Catatan dari Iran: Terpesona dengan Cahaya Masjid Nasir Al Mulk

Sebuah ruang yang diterangi dengan bias cahaya warna warni indah yang datang dari barisan kaca patri. Itulah gambaran Masjid Al Mulk, masjid yang membuat saya bersikeras untuk bertandang ke Iran.

Saya tahu gambar masjid itu dari Ehsan Rafizadeh, kawan saya asal Iran yang saya kenal sewaktu kuliah dulu. Ia mengirimkan saya postcard dengan gambar masjid ini saat tiba di negaranya, setelah tinggal di Jakarta dua tahun lamanya. Postcard-nya hilang, tapi keindahan masjid itu masih terekam jelas di otak saya.

Siapa sangka, bertahun-tahun kemudian, saya benar-benar bisa datang ke tempat yang selama ini hanya ada di postcard saya.


Bias Cahaya yang Memesona

Masjid Nasir Al Mulk ini dikenal juga dengan nama Pink Mosque karena interiornya menggunakan tile berwarna merah muda. Namun bukan pink tile itu yang membuat masjid ini terkenal, melainkan bias cahaya matahari yang masuk lewat kaca patri lah. Karena kaca patrinya berwarna, cahaya yang dibiaskan pun berwarna warni, cantik dan membuat orang rela berlama-lama di sana. Termasuk saya.

Masjid Nasir Al Mulk ini terletak tak jauh dari hotel Niayesh, hotel tempat saya tinggal di Shiraz, sehingga saya dan kawan saya tinggal berjalan kaki ke sana. Untunglah, karena kalau kesiangan, tempat ini akan penuh dengan orang banyak. Masjid ini memang jadi tujuan utama di Shiraz, makanya selalu penuh dengan orang.

Menurut info yang saya baca di internet, masjid sudah buka pukul 08.00, namun waktu terbaik untuk mengunjungi masjid ini adalah sekitar pukul 9 hingga 10 pagi. Saat itu, cahaya matahari tepat berada di sisi jendela, sehingga bayangan yang terbentuk jadi cantik dan sempurna seperti yang ada di foto-foto di majalah. Karena hotel saya letaknya dekat, tepat pukul 8.30 saya sudah ada di sana.

Rebutan Foto

Saya kira, saya yang pertama tiba di sana. Ternyata tidak. Banyak orang yang berpikiran dan melakukan hal yang sama dengan saya; semuanya berlomba jadi yang pertama.

Saking banyaknya orang, mengambil foto di sini jadi tak mudah. Orang berlalu lalang, yang juga ingin berfoto di sini. Jadi tiap-tiap orang harus sadar diri, tak boleh berlama-lama di satu spot foto supaya yang lain mendapat giliran juga.

Tapi yang namanya manusia, pasti tak ada puasnya. Salah satunya adalah pasangan dari Malaysia yang betah diam di satu spot berlama-lama. Padahal semua orang sudah berkali-kali berteriak minta mereka pindah, tapi mereka tetap cuek seakan masjid punya mereka berdua. Mereka baru mau pindah ketika saya ikutan teriak, “Mas, pindah Mas. Gantian dong!”

Hmmm…. saya nggak usah cerita panjang lebar soal masjid ini ya, cukup lihat saja foto-foto indah di bawah ini.

masjid al mulk Shiraz Iran
Kalau diamati lebih dekat, itu ada penampakan orang di ujung. Susah banget disuruh ngumpet.
masjid al mulk Iran
Bukan lagi doa, tapi gegayaan aja biar beda

Baca Juga: Catatan dari Iran: Saya Pakai Chador di Shiraz

Comments

  1. Hai Mbak Dita, maaf baru jawab
    1. Skrg ini penerbangan yg ada ke Iran cuma pesawat full servis kayak Manan Air, Qatar, dll. Dan harganya ya sekitar 5 juta sekali jalan kalau ga promo. Coba sering2 buka skyscanner aja nyari yang paling murah.

    2. Seperti yg aku tulis di blog, aku ngabisin dana 500 dolar di luar tiket selama 10 hari di sana. Tapi itu karena aku banyak nginep di rumah temen
    Kalau nggak nginep di rumah temen, mgkn bisa sekitar 700 dolar.

    3. Gugling aja ya mbak kalau soal ini. Biar lebih jelas. Takut salah jelasinnya.

    4. Enaknya pas musim semi atau gugur, bulan April-Mei atau bulan September-Nov. Jadi ga terlalu panas dan ga dingin juga.

    Semoga membantu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!