6 Tip Jalan-Jalan ke Brunei Darussalam

DSCF1337.JPG

Awalnya, saya diajak salah satu kawan saya backpacker ke Brunei Darussalam, tepatnya ke Bandar Sri Begawan dengan menggunakan Airasia. Kebetulan, ada promo dengan menggunakan Big Poin saya. Hanya butuh 700ribu dari JKT-KL-BRUNEI pp. Murah, karena tiket normalnya biasanya berkisar 1,5 juta pp.

Kami ber-4 rencanya akan jalan-jalan ke Brunei di akhir Juli, setelah libur Lebaran. Saya sebenarnya mengusulkan untuk pergi di minggu kedua Juli, di sekitar tanggal 14-15, karena bertepatan dengan perayaan hari jadi Sultan Brunei. Namun karena kalah suara, saya mengalah. Ditambah lagi, harga tiket di minggu itu dua kali lipat. Ya sudah lah…

Namun nasib mujur berpihak ke saya. Jadwal diubah oleh Airasia, membuat saya bisa mengubah jadwal dua minggu sebelumnya. Yes. Tapi karena ketiga kawan saya menolak memajukan tiket mereka (entah kenapa) saya pun jalan-jalan sendirian ke Brunei

Jalan-jalan backpacking sendirian ke Brunei bukan hal yang susah, tapi ternyata bukan juga hal yang mudah. Pasalnya, Brunei bukan destinasi wisata utama. Angkutan, penginapan, susah mencarinya, terutama kalau kita benar-benar ingin mengirit ria seperti saya.

Nah, dari 3 hari saya jalan-jalan ke Bandar Sri Begawan, Brunei di 2016 lalu, inilah catatan dan tip yang bisasaya share

Tip 1:  Transportasi di Brunei Susah?

Karena negara ini kaya, rata-rata penduduknya punya mobil pribadi. Alhasil, susah sekali mencari angkutan umum di Bandar Sri Begawan. Bukannya tak ada, tapi lamanya minta ampun. Kalau nasib jelek, 30 menit menunggu barulah bisa mendapat angkutan umum.

Nah,  tempat yang saya inapi ini letaknya sekitar 4km dari Bandar (terminal pusat kota Bandar Sri Begawan). Saya mesti cari alternatif lain untuk menuju Bandar dari sana. Alternatif pertama adalah mencari tebengan alias hitchhiking. Kata kakek-kakek bule yang satu penginapan dengan saya, dia selalu dapat tebengan tanpa harus memberhentikan mobil dengan jempol. Penduduk lokal memang ramah, dan mereka sadar kalau angkutan umum di kotanya sulit. Saya mencoba mengikuti jejaknya, tapi ternyata tak pernah berhasil. Tak ada mobil yang berhenti dan mengangkut saya. Ternyata ini karena  wajah saya yang melayu abis, sehingga dianggap penduduk lokal yang tak butuh tumpangan. Mau tak mau, saya harus menggunakan jempol saya untuk mencari tumpangan.

Alternatif kedua, gunakan mobil omprengan. Dari luar mobil ini tampak seperti mobil biasa, dan memang mobil milik penduduk lokal namun dijadikan semacam angkutan tak resmi. Harga sekali naik sama dengan tarif angkutan (sekitar 1 hingga 2 dolar brunei). Saya tau ini secara tak sengaja. Ketika saya mencoba hitchiking kesekian kalinya, tiba-tiba ada mobil van putih berhenti. Saya pikir, ini sama dengan mobil yang saya tumpangi waktu hitchiking kemarin karena tak ada tanda-tanda atau sticker apapun. Ternyata, di dalamnya banyak orang, dan ketika turun mereka membayar uang. Gagal deh dapat tebengan gratis….

Alternatif ketiga, jalan kaki. Yes, mau tak mau jalan kaki, apalagi kalau sehabis magrib. Angkutan di sini hanya sampai jam 6, dan karena tak berhasil hitchhiking, saya mesti jalan kaki 4km dari Bandar menuju ke penginapan!

DSCF1411.JPG
Jalanan di sana lebar, cakep, bersih, tapi sepi. Bikin pengen tidur-tiduran di tengah jalan kan?

 

DSCF1361.JPG
Saat malam, tetep sepi. Lampu-lampu ini ada karena ada perayaan ultah Sultan.

