Kolkata: Antara Klakson, Mother Theresa, dan Manisan India

Empat hal yang paling saya ingat tentang Kolkata: panas yang menyengat, mother theresa, manisan India dan klakson yang membabi buta.

Ya, empat hal itulah yang saya temui ketika ada di Kolkata. Panas? jelas. Saat saya dan kawan saya ada di sana, suhu udara mencapai 35 derajat. Lumayan panas. Tiap bertemu supermarket, kami berhenti dan membeli minum. Untung, minuman di sini harganya tak semahal di Eropa atau Singapura.

Sebenarnya, banyak penjual minuman di tengah jalan. Namun yaa, kami tak berani meminumnya. Salah seorang kawan saya yang sering bolak balik India wanti-wanti soal ini. Katanya, “jangan jajan sembarangaan kalau ga mau diare, apalagi tipes!”

kolkata
Salah satu penjual minuman di pinggir jalan di Kolkata.
dscf3464
Ga tau mereka jual minuman apa, tapi rame banget.

Tapi akhirnya, kami tak tahan juga. Di depan sebuah kuil, kami melihat penjual kelapa muda. Kami tergoda. Kelapanya kecil, hanya sebesar jeruk bali, dan terlihat sangat cocok di minum di tengah terik matahari. Yang ada di otak kami kala itu: “kelapa kan segar, baru dikupas, lebih higienis lah”. Begitulah sebelum tiba-tiba si bapak penjual yang berturban kuning itu mencoba mengeruk daging kelapa muda dengan tangannya; tangan yang penuh debu dengan sela jari yang kotor dan kukunya hitam sehitam-hitamnya. Kami berdua langsung otomatis berteriak: “noooo, we just need the water!!!”

Mother Theresa

Kolkata adalah kotanya Mother Theresa. Suster luar biasa kelahiran Albania ini menghabiskan hidupnya untuk menolong orang-orang miskin di India, salah satunya di Kolkata. Wajar saja jika namanya diabadikan dan diagungkan oleh masyarakat Kolkata.

Waktu datang pertama kali, saya melihat sebuah plang di tengah jalan bertuliskan “Kolkata, city of Mother Theresa”. Awalnya saya pikir, inilah julukan bagi Kota Kolkata. Ternyata keesokan harinya, saya menemukan beberapa plang serupa dengan tulisan: “Kolkata, The City of Joy” dan  “Kolkata, The City of Poem”, dan “Kolkata, The City of  Palace” dan berbagai plang serupa bertuliskan nama tokoh lainnya.

Galau ini pemerintahnya…

Karena terkenal dengan Mother Theresa, saya dan kawan saya sepakat untuk mencari sesuatu yang berbau Mother Theresa, asalkan sejalan dengan jalan yang kami lalui. Akhirnya, kami menemukan suatu tempat di peta yang bertuliskan “Mother Theresa Sarani” di Park Street. Kebetulan kami memang berniat ke arah Flury, salah satu bakery terfavorit di Kolkata, yang lokasinya tak jauh dari sana.

Kami mengira, tempat ini adalah sebuah monumen tempat Mother Theresa dimakamkan atau sekadar monumen penghormatan seperti Monumen Proklamasi. Tapi ternyata, yang kami jumpai hanya sebuah plang batu kecil berwarna abu-abu yang terletak di pinggir trotar! Ternyata yang kami datangi memang berupa Sarani atau batu. Fiyuuuhh….salah tujuan!

Manisan India

Kolkata terkenal dengan manisannya. Itu yang teman saya temukan dari hasil gugling. Makanya ia, dan akhirnya saya juga ikutan, antusias berburu makanan manis di sana. Tapi karena ada wanti-wanti “jangan jajan sembarangan di India” kami mencari restoran atau bakery yang representatif. Salah satu yang direkomendasikan adalah Flurys Bakery. Konon, bakery ini sudah ada sejak tahun 1927 dan menjadi salah satu tempat favorit para pejabat Inggris.

Ya, sepertinya memang ini restoran mahal dan bergengsi buat ukuran masyarakat umum India. Buktinya yang datang ke sana adalah orang-orang berbaju bagus, berjas, dan sepertinya dari kalangan atas. Sementara saya dan kawan saya hanya memakai sendal jepit, kaos, tas ransel; dengan muka penuh keringat karena bolak balik mencari Mother Theresa Sarani. Namun, kami tetap mendapatkan pelayanan yang istimewa; para pelayan dan bahkan kokinya ternyata sangat ramah. Padahal kami hanya pesan dua pastry dan air putih lho :D.

DSCF3588.JPG
Bagian dalam flury’s. Makanannya lupa dimakan karena langsung habis dalam sekejap. Yaiyalah, cuma kue kecil dan air putih.

Ketika kembali ke Kolkata dari Darjeeling, kami mulai “nakal”, berani membeli manisan di toko pinggir jalan. Alhamdulillah, perut kami baik-baik saja. Mungkin sudah terbiasa dengan India kali yaa…

Klakson di Mana-Mana

Rasanya semua yang pernah ke sana akan sepakat kalau saya mengatakan Kolkata ini adalah “the city of car horn” alias kotanya klakson. Pasalnya, di mana-mana yang terdengar suara klakson dibunyikan. Kolkata memang padat dengan kendaraan, namun rasanya bukan itu yang jadi penyebab utama klakson sering terdengar. Di Jakarta juga kendaraan seperti semut mencari makanan, tapi percayalah, suara klaksonnya tak seramai di Kolkata.

Baca juga: Naik Angkot di Kolkata

Ketika saya dan kawan saya akan menuju bandara untuk pulang ke Jakarta, kami kembali naik taksi. Kali ini bukan taksi kuning ala Rolys Royce seperti yang saya naiki dari bandara dulu, namun taksi sedan putih yang sejatinya ber-AC seperti yang terklaim dari stiker di badan taksinya. Namun taksi saya kali ini tak jauh lebih baik dari taksi sebelumnya. Ditambah lagi, si supir taksi yang masih muda doyan sekali membunyikan klakson. Belok kanan, klakson. Belok kiri, klakson. Mobil masih jauh dan tak menggangu, klakson. Mobil di depan berhenti sebentar, klakson. Ada orang nyebrang (yang masih jauh di pinggir), klakson. Pantaaaas saja di Kolkata sini klaksonnya super ramai!

DSCF4261.JPG
Salah satu keramaian Kolkata.
kolkata
Main kriket di tengah jalan!

Ga terlupakan deh kota satu ini….

Baca Juga: Kolkata: Kota dengan Seribu Cerita (part 1)

 

 

 

Advertisements

Author: rahma

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

5 thoughts

  1. auto ngakak pas baca yg penjual kelapa muda wkwkwkwk. akupun akan mundur teratur kalo nemu penjual yg begitu mba :p.

    heran yaaa apa ga budeg itu telinga dgr klakson. mungkin saking biasanya klakson udh kyk musik bgi mereka mba :p. berasa ada yg kurang kalo ga dibunyiin :p

    Like

    1. Udah otomatis tangannya ada di klakson kayaknya…
      Btw, kelapanya jadi kami minum lho ……untung bapaknya belum sempet masukin tangannnya ke kelapa.

      Like

  2. auto ngakak pas baca yg penjual kelapa muda wkwkwkwk. akupun akan mundur teratur kalo nemu penjual yg begitu mba :p.

    heran yaaa apa ga budeg itu telinga dgr klakson. mungkin saking biasanya klakson udh kyk musik bgi mereka mba :p. berasa ada yg kurang kalo ga dibunyiin :p

    Like

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s