus memohon pertolongan kepada Allah.

Bentuk Kerucut Ternyata ada Artinya

Menariknya, tumpeng selalu berbentuk kerucut.  Kalau dilihat secara logika, bentuk ini disebabkan masyarakat Indonesia dulunya selalu memasak nasi dengan menggunakan kukusan yang berbentuk kerucut, sehingga bentuk tumpeng pun mengikuti pola kukusan tersebut.

Namun ada yang berpendapat, bentuk ini memiliki filosofi khusus. Tumpeng memang sudah muncul sejak zaman dulu kala, sejak zaman kerajaan Hindu. Nah, ketika itu masyarakat Hindu menganggap Gunung Mahameru sebagai tempat suci, tempat bersemayamnya Dewa Dewi. Tumpeng, yang merupakan simbol wujud syukur dan persembahan kepada para Dewa, dibuat mengikuti bentuk Gunung Mahameru.

Ketika tumpeng diasimilasikan dengan nilai Islam, bentuk kerucut ini tidak lagi dianggap sebagai wujud Gunung Mahameru. Bentuk kerucut dengan satu nasi di puncaknya adalah simbol Allah yang Maha Esa, sementara nasi yang banyak di bagian bawah melambangkan banyaknya manusia yang penuh dosa.

Filosofi di Balik Lauk Pauk

Tumpeng tidak hanya terdiri nasi kuning, tapi juga aneka lauk pauk di sekililingnya. Setidaknya ada tujuh macam lauk harus sesuai dengan beberapa unsur. Seperti unsur dalam tanah (umbi-umbian). unsur hewan darat (ayam atau sapi), unsur hewan laut (ikan), dan unsur atas tanah (sayur mayur). Seiring berjalannya waktu, modifikasi tumpeng tak terelakkan. Pun demikian, unsur tersebut tetap dipenuhi.

Nah, pemotongan tumpeng pun ternyata ada cara khususnya. Ga bisa sembarangan. Ada 2 pendapat lagi mengenai hal ini. Yang pertama, tumpeng harus dipotong di pucuknya dan diberikan kepada orang yang paling dihormati atau disayangi. Cara kedua, adalah dengan mengeruk bagian bawah sehingga lama kelamaan, bagian puncaknya akan turun dan menyatu dengan dasar tumpeng.


Baru tahu soal filosofi tumpeng ini? Sama, saya juga. Cerita soal filosofi Tumpeng ini baru saya ketahui saat menghadiri perayaan hubungan 70 tahun antara Indonesia dan Amerika. Untuk menandai hubungan baik ini, dilakukan pemotongan tumpeng oleh Bu Irama Bidrianti (President Director of KemChicks). Potongan atas nasi tumpeng ini diberikan kepada Atase Pertanian dan Perdagangan kedutaan Amerika Serikat, Garrett McDonald.

DSCF9657 (1).jpg

DSCF9660.jpg
Salah satu cemilan yang dapat dinikmati pengunjung KemChic
DSCF9672.jpg
Chef Andy mendemonstrasikan keahilan memasak daging sapi Tomahak, yang sekilonya harganya bisa mencapai 500rb.

Dalam perayaan yang bertempat di KemChic Pasific Place itu, ada pula demo masak oleh Chef Andy Hartono, pemilik restoran yang juga merupakan kontestan Masterchef Indonesia. Hasil masakan Chef Andy ini, beserta tumpeng dan hidangan lainnya, bisa turut dicicipi oleh para pengunjung KemChic hari itu.

 

 

Advertisements

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s