Lalu, apa sebenarnya ga ada angkutan di sini? Ada. Ada beberapa rute angkutan dari Bandar. Untuk menuju penginapan saya misalnya, saya bisa naik bus nomer 06 dan berhenti sekitar 100m dari tempat saya menginap. Tapi ya itu, karena jumlah angkutannya sedikit, menunggunya mesti sabar. Dan bahkan sepertinya, jumlah bus di sini hanya ada 2 setiap nomernya, karena selama 3 hari saya di sana, supir bus yang saya tumpangi hanya bapak-bapak India ganteng itu saja.

https://asambackpacker01.files.wordpress.com/2014/05/bwn-terminal-bus-bsb.jpg?w=629&h=472
Terminal Bandar. Fotonya ngambil di asambackpacker karena entah ke mana foto terminal saya.
https://chikupunya.files.wordpress.com/2015/02/brunei-bus-line-10121.jpg?w=1544&h=1176
Peta Bus Brunei

Ada angkutan dari juga airport menuju ke Bandar. Nomernya 06, harganya 1,6 dolar. Murah, namun tak ada jadwal yang pasti kapan bus itu akan datang. Hanya sopir bus dan Allah lah yang tahu jadwal bus di sini.

Tip: saat naik bus, terutama ke bandara, jangan lupa terlebih dahulu memberi tahu ke sopir bus tujuan Anda. Karena kadang-kadang, supir men-skip tujuan itu kalau tidak ada penumpang yang turun di sana.

Tip 2: Bawa Bekal di Hari Jumat

Dari Eirene (host airbnb) saya mendapat cerita kalau hari Jumat, semua kegiatan berhenti di Bandar Sri Begawan, termasuk restoran dan mal. Saya pikir, “waktu Jumat” itu sekitar jam 11-13, seperti halnya di Jakarta. Tapi ternyata, semua restoran tutup mulai dari jam 11 hingga jam 2 siang. Bus pun tak ada. Bandar Sri Begawan seperti kota mati di Jumat siang hari.

Untungnya sebelumnya saya sempat membeli nasi katok (nasi plus ayam dan sambal yang terkenal karena murah). Alhasil, saya yang kelaparan berat akhirnya duduk selonjoran di depan mal, sambil makan nasi bungkus. Sayangnya, saya lupa beli minum. Terpaksa, nahan haus sampai mal buka. Seret…

DSCF1236.JPG
Ini di tengah mal, saat solat Jumat. Sepiiii kayak kuburan…

 

https://asambackpacker01.files.wordpress.com/2014/05/bwn_nasi-katok.jpg?w=602&h=451

Nasi katok.  Fotonya ngambil di asambackpacker karena entah ke mana foto nasi saya.

 

Tip 3: Datanglah Saat Sultan Ulang Tahun

Saya datang ke sana saat ulang tahun Sultan Hasanal Bolkiah. Karena saat ada ulang tahun, ada perayaan di Bandar Sri Begawan. Saya pikir, perayaannya akan dipusatkan di Istana Raja dan saya bisa masuk ke dalamnya. Ternyata, open house Istana raja itu hanya beberapa hari setelah Lebaran, bukan saat ultah raja. Yaah gagal ketemu pangerannya..

Saat ulang tahun, yang ada hanya parade di Taman Sir Muda Omar Ali, di seberang Masjid Omar Ali. Pagi-pagi, saya diantar host airbnb saya ke lapangan itu. Sebelum sampai di tkp, kami bertemu dengan polisi yang menyuruh kami bergegas karena katanya “sudah ramai sekali di sana.”. Mendengar kata ramai, pikiran saya melayang pada keramaian di Jakarta saat PRJ, car free night, atau bahkan seperti Tanabang saat menjelang lebaran. Ternyata oh ternyata, sesampainya di pinggir lapangan, hanya ada puluhan orang berdiri di sekitar pagar lapangan. Ya, tanpa bersusah payah, saya bisa mendekat ke pagar. Hal yang tak mungkin saya jumpai di Indonesia saat ada acara begini.

DSCF1187.JPG
Konvoi polisi bermotor yang mengawal mobil Sultan
DSCF1206.JPG
Mobil milik Sultan
DSCF1174.JPG
Ini penonton yang kata Pak polisi “ramai” :p

Dalam rangkaian ulang tahun, di pusat kota juga, di sekitaran Taman Omar Ali ada bazar makanan di malam hari. Lumayan buat mencari makanan khas Brunei seperti roti jhon yang juga terkenal di Malaysia dan Singapura, nasi ayam, dan Kue Lekor, semacam otak-otak goreng yang kering. Tapi lagi-lagi,  pengunjungnya tak seramai yang saya pikir. Lebih ramai pasar kaget di gang belakang rumah saya deh…

Saya jadi merasa beruntung datang ketika Sultan merayakan ultahnya, karena paling tidak ada sedikit keramaian. Pusat kota pun jadi lebih cantik karena dihiasi lampu, spanduk bertuliskan “Selamat Ulang Tahun ke-70 kepada Yang Mulia Sultan dan Yang Di-Pertuan Brunei Darussalam” dan LED besar yang memutar lagu-lagu Brunei dan video Sultan.

