Weekend Escape to Penang (part 3): Menggila di Gourney Drive

Begitu sampai di Komtar lagi, saya bergegas menuju Georgetown, ingin makan nasi kandahar di salah satu restoran India yang ada di sana. Tapi dasar nasib, saking bergegasnya mengejar shuttle bus gratis menuju Geogretown, saya tidak melihat ada tanjakan. Bruk! Saya jatuh…

Diiringi tatapan “kasihan deh lo” dan “mbak kok buru-buru” dari orang-orang di sekitar, saya langsung kabur lagi. Tak jadi mengejar bus, karena bus sudah pergi tanpa menunggu kehadiran saya. Saya akhirnya makan di…McD! Yak, sambil meluruskan kaki yang sedikit sakit, saya akhirnya makan di McD dekat Komtar.

Karena pergelangan kaki yang tambah sakit, saya memutuskan kembali sebentar ke hotel, mengobati kaki saya. Untung saya bawa perlengkapan andalan: salep sejenis counterpain (yang saya beli di Kamboja), yang ampuh mengatasi kaki keseleo. Ditambah beristirahat sejenak dan bebatan kain seadanya, akhirnya kaki saya pulih.

Sore harinya, saya tak memaksakan diri untuk bergerak jauh-jauh. Takut kaki saya sakit lagi. Akhirnya, sore itu saya memutuskan untuk menuju Gourney Drive, salah satu pusat kuliner termahsyur di Penang.

Untungnya lagi, dari depan hotel saya bisa langsung naik bus menuju Gourney Drive, tak perlu lagi menuju ke Komtar. Bus 103 namanya, dengan tarif hanya RM2,7 saja.

P1140234
Trotoar lebar di Gourney Drive

Gourney Drive atau Pesiaran Gurney adalah sebuah promenade, area di pinggir pantai. Di sini berderet mal-mal kelas atas yang sering jadi tongkrongan anak muda. Kafe-kafe berlabel asing macam Starbuck ada di sini. Tapi bukan itu yang membuat Gurney Drive jadi tujuan saya. Saya ke sini ingin menuju Hawker Street Centre, pusat “jajanan tenda” terbesar di Penang.

Pusat jajanan ini letaknya di sebelah Gurney Plaza. Jadi kalau naik bus, turunlah di Gurney Plaza lalu keluar dari pintu belakang dan berjalan ke arah kiri. Kira-kira 200m dari pintu keluar akan terlihat keramaian, deretan kios-kios semi permanen, dan bangku-bangku berjajar di tengah kepungan kios. Itulah Gurney Drive Hawker Centre, yang buka selepas senja saja.

Tadinya, saya bingung mesti makan apa. Semuanya tampak enak, tapi tampak tak halal. Tapi kemudian, saya melihat ibu-ibu berjilbab berjalan sambil membawa sepiring kweotiaw dan segelas teh tarik. Lapar membuat saya jadi nekat menghentikan ibu-ibu itu, dan menanyakan di mana ia membelinya. Ternyata, ada section khusus makanan halal, yang letaknya setelah deretan makanan-makanan non halal. Dipisahkan oleh sebuah tembok pendek.

P1140264
Muslim Section. Cirinya: banyak yang pake jilbab..
P1140247
Sore-sore masih sepi. Menjelang malam, baru tempat ini penuh

Begitu tau ada deretan makanan halal, saya panik. Saya bingung mesti makan apa. Akhirnya, saya memutuskan meng-copy paste makanan ibu tadi: sepiring char keow teow (kwetiaw udang) dan segelas teh tarik. Sebenarnya, rasa kwetiawnya biasa saja, tapi berhubung saya lapar berat, ditambah keyakinan “kwetiaw di sini kan mesti enak”, rasa yang biasa saja berubah jadi rasa enak di lidah saya. Kalau teh tarik, jangan tanya. Bagi saya, semua teh tarik di Malaysia enak rasanya.

CAM00669
char keow teow

Selesai makan kwetiaw, perut saya sebenarnya sudah kenyang. Tapi mata saya masih “lapar”. Alhasil, saya membeli semangkuk laksa Penang. Tadinya saya pikir, saya akan mendapatkan laksa berkuah kuning, berisi toge, bihun, irisan daging dan ayam. Mirip-mirip dengan laksa Betawi buatan ibu saya, atau laksa Pasar Lama Tangerang yang jadi favorit saya. Tapi ternyata, bentukan laksa Penang sangat berbeda. Kuahnya lebih encer dan rasanya asam manis. Dan isinya bukan daging dan ayam, tapi ikan!

Sepiring laksa saya habiskan, tapi saya masih ingin mencicipi satu lagi makanan khas Penang: Ais Kacang (baca: es kacang). Mirip dengan es teler, tapi isinya kacang merah, cendol, nangka, es serut, lalu ditaburi susu dan gula merah cair. Sebenarnya, ais kacang yang terkenal adalah ais kacang Penang Road Famous Cendol & Ice Kacang, yang letaknya di Jalan Penang, Georgetown. Tapi, di sini saja sudah cukup enak, kok..

CAM00682
Es Kacang ala Penang
Sebenarnya, saya ingin makan rojak. Makanan yang dijual oleh orang-orang India ini menarik minat saya. Isinya berupa goreng-gorengan ikan, udang, dan hasil laut lain, lalu ditaburi kuah kental berwarna cokelat yang mirip kuah rujak buah abang-abang yang mangkal di dekat rumah saya. Tapi 5 macam makanan sudah bersarang di perut saya. Tak sanggup rasanya!

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s