6 Jam di Jeep Menuju Darjeeling

Dari Kolkata kami mesti naik kereta ke Stasiun New Jailpaguri. Begitu keluar stasiun, belasan pengemudi jeep mengerubungi kami. Kami memilih asal saja, yang penting dia segera berangkat.

DSCF4234

“Jump…jump,” kata si supir Jeep ke saya sambil menunjuk bagian belakang Jeep-nya.

Saya bingung, dari mana saya harus masuk. Jeep putih bermerek Tata, yang asli buatan India, sudah terisi penuh dengan 8 orang. Tinggal dua bangku kosong di bagian belakang. Tak ada jalan lain untuk masuk ke bagian belakang jeep itu kecuali loncat melewati jok belakang.

Di jok itu, sudah ada dua orang. Satu wanita berwajah Tiongkok yang duduk di pojok kiri, satu pria berwajah India di pojok kanan. Ditambah saya dan kawan, artinya kami harus duduk berempat di sana.

“Giling, empet-empetan nih kita di belakang?” tanya saya ke teman saya. Dia cuma mengangguk pasrah. Posisinya lebih parah dari saya, dia tak bisa bersender di jok dan tak bisa menggerakkan tangannya. Saya masih beruntung karena wanita di kiri saya badannya cukup mungil.

Baca juga India Trip: Begini Ternyata Kereta India!

Ya, Jeep ke Darjeeling dan Sikkim memang berupa jeep share. Satu jeep bisa diisi 8-10 orang, tergantung nasib. Lebih parah dari jeep ke Pananjakan Bromo yang biasanya hanya diisi 6 orang saja. Harga per orangnya 500 rupee, cukup murah untuk perjalanan sekitar 6 jam.

Pilihan lain adalah naik kereta uap wisata atau yang mereka beri nama Darjeeling Toy Train. Waktunya lebih lama, dan jadwalnya lebih sedikit ketimbang naik jeep. Makanya kami tak memilih ini walaupun katanya pemandangannya sungguh cantik.

Perjalanan naik jeep melewati lembah-lembah, naik turun pegunungan.  Jalannya mulus, tak ada lubang-lubang sehingga walau berdempetan di belakang, saya tak terhempas ke sana sini. Untungnya lagi saya perempuan, teman saya jadi terpaksa mengalah. Namun keberuntungan saya hanya bertahan setengah jalan saja. Selepas istirahat di tempat makan, wanita di sebelah saya turun, berganti dengan lelaki India yang cukup besar. Yah, nasiib…

Di tengah jalan, gerimis tiba-tiba turun. Saya dan kawan saya sudah khawatir, sebab carrier kami berada di atas jeep, bersama dengan kardus-kardus dan aneka barang milik penumpang lain. Sang supir tampaknya tenang-tenang saja, tak terpengaruh hujan yang turun makin deras. Setelah para penumpang protes dalam bahasa India, barulah ia menghentikan mobilnya, dan menutup bagasi atas dengan terpal. Ajaibnya, begitu terpal terpasang, hujan berhenti. Sang supir pun mengoceh dalam bahasa India, yang sepertinya berarti: “kaaan, dah gw bilang ntar juga berenti ujannya. Ribut aja sih lo pada”….

Setelah 6 jam melewati jalan yang menanjak, menurun, berkelok-kelok, akhirnya kami sampai juga ke Darjeeling, siap menyesap segelas teh hangat yang tersohor di dunia ini.

PS: Dari Darjeeling menuju Sikkim dan Sikkim menuju Bagdogra, kami juga menaiki jeep serupa dengan harga yang kurang lebih sama.

Baca juga: Menyesap Teh di Puncak Darjeeling

Advertisements

Author: rahma

Lulusan arsitektur universitas Indonesia yang melenceng jadi jurnalis di sebuah media. Penikmat keindahan vista dan kata-kata. Pencinta sejarah, bangunan, dan budaya. Pemakai jilbab dan selalu bangga dengan identitas Islamnya.

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s