DSCF1348.JPG
Suasana Pasar Malam di dekat Taman Sir Omar Ali
DSCF1349.JPG
Salah satu makanan yang banyak dijual di sini, tapi saya lupaa namanya.
DSCF1350.JPG
Nasi ayam yang harganya “hanya” 3 dolar Brunei alias 30 ribu
DSCF1364.JPG
Penjual Lekor, semacam otak-otak tapi garing dan kering. Enak…

Tip 4: Booking Penginapan Murah via Airbnb

Mungkin karena jarang yang berbackpacking ke sini, penginapan murah, losmen, backpacker hostel, dan sejenisnya bisa dihitung dengan jari. Awalnya saya akan menginap di salah satu hostel di pusat kota. Namun setelah saya lihat, tempat itu sempit dan tanpa jendela. Akhirnya di airbnb, saya menemukan apartemen Lau’s House milik Eirene, orang Indonesia yang sedang bertugas di Bandar Sri Begawan. Harganya murah (22 dolar per malam per kamar), orangnya ramah, rumahnya bersih, dan dapat sarapan pula. Kekurangannya, letaknya di Mabohai, yang tak terlalu dekat dengan pusat kota, sekitar 3km dari Bandar (terminal pusat kota Bandar Sri Begawan).

Sebenarnya, ada satu penginapan lagi yang cocok dengan saya. Namanya Pusat Belia (Youth Centre). Harganya murah (hanya 10dolar untuk dorm), bersih, dan lokasinya strategis karena dekat dengan Bandar. Sayangnya, waktu saya ke sana, tempat ini hanya bisa di-booking on the spot alias tak bisa online booking.

Update: sekarang ini Pusat Belia sudah bisa dibuking online lewat hotelscombined.com. Dan apartemen milik Eirene sudah pindah, namun ia tetap menyewakannya di airbnb.

Tip 5: Datang ke Kampong Ayer untuk Lihat Pemilik Rumah Kayu Berperabotan dan Bermobil Mewah

Salah satu objek wisata di Bandar Sri Begawan adalah Kampong Ayer, perkampungan di atas Brunei River (nama sungainya ga kreatif banget). Kampong ini katanya dihuni dari sejak 1300 tahun lalu, terdiri atas 42 desa dan 30.000 penduduk.

Sekilas, kampung ini tak jauh beda dengan kampung terapung di Kalimantan atau kampung suku Bajo di Maluku dan Sulawesi. Sama-sama berdiri di atas air, sama-sama dibuat dari kayu. Yang membedakannya adalah, Kampong Ayer ini bersih banget, rapi, dan bagian dalamnya berisi peralatan elektronik mahal. Yap, saya sempat mengintip salah satu rumah di sana. Di ruang tamunya ada TV Sony Bravia 40 inch, home theater,  dan beberapa peralatan elektronik lainnya.

DSCF1226.JPG
Salah satu desa di Kampong Ayer

Di tepian sungai, ada tempat parkir khusus untuk penghuni Kampong Aer ini. Dan you know what….mobilnya merek-merek mahal semua!

Rakyat Brunei memang terkenal makmur. Katanya, rumah pun diberikan gratis pada pasangan yang baru menikah, walaupun harus mengantri selama dua hingga tiga tahun. Rumah sakit dan sekolah pun pastinya gratis. Iri aku…

6 thoughts on “6 Tip Jalan-Jalan ke Brunei Darussalam

  1. Faustina Hurrem

    Wuaaahhhh sayang banget….aku sekarang udah perjalanan pulang ke Jakarta. Minggu lalu aku stay di Miri, Sarawak which is really2 close to Brunei border :(.

    Awalnya mau sekalian trip ke Brunei via darat dari Miri. Cuma karena transport & akomodasi di sana gak jelas….plus aku insecure sama hukum syariat di sana…aku batalin rencana itu

    Nice post btw, walaupun telat (buat aku). Padahal kalo aku jd ke Brunei bisa have fun bareng & cari2 gratisan. Ehehe

    1. rahma

      Yaah, balik lah ke Bandar. Walopun sepi, lmyn lah bisa cuci mata.
      Btw, hukum syariat maksudnya gmn? Sepanjang yang kulihat sih, buat pengunjung mereka ga bermasalah, sepanjang bajunya sopan.

  2. Salam kenal mbak Rahma. Duh, Brunei itu di list negara ASEAN paling pengen saya datangin. Baca ini jadi makin tertarik. Tantangannya nampaknya dari sepi sepi itu ya? Semoga deh nanti bisa ke sana 🙂

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s