Kolkata: Kota dengan Seribu Cerita (part 1)

DSCF3490

Satu seperempat hari berada di sini, saya bisa melihat dua sisi Kolkata. Di satu sisi, ia punya bangunan-bangunan cantik penambat mata. Di sisi lainnya, ia seperti India sebenarnya, penuh wajah kemiskinan di mana-mana. 

Saat saya dan kawan saya memutuskan untuk menghabiskan satu hari di Kolkata, saya bertanya-tanya dalam hati, “Emang ada apa ya di Kolkata?” Alhasil, di sela-sela pekerjaan yang membabi buta, saya mencari tahu soal kota ini. Ternyata, kolkata punya banyak bangunan indah peninggalan Inggris dan kerajaan Mughal. Semangat saya langsung timbul. Ya, saya memang amat menyukai bangunan-bangunan indah yang punya nilai sejarah.

Di abad 17, Kolkata adalah sebuah kota penting di era kerajaan Mughal, sebuah kerajaan Islam Farsi yang menguasai daratan India, hingga ke semenanjung Mongol. Shah Jehan, yang membangun Taj Mahal, adalah salah satu rajanya. Setelah kerajaan ini runtuh, Kolkata berada di bawah kekuasaan Inggris, dan menjadi salah satu pusat perdagangan di bawah bendera East India Company. Dua percampuran, Mughal dan Inggris, inilah yang mendominasi bangunan-bangunan di Kolkata.

——-

Saya sebenarnya cukup suprise dengan kota ini. Tak seperti yang saya bayangkan, kota ini ternyata tak “seburuk” yang diberitakan. Paling tidak, itulah yang saya rasakan saat datang pertama kali. Walaupun di malam tadi saya melihat beberapa gelandangan di depan teras toko, pagi ini terasa berbeda. Jalan-jalan yang saya dan kawan saya lalui lengang, sepi, tak terlalu kotor. Tak ada kemacetan, penduduk yang lalu lalang, seperti yang kerap saya lihat di berita-berita atau saya dengar dari orang-orang. Trotoarnya pun lebar, sehingga nyaman ditapaki. Sampah-sampah yang saya duga akan bertebaran di mana-mana pun tak terlihat.

Kawan saya berpendapat, ini karena kami berada di tengah kota. Layaknya di Jakarta, Jalan Thamrin-Sudirman pasti bersih, katanya. Saya bilang, mungkin di pagi hari, para gelandangan itu sudah pergi dari “rumah”-nya sehingga jalan terlihat bersih dan lengang. Setelah kembali ke kota ini di hari terakhir, kami baru menyadari satu hal: ini adalah hari libur Nasional! Pantas, jalan-jalan terasa sepi….

DSCF3459
Salah satu sudut Kolkata yang sepi. Yang bentuknya kotak itu adalah pintu masuk ke subway
DSCF3452
Sepiii…

——–

Dari hotel Esteem, yang ternyata letaknya cukup strategis, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju tujuan pertama kami: Victoria Town Hall. Lagi-lagi, kami dipandu oleh Lumia milik teman saya (ini benaran bukan iklan, dan bukan endorse-an yaa). Saya pasrah saja, mengikuti langkah teman saya. Di samping tak tahu arah jalan, saya takut tiba-tiba ada yang mencolek atau menculik saya…;))

Benar saja. Di tengah perjalanan, saya yang tertinggal di belakang, tiba-tiba didekati seorang pemuda India yang bertubuh tinggi besar. Sambil berjalan menuju saya, dia berbisik, “Hey, I love you.” Saya langsung kabur, lari ke sebelah teman saya.

——–

Ternyata bukan Victoria Hall objek pertama yang kami temui. Tanpa sengaja, kami melihat sebuah katedral putih yang amat cantik. St Paul Cathedral namanya. Katedral ini dibangun 1837 oleh seorang pendeta Inggris, Daniel. Dari jauh, sudah terlihat jelas kalau gereja ini bergaya Gothic Revival, gaya yang memang sedang popular saat itu di Eropa. Lengkung-lengkung jendela gereja, menara yang tajam, jendela-jendela besar, ada di sini. Ciri khas yang juga digunakan di gereja-gereja Eropa seperti Notre Dame.

