India Trip: Mestakung

Sebelum berangkat ke India, banyak hal yang saya pikir tak akan berhasil dilewati. Solo travelling saya ke Cina dua minggu sebelumnya, edisi khusus tabloid yang tebalnya dua kali lipat, tugas limpahan dari bos yang punya jabatan baru, dan pembangunan rumah si kakak cukup menyita waktu dan tenaga saya. Saya tak sempat membuat itenerary yang biasanya saya lakukan sebelum berangkat. Saya hanya sempat membrowsing tempat-tempat di Kolkata, plus membeli via online satu chapter Lonely Planet tentang Sikkim, yang walaupun hingga berangkat tak sempat saya baca saking panjangnya. 😛

Kesibukan gila-gilaan juga tampaknya menerpa teman saya. Trip ke Kinabalu, tugas kantor ke Ambon, membuat kawan saya ini sibuk bukan kepalang. Untungnya, dia sempat membuat itenerary dadakan di pagi hari, sesaat sebelum berangkat ke airport. Uffff..

Kami bahkan tak sempat menghitung berapa biaya yang harus kami bawa. Sebelum trip, biasanya saya mempersiapkan segala sesuatunya dengan seksama, termasuk perkiraan biaya selama di sana. Bahkan, jika berpergian ke negara yang punya aksara luar biasa, seperti Cina, saya akan melengkapi itenerary dengan aksara lokal (diambil dari google translate tentunya) plus sejumlah kosakata yang kira-kira akan saya perlukan.

Saya memang bukan tipe yang percaya segala hal yang bisa ditemukan dengan hanya mengandalkan feeling saja. Bisa aja sih sebenarnya, kalau waktu saya di sana panjang, seperti yang dilakukan para backpacker betulan. Saya tipe traveler yang butuh pegangan awal sebelum melakukan perjalanan, walaupun di lapangan itenerary saya biasanya berubah total. Tapi sayangnya, lagi-lagi karena tak ada waktu, beberapa trip terakhir saya lakukan tanpa itenerary, termasuk trip terakhir saya ke Guilin, Yangshou, dan Guangzhou kemarin. Begitu juga dua trip sebelumnya. (Hehehe…jangan ditiru ya…).

Pun dengan kawan saya ini. Saya pernah beberapa kali meminjam itenerary-nya yang tersusun rapi sehingga saya tahu ia tipe traveler yang sama seperti saya. Tapi lagi-lagi, kesibukan membuat dia jadi tak sempat membuatnya. Alhasil, kami hanya memperkirakan biaya umum yang biasa kami bawa ketika berpergian, plus dengan cadangan seratus dolar.

Kami juga tak sempat membuking penginapan. Di samping kesibukan, susah ternyata mencari penginapan berdomitori yang bisa dipesan online. Akhirnya, kami memutuskan untuk go show saja, mencari penginapan langsung di tempat.  Kami hanya memesan penginapan untuk malam pertama ketika kami sampai di Kolkata. Untungnya, kawan saya ini sudah mempersiapkan lis penginapan yang dapat kami pilih, walaupun kenyataannya, tak satupun penginapan dari lis itu yang kami inapi. 😀

——

Beberapa hari sebelum kami pergi, gempa melanda dataran Nepal. Sikkim, yang berbatasan langsung dengan Nepal, ternyata terkena getarannya. Saya sebenarnya sempat khawatir, jangan-jangan gempa ini membawa efek ke Sikkim dan sekitarnya. Memang berpengaruh ternyata, tapi untungnya secara positif (bagi saya setidaknya). Gempa ini membuat lebih dari 30% orang membatalkan kedatangannya ke Sikkim. Tiket kereta, bookingan hotel yang seharusnya penuh karena itu adalah hari libur Nasional, dibatalkan. Alhasil, kami bisa mendapatkan hotel dengan mudah, bahkan kami bisa mendapatkan potongan harga. Tiket kereta, yang sebelumnya masih berstatus WL-18 dan WL-17, tiba-tiba langsung berubah menjadi confirmed.

Bukannya saya egois dan tak memikirkan efek buruk gempa Nepal, tapi bagi saya inilah yang disebut Mestakung. Semesta mendukung.

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s