Catatan dari Iran: Saya Pakai Chador di Shiraz

Chador. Begitu orang-orang Iran menyebut jubah hitam yang mereka kenakan. Jubah yang menurut host saya di Shiraz hanya dipakai orang-orang yang sangat taat beragama. Jubah yang pernah membuat saya jengkel karena pemakainya sering semena-mena ketika berada di tanah suci.

Awalnya saya pikir, semua orang Iran harus mengenakan ini. Sebab, adik dan saudara perempuan kawan-kawan kuliah saya dulu rata-rata memakai ini, jubah hitam yang membalut sekujur tubuh hingga kaki. Walau di balik jubah itu, mereka memakai pakaian berwarna-warni.

Ternyata chador hanya dikenakan sebagian besar perempuan Iran. Dan saya harus memakainya ketika masuk ke Shah Cheragh, sebuah kompleks makam imam dan tempat peribadatan bagi penganut Syiah.

Baca Juga: Catatan dari Iran: Antara Niayesh Hotel dan Guide Presiden Soekarno


Shah Cherag memang tujuan wisata di Shiraz. Letaknya tak jauh dari hotel yang saya inapi, saya tinggal berjalan kaki selama 10 menit. Di pintu masuk, akan ada penjaga yang membedakan antara pengunjung dengan orang yang mau beribadah. Pengunjung seperti saya akan langsung ditemani oleh guide yang bisa berbahasa Inggris. Gratis, tanpa dipungut biaya sedikit pun.

Awalnya saya diguide oleh seorang bapak-bapak tua, tapi entah kenapa, dia menghilang setelah saya memakai chador. Ya, untuk masuk ke sini, semua wanita, termasuk pengunjung diharuskan memakai chador, walaupun bukan chador berwarna hitam polos. Chador yang disediakan berwarna warni dan bercorak. Saya memilih yang paling bersih karena beberapa chador sudah berbau dan agak kumal.

Saya dan kawan saya akhirnya berkeliling sendiri. Tak lama, ada penjaga wanita menghampiri kami. Dia memastikan apakah kami muslim dan setelah saya jawab ya, dia mempersilakan kami mengitari sendiri kompleks makam ini. Ternyata, bagi non muslim, ada area tertentu yang dilarang untuk dimasuki. Non muslim hanya bisa melihat dari luar saja, tak boleh masuk ke dalam makam dan tempat ibadah.

Saat akan masuk ke salah satu makam, teman saya berbisik sangat pelan, “eh, liat ke samping kanan lo. Itu guidenya ganteng deh.” Hal yang tak perlu dia lakukan karena walau dia bersuara keras pun, hanya kami yang mengerti percakapan ini.

IMG-20180411-WA0010
Susah ternyata pakai ini, mesti menjaga langkah agar tak tersandung ujung chador.

Saya melirik ke arah kanan. Betul, memang ganteng. Iran memang dikaruniai dengan mahkluk-makhluk ganteng, termasuk si guide, pria berkaca mata berambut cokelat yang saya lupa namanya. Dia sedang menjelaskan soal tempat ini ke empat turis Perancis di rombongannya. Kami akhirnya berinisiatif untuk bergabung dengan si guide, yang langsung tersenyum dengan manisnya begitu kami bilang kami ingin masuk rombongannya. 

Ya Allah senyumnya….


IMG-20180411-WA0018
Seharusnya ga gitu pakai chadornya, tapi saya kerepotan pegang chador yang ditiup angin. Biarlah..

Dari penjelasan si guide yang saya simak sepenuh hati, Shah Cheragh ini adalah makam dari Imam Ahmad dan Muhammad, dua imam besar Syiah. Konon, tempat ini ditemukan oleh Ayatullah Dastghā’ib yang melihat cahaya dari kejauhan dan kemudian ketika didatangi ia menemukan kuburan dari Imam Ahmad dan Muhammad. Cahaya inilah yang kemudian menjadi asal nama Shah-e-Cheragh yang dalam bahasa Persia berarti King of The Light.

Saya nggak akan bahas panjang lebar soal sejarah ini karena saya juga ga paham saat si guide menjelaskan soal imam-imam dalam Syiah. Saya lebih tertarik melihat interior makam yang indah, yang dipenuhi dengan cermin-cermin kecil. Kata si mas guide, cermin kecil ini adalah simbol dan pengingat bahwa setiap manusia perlu berkaca untuk melihat keburukan-keburukan dalam dirinya, sekecil apapun keburukan itu. Filosofi yang bagus.

Kunjungan saya di Shah-e-Cheragh berakhir sesaat sebelum magrib. Tadinya saya ingin agak lama di sini, ingin melihat bagaimana mereka melakukan ibadah magrib. Saya sempat mendengar sedikit “ceramah” yang disiarkan melalui speaker. Dalam bahasa Persia yang saya tak mengerti tentunya. Ditambah lagi katanya, interior tempat ini sangat indah saat malam. Tapi perut saya sudah keroncongan, kawan saya juga sudah ribut ingin mencari makan. Akhirnya kami ke luar. Meletakkan chador yang dua jam ini sudah menemani kami.

 

 

 

Author: rahma ahmad

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s