Pintu gerbang gereja tertutup rapat. Untung ada seorang penjaga yang melihat kami celingak-celinguk. Ia awalnya tak memperbolehkan kami masuk, namun akhirnya ia membiarkan kami memoto bagian luar gereja. Hanya luarnya. Padahal, saya amat ingin masuk dan melihat interior gereja ini. Sayang, negosiasi saya gagal total.

DSCF3474
St Paul Cathedral. Keren ya?

——–

Puas berfoto di gereja putih, perjalanan kami lanjutkan ke Victoria Memorial, gedung termegah di Kolkata. Saat menuju ke sana, saya melihat bus tua melintas. “Gue mesti naik itu,” ujar saya kepada kawan saya. Tak lama, ada trem tua melintas. Saya langsung berteriak, “Yes, naik itu jugaaa.”. Hahaha…pecicilan memang. Tapi biar saja, saya orang yang gemar mencoba (dan memoto tentunya) angkutan umum di setiap kota yang saya sambangi. Apalagi kalau angkutannya unik dan menarik (baca: Naik Angkot di Kolkata).

Berada di depan Victorial Memorial, tak seperti berada di India. Bangunan yang dibuat untuk menghormati wafatnya Queen Victoria ini sangat sangat Eropa. Berwarna putih dengan kubah ala Byzantium, menggabungkan gaya arsitektur Eropa dan Islam India. Di depannya ada taman besar dan danau, yang sayangnya tak terlalu indah. Saat orang-orang bersari hilir mudik di taman ini, saya jadi membayangkan tarian di film India!

DSCF3498
Ga kayak di India ya?

DSCF3489

Gedung Victoria Hall bisa dimasuki. Di dalamnya ada museum yang isinya benda-benda milik Ratu Victoria. Kami memutuskan tak masuk ke dalam, karena antrian yang panjang dan koleksi yang kami rasa tak terlalu istimewa. Kami hanya berfoto-foto di luarnya, lagi-lagi di bawah sengatan matahari Kolkata yang begitu membara.

——-

Kami melanjutkan perjalanan kaki kami. Benar-benar berjalan, karena memang, tempat wisata di Kolkata letaknya tak berjauhan. Mengikuti langkah kawan saya, saya akhirnya sampai ke sebuah lapangan besar. Di sana, ada segerombolan anak-anak yang sedang bermain kriket. Yup, seperti halnya negara-negara bekas jajahan Inggris lainnya, kriket adalah olaharaga favorit di India, termasuk di Kolkata. Di mana-mana bisa dijumpai orang yang sedang bermain kriket. Di stadium besar, di lapangan, bahkan di gang depan rumah. Bahkan kami sempat menemukan ratusan orang yang sedang mengantri di sebuah lapangan, untuk mengembalikan tiket pertandingan kriket yang ditunda karena salah seorang pemainnya meninggal dunia.

DSCF3536
antrian di lapangan untuk mengembalikan tiket

Selain kriket, ada hal lain yang menarik perhatian saya, yakni belasan domba yang sedang enak-enaknya merumput di sana, seakan tak peduli di sekitarnya ada pemain-pemain kriket yang sedang memerebutkan bola.

Ternyata di Kolkata sini, saya tak menemukan sapi di jalan, seperti yang saya lihat di foto-foto di media. Saya malah  menemukan banyak domba dan kambing berkeliaran bebas. Digembalakan di mana saja, yang penting ada rumput untuk si domba dan tempat berteduh buat si gembala.

DSCF3523

DSCF3517

Tip Backpacker ke Kolkata:

  • Bawalah air minum, karena panasnya luar biasa
  • Jangan jajan sembarangan, kalau ga mau kena tipes!
  • Kolkata bisa dijangkau dengan jalan kaki, kalau mauuu…..Kalau nggak, naiklah angkutan umum yang murah meriah. Baca: Naik Angkot di India

3 thoughts on “Kolkata: Kota dengan Seribu Cerita (part 1)

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s